
Pagi berkunjung untuk pertama kalinya aku tidak semangat bangun pagi dirumah ini, rasanya aku tidak percaya bahwa aku akan pergi, aku mendengar suara dari dapur, reflek aku berdiri dan melihat sepasang kekasih itu, mas Feri tampak menemani mba Ina membuatkan sarapan sambil sesekali mencandainya entah kenapa hatiku hangat melihatnya,
Segera aku kembali kedalam dan bersiap untuk mandi. Aku harus siapkan barang-barangku, aku harus pergi seperti yang dikatakan mas Feri semalam, ku coba tarik nafas dalam dan membuangnya berat entah kenapa ada sesak didadaku, rasanya aku tidak sanggup untuk pergi.
Di jam Sembilan pagi, aku sudah rapi dan beranjak keluar.
“Ayo Rara kita sarapan dulu,”pinta mba Ina menyeretku ke meja, sontak aku nanar melihat tingkahnya aku coba melirik mas Feri untuk minta jawaban dari wajahnya namun dia memasang wajah datar, mungkin dia belum kasih tau mba Ina tentang semuanya, aku menghenyak di kursi dan coba diam. Mba Ina tampak senyum melirik semua menu dan memberikan piring padaku.
“Ayo Ina. Sarapan.’’ujarnya, aku tertunduk dan coba berkata dengan berat.
“Mba hari ini aku mau pergi, jika Rara ada salah, Rara minta maaf’’Lirihku, untuk sejenak mba Ina diam.
“Rara kamu ngomong apa sih?’’Tanyanya tak habis pikir. Mas Feri masih bungkam, sedikit aku lirik dia dan coba berkata lagi.
“Sebenarnya aku dan mas Fe,”Ucapanku terhenti karna di cegat oleh mas Feri.
“Aku dan Rara akan mengadakan piknik hari ini, karna sempet tertunda waktu itu, lagian besok Rara akan kembali ke bandung untuk beberapa hari, berhubung aku tidak bisa temenin, jadi hari ini kita jadwalkan pikiniknya?”ujarku, mba Ina tampak merekahkan senyum
“Oh itu, aku kirain apa, tapi beneran kamu tak apa gak diantar mas Feri ke bandung?”tanyanya, sedikit aku buang nafas pelan, tadinya aku fikir mas Feri bakal jujur sama mba Ina tapi dia masih suruh aku bersandiwara, mungkin dia akan buat drama kematianku setelah gak balik-balik. Aku nanar membayangkan hidup dengan hal baru setelah terbiasa dengan keluarga ini.
“Rara..’’ Panggil mba Ina. Aku tersintak dan coba menarik ujung bibirku untuk tersenyum.
“Ya mbak, gak apa. Lagiankan. Mas Feri baru pulang mba butuh banyak waktu bersamanya.’’Ujarku, mba Ina tersenyum mengenggam tanganku dan berkata.
“Cepatlah kembali, aku pasti akan merindukanmu nanti.”bisiknya, aku hanya menyunggingkan senyum hangat dan berkata.
“Rara juga pasti sangat merindukan mba Nanti”ujarku.
“Emang untuk beberapa lama Ra?”tanyanya sontak aku kikuk dan garuk tengkukku.
“Hmmm, gak tau sih mbak, mungkin cukup lama.”sahutku, mba Ina menghentikan gerakannya hendak menyuap sarapan.
“Yah kok bisa gitu? Gak ada! kamu gak boleh lama-lama disana, secepatnya kamu harus balik ya, kasian mas Feri tu”sungutnya, aku melirik mas Feri yang tampak mengatur nafas sesak dan menggaruk dahinya.
“Gak apa mba, kan ada mbak,”singkatku dengan sedikit memainkan wajahku mengenggam punggung tangannya, tampak mba Ina garuk-garuk tengkuk dengan senyum paksa. Aku meneruskan sarapanku sembari lirik-lirikan dengan mas Feri, hingga sepuluh menit berlalu. Mas Feri menyapa kami juga setelah dari tadi bungkam.
“Gimana dah siap sarapannya? Bisa kita berangkat, takutnya nanti kelewat siang, jalan ke puncak macet,”ujarnya, mba Ina tampak brsemangat meletakkan sendok,
“Ayo mas, aku dah siapin semua bekal di mobil kok, tinggal jalan, Ra kamu tolong ambil tikar piknik di gudang ya,’’titahnya aku beranjak ke gudang mencari tiikar itu, sesampai disana aku kebingungan mencarinya. Karna gudang itu tak jauh dari garasi, bisa aku dengar mba Ina berkata pada mas Feri.
“Mas aku lupa, itu tikarnya letaknya agak tinggi sama di tarok dibawah kardus berat, kamu bantu Rara ya,”ujarnya, sontak aku gemetar, karna setelah semalam, saat aku sudah berani mengungkapkan perasaanku padanya aku tidak sanggup lagi melihat matanya. Bergegas aku coba meengambilnya sendiri menaiki meja hingga mengangkat beberapa kardus yang lumayan berat itu.
Trakt,
Bunyi pintu gudang terbuka aku terkejut dan reflek tergelincir, aku oleng dan terhuyung kearah mas Feri dengan sigap tubuh kekar itu menangkapku perlahan aku memperbaiki cara berdiriku dan menatap bola matanya bisa aku rasakan dada bidang pria itu dialiri detak jantung sedikit kencang. Aku senang berlama-lama menatap wajah tampan ini. Hinnga aku remas sedikit bahunya memperbaiki kaki yang tersangkut kaki meja, kini jarak bibir kami semakin dekat, saat mas Feri bergerak, mata pria itu sayu melirik bibir mungilku, bisa aku lihat jakun suami mba Ina itu naik turun.
“Ada apa Rara kok seperti ada yang jatu-’’tanya mba Ina terpotong saat melihat kami,sontak kami menoleh, namun dia harus mematung seketika melihat wajah kami terlalu dekat dengan posisi berpelukan, sontak mba Ina membalik dan berkata,
__ADS_1
‘’Maaf, aku kira tadi ada apa-apa, aku khawatir makanya aku susul’’Ujarnya sembari tetap membelakangi kami, aku keluar dari cengkraman tangan mas Feri dan mendekat pada mba Ina.
“Tadi Rara terjatuh mba, untung ada mas Feri’’ ujarku, mba Ina menoleh dengan senyum dan berkata,
“Ya udah, kita ke mobil, biar mas Feri yang ambil. Aku lupa itu tikar ternyata dah di pindahin ke atas.”ujarnya, aku membuntuti mba Ina yang beranjak ke mobil. Sedangkan mas Feri berusaha mengambil tikarnya
Sesampai disana.
Dia atas tikar berwarna coklat itu. Kami bertiga duduk santai menikmati pemandangan alam yang indah, ada beberapa buah dan minuman yang telah disiapkan mba Ina,
“Mas, kamu mau ini?’ujar mba Ina menyuapi mas Feri yang sedang tiduran di atas pahanya. Aku hanya bisa menyaksikan kemesraan itu sembari mengupas apel dengan pisau.
“Mau..”rengek mas Feri, mba Ina terkekeh menyuapi satu butir anggur untuknya, entah kenapa ada rasa sesak didadaku di anggurin seperti ini.
“Kamu juga makan donk masak mas aja” pintanya saat mas Feri balik menyuapi mba Ina, buah anggurnya, dengan usil mba Ina menggigit jarinya, aku juga ikut terkekeh melihat mas Feri terkejut dan balik mencandai Mba Ina dengan menggelitiknya sontak istrinya itu berbaring karna gak tahan geli.
“Mas jangan di gelitik geli..”pinta mba Ina terkekeh terbaring di tikar, aku juga terhanyut akan suasana itu hingga tak sadar tanganku tergores pisau,
“Awwhh..”teriakku. sontak mba Ina dan mas Feri menghentikan candaannya dn menoleh padaku.
“Ya ampun Rara, hati-hati donk.”ujar mba Ina menyambar tanganku. Aku meniup-niup tanganku sedikit perih.
“Tunggu, aku ambilkan obat merah.”ujarnya berdiri, Mas Feri juga tampak panik mengenggan jemariku dan meniupnya.
“Kamu bisa gak sih hati-hati?”bisiknya, aku melirik sedikit mba Ina di mobil yang masih mencari-cari kotak obat itu.
“Apa kamu sengaja melukai tanganmu demi dapat perhatian,”ucapnya pelan.
“Tidak, aku hanyut dalam hayalan seandainya mba Ina itu aku,’’lirihku, mas Feri menarik nafas sedikit, dan kembali melihatku tak habis pikir, perlahan aku angkat apel yang baru aku kupas tadi dengan tangan satu lagi.
“Aku juga ingin menyuapimu buah mas?’’lirihku dengan senyum berat, mataku tiba berkaca-kaca bahwa aku akan pergi nanti dan tak boleh kembali. Mas Feri nanar menatap bola mataku sembari membuka mulutnya akan irisan apel yang aku sodorkan,
“Terima kasih.’’Singkatnya dengan tertunduk mengunyah apel itu perlahan.
“Kenapa kamu suruh aku pergi?”lirihku, mas Feri terdiam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu.
“Apa kamu takut, rasa cinta yang ada dihatimu itu untukku, akan semakin tumbuh?”tanyaku lagi, mulut mas Feri seperti terjahit.
“Jawab mas?’’tanyaku lagi. Pria itu coba menggetarkan bibirnya namun tak jadi berucap, karna mba Ina datang membawakan kotak obat.
“Ini Ra, gak tau keselip dimana ternyata di tasnya mas Feri’’ujarnya, mba Ina meneteskan obat merah hingga membalut lukaku. Aku mengibaskan senyum pada mba Ina sembari tetap melihat raut wajah mas Feri yang tampak gundah. Aku sangat menanti sekali jawaban dari mas Feri bahkan aku sangat berharap dia tidak membunuh rasa itu.
Sore berkunjung setelah lelah bersantai, kam kembali pulang. Dan seperti janjinya setelah sampai rumah mas Feri kembali mengantarku izin pada mba Ina ke terminal.
“Rara jangan lama-lama ya di bandungnya?”rengek mba Ina memelukku, aku tersenyum sembari tetap tegar.
“Bisa kita berangkat sekarang? Nanti keburu kemalaman.”timpal suaminya, melihat keahangatan itu dengan datar.
__ADS_1
“Bb-aik.. Rara pergi dulu ya mba?’’izinku pada mba Ina. Wanita itu melepasku dengan senyum.
“Mas pastikan dulu Rara naik bus dengan aman” ujarnya, mas Feri tampak mengangguk. Aku kembali masuk kedalam mobil dan menoleh pada mba Ina. Tampak istri mas Feri itu mengibas senyum tulusnya dengan sedikit melambai. Kucoba tarik bibirku untuk memberikan senyum termanis walau hatiku menangis. Mobil itu melaju perlahan, sepuluh meenit pertama kami diam-diaman hingaa mas Feri coba pecahkan juga sunyi itu dengan berkata.
“Pergilah kemanapun yang kamu mau, dan jangan kembali lagi,”ujarnya, aku tetap bungkam tanpa menoleh padanya. Dia menghentikan mobil itu dan mengulurkan cek aku melirk itu dan menoleh padanya.
“Itu 200 juta, kalo kurang, aku bisa tambah”ujarnya aku melirik kertas itu dan menatap wajahnya datar.
“Kenapa kamu kasih Full, bukankah misi kita belum berhasil?’tanyaku, aku memperhatikan glegatnya yang tampak salah tingkah menatap mataku
“Aku tidak butuh ini mas!”tegasku, mata mas Feri seperti tak habis pikir,
“Beri aku jawaban, tentang pertanyaanku tadi.’’ujarku, mas Feri tertunduk dan berkata dengan Lirih.
“Aku mencintai istriku, aku rasa itu sudah cukup”ujarnya, aku menghela nafas sesak dan menyambar kertas itu di tangannya.
“Baiklah…, aku mengerti sekarang kamu mengusirku dan menyudahi semua ini karna kamu merasa terancam akan kehadiranku. Aku memang murahan yang harus di basmi mas begitu?,”
"Sekarang katakan apa benar kamu tidak menyukaiku?"tanyaku lagi, mas Feri bungkam sembari tertunduk, melihat dia diam begitu, akun kesal membuka pintu mobil dengan membawa cek itu.
“Hati-hati. Rara”bisa aku dengar dia berbisik lirih, namun hatiku terlalu sakit hingga mencegat taxi yang ada di depanku, tak henti-hentinya aku mengucurkan air mata menuju kediamanku, aku bukan orang bandung faktanya aku masih tinggal di Jakarta dengan keluarga broken home, aku mempunyai mama yang selalu gonta ganti pasangan, dengan seperti itu dia bisa mendapatkan kekayaan dari harta gono gini hasil perceraian dengan suaminya d, dan sekarang dia tengah menikah dengan pria pengangguran dengan alasan sexi dan menggoda, dari dulu aku tidak suka tinggal dengan orang tuaku, selama ini aku hidup bersama togkrongan karna tak dapat perhatian, hingga aku melamar pekerjaan di kantor mas Feri sekaligus temukan rumah ternyaman yang pernah aku rasakan, tapi malah hanya bertahan sebentar, aku menangis sesegukan meihat cek bertuliskan 200 juta itu.
“Mba Ina…’’lirihku menutup mulut dengan air mata yang menghujan.
POV FERI
Pagi disambut dengan kegundahan, perlahan aku beringsut dari tidurku disamping Ina seperti biasa malamku bersama istriku selalu hambar, aku terasa sedikit canggung karna sekarang Rara sudah tidak ada lagi disini, ada terbesit rasa bersalah, karna semua yang di tuduhkannya padaku itu beralasan, aku memang tidak tahan dengan daya tariknya,
“Lebih baik dia pergi.”bisikku mengusap wajah dan beranjak kekamar mandi, tak lupa aku kecup pelan kening istriku,sebelum ke kamar mandi pelan sangat perlahan supaya dia tidak terbangun hatiku hangat melihat dua mata indahnya terpejam, aku telah terlalu banyak berjanji pada orang-orang untuk bisa menjaga Ina dan mencintainya, padanya. Pada tante Rania, buk nigsih dan pada diriku sendiri, semenjak aku jatuh cinta padanya aku telah berjanji untuk setia dan mencintainya hingga akhir waktu, aku sudah paham dan tau persis akan keterbelakangan istriku siap tidak siap aku harus terima ini, semoga suatu hari nanti aku bisa menjalani hidup dengan normal bersamanya, ya walau tak bisa ku pungkiri semenjak kehadiran Rara, aku sedikit goyah, gadis itu sepertinya punya tempat tersendiri dihatiku.
Aku beranjak turun menyapu semua pandangan disetiap sudut rumah ini, masih terbayang gadis itu berbicara bercengkrama bahkan bercanda denganku, reflek aku melangkah ke kamarnya dan membuka kamar itu, bisa aku dengar lagi mulut mungilnya berbicara dengan bawel, aku terkekeh sendiri saat mengingat itu, aku beranjak hendak kembali keatas namun gagal fokus melihat kertas dan surat yang tertera diatas kasur.
‘’Saat kamu membaca surat ini,berarti kamu rindu padaku, dan jika surat ini tidak dipegang mba Ina, berarti kamu pertama kali mendatangi kamarku. Dan ya, aku mengembalikan uangmu mas. Aku tidak butuh itu, aku butuh keluarga yang bahagia, aku akan kembali,’’tulisnya aku berdesih dan melirik cek semalam yang aku kasih ada di atas kasur, ku coba membalik-balik surat itu dan mmebaca pesan di bawah.
“Kamu bingung ,kenapa aku bisa masuk lagi kerumah ini dengan leluasa?,kamu lupa aku anggota keluarga dirumah ini, aku punya kuncinya mas, salam dari istri mudamu, Rara..”aku mengusap wajahku gemetar, sumpah aku tidak habis pikir dengan pesan singkat ini, aku menghenyak gundah kekasur sembari mengepal jemariku.
“Gak,Rara gak boleh kembali”
__ADS_1