
Dua jam kemudian setelah permaian futsal berjalan di babak pertama, aku sangat bersemangat dan terhibur sekali karna Aldo sangat ahli dan pintar mencetak gawang hingga pertandingan itu sengit. Permainan itu berakhir pada skor 02 Gol dan nol untuk lawan main Aldo, bocah itu tampak girang mendekat padaku dengan berlari-lari kecil berkeringat banyak mengucuri wajah hingga lehernya.
“Keren kan beb, aku cetak dua gol,”
“Iya semangat,”ucapku mengambilkan air minum Aldo duduk bersandar di sampingku dan langsung meneguk habis setengah isi botol.
“Handuknya sayang..”ujarnya aku terdiam mendengar Aldo memanggilku dengan sebutan sayang.
“Iiih, handuknya bawa sini.”ujarnya, aku tersintak dari bengongku dan mengambilkan handuk itu lalu memberikan padanya,
“Ini..’’ucapku, Aldo tersenyum mendekat merebahkan badannya diatas pahaku dan berkata.
“Bantu lap-in keringatnya,”ucapnya. Aku hanya bisa geleng-geleng dan gerakkan tanganku untuk melapkan handuk kecil itu kedahi hingga lehernya,
“Kamu bosan gak disini?”tanyanya, sejenak aku menghentikan gerakku dan menggeleng.
“Trus kenapa dari tadi diam aja?”
“Gak apa-apa. Beneran kok aku seneng pokonya kamu harus menang nanti ya, awas aja gak”ujarku.
“Aku akan usahakan sayang, tapi beneran kamu terhibur dengan ini?”Tanyanya aku mengangguk.
“habis ini kita kemana?’’tanyanya, aku terdiam sejenak dan memanyunkan bibirku.
“Emang kamu gak capek ya?’tanyaku, Aldo sedikit mengangkat badanya dan berkata.’
“Gak ada kata capek buat bahagiain kamu sayang.”lirihnya, aku makin tak habis pikir.
“Aku belum menganggap kamu pacarku lo Al.”ujarnya, dia duduk dan melihatku dengan wajah kesel.
“Apa kamu tidak yakin dengan usahaku?’’aku menatap matanya dalam-dalam dan reflek menggeleng.
“Apa yang ingin sekali kamu wujudkan, yang itu mustahil bagimu dan mungkin aku bisa mewujudkannya?”ujarnya aku menautkan alisku dan coba memikirkannya,
”Aku hanya ingin di cintai segila mungkin, bahkan logikapun, tidak akan bisa meyakini bahwa ada seseorang yang mencintaiku sebegitu dalamnya. Itu saja.”ujarku, Aldo tampak menautkan alisnyaa dan berkata.
“Contohnya?”
“Semenjak kedatangan Rara, hinngga semua waktu berjalan bersamanya, aku telah sangat bahagia, saat mas Feri memperjuangkan cintanya, untuk tidak menduakan aku, aku yakin itulah bentuk kebahagiaanku yang sesungguhnya. Tapi akhirnya pertahanannya runtuh juga, ternyata aku tidak sesmpurna itu dihatinya dan cintanya pun tidak begitu gila.”jelasku, untuk sejenak Aldo diam.
“Untuk bisa membuktikan itu pada mba, mba harus kenali Aldo lagi lebih dalam dan lebih lama karna untuk membuktikan kesetiaan, butuh waktu selamanya.”ucap anak itu aku mendegup.. Aldo mengenggam tanganku dan berkata.
“Jadilah bagian dari hidupku,”lirihnya mengecup punggung tanganku lembut aku tertunduk dan berdesih.
“Al, kamu terlalu muda, aku tidak pantas denganmu, lagian aku tidak yakin dengan hatiku,”ujarnya,
“Aku tidak peduli, aku mencintai sifat dan kedewasaan mba Ina, jadi Beri aku kesempatan.”singkatnya, aku menghela nafas sedikit panjang dan merintikkan air mataku sembari mengagguk pelan, Aldo mengecup lama keningku, membuat aku mengerti satu hal bahwa dia sangat tulus padaku,
__ADS_1
POV FERI.
FLASBACK
Tok Tok Tok….
Aku mengetuk pintu rumah Rara, bisa aku lihat Aldo juga sedang berknjung, namun sepertinya dia tidak menyukai kehadiranku dan berlalu pergi. Aku beranjak ke kamar gadis itu yang tengah menatap kosong sudut ruangan itu.
“Ra, kamu liat siapa yang datang?’’ujar mamanya, Rara tak bergeming hingga aku mendekat, dia menangis sesegukan dan menggapai badanku, aku membalas dekapannya dan coba menenangkannya.
“Mas, akhirnya kamu datang juga, aku mohon jangan pergi lagi.”ujarnya. aku mendegup dan mengangguk.
“Rara, mas gak tau apa yang bisa mas lakukan, sehingga membuat kamu kehilangan jati dirimu seperti ini, jujur aku sangat peduli padamu, bangkitlah Ra, masa depanmu masih panjang,” Rara mendegup dan coba bicara dengan kesal.
“Masa depan katamu mas? Kamu yang telah menghancurkan masa depanku.”ujarnya, aku menghela nafas, dan meggaruk sedikit batang hidungku.
“Aku minta maaf.. “
“Pergilah,, jangan pernah temui aku lagi, mulai hari ini kamu tidak akan melihatku lagi mas, jadi jangan takut aku tidak akan menganggumu lagi.”ujarnya, aku berdengus dan berjalan keluar, terdengar pintu kamarnya tertutup kencang, di luar aku melihat Mama Rara menungguku dengan tatapan mata berkaca-kaca.
“Putriku, dia seperti orang tidak waras akhir-akhir ini, maaf jika salah, ini memang permintaan yang bodoh. Aku hanya ingin anakku sembuh itu saja, **-olong nikahi dia.’’ucapnya berat, aku menautkan alis dan berkata, dengan tak habis pikir,
“Jika aku berniat menikahinya, aku akan menikahinya jauh-jauh hari, tante tau kenapa aku datang kesini?”ucapku orang tua Rara itu mengangkat lehernya sedikit dan berkata.
“Aku mau menuntut kerugian, atas kesalahan Rara yang sengaja membakar gudang itu,”ujarku mata wanita paruh baya itu membulat.
“R-ara? Sengaja membakarnya?”tanyanya lagi, aku menghela nafas dan berkata.
“ Ya aku jug terkejut melihat rekaman cctv, setelah di cek petugas, aku tidak tau apa yang ada dalam fikirannya hingga dia nekat seperti itu, Dan asal tante tau aja, kerugiannya tidak sedikit,”ujarku, mama Rara tampak mengusap wajahnya gundah dan gemetar.
“Saya tau, kondisi Rara seperti apa, makanya saya tidak mempertanyakan ini padanya dan bahkan tidak perkarakan ini, semoga saja tante punya jalan keluarnya, untuk mengganti rugi atas terbakarnya produksi sepatu di perusahaan istri saya.”ujarku dan beranjak pergi, wanita itu tertinggal dengan menghenyak di sofa. Aku coba abaikan raut wajahnya yang gundah itu dan harus segera kembali
Namun saat aku hendak menyalakan mesin mobil aku mendengar teriakan dari kamarnya Rara. Aku berdesih dan tidak bisa pergi begitu saja, aku turun dan kembali mecek keadaannya, bisa aku lihat mamanya berusaha membuka pintu dengan panik melihat itu aku langsung mendobrak kamar dan reflek terbuka kami berdua terkejut melihat Rara bersimbah darah di nadinya, dalam kepanikan itu, aku menyambar kain membalut tangannya dan menggendongnya kembali ke mobil, untuk membawanya kerumah sakit, karna sayatan luka yang cukup dalam Rara kehabisan banyak darah dan harus dirawat secara intensif,
“Saya harus kembali dulu, saya masih punya banyak urusan.’’izinku pada mamanya Rara, namun dia menghentikan langkahku dengan tangis bercucuran dimatanya.
“Kamu mengalami kerugian, atas terbakarnya gudang di perusahaan istrimu? Lalu bagaimana dengan kerugianku yang hampir saja kehilangan putriku? Aku sudah sangat putus asa sekali bagaimana cara mengobatinya, aku akan ganti semua kerugian, tapi aku mohon tolong selamatkan putriku.”ujarnya, aku menautkan alisku dan berkata.
“Aku tidak bisa menikahi putrimu..”singkatku beranjak pergi.
Aku menghela nafas sesak sepanjang jalan menuju parkiran rumah sakit itu, namun tiba-tiba aku berpapasan dengan psikolog sekaligus dokter yang menangani Ina sebelumnya,
“Sore pak Ferry?’’sapanya, aku menghentikan langkahku dan mendekat mengulurkan jabatan tanganku.
“Sore ibuk Hana apa kabar, kita sudah lama sekali tidak bertemu,”ujarku Dokter itu tersenyum.
__ADS_1
“Semenjak terapi terakhir Ina tak datangi dan hubungi aku lagi untuk konsul, apa dia sudah pulih?”tanyanya aku merekahkan senyum dan berkata.
“Iya, Ina sudah pulih, dan sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal.”ucapku, Dokter itu tampak memasang wajah serius,
“Saya ingin mengatakan kiat terakhir untuk membuat Ina benar-benar pulih, dan saya rasa ini sangat penting.’’ujarnya. aku tampak mengangguk pelan.
“Oh ya, apa itu dok?”
“Bisa kita bicara di taman,”singkatnya aku membuntuti dokter itu ke taman.
“Secaara mendasar, aku memang melihat dia sudah sembuh, tapi dengan keterbelakangan mental seperti itu, dia bisa saja down jika sewaktu-waktu dia dapat goncangan yang hebat tak menutup kemungkinan, dia bisa kembali seperti dulu,”ujar Dokter Hana, aku masih belum paham apa yang ingin dijelaskan oleh dotkter itu.
“Mm-maksudnya?’
“Terapi terakhir, saya bersamanya. Dia selalu menceritakan tentang kebahagiaan, saya simpulkan dia seolah berfikir dunia itu isinya hanya tentang kebahagiaan, cintamu yang begitu besar kasih mamanya dan hidup berkecukupan, sejauh itu bagus dan wajar saja, tapi hiidup kita tidak tau apa kehendaknya takdir, aku takut, saat ujian itu datang, dia tidak siap dan dia kembali terguncang.”jelasnya, aku menghela nafas dan makin tak mengerti.
“Maaf dok, aku tidak mengerti sama sekali.”lrihku.
“Beri dia sedikit bumbu kehidupan, sedikit konflik, goncangan pertseteruan seperti kehidupan orang-orang normal pada umumya, sakit hati,kecewa dan menangis. Itu akan jadi terapi alami untuknya, dan di saat takdir benar-benar membuat dia terpuruk dia akan sangat siap.”jelasnya, aku coba berfikir dan berkata lirih.
“Takdir terburuknya?”
“Apa kamu yakin, akan bisa menjaga dia selamanya? Apa kamu bisa menghentikan, tuhan saat mengambil nyawamu yang mungkin lebih dulu dari Ina? Ina tidak akan sanggup mengahdapi itu nanti, karna keterbelakangannya Ini kalian akan selalu berusaha membahagiakan dia setiap hari dengan segala cara, itu tidak baik, jadi saranku. Buat dia siap untuk kehilangan, kita tidak tau takdir, dia bisa saja kehilangan kamu ataupun kehilangan siapa saja yang ia disayangi.”jelas buk dokter, membuat aku teranyuh.
“Ini terdengar sulit dok.”singkatku.
“Kamu harus lakukan ini untuk istrimu, tinggal satu langkah lagi. Hidup kalian akan kembali normal.”ujarnya, aku terdiam nanar memikirkan aku harus menyakiti Ina, membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.
“Konfik, menyakitinya perlahan akan menjadi terapi, baiklah,”lirihku berat.
“Baiklah pak Feri, intinya itu terapi alami, untuk membentuk kesiapan mental Ina menjalani kehidupan yang benar-benar normal.’’ujarnya, buk doker berdiri dan beranjak kembali masuk kerumah sakit, sedangkan aku nanar. Memikirkan satu hal. Keadaan Rara, bisa saja aku manfaatkan. Karna tak bisa aku pungkiri juga aku sangat bertanggung jawab akan kondisi gadis itu sekarang.
“Ufffthh,, entah lah,, “dengusku berdiri kembali melihat keadaan Rara, dari ruangannya aku lihat dia menangis histeris beronta dari sadarnya berteriak-teriak memanggil namaku, hingga perawat terpaksa memberikan obat penenang, mamanya hanya bisa menangis dibalik ruangan itu melihat anaknya dari jendela kaca.
“Ketika dia bangun, katakana padanya bahwa aku sudah menikahinya.”ucapku, dia menoleh dengan mata membulat sembari menghapus air matanya.
“Aku sangat bertanggung jawab atas kondisi Rara, sebagai gantinya aku akan berusaha membuat dia benar-benar pulih.’’jelasku menatap nanar Rara yang trerbaring didalam, mamanya menangiss tersedu-sedu.
“Seumur hidup saya sia-siakan dia Fer, dan hari ini saya menyesal dan miris sekali melihat putri saya, saya senang sekali kamu mau membantu, saya akan jual semua kekayaan saya untuk mengganti kerugian, asal kamu sembuhkan Rara hiks.”tangisnya pecah, aku memegangi bahunya yang tampak gemetar itu.
__ADS_1
“Dandani dan rapikan dia, buat dia berfikir kalo kita telah melakukan pernikahan, aku akan disini sampai dia sadar.”lirihku pelan, hatiku berat tapi aku harus lakukan ini, demi Ina dann demi rasa bersalahku pada gadis ini.