FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
RINGAN


__ADS_3

POV RARA.


Aku terbangun di jam 7 pagi hari ini entah kenapa dengan jam tidurku, aku seringkali melewatkan mas Feri berangkat kerja sedikit aku beringsut dari tempat tidur dan memanggi mama.


“Ma..”panggilku aku butuh di siapin air hangat untuk mandi tak butuh waktu lama, tak butuh waktu lama mama datang,


“Ya, Ra, ada apa?’’


“Mama kok gak bangunin Rara sih, sekarang mas Feri pergi lagi kan?”ucapku kesal mama mendekat dan duduk di tepi ranjangku.


“Rara siih kebiasaan gitu, makanya pas gadis itu biasakan bangun pagi, jadi bisa ngurus suami dan siapin bekal suami kerja.”ujarnya, aku berdesih mengusap wajah dan menyibak belahan rambutku.


“Udah deh mama sana, Raara mau mandi.”gerutuku beranjak, selesa mandi dan berkemas, kucoba hubungi, mas Feri.


Tuuuut..


“Halo Ra?”


“Mas, kamu kekantornya kok bilang aku dulu.”rengekku.


“Kamunya masih tidur sayang, gak tega mas Bangunin.”ujarnya,


“Kamu pulangnya ke tempat Rara kan? Rara tunggu makan siang dirumah ya?”ucapku lagi, untuk sejenak mas Feri diam.


“Liat nanti ya kalo mas gak sibuk.”ucapnya. aku berdesih dan langsung berkata.


“Kok liat nanti sih mas, kamu sadar gak sih. Kamu masih prioritaskan mba Ina. Aku ini juga istri kamu lo? Malah semalam aku jemput dulu, hanya untuk tidur disini.”gerutuku.


“Sayang mas kan sibuk. Kaadang pulang kerja tu capek. Jadi gak sempet ke tempat kamu.”ujarnya,, aku menghela nafas kesal dan menyibak belahan rambutku.


“Makanya pulang kerja tu kesini mas. Jangan ke tempat mba Ina dulu.”keselku


“Rara…, mas belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. Mungkin butuh waktu gimana caranya membagi waktu dan diri mas untuk kalian, “gerutunya. Sedikit aku hela nafas, aku kesal mendengarnya kenapa musti berbagi ‘kan mba Ina udah ngajuin cerai, harusnya sekarang mas Feri fokus sama aku aja.


“Mas, bisa aja lepasin mba Ina.”ujarku, dari sana diam.


“Mas lanjut kerja dulu, nanti mas kabari lagi.”ucapnya. aku kesal membanting ponselku ke atas kasur.


“Ina… Ina… Ina! terus”geramku kesal. Entah bagaiman caranya aku bisa membuat mas Ferii gak usah bahas Ina saat bersamaku, aku hanya ingin dia prioritaskan aku saja, dia sudah menikahiku, dan aku juga berhak sepenuhnya atas mas Feri. Aku akan ambil dia. Mba Ina gak boleh menang dia terlalu percaya diri sekali waktu itu saat mengantarku kembali, aku akan membuat mas Feri mencintai aku sepenuhnya dan akan melepaskan mba Ina untuk selamannya.


Siang berkunjung, aku putuskan untuk datangi mas Feri kekantornya. Sesampai disana  aku langsung masuk keruangannya dan menemui mas Feri yang tampak sibuk kerja, tau aku datang dia menoleh dan melirik mba Ina yang juga dalam satu ruanga di meja direktur, sejenak ia menoleh pada kami dan setelah itu memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


“Ra kamu ngapain keseni sih.”tanya mas Feri.


“Aku mau ngajak kamu makan siang mas, ntar kalo aku gak kesini kamu pasti pulangnya ketempat mba Ina.”gerutuku. mas Feri tampak gundah mengusap wajahnya dan berdiri.


“Kamu pulang dulu deh, nanti mas akan temui kamu Ra.”ucapnya, aku menghenyak di sofa disampng meeja kerja dan berkata


“Gak… aku mau nungguin kamu disini.”ujarku, sembari melihat mba Ina yang tampak bodoh amat dengan kehadiranku. Kembali mas Feri duduk menyiapkan berkasnya dan habis itu berdiri mengajaku keluar,


“Ya udah ayo.”ujarnya, mas Feri menoleh pada mba Ina dan berkata.


“Kamu gak istirahat makan siang na?”tanyanya , sejenak wanita itu menghentikan gerak tangannya yang sibuk didepan laptop dan berkata.


“Gak usah urusin aku..”ucapnya singkat, yang membuat aku mencibir,


“Ayo mas… “rengekku menarik lengannya.

__ADS_1


“Masih belum selesai, aku suruh antar kurir untuk makan siangmu gimana?”Tanya mas Feri lagi. Aku tak habis pikir dengan mas Feri yang ngotot banget peduli sama Ina. Mba Ina hanya bungkam tak menyahut sepatah katapun,


“Ayo mas. Kamu liat sendiri dia aja males ngomong sama kamu. Udah deh mas kamu fokusnya sama aku aja, gak usah ngurusin dia”ucapku lagi, aku melirik pada Mba Ina yang terdengar berdesis tanpa melihat kami berdua.


“Sampah…”ucapnya, aku reflek menautkan alisku dan berkata.


“Apa mba bilang barusan?’’ dia menoleh dan menatap wajahku datar.


“Sampah?”singkatnya.


PlAK..


Aku menepuk meja kerjanya dan berkata.


“Kamu itu yang sampah, merasa paling bagus aja kamu. Kamu liat aja. Aku akan mengambil mas Feri darimu.”ucapku geram, dengan santai mba Ina buka laci dan mengambil sterilisasi untuk menyemprot meja kerjanya yang aku sentuh tadi. Mataku membulat melihat aksinya itu.


 


“Menjijikan…”bisiknya sembari mengusap tangannya dengan hand sanitizer, hingga menyemprot sekeliling, aku geram dan siap ingin menghajarnya namun di halangi mas Feri.


“Ih mas, aku kesal banget,, emang dia fikir aku itu virus apa?”gerutuku.


“Udah Rara, ayok kita pergi.’’ujar mas Feri, mba Ina tampak tersenyum kecut dan beerkata,


“Sekalian sama kamu juga mas gak usah balik lagi kesini, sampah memang cocok dengan sampah. meresahkan sekali sih kalian’’ujarnya kembali mengotak atik laptopnya,


“Aku bingung mas, kok kamu masih pertahanin mba Ina? Dia udah kurang aja banget.. “timpalku lagi mas Feri nanar menatp aku dan mba Ina yang bergantian, mba Ina masih tetap fokus sama layar laptopnya dan berkata..


“Dia takut Kere lagi Ra… secara kan?”bisiknya sedikit terkekeh, aku kembali menoleh pada mas Feri dia menarikku paksa keluar, sesampai diluar aku masih menatap lekat wajah mas Feri.


“Makasih ya mas?’’ aku terharu dan memelukny lebih erat lagi.


“Tu lah, kamu jangan ancem-ancem mas lagi. Atau bersikap yang aneh-aneh, kita pasti bisa lewati ini semua.”ujarnya, aku melirik tangan mas Feri yang terluka akibat semalam aku datang kerumah mba Ina membawa pisau ngancem mas feri mau bunuh diri dia menghentikan aksiku hingga melukai tangannya aku haru dan membenamkan wajahku kedadanya hingga menciumi pipinya.


“Ayo kita makan,, Rara laper..”rengekku, mas Feri tersenyum dan merangkulku pergi.


 


POV INA


Selepas dua sampah itu pergi, aku menghela nafas, bersandar untuk sejanak melepaskan penatku.


“Aku harus terbiasa dengan keadaan seperti ini, sebelum nanti aku bisa benar-benar bisa membuat dua orang keluar dari hidupku.”batinku dihati..


Tok Tok..Tok..


Terdengar pintu ruangan itu diketuk, sontak aku menoleh melihat siapa yang datang, Aldo berdiri kaku di pintu sembari menyunggingkan senyum dan barisan giginya, melihat itu aku terkekeh.


“Kamu kesambet apa?’tanyaku, pria itu tampak kikuk dan garuk-garuk tengkuk mendekat.


“Humm. Anu mba Ina. Aku..”ucapnya ragu.


“Ada apa?”tanyaku dengan waajah datar,


“Itu.. semalam..”ucapnya kembali terhenti, aku berfikir sejenak mungkin Aldo seperti ini karna pesan singkat itu, lebih baik aku pura-pura gak tau aja ya biar dia gak canggung,


“Semalam kenapa? Kamu nelpon aku ya? Maaf ponselku sama mas Feri.”ujarku, sontak wajah anak itu berubah.

__ADS_1


“Beneran?”tanyanya, aku mencibir dengan sedikit mengangguk.


“Oh iya, itu saya mau nelpon rencana nanyain target pasar kita berikutnyaa  Negara apa gitu, tapi ya sudahlah kita bahas sekarang aja.”ujarnya, aku manggut-manggu dengan sedikit tertawa geli melihat wajahnya yang mendadak serius, aku kembali fokus pada berkas yang sedikit lagi kelar.


“Tapi buat apa dia nyita hape mbak? Bukannya barusan Al liat dia keluar sama Rara.”


“Tau tu…dasar egois.”gerutuku.


“Mba udah selesai, kita makan siang yok?”pintanya,


 


“Ya ini dikit lagi, bentar ya,”ujarku menyelesaikan penyimpanan dan menutup laptopku,


“Ayok..”


Aldo mengikuti langkahku keluar,


Sesampai di kantin Kantor kami menikmati makan siang bersama para staf dan pekerja lain, Aldo masih memperhatikan wajahku dari tadi yang membuat aku sedikit risih dan bertanya,


“Ada apa?’tanyaku.


“Al, seneng aja mbak Ina lebih keliatan ringan sekali hari ini.”ujarnya, aku tersenyum sambil berkata.


“Bagusan mana?”tanyaku lagi


“Bagusan kek sekarang lah, aku ikut senang liatnya,”ujar Aldo aku tersenyum hangat dan berkata.


“Kemarin aku konsul ke Bagas, dan hari ini aku janji gak bakalan nykitin diri sendiri lagi.”Ucapku Aldo tampak riang sekali.


“Begitu donk mba, biar aura kecantikan mba keluar lagi.”ujarnya, aku terdiam melirik wajah Aldo dia mendegup sembari mencoba meralat perkataannya,


“Mmm-maksudnya, aura ke-ke..”Aldo tak tau lanjutin apa.


“Iya udah, aura kecantikan, emang aku cantikkan?”ucapku lagi, Aldo tertawa renyah dan berkata.


“He he, kirain tadi mba marah Aldo puji.”ucapnya tersenyum simpul.


“Gak… donk kok marah,”kami berdua terkekeh,


“Mba Ina asyik juga ya orangnya.”ujarnya, sedikit aku hela nafas dan berkata,


 


“Aku ingin jadi orang baru, kamu mau kan kenalkan mba? Sama pengalaman yang luar biasa.?’tanyaku. Aldo tampak berfikir sejenak.


“Maksudnya?”


“Aku mau liat sisi kehidupan yang lain, selain mas Feri rumahku dan segala masalahnya, aku tau, banyak hal yang belum aku lihat dan aku rasakan?”ucapku, Aldo tampak manggut-manggut.


“Aldo akan kenalkan itu semua pada mbak.”sigapnya, aku tersenyum menatap hangat wajah Aldo. Memang benar, aku sangat ingin tau. Dan ingin melepaskan semua penat, aku mau hatiku ringan tanpa beban, dari pada nanti hatiku mati rasa karna sakit yang berlebihan lebih baik aku cari cara untuk menghibur hatiku.


"Yang positif tapi?"


"Iya donk, pastinya..."


 

__ADS_1


__ADS_2