
POV ALDO
“Tuan ada pertemuan dengan CEO Ina production.’ucap asistenku, aku berhenti mengotak atik ponsel dan menoleh padanya.
“CEOnya suaminya bukan?’’tanyaku, asistenku mengangguk.
“Oh okey jadwalkan pertemuan disini saja, kita tidak usah kesana.”sigapku kembali menyambar ponsel untuk main game dan sembari tetap kakiku bertengker di meja. Asistenku tampak sibuk mengotak atik laptopnya,
TRAKT..
Pintu ruangan terbuka, aku tidak peduli dan tetap nyaman dengan posiisiku, mataku membulat saat aku melirik. Yang berdiri ternyata papa, sigap aku turunkan kakiku dan meletakkan ponselku
“Pa-pa”ucapku berdiri tertunduk,
“Kamu ini niat gak sih untuk jadi direktur. Apa saja yang kamu sudah pelajari. Masak iya menanam saham diperusahaan yang kecil dengan persenan yang besar.”teriak papa. aku menghela nafas dan coba berucap.
“Papa gimana sih. Katanya udah diserahin sama Aldo, papa tenang aja, Aldo pasti tau gimana caranya jalanin perusahaan papa.”ucapku, papa terdengar berdengus.
“Perusahaan itu, perusahaan kecil. Kamu pertaruhkan saham kita. Apalagi sekarang mereka memulai lagi dari awal karna inseden kebakaran itu, kamu harus bijak gak boleh sembarangan begini.”gerutu papa.
“Walupun kecil, peminat produck di perusahaan itu besar pah, sepatu kulit jebolan sana, sudah di ekspor keluar negri, jadi mereka ngebet banget cari investor, hanya nutupin pesanan dari luar, papa jangan remehin Aldo gini, Aldo tau kali pa,”jelasku sejenak papa diam Dan melirik ponsel hingga asistenku.
“Papa akan tetap pantau terus,awas saja kamu tidak bisa menghandle ini semua.”ujarnya aku hanya mengangguk dan kembali duduk menyambar ponselku. Namun secepat kilat disambar papa yang membuat mataku melotot.
“Yah pa, jangan di ambil.”
“Fokus pada, perusahaan. Jangan main-main lagi Aldo.”tegas papa meremas ponselku dan berlalu pergi.”
“Ufffth..”dengusku menyandar di kursi kerjaku sembari mengusap wajah, sedikit aku lirik asistenku yang tampak senyum melihatkan barisan giginya,
“Lucu ya?”singkatku dengan wajah datar.
“He he, gak tuan muda. Kasian aja ponselnya di ambil.’’ucapnya aku kembali menghela nafas dan melirik berkas dan laptop yang ada di meja kerja.
“Jadwalkan pertemuan lebih cepat aku bosan disini.’’ucapku.
“Bb-baik.”
Satu jam kemudian kami sudah menunggu Feri di ruangan metting,
“Kemana dia kenapa belum datang juga,”ujarku kesal.
“Tunggu sebentar, mungkin karna jadwalnya kita ubah tadi, jadi dia perlu persiapan lebih awal.”jelas asistenku.
“Lebai sekali sih dia, emang dasar orangnya gak becus,”gerutuku.
Trakt
Pintu ruangan terbuka, sontak kami menoleh, sudah bisa aku lihat Feri sedikit membingkai senyum hangat dan memberi salam.
“Selamat siang.”ucapnya aku diam melihat dia mendekat.
“Aldo, terima kasih sebelumnya saya sangat senang bisa mendapatkan kontrak kerja sama dan penginvest besar dari perusahan Al company”ujarnya
“Gak usah kaku, kita best friend ya kan?”ujarku terdengar meledek, Feri tampak mengangguk Ragu.
“By the way,, sebelumnya kamu mencari investor buat apa? Mau nginvest masalah gitu ya maksudnya?”ucapku dengan senyum tipis, mas Feri menoleh dengan tatapan datar,
“Aku rasa itu bukan bagian dari pertemuan ini.”ujarnya merekahkan senyum santun,
“Okey, kita gak perlu kaku lagi fer, kita ngobrol santai aja. Untuk kerja samanya. Akan tetap lanjut. Karna aku terarik dengan pasar yang kamu punya, lagian kita punya banyak obrolan, ya gak bisa diabaikan begitu saja ya kan?”tanyaku lagi. Feri tampak mendegup.
__ADS_1
“Apa kamu dan Rara sudah menikah?”tanyaku, Feri melirik padaku dengan tatapan sinis, namun aku menantang manik matanya seolahh menunggu jawaaban darinya,
“Itu bukan urusanmu.’’singkatnya, aku menoleh kelain arah.
“Oh privasi? Okey-okey. Maaf aku terlalu lancang ingin tau? Lantas kabar Mba Ina gimana?”tanyaku lagi, Feri mendegup dan coba getarkan bibirnya,
“Bisa kita bahas yang lain saja?”ucapnya
“Hummm… aku tidak tertarik membahas hal lain sih,”ujarku, mas Feri menoleh padaku dan berkata.
“Apa kamu kasih tau Ina aku datangi Rara waktu itu?”tanyanya, sontak aku membulatkan mata dan menggeleng.
“Aku tidak tega menyakiti Wanitaa sebaik dan setulus istrimu.”ucapku pelan, Feri tampak bernafas lega. Dia berdiiri menyambar semua berkasnya dan berkata.
“Jika tidak ada yang lebih penting, saya permisi saja.”ujarnya, aku mengangguk perlahan dan mempersilahkan dia keluar,
“Oh iya silahkan, dan selaamat ya?’ucapku dengan senyum meledek. Feri tampak kesal dan berlalu pergi, aku terkekeh sambil geleng-geleng.
“Rara, bodohnya aku yang pernah tergiila-gila padamu, jika hanya berakhir dengan pria menyedihkan seperti Feri.”bisikkku sendiri
POV RARA.
Entah berapa lamanya aku menatap jam didinding, Ini sudah sore, mas feri belum mengunjungiku, sedikit aku hela nafas dan beranjak keluar menunggunya, namun tak butuh waktu lama aku lega juga melihat mobil mas Feri datang, gegas aku beranjak mendekat dan memeluknya saat turun dari mobil.
“Mas kok lama sih?’’rengekku dalam dadanya, sedikit ia elus rambutku dan membawa kedalam.
“Maaf, aku kan sudah bilang Rara, mas gak bisa menemuimu sering-sering.”ujarnya, aku manyun dan menghenyak di sofa, dari belakang mama datang membawakan coffe untuk mas Feri.
“Ini coffenya Feri.’ujarnya aku menoleh pada mama dengan sedikin berdengus
“Oh salah ya?, ya udah mama ganti.”ujarnya namun di cegat oleh mas Feri.
“Gak usah tante, Feri gak biasa selain teh buatan Ina.”ujarnya aku menautkan alis karna sebel.
“Mas, kamu kok gitu? Aku cemburu tau. Aku juga bisa kali cuman bikin teh doank.’’sungutku, Mas Feri tersenyum dan mengacak sedikit rambutku.
“Gak usah cemburu.’’singkatnya, mama kembali kedapur menyiapkan makan malam.
“Mas, kamu nginap disini ya? Tu mama dah siapin makan malam.”ujarku. mas Feri mendegup dan berkata.
“Mas gak bisa nginap. Maaf.”lirihnya aku berddengus dan menyandarkan punggungku kencang kesofa
“Mas, kita baru saja menikah bukannya bicarain bulan madu malah gak punya waktu gini, katanya cinta,demi aku kamu usaha donk gimana itu caranya kita bisa derbulan madu.’’Gerutuku. mas Feri hanya bungkam sembari mengelus lembut sedikit pipiku.
“Ini gak gampang sayang, nanti kita bakal pikirkan, untuk sekarang mas Hanya bisa berkunjung setiap sore.”ujarnya, aku manyun tak mau melihat wajah.
“Jangan gitu donk. Kamu mau apa lagi sih, kita dah nikah. Pasti aku sempet-sempetin ketemuan sama kamu, cuman untuk sekarang sabar”ujarnya, aku kesal mendengarnya dan menatap mas Feri dalam.
“Apa kamu gak kepikiran buat ceraian mba Ina??”tanyaku, Mas Feri mendegup dengan mata sedikit terbuka lalu berkata.
“Kamu dah janji sama aku Rara. Bahwa kamu akan menerima keadaan ini.”ujarnya. aku meghela nafas dan kembali berkata serak
“Ya dehh…”ujarku, aku masuk kedalam pelukan hingga menciumi pipi mas Feri, masih tak percaya saja rasanya kami sudah menikah perlahan dia akan memprioritaskan aku, walau aku hanya punya waktu 2 jam bersamnya setiap sore tak apa. aku akan coba perlahan agar bisa menguasai hatinya, sejauh ini aku sudah cukup menang.
“Mas sampai kapan sih mas. Kita kayak gini.”rengekku didadaku mas Feri hanya bungkam sembari tetap mengelus-elus rambutku.
“Mas juga gak tau.”lirihnya berat. Sedikit aku angkat wajahnya dan melihat wajah tampannya itu.
“Aku mencintaimu mas, dan terima kasih mas, udah mau nikahin Rara.”ujarku, mas Feri mengangguk dan mengecup dahiku lembut.
“Apa rencana mas kedepannya untuk hubungan kita?”tanyaku lagi mas Feri tampak bingung dan berkata,
__ADS_1
“Mas gak tau Ra, kita fikirkan ini nanti saja ya,”ucapnya, aku sedikit memainkan bibirku dan berkta dengan manyun.
“Kok gak tau sih mas.”
“Mas Harap Ina bisa menerimamu.’’ujarnya. aku berdesih dan berkata
“Rara gak mau serumah dengan mba Ina. Dia egois. Gak kayak mba Ina yang dulu. Mas Tau kan dia sendiri yang usir aku dari rumah. Aku gak mau.”rengekku, terdengar mas Feri berdengus pelan dan berkata.
"Ya udah, kalo begitu jangan bahas-bahas ini dulu ya, mas pusimg,"ujarnya sontak kami berdua terdiam sejenak, dari belakagn mama datan meminta kami untuk makan.
“Ayo silahkan, itu hidangannya udah selesai.”ujarnya, Feri mengangguk
“Ayo mas,”pintaku.
“Baik,"singkatnya kami berjalan keruang makan, aku menoleh paada mas Feri dan berkata.
"Mas nanti malam bisa gak temui Rara?"Rengekku
“Kalo sempat mas pasti akan datang,”ucapnya sontak wajahku girang
“Beneran? ushakan ya mas’’tanyaku, aku legaa saat mas Feri mengangguk.
“Ya udah, ayyok kita makan dulu.”ujarku bergelayut di lengan mas Feri mengajaknya keruang makan.
POV INA.
Sore ini aku sibuk menyiapkan makan malam untuk kami berdua, sesekali aku lirik jam dinding, ini sudah jam lima, ini sudah sangat telat biasanya jam empat sore dia sudah ada dirumah bentar lagi mas Feri pasti pulang, aku makin bergegas menghindangkan aagar punya waktu untuk berberes diri.
Dua jam berlau aku sudah selesai dandan dan dengan hidangan dimeja aku lirik kembali jam sudaah menunjukan pukul. 18:30.
“Mas Feri kemana ya?”bisikku sembari mengotak-atik ponselku, namun saat aku coba menghubungi terdengar bunyi mobil memasuki perkaranga rumah, segera aku berdiri dan beranjak keluar. Mas Feri turun dan beranjak mendekatiku yang ada di pintu.
“Kok pulangnya habis magrib sih mas, ngapain?’tanyaku, dia datang merangkul hingga mencium pipiku.
“Ada urusan penting. Jadwal mas ubah, jadi sekarang mas akan pulang usai magrib setiap harinya.”ujaarnya
“Kok bisa gitu mas?”ujarku.
“Kita perlu mulai dari awal lagi, dan perlu penambahan jam kerja dua jam, jadi mas di kantor bakalan seharian.”ujarnya.
“Kok ribet sih mas, pintaar-pintarlah bagi waktu biar gak repot.’’Ujarku mas Feri tampak tersenyum.
“Untuk sementara waktu aja kok. Nanti bakalan normal kembali”timpalnya.
“Oh begitu?”sahutku pelan,
“Iya sayang, ayo kita masuk mas Capek”ujarnya.
“Ayo, Ina dah siapin makan malam. Dari tadi Ina belum makan nungguin mas.”ujarku untuk sejenak mas Feri diam.
“Oh ya udah, ayok. kok gak makan sih, kalo lapar makan aja gak usah nungguin mas’ucapnya beranjak ke meja makan. Hinngga sepuluh menit berlalu aku melihat mas Feri tidak begitu lahap memakan makanannya, hingga aku bertanya karna tak biasanya dia seperti itu
“Mas, kamu dah makan diluarkah?’’tanyaku. mas Feri menoleh dan berkata.
“Gak, mas belum makan.”ujarnya.
“Kok kayaknya gak lahap gitu makannya? Gak enak ya?”tanyaku lagi.
“Enak kok sayang, cuman, lagi gak nafsu makan aja deh kayaknya.”ucapnya, aku mengangguk pelan.
“Oh gitu, mas mau nya makan apa biar nafsu makan, nanti Ina bikinkan.”ujarku.
“Gak usah sayang, udah ini aja. Mas dah kenyang kok. Mas kekamar dulu ya mau mandi.”ujarnya, aku terdiam melihat langkah mas Feri menaiki satu persatu anak tangga. aku bingung, ada apa dengan suamiku, entah kenapa aku berfikiran dia menyembunyikan sesuatu, fikiranku selalu terbayang akan ancman Rara, apa mereka sudah berkomunikasi lagi. kenapa aku merasa sangat takut begini. Aku harus cari tau, semoga saja semuanya baik-baik saja. ini hanya perasaanku saja yang takut berlebihan.
BERSAMBUNG
__ADS_1