
Keesokan paginya setelah berberes aku turun kebawahh menghampiri mas Feri yang tiidur di atas sofa. Hatiku hangat dan beranjak kedapur menemui mbok Lastri.
“Non, itu sarapanya udah, tapi itu the gak mbok bikin karna kemaren bikin gak di minum sama aden, nona Ina yang bikin aja ya”ujarnya, aku mengangguk.
“Ya mbok biar Ina yang bikin.’’sahutku. Bergegas aku bikin karna gak tahan lama-lama di dapur. Kembali aku menemui mas Feri yang tengah berada di sofa,
“Mas bangun, kamu tidurnya jam berapa sih mas, kesiangan gini.”ujarku mengellus sedikit pipinya dia tampak sedikit beringsut dan mengucek sedikit matanya.
‘’Dah pagi…”ucapnya sembari menguap. Aku memaandangnya lekat dan berkata.
“Kamu begadang ya semalaman?’’ujarku mas Feri coba turun dari sofa dan beranjak kekamr mandii.
“Ini ya mas Tehnya aku tarok disini,”sorakku, dia tak menoleh dan tetap fokus berjalan kekamaar mandi.
Siang berkunjung, aku beneran ingin istirahat sekarang aku gak akan kemana-mana dan sepertinya mas Feri gak kemana-mana juga, aku bisa tenang dan happy dirumah. Aku turun dari kamar dan mengahmpiri mas Feri yang ada di ruang keluarga sedang menonton TV.
Segera aku duduk menyambar cemilan dalam botol dan memakannya sembari ikut menonton TV bersama mas Feri dia menoleh dengan tatapan datar,
“Perasaan kamu gak hentinya makan deh Ina, ntar gendut.”ujarnya, sejenak aku menghentikan mulutku mengunyah dan berkata.
“Mas mau?”ucapku menyodorkan botol itu, dia menggeleng dan menoleh ke layar TV lagi. Aku manyun dan kembali mengunyah makanan.
“Tanganmu bentol-bentol begini kenapa mas?’’tanyaku menunjuk lengannya yang merah-merah.
“Nyamuk”singkatnya, aku kembali mengunyah makanan dan berkata.
“Ya emang di luar banyak nyamuknya.”singkatku lagi, dia menghela nafas dan berkata.
“Mungkin kita tidak bisa kedepannya lebih harmonis, maaf mungkin kita tidak bisa sekamar aku mau tinggal ada disini karna bayi dalam kandungan itu.”ujarnya, aku mendegup dan meletakkan kembali botol cemilan itu,
“Aku seperti ini juga karna kandunganku, maaf. Jika terlalu merepotkanmu, tapi jujur bukan kamu aja yang tersiksa saat membayangkan sesuatu yang mungkin menjijikkan,”ujarku, Mas Feri tampak menoleh dengan menautkan alisnya. Aku kembali menggetarkan bibirku dan berkata.
“Kita sudah sama-sama terjamahi mas, aku bahkan beberapa kali melihat kamu mencumbui Rara denga hasrat.”ujarku, mas Feri memandang wajahku lekat dengan tak habis pikir.
“Malam itu, di sofa ini. Dan malam saat dia datang kalian bercumbu di teras, aku bisa melihatnya dari balkon”ujarku, mas Feri terdiam melihat nanar wajahku, aku mendegup dan berkata.
“Kamu punya banyak waktu bersamanya, bahkan gak pulang berhari-hari.”ucapku, mas Feri mengambil nafas sedikit berat dan hendak berkata namun aku cegat dengan kecurigaan.
“Aku tidak yakin, hubungan kalian hanya sebatas yang aku lihat saja,”ujarku, mas Feri tampak menggertakkan rahangnya dan bicara berdesis.
__ADS_1
“Percaya atau tidak, memang begitulah kenyataannya.”ujarnya, aku manyun dan sedikit manggut-manggut walau aku yakin dengan tatapan matanya, aku tidak ingin mas Feri merasa kalau aku percaya.
“O, begitu kah? Anggap saja seperti itu.”ucapku berdiri mas Feri tampak kesal menautkan alis dan berkata.
“Aku sadar dengan tindakan yang aku lakukan, aku bukan kamu Ina.”ujarnya, aku mendegup dan menghela nafas berat.
“Aku juga sangat sadar mas, apa ini salahku? Kamu berhari-hari gak pulang. Bahkan aku melihatmu mencumbuinya dengan mata kepalaku, kamu membohongiku mas, aku kesal, aku lelah.”ujarku terdengar sedikit keras, dia berdiri dan menatap mataku tajam.
“Setidaknya aku bohong padamu, bahwa aku menikahi Rara bukan, baik apapun itu bayangan mengusik kepalamu, aku melakukannya dengan istriku, lantas bagaimana dengan hubunganmu bersama Aldo?”ujarnya terdengar menampar, aku mendegup dan tertunduk.
“Menjijikan..”bisiknya, nafasku tersengal dan coba menghenyak duduk disofa melihat mas Feri meninggalkan, aku menangis tersedu-sedu mengutuk diriku sendiri.
"Baiklah... ini semua salahku hiks.."tanngisku dengan hati yang terasa berat
.....
Sore berkunjung kembali aku lihat mas Feri bersiap hendak pergi, kali ini aku diam tak mau mencegatnya lagi aku memilih membuntutinya dia sangat tidak nyaman dirumah sekarang, aku ingin tau selama ini dia kemana sih, kalo pergi-pergi bahkan sampai tidak pulang,
“Dia putus asa sekali, saat tidak punya keluarga hingga mengasihani wanita itu.”gerutuku, aku kembali melaju pulang, namun fokusku kembali terpecah saat melihat jalan kearah rumah sakit, dimana Rara dirawat, aku kepo dan ingin tau bagaimaa keadaannya sekarang, anak itu berakhir menyedihkan sekali dengan sakit jiwa, aku ingin tau perkembangannya sekarang,
Setelah memarkirkan mobil ke parkiran aku berjalan pasti ke teller dan menanyakan dimana Rara dirawat, hingga aku berhasil menemuinnya, namun mataku membulat saat Aldo berada disana tengah membujuknya. Aku coba menguping pembicaraan mereka di balik pintu,
“Mau sampai kapan kamu seperti ini, aku miris lo Ra, saat orang-orang beranggapan bahwa kamu ini gila?”ujarnya, Rara tampak tak menoleh, lehernya dia tetap aja menatap ke kaca jendela melihat langit biru,
“Siapa yang bilang aku Gila, orang-orang aja yang gak waras, aku baik-baik aja.”gerutunya, terdengar Aldo terkekeh.
“Trus ngapain kamu masih disini, semangat dan lupakan semuanya, masih ada orang yang sayang sama kamu.”ujarnya Rara menoleh pada Aldo dan berkata.
“Siapa?”tanyanya, Aldo terdiam sejenak.
“Aku misalnya,”terdengar Rara berdesih.
“Kamu itu brengsek Al, aku gak percaya sama kamu.”ujarnya Aldo seedikit menyibak belahan rambutnya.
“Pria yang aku temui dengan lacur, di atas ranjang itu tidak pantas untuk dicintai, biarlah aku di anggap gila, tapi masih waras dalam mencintai.”ujarnnya, nafasku tersengal dan sedikit gemetar menutup mulutku. Aku tidak percaya aja jika Aldo sbrengsek itu.
__ADS_1
“Kamu dendam sama aku?”tanyanya, Rara menggeleng,
“Aku malah berterima kasih, karnamu aku bisa mengenal mas Feri.’’ujarnya, aku medegup. Rara begitu sangat mencintai mas Feri aku melihatnya dia tidak sakit, tapi hanya terobsesi, mas Feri segalanya baginya, aku menghela nafas dan beranjak dari sana, di perjalanan aku berpapasan dengan Bagas, sontak saja dia menyapa dan heran kenapab bisa aku ada disitu.
“Ina? Kamu ad disini?”ujarnya, aku mengangguk dan berkata.
“Aku abis melihat Rara, namun tidak bisa menemuinya secara langsung.”ujarku, Baagas tampak manggut-manggut.
“Akan lebih baik jika kamu tidak menemuinya dulu,”ujarnya, aku mengangguk.
“Oh ya Bagas kamu ngapain disini?”tanyakum Bagas tersenyum dan berkata,
“Semenjak mengetahui keadaan Rara, aku terpanggil untuk menanganinya, karna Rara tidak benar-benar mengalami gangguan kejiwaann, dia hanya depresi berat.”ucapnya, aku menghela nafas.
“Semoga kamu bisa menyembukanya, jujur aku miris hingga detik ini, dia belum bisa juga melupakan mas Feri.’’ucapku, Bagas tersenyum.
“Aku akan berusaha”singkatnya.
“Baiklah, aku pergi dulu.”ujarku beranjak Bagas mengangguk dengan senyum,
Malam berkunjung, tepat jam delapan malam, aku mendengar mobil mas Feri memasuki garasi, gegas aku intip dia dari balkon. Yang turun dan beranjak masuk kerumah sengaja aku tidak sambut karna aku sangat kesal padanya.
Trakt..
Bunyi pintu kamar terbuka, dia melepas pakaian luarnya dan beranjak kekamar mandi, aku menghentikan langkahnya yang dengan berkata.
“Sejak kapan kamu sering menemui ibuk mas?”tanyaku. dia monel dan berkatta dengan datar.
“Apa itu salah, dia seorang diri dan tua juga, dia butuh seseorang menemani di hari tuanya.”
“Tapi aku gak suka mas, dia itu tidak pantas-“ucapanku di
“Anggap saja, dia bukan orang tuamu melainkan orang tuaku kan gampang? aku tidak bisa membiarkan buk Ningsih begitu saja Ina, oh ya aku bukan kamu yang gak punya perasaan”ujarnya, aku menghela nafas sesak. namun aku tak mau bahas apapun lagi, satu masalaah saja rasanya begitu rumit untuk menyelesaikannya.
“Kenapa dia harus berhubungan lagi dengan ibuk,”kesalku menggerutu.
Malam semakin larut, aku merebahkan badanku di atas kasur. sedangkan mas Feri datang mengambil laptopnya dan beranjak kebawah. aku juga ikut mengikuti hingga ke bakon bisa ku lihat dia hendak memasuki kamar yang dulu di tempati Rara, aku menghela nafas dan berkata dari atas,
"Tidur di kamarnya Rara, pengen lepas rindu ya sama wanita itu,"ketusku, mas Feri melepaskan tangannya dari knop pintu dan beranjak kekamar satu lagi, namun dia reflek membalik seperti teringat sesuatu.
__ADS_1
"Ogah juga lah, aku tidurin bekas Aldo,"gerutu, sedIkit aku tersenyum simpul. melihat ia kembali tidur disofa seperti semalam aku hanya bisa geleng-geleng heran, dan kembali masuk kekamar untuk tidur.