FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
RASA


__ADS_3

POV ALDO


Niat hati memang ingin menemui mba Ina, tiba-tiba pas ketemu udah kayak gitu aja kondisinya, tanpa pikir panjang aku langsung balik dan ikutin mobilnya  kebetulan aku pake motor jadi gampang deh kalo mau nyelip, bergegas aku tancap gas pas liat mobil mba Ina melaju dengan kencang, lima belas menit berlalu aku berhasil mengikutinya hingga di tepi jalan yang bertebing, aku panik dan langsung turun menghampirinya. Namun langkahku memelan saat mba Ina terlihat tidak berniat ingin loncat dia memilih duduk dan melihat pemandangan kota dan danau dibawah sana.


“Disini lebih indah kalo malam hari.”ujarku sontak mba Ina menoleh dan memandangiku datar.


“Aku bilang aku mau sendiri Aldo”singkatnya kembali menoleh ke pemandangan yang indah didepannya


 


“Mba ngapain sendiiri disini.”tanyaku lagi, namun mba Ina tampak tak mempermasalahkan itu lagi dan berkata sembari siuran angina mengelus wajah dan rambutnya.


 


“Dulu waktu aku kecil mama Rania sering bawa aku kesini.”ujarnya. aku mendekat dan ikut  juga duduk disampingnya. Aku melihat wajahnya dengan senyum.


“Kenapa? Ini hanya tepi jalan yang sepi aja kan?”ujarku, mba Ina terkekeh.


“Saat aku menjalani terapi. Jika aku ingin berteriak dan melepaskan beban hatiku mama bawa aku kesini.”ujarnya.


 


“Jadi mba mau teriak?”tanyaku dia menoleh dengan senyum dan reflek mengangguk.


“Itu makanya aku mau sendiri?”ujarnya. aku terkekeh dan berkata.


“Kalau mau teriak, teriak aja mba. Aldo gak akan ganggu kok.”ucapku mba Ina beedengus dan berkata.


“Justru kamu yang keganggu dengan suara mba,”singkatnya


“Enng-“reflek aku tutup telinga mendengar teriakan mba Ina yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Arrrggghhh…..”teriaknya lantang menggema dasar-dasar tebing, mba Ina berdiri dan menoleh dengan sedikit tersenyum simpul melihat aku yang syock.


“Tu kan,, aku ganngu.”ujarnya.


“Bilang dulu kali mbak, kan takejod akunya.”ucapku mba Ina terkekeh, dia berjalan lebih deket ketepi dan berteriak lebih kencang dan lantang.


 


“Arrrrrrggggghhh……..”teriaknya. aku hanya bisa menonton dari jarak setengah meter,


“Mba.. nanti mba kesambet diganggu sama penunggunya.”ujarku Mba Ina menoleh dan mengulurkan tangan, mataku membulat.


“Sini… emang kamu gak punya penat dihati yang mau kamu keluarkan? tenang penunggu disini udah biasa dengan teriakan mbak”ujarnya, aku reflek menggeleng. Mba Ina kembali berteriak namun kali ini tampak melemah, dia bersimpuh dan menangis, aku menghela nafas dan mendekat.


“Hiks… kenapa sakitnya gak hilang-hilang.”lirihnhyaa aku reflek merangkulnya dan mengelus bahunya lembut.


“Apa yang harus aku lakukan Al, aku tidak bisa menghibur diriku.”ujarnya.


“Tapi aku  tidak sanggup, pada kenyataannya aku akan melewati waktu itu tanpa mas Feri hiks..”tangisnya pecah, aku hanya bisa mengelus bahunya lembut dan menenangkan.


“Mba yang sabar ya.”


Sore harinya kami kembali kekantor, melihat itu Feri tampak tidak suka aku barengan sama mba Ina,dia mendekat pada kami dan bertanya.


“Kalian dari mana?”tanyanya, aku diam mba Ina juga berlalu tanpa kata sepatah katapun. Tatapan datar dan menohok Feri membuatku menggetarkan bibirku juga.


“Kemana aja donk, yang penting buat dia senang.”singkat, aku beranjak pergi meninggalkan kekesalan di wajahnya.


Malam harinya, aku masih teringat akan kebersamaanku dengan mba Ina tadi ditepi jalan berbukit itu


(moon maap kalo dijakarta  tidak ada jalan bertebing kek di padang, bayanginya soul korea aja ya mak?” awoawok.)

__ADS_1


Entah kenaapa itu sulit saja di lupakan, tergerak hati ingin mengabari tapi aku ragu, secarakan dia wanita elegan beda jauh juga umurnya sama aku.


“Kira-kira cara deketinnya gimana ya?’’bisikku


“Ma-lam mba.., gitu kali ya pesannya.”bisikku sembari memencet keyboard ponsel, tapi aku berfikir malah nanti mba Ina salah paham, aku berdengus dan coba mengenggam ponselku  membawanya berdiri dari rebahanku dari tadi.


“Hmmm… aku tulis apa ya? Atau aku telpon aja?’’ucapku lagi.


“Tapi aku harus bicarain apa ya?’’sanggahku lagi Aduuuh, sial buat nyapa aja. Aku gak tau mau ngomong apa. Aku iseng tulis


“Hay mba apa kabar..”ketikku, sontak aku ilfil. Masak gitu kek kaku banget, kucoba mainkan jariku lagii.


Menulis kata-kata pembuka lain buat pesan di layar hijauku itu.


“Apa’an sih gak jelas banget deh “gerutuku lagi. Iseng aku tulis


“How are you..”kuhapus lagi “atau”bisikku coba memainkan jemariku lagi.


“I miss you..”tulisku iseng,, aku terkekeh dan coba hapus lagi, bisa-bisa mati kutu aku ketemu mba Ina kalo sampai aku kirim kayak gitu ya kan. Aku ketawa sendiri. Iseng lagi aku tulis kalimat dengan huruf capital


 


“I LOVE YOU…”ketik sembari cengingisan dan berniat menghapus kembali


“Huuuh seandainya saja, aku bisa bilangke mba Ina langsung kalo aku suka sama diia.”gerutuku lagi, dan kembli menoleh kelayar ponselku, aku terperanjat melihat pesan itu terkirim dan sudah dua centang biru, mataku membulat melihat mba Ina Online, tapi gak di bales.


“Oh tuhan mati aku,,”rengekku memegang kepala, gegas jariku menghapus pesan itu biar dianggap salah kirim. sigap aku otak atik dengan buang nafas lega.


“Uh.. akhirnya kehapus juga.”bisikku sendiri kembali melihat layar hijau itu, ponsel itu otomatis melayang saat aku sadar ternyata aku meklik. Hapus untuk saya.. bukan untuk semua orang, tiba-tiba aku gemetar sambil gigit jari, kayaknya abis ini. Aku gak sanggup ketemu sama mba Ina lagi.


"Oh Tuhaaaan.."rengekku membayangkn betapa malunya melihat wajah mba Ina besok, aku kesal membenamkan wajahku kebantal.

__ADS_1


__ADS_2