FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
CURIGA


__ADS_3

Sore berkunjung namun aku belum lihat mobil mas Feri ada di garasi, dengan cemas bercampur kesal. Aku mencoba menghubunginya.


Tuuuuuuut….


Bunyi panggilan tersambung namun mas Feri tidak mengangkatnya, aku berdesih kesal beranjak masuk kerumah.


“Kok kamu gak angkat telpon aku sih mas.”rengekku menghenyak di sofa, dalam tangisanku terdengar mobil memasuki garasi, gegas aku hapus air mataku dan beranjak keluar menyambutnya. Mas Feri tampak turun dengan senyum merekah, untuk sejenak aku kesal dan tak mau melihatnya, dia datang dan reflek memelukku.


“Maaf ya sayang, mas gak sempat angkat tadi karna lagi di jalan, jangan cemberut gitu donk wajahnya.”ucapnya aku terpaksa menarik ujung bibirku untuk tersenyum dan berkata.


“kamu keman aja sih mas? Malah slow respon lagi sama aku, aku curiga deh ini pasti kamu menyembunyikan sesuatukan?”gerutuku.


“Ya menemui penginvest lah Ina, maaf. Karna memang mas sibuk banget. curiga apaan sih sayang? aku capek lo ini”ujarnya aku memandanginya datar entah kenapa aku merasa ada yang ganjal.


“Gimana? Dapat?”tanyaku, mas Feri tampak mendegup dan menggeleng perlahan.


“B-belum sih, tapi kamu tenang aja, mas pasti bisa atasi ini,”ujarnya aku berdesih dan membuang muka berjalan masuk kedalam rumah.


“Ina, kamu yakin deh kita pasti punya solusinya.”ucapnya, aku menoleh padanya dengan tatapan datar.


“Aku sudah dapat solusinya, PT astra Al company, menanam saham di perusahaan kita 50%”ujarku pelan, mas Feri tampak membulatkan matanya dan sangat terheran.


“Al company? Pp-erusahaan besar itu? 50 persen?”ucapnya, aku sedikit memainkan bibir hingga menaikkan alisku.


“Mas gak percaya.”ujarnya, aku menghenyak di sofa dan sedikit buang nafas,


“Tadinya Ina juga gak percaya mas, tapi itulah kenyataannya. Sekarang mas gak perlu pusingin lagi ini, masalah perusaahaan kita sudah di atasi. “ujarku mas Feri tampak teranyuh dan mendekat padaku.


“Terima kasih sayang kamu memang istri yang sangat bisa diandalkan, aku mencintaimu.”ujarnya aku tersenyum dan coba mengelus pipinya,


“Sekarang kamu tinggal urus itu pekerja kita yang jadi korban, kita perlu beri santunan dan menjenguknya”ucapku, untuk sejenak, mas Feri bungkam


“Berapa orang? Tidak ada korban jiwakan?”tanyaku sembari memperhatikan mimik wajah mas Feri yang tampak berbeda.


“Mas?”tegurku lagi.

__ADS_1


“Satu… add-a satu orang, dan kamu tenang aja. Aku sudah tangani ini.”ucapnya terbata, aku coba mengangguk tapi aku juga bingung kenapa mas Feri terlihat tidak nyaman begitu.


“Oh syukurlah kalau begitu.”ujarku.


“Mas mau mandi dulu ya.”sigap mas Feri berdiri, aku tersenyum saat mas Feri mengelus lembut pipiku, 


“Oh, ya mas. Apa perlu Ina siapkan air hangat?”tanyaku.


“Gak usah sayang.”


Malam berkunjung, semenjak sore hari tadi aku sering melihat mas Feri bengong dan melamun. Aku tidak mengerti, apa yang tengah ada dalam pikirannya sekarang, yang jelas dia tidak terlihat baik-baik saja, aku menghampirinya yang tengah duduk di balkon kamar kami menatap langit malam. Sembari secangkir teh menemaninya.


“Mas, Ada apa?’’tanyaku, sontak mas Feri tersintak dan menoleh padaku, sigap dia gapai badanku memeluk hingga menciumi pipiku.


“Gak ada apa-apa sayang, mas kayaknya kurang enak badan deh pulang dari luar kota.’’ujarnya aku menatap matanya hingga menempelkan punggung tanganku didahinya,


“Gak panas?”ucapku, mas Feri berdengus dan berkata.


“Gak tau, mas capek banget akhir-akhir ini,”ucapnya, sontak aku mengelus pipinya dan berkata.


“Aku sayanng banget sama kamu Ina. “lirihnya, sedikit aku elus wajahnya yang mendongak padaku itu, karna posisiku duduk dipahanya tentu wajahku lebih tinggi matanya bisa aku lihat lebih jelas namun susah aku artikan manik mataa yang tampak berbeda itu. Namun aku tak paham apa-apa.


“Iya, Ina tau kalo mas sayang sama Ina.’’ujarku, kembali mas Feri mendekap dan memelukku. Entah kenapa aku merasa sentuhan mas Feri kali ini, berbeda. Seolah dia tak punya kesempatan lain waktu lagi padaku. Seakan aku merasa mas Feri ingin menyentuhku terakhir kalinya, itu bisa aku lihat dari manik matanya yang terlihat berkaca-kaca, entah ini hanya perasaanku saja entahlah aku tidak tau. Yang jelas ada yang berbeda.


“Mas, apa yang terjadi?”tanyaku, dia hanya diam dan kembali , mengagahi, mendatangiku dengan lembut. Bibirnya hanya bisa berkata dengan lirih,


“Aku mencintaimu Ina”.


aku bingung, tapi mungkin ini hanya naluriku saja yang memang akhir-akhir curigaan


 


Keesokan paginya, aku terbangun lebih awal. Sebelum menyiapkan sarapan aku siapkan baju kantor mas Feri dulu. Dan meletakkannya di sofa didepan tempat tidur kami. Setelah itu aku turun kebawah menyiapkan sarapan dan teh hangat untuknya, sedang asyik memasak tiba-tiba mas Feri memelukku dari belakang dan menciumi tengkukku.


“Huumm,,, istriku yang wangi. Mana sarapan buat mas.”rengeknya aku terkekeh membalik dan mengelus pipinya.

__ADS_1


“Mas bukannya mandi malah turun kebawah.”ujarku, kembali mas Feri menciumi pipiku.


“Abis bau masakan kamu bikin aku kagak nahan,”ucapnya aku terkekeh.


“Gak ada! kamu mandi dulu ya, baru sarapan, lagian ini belum siap. Ayo sana biar Ina hidangkan.”ujarku mas Feri sedikit manyun dan beranjak keatas lagi, aku hanya geleng-geleng terkekeh melihat tingkahnya. Selang 15 menit mas Feri turun dengan Rapi,melihat itu aku menghampirinya dan coba memperbaiki jas dan dasinya.


“Hummm, kamu sangat tampan sekali dengan jas hitam ini mas,”bisikku memperbaiki dasinya. Mas Feri hanya tersenyum, dan merangkulku.


“Tampan donk suaminya siapa?”ucapnya membawaku ke meja makan.


“Suami aku dooonk..”rengekku, mas Feri tertawa renyah hingga menghenyak di kursi meja. Sigap aku meletakkan piring dan mengambilkan sarapan.


“Ini mas cobak.. “titahku menyodorkan makanan kemulutnya mas Feri membuka mulut dan sontak mengunyah bakso goreng itu,


“Kamu makan yang banyak biar kuat ngantorya. Oh ya mas, hari ini kamu harus bertemu direktur PT Al company, “ujarku, mas Feri tampak mengangguk dan sedikit tersenyum simpul.


“Baiklah, entah kenapa. Mas sangat nervous sekali. Secara itukan perusahaan besar”ujarnya sontak aku tertawa renyah,


“Gak usah gitu juga mas, direkturnya bukan orang asing lagi bagimu, dia Tak Lain hanya Aldo.”ujarku mata mas Feri membulat.


“Aldo?”lirihnya, aku terkekh dan mengangguk.


“Kok bisa? ''


"Tadinya aku juga terkejut mas, gak nyangka aja, Aldo yang seperti anak togkrongan yang hobinya balapan itu ternyata nigrat,”ujarku tersenyum sembari geleng-geleng.


“Oh, perusahaan bapaknya,”singkat mas Feri aku tersenyum mengangguk.


“Kamu pasti canggung deh bicara dengan dia, tapi enak juga mas gak perlu formal, Aldo asyik orangnya, bodohnya Rara kok bisa gak Kecantol Aldo mana tajir dan tampan gitu”ucapku girang, sontak saja wajah mas Feri berubah.


“Mas kenapa?’tanyaku singkat.


“Udah gak usah segitunya muji-muji Aldo, gak suka aja dengarnya.”


“Humm ya deh,”ketusku

__ADS_1


Happy reading......


__ADS_2