
Siangnya di gudang perusaahanku aku harus me cek satu-satu barang-barang produksi dua bulan belakngan sebenarnya, ini bisa tugas kurir tapi aku penaasarn cara kerja mereka di gudang akhirnya aku putuskan untuk mecek semua. Hingga sore berkunjung, aku kembali ke ruanganku untuk mencocokkan data dengan hasil yang ada di gudang tadi. Aku berusaha buru-buru karna Ina pasti nungguin dirumah. Dalam fokusku terdengar bunyi ponsel berdering, reflek aku ambil, yang aku yakini, Ina pasti dah nungguin aku dirumah.
“Ya sayang? Bentar mas siapkan beberapa berkas dulu,”reflek kataku terlontar sejenaak dari sana Diam aku melirik kembali ponsel yang aku tempelkan didaun telingaku tadi dan aku terkejut saat melihat nomor baru.
“Mas?”lirih eseorang yang begitu aku kenal suaranya, aku mendegup dan secepat kilat matikan panggilan itu, sedikit aku hela nafas dan membuangnya, sigap aku lihat panggilan terakhir dan memblokir nomor itu hingga menghapusnya, agar tidak bisa menghubungiku lagi.
“Uuufth..”dengusku bersandar di sandaran kursi kerjaku. Tak peduli lagi dengan kerjaan segera aku tutup laptop dan beranjak pulang.
Sesampai dirumah, Ina menyambut dengan wajah manyun, tampaknya dia kesal mungkin karna aku telat pulang atau hal lain. Aku sangat cemas sekali mendekat padanya
“Sayang ada apa?”tanyaku, sembari berharap semoga tidak terjadi apa-apa. Dia berdengus dan berkata
“Kamu ke gudangnya lama banget sih, emang kamu ngapain di gudang.”sungutnya sedikit aku tarik naafas lega sepertinya Ina tidak mencemaskan hal lain.
“Ya memang begitu kenyaataannya sayaang, mas di gudang seharian, pengen ngecek langsung aja semua produk kita”ujarku, Ina memasang wajah tak habis pikir dan berkata.
“Aku gak percaya ya mas, urusan gudang bisa kasih tugas sama kurir kan?, kamu kemana aja sih, ketemuan ya sama Rara?’’tanyanya, aku mendegup.
“Sayang kok ngomongnya gitu?”lirihku. Ina kesal dan tampak merajuk masuk. Aku bergegas menyusulnyaa, bisa aku lihat dia menghenyak di sofa dengan kesal.
“Mas beneran seharian di gudang, kamu bisa cek cctv tadi mas telat karna mas langsung nyiapin berkas gitu , biar besok gak terlalu banyak kerjaan.”ujarku dia manyun tak menoleh padaku sama sekali.
“Kalo kamu begini terus, rumah tangga kita tidak akan bahagia sayang? Jangan ungkit-ungkit Rara lagi ya?”ujarku, Ina menoleh memandangiku dengan datar,
“Sini ponselnya?”titahnya, sontak darahku berdesir walau aku tidak ada berbuat salah, dan nomor itupun sudah di hapus tetep aja dagdigdug, takut ada pesan dari Rara yang belum ke cek.
“Tapi buat apa sayang?”tanyaku terbata.
“Bawa sini aja napa sih mas?”ucapnya sigap aku merogoh saku jasku dan berikan padanya.
“Iini..”singkatku, Ina menyambarnya dengan manyun dan langsung memeriksa, aku mengatur nafas yang tak beraturan dan coba mengusap wajahku, selang tiga menit dia coba kembalikan dengan senyum hangat.
__ADS_1
“Ini mas, mulai besok, aku akan raziain hape kamu tiap pagi dan malam,”ujarya, aku bisa lega melihat raut wajah Ina kembali seperti biasa lagi,
“Ya deh, terserah kamu. Lagian percuma. Aku gak akan macem-macem, udah ya. Jangan bebankan pikiran kamu dengan hal yang gak penting, kita lagi program hamil sayang. Jadi mulai sekarang buang deh semua yang bebani pikiran kamu, gak akan ada Rara lagi! Percaya deh sama mas,’’jelasku coba menggenggam jemarinya. Dia menatap tajam bola mataku dan berkata.
“Beneran mas?”
“Ya benerlah sayang, sekaarang kamu butuh apa, buat menghilangkan kesahmu, apa kita harus liburan?’tanyaku Ina manyun dengan sedikit mengangguk.
“Liburan sejauh mungkin, kalo bisa kita gak usah kembali”rengeknya, aku terkekeh sembari sedikit beringsut memeluk dan menciumi pipinya,
“Kita punya tanggung jawab disini, tapi bisa dipertimbangkan sih nanti, jika itu harus,”ujarku Ina tersenyum masuk kedalam pelukanku dan membenamkan wajahnya didadaku.
“Aku takut kehilanganmu mas.”lirihnya. sedikit aku elus lembut rambut panjangnya yang teruai dan mengecup pucuk kepalanya.
“Kamu tenang aja, mas gak akan kemana-mana.’’lirihku meeratkan lenganku dibahunya, Ina nyaman dalam pelukanku. Untuk sejanak kami terdiam dalam harmoni rasa, hingga dia sedikit beringsut menatap mataku.
Keesokan harinya, aku kembali ngantor seperti biasanya, tentunya hari ku selalu bersemangat sekarang setiap hari karna Ina adalah sebaik-baik istri yang aku tau
“Mas ini ponselnya, ntar malm aku cek lagi, awas aja kalo ada pesan dan panggilan di hapus,”ujarku. Aku tersenyum dan mengangguk menyambar ponsel itu. Ina memperbaiki jasku dan berkata dengan wajah serius.
“Kamu janji ya, jangan nakal”ucapnya.
“Iyak.. iiyak ntar siang juga aku harus kembali, jadi kamu tunggu dirumah dandan yang cantik ya?’ujarku Ina tersenyum dan reflek mencium pipiku. Aku mengelus pipinya lembut dan beranjak ke garasi, istriku itu melambaikan tangannya seiring mobilku berlalu.
Siang berkunjung aku masih perlu mengurus segala sesuatu di gudang yang belum terselesaikan kemarin, aku coba me cek lagi, dan merasa sudah aman aku kembali, namun langkahku terhenti saat telfon berdering dari sekretarisku.
“Ya hallo?’’sahutku
“Maaf pak, Rara dia menemui bapak keruangan,”ujarnya, mataku membulat dan sedikit gemetar,
“Buat apa dia kesini, kamu urus deh, tolong jelaskan padanya kalau aku tidak bisa menemuinya,”ujarku,
__ADS_1
“Saya sudah katakan kalo bapak di gudang, namun dia memilih untuk menunggu.”ujarnya aku mengusap wajahku kesal, dan berdesih gundah. Aku memilih beranjak ke perumahan pekerja untuk menghindar setelah satu jam aku disana, aku kembali telfon sekretarisku itu
Tuuuuut…. Tuuut.
“Apa dia sudah pergi?”tanyaku pada sekretaris.
“Sudah pak.”singkatnya nafasku terasa sedikit lega dan beranjak dari pos satpam itu.
“Saya permisi dulu,”ujarku pada satpam yang jaga,
“Baik pak terima kasih sudah berknjung”ujarnya aku hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Sesampai di ruanganku aku menghenyak di kursi kerja sembari memijit-mijit kepalaku. Dalam kegundahan itu asisten baruku datang menghmpiri,
“Pak kita ada jadwal metting jam tiga.”ujarnya aku memijit batang hidung karna pusing,
“Kamu urus sendiri ya asri, aku gak bisa ikut pertemuan aku mau segera pulang,”ujarku.
“Baik pak”singkatnya berlalu. Kembali aku menghela nafas sesak dan kembali bersaandar , tak lama setelahnya. Terdengar keributan dari luar, telah terjadinya kebakaran digudang . Mendengar itu aku keluar, mereka juga tampak menugguku di pintu buat kasih tau.
“Apa yang terjadi?’’ tanyaku.
“Gudang kebakaran pak.”ujar salah satu dari mereka,, aku kembali kedalam hendak menyambar jasku, namun aku dikejutkan melihat tas wanita tergeletak di atas sofa didepan meja kerjaku, fikiranku membayangkan hal buruk. Apa Rara belum kembali dan dia menyusulku ke gudang,
“Oh tuhan, semoga saja tidak.”ujarku bergegas melihat keadaan gudang sesampai disana aku lihat semua orang sudah berkumpul untuk melihat dari jarak aman,bisa aku lihat juga sudah ada pemadam kebakaran yang bertindak. Aku bingung juga harus berbuat apa.
“Ada seseorang didalam terjebak. Seorang wanita, aku juga tidak tau kenapa dia bisa masuk.’’ujar satpam sontak aku menoleh pada pintu gudang yang terbuka. dan mendekati satpam yang tengah memberi informasi itu.
“Coba lihat dimana dia..”ucapku sembari berdesih menyambar kamera control satpam akan cctv gudang itu. Mataku membulat saat melihat Rara bersimpuh disuatu sudut rauangan yang sudah mulai di jalari api. Tanpa pikir panjang, aku pun menyerobos masuk, tak ada yang lain dalam benakku selain ingin menyelamatkannya.
Duh? gimana donk?
__ADS_1