
POV ALDO
Pagi ini aku bersiap berangkat kantor dan harus menjalaani pekerjaanku secara professional aku sudah terlanjur bekerja sama dengan perusahaan Ina production. Benar kata papa perusahaan ini harus aku kembangkan dengan baik, walau awalnya aku mau menjalaninya tak lain hanya karna aku ingin masuk kedalam kehidupan mereka, tapi malah sekarang aku yang terasa terasuki akan mba Ina jadi akun harus perbaiku satu persatu msalahku.
Karna faktanya di marahin papa itu lebih serem dari apapun, di atas ranjangku aku terdiam sejenak melihat kalung mba Ina yang ketinggalan dalam saku jasku tersimpan dalam dompet mini setelan gaunnya waktu itu. Aku terfikir tentang cincin yang aku beri akankah dia masih memakainya, lalu kenapa dia melepas kalung ini, kalung yang katanya hadiah pernikahannya bersama Feri, aku berdiri hendak pergi sembari memasukkan kalung itu ke dalam saku jasku.
Tuuuuut Tuuuut…
Bunyi panggilan tersambung pada asistenku. Tak butuh waktu lama panggilan itu diangkat.
“Dengan siapa saya metting hari ini.”tanyaku.
“Dengan pak Feri tuan, suaminya buk Ina.”ujarnya aku menghela nafas sedikit dan mendegup, mulai sekarang aku akan sering bertemu dengannya.
“Baiklah jadwalkan dua jam lagi.”ujarku.
“Siap Tuan’’
Waktunya tiba, aku masuk kedalam ruangan metting di temani dua ajudanku untuk menemui Feri dan sektertarisnya.
“Selamat siang Fer, aku senang kamu bisa kembali lagi kesini,”ujarku terasa sedikit gugup dia memandangi wajahku datar dan berkata.
“Siang, sama-sama. Aku belum sempat mengucapkan selamat sebelumnya, jadi mulai sekarang selamat datang di perusahaan ini.”ujarnya, aku manggut-manggut dengan sedikit memainkan wajahku.
“Baiklah, kita akan mulai mettingnya.”ujarku menghenyak duduk sembari menjangkau berkas yang disodorkan asistenku.
“Aku sudah merokemdasikan produck ini pada perusahaan produksi sepatu kuliit di amerika, jadi mereka sangat tertarik dengan sepatu jebolan perusahaan ini, saya mau kamu jangan kecewakan mereka, kita butuh karyawan tambahan dan model sepatu yang mungkin tren untuk kalangan luar negri.”ujarku Feri juga tampak menyimak dengan sesekali mencatat poin pentingnya.
“Ini tidak main-main. Mereka membopong perusahaan model terkenal untuk mengiklankan produk ini.”ujarku lagi.
"Usahakan produksinya terlihat indonesia banget, tapi di polesi sedikit modren, kamu paham coba konfirmasikan ini dengan pekerja.
“Baiklah? Apa masih ada?”tanyanya, aku sedikit membuka mata dan coba berfikir sembari mengepaal jemari di mulutku, ini memang sangat canggung sekali karna aku dan Feri memang tidak akrab sama sekali sebelumnya .
“Udah cukup segiitu aja, dan ya, ini berkas contoh produksi luar tentang jenis barang berbahanka kulit, semoga ini bisa jadi acuan untuk mengembangkan lagi,”ujarku menyodorkan, Feri tampak mengambil berkas di tangan asistenku dia mengambil dan coba mempelajarinya,
“Okey, baik. Mungkin sampai disitu, aku tau kamu pembisnis yang hebat Feri, jadi lakukan yang terbaik, aku tidak mau mempertaruhkan sahamku disini. Kamu tau kan berapa saham yang aku tanam dalam perusahaan ini”ujarku, Feri hanya diam.
"Mana berkas yang harus aku tanda tangani?"ucapku datar memandang datar, Feri tampak memngambil berkas di taasnya dan memberikaan padaku, aku diam daan fokus menanda tangani berkas itu satu-satu.
Dan setelah itu ku memilih beranjak pergi keluar bersama ajudanku untuk kembali kekantor pusat.
Siang ini saat aku mengurus kerja sama dengan perusahaan lain asistenku mengabarkan bahwa ada peresmian gedung baru, jadi mau gak mau kami harus membuat party esok malam,
“Bagaimana menurut tuan? Karyawan dan para staf akan ikut meramaikan party ini.”ujarnya aku masih tetap fokus pada laptopku.
“Terserah kamu aja, aku lagi malas bahas yang ginian.”gerutuku.
“Tapi tuan muda, peresmian tidak akan berjalan tanpa acara gunting talinya, gimana ceritanya kalo tuan gak mau datang, “ucapnya, aku menghela nafas sedikit berat dan berkata.
“Ya sudah atur saja “singkatku berdesih
“Baik Tuan..”
__ADS_1
POV INA
Entah sudah berapa jam aku duduk didepan meja makan ini, sembari mengaduk-ngaduk pelan teh yang sudah mulai dingin dari tadi yang hanya aku pandangi dengan nanar, entah kenapa aku gundah mas Feri dia kekantor untuk menemui Aldo hari ini , semoga saja semuanya baik-baik saja, hatiku sekarang selalu di liputi ketidak tenangan. Cemas aku menunggu mas Feri pulang hingga coba menghubungi nomor telponya,
Tuuuuuut Tuuuuuut..
“Hallo sayang, “
“Mas kamu dimana?”tanyaku.
“Ini di jalan sayang? Ada apa?
“Gak ada apa-apa sih mas, kirain ada apa gitu di kantor,’’ucapku, terdengar dari sana diam sejenak.
“Gak ada masalah apa-apa sayang, tunggu ya mas bentar lagi pulang.”ujarnya, aku menghela nafas dan berkata.
“Baik mas, aku tunggu.”singkatku mematikan ponselnya,
Hinnga dua puluh menit berlalu, mobil mas Feri terdengar memasuki garasi, aku menghela nafas berat dan berdiri menyambutnya ke pintu. Mas Feri tmpak menghampriku bergegas dan sembari berkata,.
“Sayang kamu kan masih sakit, gak usah banyak gerak dulu ya?”ujarnya tersenyum reflek menggendongku hatiku miris dan coba mengelus pipinya lembut,
“Mas kamu capek pulang kerja, jangan gendong Ina, gak usah mas turunin.”ujarku merengek. Mas Feri terkekeh membaringkkanku di sofa pelan,
“Kamu lagi sakit, jangan banyak aktifitas dulu.”bisiknya, aku beringsut memandang wajahnya lekat dan berkata.
“Gak apa mas, aku sudah sembuh kok kamu aja yang lebai,”timpalku lagi
“Kamu harus pulih lagi, biar kita bisa program lagi sayang, aku gak sabar punya anak. Sekarang gak akan ada lagi yang ganggu kita.’’ujarnya aku mendegup serek kerongkonganku.
“Oh iya besok ada party gitu di kantornya Aldo, ada persemian gedung baru, kamu gak ikut temanan mas?”ujarnya, reflek aku menggeleng.
“Kenapa”singkatnya bertanya,
“Tapi kan Ina lagi sakit, kita gak usah ikut aja ya sayang?”rengekku,
“Gak bisa gitu donk gak akan capek kok, cuman sebentar abis kita pulang, sebenernya sih mas, bodo amat juga sama Aldo. Tapi rekan-rekan yang lain pada datang, masa kita nggak, kita mitra terbaiknya Al company lo saat ini.”jelasnya, aku sedikit berdesih dan berkata.
“Tapi mas?”
“Kenapa?”Tanyanya dan aku hanya diam.
“Apa urusanmu sama Aldo belum kelar?”tandas mas Feri, aku mendegup dan melirik mas Feri sedikit.
“Sudah, sudah di anggap selesai aja.’’singkatku, mas Feri memandangku lekat, dan berkata.
“Masih adakah yang belum selesai?”tanyanya, aku menghela nafas dan menatap manik mata mas Feri dalam.
“apa mas menyalahkan aku dengan situasi seperti ini?”aku balik bertanya, mas Feri berdengus dan berkata pelan.
“Mas gak nyalahin kamu? Mas berfikirnya Ina gak akan musingin ini lagi ? Apa ada yang menganggu pikiran Ina?’’tanyanya, aku terasa kikuuk dan berkata
“Gak ada.. lupain aja, okey. kita akan datang besok.”ujarku coba menutup saja percakapan itu, Mas Feri tampak memperhatikan glegatku dan berkata saat aku berdiri .
__ADS_1
“Sulit ya buat lupainnya?’’tanya mas Feri, aku terdiam sebentar dan menoleh.
“Lupain apa?”ucapku kesal menautkan alisku
“Hubungan yang mungkin saja tak bisa di lupakan.’’ucapnya aku gemetar mengepal jemari,
"Mas..?"lirihku
“Tadinya mas berfikir, kalo kamu akan hapuskan segalanya setelah kita kembali, mas lupa ternyata pesona pria itu menakjubkan juga.”ujarnya, aku mendegup dan reflek mendekat untuk memeluknya.
“Bukan itu mas, Ina gak mungkin bersikap biasa lagi pada Aldo, setelah semua ini mas, Ina rasa Mending gak usah aja bertemu Aldo lagi.”rengekku menggerutu didadanya, mas Feri mengelus rambutku lembut hingga menciumi pucuk kepalaku,
“Mas berharap juga begitu.”lirihnya.
Keesokan harinya, sekitar jam delapan malam kami sudah bersiap untuk pergi ke peresmian gedung yang diselenggarakan oleh Al company itu, aku dan mas Feri memakai gaun dan jas yang couple. Karna ini acaranya formal dan sedikit bebas, aku pilihkan baju kemeja biru dikombinasikan dengan jas berwarna hitam begitu juga dengan gaunku yang jatuh sepaha, dengan sedikit aksen pita biru kecil membatasi pinggangku rambut sengaja aku biarkan teruarai yang hanya menata sedikit dibagian belakang dengan jepitan pita kecil.
“Terima kasih sayang, pilihan baju yang bagus, sama itu. Kamu sangat terlihat cantik hari ini.”ujar mas Feri saat melihatku turun dari atas, mas Feri tersenyum dan mendekat padannya.
“Bisa kita pergi sekarang?”tanyaku mas Feri mengangguk, mengulurkan telapak tangannya aku menyandang tas yang tadi aku pegang, meletakkannya di pundakku dan mengikuti langkah mas Feri keluar bergandengan tangan,
Sesampai disana kami di sambut beberapa karyawan di loby, hampir semua kenalan kantor menyapa hingga menyalami aku dan mas Feri,
“Hallo, Ina Feri, Aku kira kalian takkan datang,”sambut asistennya Aldo, kami berdua tersenyum.
“Bagaimana bisa kami tidak datang’’timpal mas Feri, ku hanya bisa menyunggingkan senyum dari jarak tiga meter di depan pintu gedung untuk perusahaan cabang itu Aldo berbincang-bincang dengan petinggi-petinggi perusahaan lainnya dan aku berusaha untuk tidak melihatnya tapi entah kenapa ekor mataku selalu ingin mencari wajahnya dia tampak lebih elegan dan berkelass sekarang, apa yang membuat dia tampak menjadi seberwibawa itu aku salut akan pesona pria ini, jujur dia mengesankan, sadar akan keberadaanku, Aldo menoleh dan memandangku lekat, sontak aku buang muka dan fokus kembali berbincang dengan mas Feri dan asisten Aldo, bisa aku dengar dia kembali bicara juga pada teman ngobrolnya setelah sejenak diam melihat aku berada disitu tadi,
Hingga waktu berlalu acara peresmian itu berakhir juga setelah Aldo meresmikan gedung baru itu dengan menggunting pitanya, semua tampak memberi selamat setelah acaranya selesai, tak lupa aku dan mas Feri, kami harus menghampirinya juga untuk memberikannya selamat.
“Selamat ya.’’ujar mas Feri mengulurkan tangan pada Aldo pria itu juga tampak menjabat dengan senyum, sedikit ia melirik kearahku yang membuat aku salah tingkah aku bingung juga bagaimana bersikap biasa padanya.
“Selamat ya Al.”ujarku mengulurkan tangan untuk sejenak Aldo memandangiku datar dan habis itu, dia menyunggingkan senyum. Setelah itu kami kembali gabung dengan yang lain untuk berbincang-bincang sebelum pulang. Namun aku merasa ingin kekamar maandi hingga minta izin pada mas Feri yang tengah mengobrol dengan rekannya
“Mas, aku mau kekamar mandi dulu ya,”bisikku di telinganya, mas Feri menoleh dan mengangguk.
“Gak apa-apa sendiri?”tanyanya yang segan pamit pergi pada teman dan beberapa rekan kerja kami juga,
“Gak apa mas”singkatku.
“Ya sudah hati-hati.”ucapnya pelan, aku melangkah kekamar mandi dengan pasti, setelah selesai dan keluar aku memperbaiki riasanku sedikit depan cermin dan beranjak keluar, namun aku terkejut saat ada seseorang menarikku dan menyandarkannya ke dinding dibalik pintu, matakku membulat saat wajah Aldo terlihat begitu dekat.
“Ina.. aku fikir setelah kamu keguguran kamu akan cari aku, dan bahas tentaang rencana kita.’’bisiknya, aku terheran dan coba memperhatikan mimik wajahnya yang sedih.
“Lupakan Aldo, aku tidak bisa mengkhianati mas Feri, tolong jangan ganggu aku lagi.”ucapku, Aldo tak mau melepaskanku saat aku beronta dia menatap pasti,menahan bahuku ke dinding.
“Sekarang katakan? Apa kamu tidak pernah mengingatku? Sedikitpun tidak adakah kamu merindukan aku?”tanyanya aku diam melihat manik matanya yang berkaca-kaca. Aku menggeleng pelan dengan mata nanar dan berkata pelan
"Tidak''
“Bohong!”hardiknya berbisik, aku mengatur nafas dan coba bicara dengan tegas.
“Lepas Al jangan bicara omong kosong lagi!”bentakku dan coba beranjak pergi namun aku terkejut saat Aldo menarik kembali tanganku dan mengangkat jemariku untuk melihatkan jari manisku, mataku membulat saat melihat cincin lamarannya masih tersemat,
“Ini apa sayang? Kenapa kamu masih memakai cincin ini?’ujarnya aku bungkam dan gemetar, perlahan aku elus leherku untuk merasakan kalungnya namun tak ada, kalung pemberian mas Feri tak aku pakai dan sialnya aku lupa tarok dimana, malah cincin Aldo yang ada di jari manisku sekarang. Tanpa menjawab sepatah katapun aku mengibas tanganku dan berlalu pergi,
__ADS_1
..............