
Hari berlalu perlahan Ina sudah mulai membaik, dia sudah bisa melewati masa-masa kritisnya, namun sekaranng dia kembali murung dan menyendiri.
“Ina,, masuk yuk, nanti kamu bisa masuk angin kalau duduk disini.’’ujarku menghampirinya yang duduk diatas ayunan dibalkon kamar kami ini.
“Ina mau disini dulu mas,”lirihnya, aku mendekat dan merangkulnya.
“Tapi ini sudah malam sayang?”ucapku lagi, dia tampak sedikit berdengus dan berkata.
“Ya udah,”ujarnya, aku menuntunnya untuk masuk.
“Kamu istirahat ya, Ina butuh apa? Biar mas ambilkan.”dia menggeleng perlahan dengan melihat wajahku dalam, aku mengelus pipinya hingga membelai rambutnya,
“Taka pa sayang, kehilangan itu juga bagian dari hidup. Kamu gak boleh kayak gini, kita pasti bakal punya anak lagi nanti”ujarku, Rara mendegup dengan tatapan mata berkaca-kaca.
“Apa kemungkinan yang lainnya mas tentang hidup, aku tidak ingin merasakan sakit seperti ini lagi.”ujarnya.
“Kamu harus tau, dan terbiasa karna inilah hidup Ina, aka nada yang hilaang dan pergi, jadi kamu harus kuat, bahkan siapa saja bisa meninggalkan Ina, mama ataupun mas,”ucapku, Ina merintikkan air mata.
“Gak, Ina gak mau kehilangan kalian,”lirihnya dengan air mata merintik.
“Ya sudah, relakan saja anak kita, jangan sedih akan ada gantinya nanti buat hibur Ina.”ujarku, istriku itu mengangguk, aku merangkul dan memeluknya, tapi dia sedikit tertunduk seperti ada yang menganggu pikirannya.
“Ada apa?’’tanyaku, Ina diam, aku mencoba melihat wajahnya lebih jelas. Dengan sedikit mengangkat wajahnya Matanya basah dan terlihat gundah sekali
“Mas, kamu beneran, tidak masalah atas apa yang telah terjadi, aku sempat jalan dengan pria lain dan-“ucapnya terhenti karna aku cegat,
__ADS_1
“Udah kita gak bisa bahas itu ya, mulai sekarang kita fokus pada keluarga kecil kita saja, apa kamu tidak ingin hamil lagi?”tanyaku, Ina mendegup dan mengangguk perlahan aku bawa dia berbaring dan memeluknya dalam pelukan hangat, hingga kembali mahligai cinta itu terjalin membingkai harmoni dalam malam-malam panjang.
POV ALDO.
Udara malam di tepi jalan bertebing ini begitu sejuk, tapi entah kenapa aku merasa sesak disini, dadaku terasa sempit dan sakit , bisa-bisanya aku tambatkan hatiku pada wanita bersuami dan aku benar berantakan sekarang, segala kenangan bersama mba Ina menari-nari di pelupuk mataku. Sikapnya dan segala yang ada dalam dirinya membuat aku tergila-gila.
FLASBACK
“Sayang kamu kenapa, aku sangat mengkhawatirkanmu kenapa kamu tak bisa di dihubungi?”tanyanya aku ssegukan menangis dan bergelayut di pundak pemuda itu.
“Bawa aku pergi Al, aku bahagia bersamamu. Aku lelah, jauhkan aku dari penderitaan ini. Bawa aku pergi hiks.”tangisku terisak membenamkan wajahku didadanya, Aldo mendekapku lebih erat,
“Al? ada apa?’’tanyanya saat aku berdiri memandang wajahnya lekat.
“Aku mohon setelah ini, jangan berubah pikiran lagi ya, aku mau bener-bener jadian dan akan selalu bersama kamu selamanya.”ujarku, Mba Ina tersenyum dan mengangguk. Tak pikir panjang aku daratkan ciuman di bibirrnya, dan aku lega sekali tak ada perlawanan, sesekali aku melirik mobil yang berdiri. Dan tak butuh lama mobil itu melaju pergi. Aku menghentikan gerakan iitu dan tersenyum mengelus pipi mba Ina yang tampak bersemu merah.
“Ayo kita masuk,”pintaku menyeret lengannya masuk
“Dirumah yang sebesaar ini, kamu tinggal sendirian Al?”tanyaku
“Ya, Papa ku sibuk bolak balik amerika indonesai, aku punya saudara tapi nettap juga disana, dan ini akan menjadi rumah kita berdua nanti.’’ucapku pelan meraih pinggangnya mendekat padaku, Ina hanya tersenyum tipis dan berkata,
__ADS_1
“Aku tidak suka rumah ini terlalu besar.”ujarnya
“Ya udah nanti kita beli juga yang simple, ayok kekamar kamu perlu mandi dang anti pakaian,”ujarku, Ina mematung ssejenak dan kembali aku panggi saat sudah menaiki tangga pertama.
“Ayo…”pintaku, dengan ragu Ina tampak melangkahkan kakinya membuntutiku
Sesaampai di kamar aku menyodorkan handuk padanya dan mempersilahkan dia kekamar mandi
Tak lama berselang Ina keluar dengan handukan setelah selesai mandi dia keluar, wajahnya tampak canggung saat melihat aku didalam ruangan itu.
“Aku kira tadi kamu menunggu diluar”ujarnya aku mendekat namun dia membalik hendak kembali masuk kekamar mandi tubuh sexi putih mulus dan cantiknya membuat darahku memanas dari belakang bisa aku rangkull pinggang dan menciumi aroma tubuhnya yang wangi, sedikit dia beronta saat aku mengendus lehernya. Dia membalik dengan mata berkaca-kaca, sedikit aku elus pipinya dan berkata,
“Apa kamu tidak ingin balas dendam?”bisikku di telinganya, terdengar nafas Ina tak beraturan dia tampak dilema akan rasa yang bertentangan dengan hatinya, wanita itu membalik dan melihat bola mataku sayu sembari berkata.
“Kenapa aku harus yakin padamu?”tanyanya, aku mendegup dan mengelus wajah hingga bahunnya.
“Karna aku mencintaiimu.., aku jauh lebih baik dari feri, ya aku memang masih mudamu tapi anak muda selalu gila dalam mencintai, kamu tau itu kan? “jelasku.
“Kenapa kamu mencintaiku, kamu masih muda. Kamu bisa saja mendapatkan wanita yang lebih baik?”tanyanya.
“Aku ingin ada dalam keresahanmu, dan setiap sakitmu. Aku ingin menjadi penyembuhnya.”lirihku, Ina menghela nafas berat. Kembali aku daratkan kecupaan manis yang perlahan ia terima dengan ragu-ragu..
Bayangan akan malam indah bersama mba Ina waktu itu mungkin akan menjadi kenanga hakiki yang akan aku tancapkan sebagai moment yang paling indah yang pernah ada, disini aku duduk di tepi jalan bertebing memandang satu bintang yang pernah aku beri nama Ina Sebelumnya
__ADS_1
......