FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
JATUH SAKIT


__ADS_3

Aku menangis sesegukan diatas tempat tidur, bukannya menyusulku mas Feri malah memilih pergi terdengar bunyi mobilnya menjauh dari rumah, aku makin terisak dan kalud karna kecewa sekali masih bisa aku rasakan pipiku ngilu akibat tamparan tadi, kucoba bersedekap memeluk lututku, berharap sakit di hati ini sedikit berkurang, namun tidak, malah hanya terasa semakin sakit.


“Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah.”bisikku meyakinkan diri sendiri hingga aku terlelap.


 


Mentari pagi datang mengusik aku terbangun tanpa semangat lagi, kejadian semalam membuat moodku turun drastis setelah sebelumnya aku terasa sangat membaik. Kuhela nafas berat dan beringsut turun dari tempat tidur untuk kekamar mandi dan habis itu kekantor.


Setelah selesai mandi dan selesai dengan pakaiananku aku menyeduh segelas teh untuk menemaniku sebelum kekantor, susah aku coba tata hatiku, entah bagaimana caranya dadaku tidak sesak berkali-kali aku buang nafas dan menatap langit pagi yang cerah diluar sana, tak ada yang bisa mengihibur hatiku, tetap saja mataku basah karna cairan bening itu.


Ping..


Bunyi notif pesanku berbunyi, gegas aku lihat siaapa yang mengirim pesan itu padaku..


“Pagi Ina, bagaimana kabarmu. Aku sudah kembali dari di luar kota, datanglah untuk konsul. Bagaimana perasaanmu setelah hari itu.”tulis Bagas,


“Sudah sangatt baik, cuman kadang moodku naik turun.”tulisku lagi. Aku keluar dari layar ponsel saat mendengar mobil memasuki perkarangan rumah, segera aku sambar blezerku dan turun kebawah.


 


“Pagi mba..”sapa Aldo turun dari mobil aku menyunggingkan senyum dan beranjak mendekat dengan wajah sedih.


“Mba ada apa? “tanyanya, aku mendegup dan coba membuka pintu mobil, Aldo tampak bingung namun dia pilih tak bicara dan ikut juga masuk.


 


”Aku mau antar mba kemana?”tanyanya


 


“Kekantor.”singkatku, Aldo hanya mengangguk dan tak mau bicara, sepanjang jalan aku tidak bisa menahan kesedihanku hingga air mata itu kembali merintik melihat itu Aldo menghentikan mobilnya.


“Ada apa? Semalam mba baik-baik saja?’lirihnya, aku tertunduk dan berkata,


“Entahlah,… moodku terganggu lagi karna mas Feri. Sepertinya aku harus selesaikan ini dulu, aku harus kembali gugat dia untuk bercerai.”ujarku.


 

__ADS_1


“Oh, baiklah. Aldo akan nemenin mbak.’’ujarnya, aku menoleh.


“Apa menurutmu, aku akan bisa bahagia setelah berceraii.”tanyaku terbata.


“Tentu.. tentu saja mba Ina, mbak berhak bahagia. “ucapnya, melihat wajah Aldo aku teringat sesuatu,


“Bukankah sebelumnya kamu mencintai Rara, kamu tidak sakit hati sama mas Feri?”tanyaku. Aldo terdiam sejenak dan berkata.


“Aku sakit hati, melihat ada wanita setulus mba dikecewakan. “ujarnya, aku kembali melihat wajahnya lekat dan berkata,


“Kamu tidak cemburu?’tanyaku singkat.


“Aku benci sikap Rara yang terlalu terobsesi dan lucunya mas Feri malah memberi harap gitu. padanya”ujarnya, aku manggut-manggut dan coba menghela nafas.


“ Bukan harapan lagi, ini sudah keputusan akhirnya, mungkin dia sudah pikirkan ini dari awal. Menurutmu? Apa mereka benar-benar saling mencintai, entah kenapa? Aku merasa mas Feri masih mencintaiku begitu dalam. Bodoh memang,tapi itu keyakinanku.’’ucapku lirih, Aldo mengelus sedikit bahuku dan berkata,


“Karna mba, masiih mencintai dia. Sabar aja, semua ini pasti akan berlalu.”ujarnya menenangkanku. Aku mengangguk,


“Jadi kita kemana. Jadi kekantor pengadilan?.”tanyanya, aku mengangguk pasti.


“Aku akan sudahi semuanya. Aku ingin memulai hal baru.”ucapku lirih, Aldo menghidupkan mesin mobil dan beranjak kekantor pengadilan,


“Al, makasih ya. Kamu anter aku kemana-mana. Maaf aku gak bisa mempersilahkan kamu masuk kar-“ucapanku terhenti dicegat oleh Aldo,


 


“Aku tau.. ya sudah, kamu turun. Semoga semuanya lancar.”ujarnya aku menautkan alis dan kembali bertanya,


“Kamu?”tanyaku dengan sedikit senyum tipis, Aldo tampak tersadar dan berkata.


“Mba.. maksudnya? Maaf mba?”ucapnya terkekeh. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya yang salah tingkah.


“Ya udah,, mba Turun dulu, sampai ketemu lagi”ujarku Aldo mengangguk dengan senyum, aku membuka pintu mobil dan beranjak turun sembari membawa berkas di tanganku.


Sesmpai dirumah aku tidak melihat mas Feri dimanapun, aku lirik kekamar dan beranjak keatas. Bisaa aku lihat dia bersandar lesu di atas tempat tidur dengan teh hangat disampingnya, sedikit menghela nafas, aku sadar ini sudah cukup lama saat aku tak layani mas Feri lagi dengan baik, dan hari ini aku mau mengakhiri segalanya.


“Mas, ini. Tanda tangani suratnya.”ujarku mas Feri melirik berkas itu dan memilih tak bergeming dia berusaha beringsut hendak duduk tanpa kata sepatah katapun aku datang dan menyodorkannya lebih dekat,

__ADS_1


“Seperti yang aku katakana semalam kita tidak bisa lagi bersama mas.”ucapku mas Feri mengerutkan dahinya dan coba menatapku.


“Jauhkan itu Ina, aku tidak ingin membahas ini sekarang,”ujarnya coba berdiri.


“Tapi aku mau mengakhiri ini semua sekarang mas!”bentakku, mas Feri memegangi kepalanya dan kembali menghenyak di tempat tidur.


“Tolong jangan katakan apapun lagi.”bisiknya menyeringai mas Feri tampak kesakitan aku menautkan alisku mendekat.


“Kamu kenapa?”tanyaku mas Feri menggapai badanku dan memelukknya, aku mendegup, perlahan kucoba mengangkat punggung tanganku untuk merasakan dahinya, aku tersintak merasakan badannya yang panas.


“Ya ampun panas banget,”batinku dihati segera aku baringkan dia yang tampak lemah. Sedikit aku hela nafas dan berkata,


 


“Istirahatlah aku akan panggilkan dokter,”ujarku beranjak, bergegas aku turun menghunbungi dokter, dan tergerak mengambilkan kompres handuk hangat dan makanan untuk mas Feri, bisa jadi dia sakit karna seriing telat makan, Rara, dia pasti tidak bisa merawat mas Feri dengan baik, setelah mengiris beberapa bumbu dan mengambil dua potongf ayam aku panaskan supnya dengan api kecil dan beranjak keatas mengntar kompres untuknya.


“Ini kompres dulu kepalanya pakaii air hangat.”ucapku mencoba mengobatinya, melihat aksiku itu mas Feri hanya bisa memandangiku dalam, aku tidak peduli dengan matanya, tanganku tetap memijit-mijit pelan kepalanya pakai handuk hangat itu.


“Maakasih ya,”lirihnya, aku diam sembari tetap melakukannya, perlahan mas Feri menurunkan lenganku kedadanya.


“Mas rindu kita yang dulu.”ujarnya, aku sedikit menghela nafas dan berkata.


“Kita yang dulu hanyaa berdua mas, kamu menghadirkan orang baru untuk kehidupan kita.”ucapku.


“Kamu yang minta.”ujarnya lagi, aku bungkam tertunduk, perlahanan tangannya menggapai pinggang dan membawa kepelukannya, aku sedikit beronta tak mau masuk kedalam pelukannya. hingga dia berkata.


“Mas hanya ingin memelukmu, mas kedinginan.”lirihnya, aku diam dan nurut masuk kedalam pelukannya, bisa aku rasakan suhu badan mas Feri sangat panas. Dia tak biasanya jatuh sakit seperti ini. Aku diam saat mas Feri berbaring dan mendekapku, binar matanya gtampak berkaca-kaca, dia menciumi dahi hingga pucuk kepalaku, semua sentuhan itu terasa tidak berarti saat hatiku tersayat mengingat malam-malam panjangnya bersama Rara. saat dia mengelus lembut pipiku aku tak mau melihat matanya, pipiku terasa memerah karna telapaknya yang terasa panas.


"Aku mencintaimu Ina aku tidak ingin bercerai. tolong maafkan mas yang menyakitimu semalam"lirihnya mengelus sudut bibirku yang sedikit lebam itu, reflek ia mendekatkan bibirnya padaku, aku gemetar dan mendegup. aku tidak bisa, segera aku bergerak keluar dari pelukanya, namun tangan kekarnya kembali mencengkram tubuhku,


"Lepas mas!"hardikku saat mas Feri membenamkan wajahnya di leherku, aku menjauh dan turun dari tempat tidur.


"Aku sedang memanasi sup.. aku harus segera turun."ujarku dengan nafas tak beraturan, mas Feri juga tampak kecewa mencoba memperbaiki selimutnya.tanpa melihat mataku lagi.


"Kamu istirahatlah,, sebenntar lagi dokternya akan datang..."


 

__ADS_1


Hayyyyo... kenapa ya kira-kira Feri bisa sampai jatuh sakit begitu?


__ADS_2