FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
JUJUR


__ADS_3

POV INA.


 


TRAKT


Bunyi pintu rumah terbuka, sudah sebulan lamanya kami meninggalkan rumah ini dan berbulan madu.


Ke Thailand. Tentu saja aku sangat rindu suasana rumah dengan kehidupan baruku yang normal.


“Istirahatlah sayang, kamu pasti capekkan” ujar mas Feri. Aku merebah di sofa sembari mengangguk.


“Mas apa Rara sudah menghubungimu”tanyaku menghentikan langkah mas Feri,


“Belum sayang, kamu ada perlu apa sama Rara?”Tanyanya seolah tak suka.


“Sepertinya sebulan ini dia tidak datangi rumah,”ucapku pelan sembari menyapu setiap sudut yang masih tampak seperti sebelumnya.


“Mungkin dia lebih suka berlama-lama di bandung, ketimbang disini sendirian”ujarnya. Aku menghela nafas sedikit dan terfikir untuk menghubunginya,


“Sayang kamu mau apa?”Tanya suamiku itu, aku menoleh padanya dengan tatapan datar


“Ya, mau hubungi Rara lah mas, ini sudah satu bulan kita tidak mengabari dia?”ujarku tak habis pikir, mas Feri hanya bisa mendegup dan kembali beranjak ke belakang meletakkan barang-barang kami


Kembali aku sibuk dengan ponselku coba menghubungi nomor Rara tapi tidak bisa di hubungi, aku makin tak mengerti, kenapa dia matikan ponselnya, apa dia marah pada kami dan memilih pergi,


“Rara.. kenapa?”bisikku.


Sore berkunjung, aku tidak fokus menyiapkan makan malam untuk mas Feri, entah kenapa aku terfikir Rara, kenapa tiba-tiba hilang kontak begini, bagaimanapun aku tidak boleh egoiis dia istrinya mas Feri juga. Dia pasti kecewa sekali saat mas Feri diamkkan dia cukup lama,


“Sayang bikinkan mas Teh.’’pinta mas Feri duduk di meja makan, aku menoleh dan coba bergegas bikinkan, ekpresi mas Feri malah membuat aku bingung sepertinya dia santai saja dan bodoh amat dengan masalah ini tak perlu waktu lama aku selesai menyeduh Teh untuk mas Feri.


“Ini sayang Tehnya?”ujarku menghenyak di kursi memandanginya dengan senyum, mas Feri tersenyum dan coba menyeruput teh yang masih hangat itu.


“Oh ya, buat berkas pegawai dan data kamu masih ada yang belum pahamkah?? Kita sudah lama tidak kekantor, atau mas Ikut besok. Biar mas bantu presentasikan pada asisten dan manager,”ujarnya membhas pekerjaan, aku terdiam sesaat dan berkata.


“Kamu ngantor aja, aku lebih suka dirumah?”


“Tapi mama Rania kan udah gantiin posisi aku?”ujarnya datar, aku berdengus dan sedikit merengek.


“Mas…, ya kali mama Rania. Kekantor setiap hari, ini perintah aku lo, kamu gantiin aku gitu”aku manyun karna bête dengan jawabannya,


“Okey.. okey sayang baik. Aku akan handle semua terima kasih sudah percayakaan pekerjaan ini bos”guyonnya dengan meledek. Aku hanya terkekeh dengan sedikit menggeleng, naamun aku kembali terfikir akan pertanyaan yang dalam benakku dari tadi.


“Mas, apa kamu gak kefikirn Rara?”tanyaku sontak wajah mas Feri berubah,


“Enggak “ singkatnya, nafasku tersengal dan berkata.


“Mas kok bisa gitu?”tanyaku tak habis pikir,


“Ya biasalah, lagipula buat apa Rara, kamu sudah ada disini,isttriku sudah pulih. Aku tidak perlu wanita lain?”ujarnya, sontak saja aku berdecak heran terkejut dengan jawabannya,


“Mas, kok kamu gitu sih? Rara, kamu nikahi dia dengan sah. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan dia, aku memang cemburu mas, saat kamu sama dia. Tapi aku masih punya perasaan, dia itu wanita. Aku tau bagaiama sakitnya dia saat kamu ngomong seperti ini”jelasku, mas Feri menghela nafas dan coba berkata dengan memandangi wajahku lekat,


“Dan aku tau perasaan kamu, sayang. Aku gak mau nyakitin kamu, jadi biarkaan saja, malah bagus kalo Rara gak balik lagi kesini?”ujarnya aku menautkan alis, walau aku tau itu pasti menyenangkan sekali, tapi aku tidak menolak lupa dengan perasaan wanita itu, apa yang akan dia katakan pada keluarganya jika tiba-tiba dia berstatuskan janda, aku tau Rara juga mencintai mas Feri.

__ADS_1


“Mas, dia istrimu juga. Kalo dia hamil bagaimana?”tanyaku dengan tak habis fikir, mas Feri mendegup.


“Sudahlah Ina. Aku mohon jangan bahas ini lagi. Kamu fokus sama kesehatan kamu aja ya, aku menunggu kabar baik pada rahimmu” ujarnya mengelus pipiku, aku berdiri dengan air mata merintik.


“Kamu mungkin egois mas, tapi aku tidak.”desisku serak, mas Feri sedikit mendongak melihat tingkahku.


“Kamu harus cari tau info tentang Rara mas. dan bawa dia kesini”singkatkku dan berlalu pergi.


 


POV FERI


Malam berkunjung, semenjak tadi sore, Ina diamkan aku karna aku terkesan tak peduli pada Rara dia marah hingga tak mau bicara padaku , jujur aku berusaha melupakan ini semua .Bersyukur semunya belum terlanjur aku memang sudah mulai menyukai gadis itu, tapi untuk kebaikan semuanya alangkah baik aku biarkan dia terbang jauh, dan semoga dia menemukan kebahagiaannya bersama seseorang yang mencintanyaa dengan tulus nanti.


“Sayang, kamu gak temenin mas makan?”sorakku, Ina tampak diam tak bergeming di kamar. Aku menghela nafas dan coba beranjak menemuinya. Bisa aku lihat istriku itu berdiri di balkon kamar sembari memandangi langit malam.


 


“Cinta…”lirihku memeluk dia dari belakang sedikit dia berdesih dan berkata,


“Apa yang kamu katakan pada Rara sehingga dia tidak menghubungi kita lagi?” sejenak aku diam


FLASBACK


“Aku memutuskan berbulan madu dengan Ina.”ucapku pada Rara saat aku datangi dia kekamar semalam sebelum pergi berbulan madu wakttu itu. Gadis itu bungkam tanpa menoleh padaku, sedikit dia beringsut dari tidurnya dan berkata


“Kamu melupakan janjimu mas?”tanyanya, aku mendegup serek kerongkonganku dan berkata,


“Aku tarik kembali kata-kataku, maaf. Aku tidak bisa menikahimu Rara.”ujarku, nafas gadis itu tersengal dan reflek sesegukan menangis, jujur aku sakit mendengar tangisannya tapi aku harus tega. Ini demi kebaikan semuanya.


 


“Aku tidak bisa mas, hiks..”lirihnya.


“Aku pergi dengan Ina mungkin untuk waktu yang lama dan aku berharap kamu tidak ada lagi disini saat kami kembali”ucapku. Rara terus saja menangis hingga aku letakkan lagi cek yang sempat aku beri sebelumnya.


“Semoga kamu bahagia.”singkatku meninggalkan gadis itu merintih dengan kerapuhan hati yang terdalam.


 _______________________________________________________________________________


“Mas..”sapa Ina saat aku teringat akan malam itu, sontak aku buyarkan lamunanku dan berkata.


“Mas, menyuruhnya pergi”singkatku, Ina berdesih dan membalik melihat wajahku dengan tak habis pikir.


“Tapi kenapa mas?”


“Karna dia bukan istriku.”tegasku lagi, sontak mata Ina terbuka dan berkata dengan gemetar.


“Mm-maksudmu apa mas?”lirihnya dengan mata yang penuh tanda Tanya. Aku mengelus wajahnya lembut dan berkata,


“Ya sayang, mas Tidak pernah menikah lagi.’’singkatku lagi., Reflek air mata Ina mengucur deras


“Tt-tapi mas, aa-kku belum paham. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu mencumbuinya,”ujarnya gemetar dengan mata berkaca-kaca.


“Maafkan mas, memang waktu mas sulit sekali terkontrol, tapi mas menyesal sayang makanya mas pergi. Mas mengutuk diri mas sendiri akan kekhilafan itu, tolong maafakan mas?’’lirihku mengecup pipinya, mata Ina nanar dengan dua alis yang megerut tampak mencerna semua yang ada difikirannya,

__ADS_1


“kamu bersandiwara demi kesembuhan Ina mas?”lirihnya, aku mengangguk air mata Ina merintik lagi. Dia mengusap wajahnya dan berkata, dengan gemetar.


“Lalu apa yang didapat Rara setelah semua ini?”tanyanya. terdengar merasa bersalah


 


“Dari awal kami sudah buat kesepakatan, aku akan membayarnya jika misi ini berhasil dan dia sudah bawa pergi uangnya, jadi sekarang kamu gak usah pikirkan dia lagi, kamu sudah pulih sayang, dan misi ini sudah berhasil.”jelasku, nafas Ina tersengal dan menangis tersedu-sedu masuk kedalam pelukanku,


“Hiks,,, setiap detik aku coba berusaha kuat dan tegar menerima kenyataan ini mas. Aku tidak menyangka dengan kejutanmu, terima kasih untuk cinta yang luar biasa ini sayang aku sangat lega sekarang, aku tak perlu menata hati lagi saat harus membagimu dengan wanita lain, aku mencintaimu mas.”rengeknya memelukku erat,, aku juga tak bisa sembunyikan haruku dan merintikkan air mata mengecup dahinya.


Kehidupan kembali normal seperti sebelumnya, walau terkadang cumbuan dan sentuhan gadis itu mengusikku tenangku, tapi aku harus hapuskan demi masa depan yang lebih baik lagi.


“Ini mas, kamu pakai jas yang ini dan kemeja yang ini sayang, cepatlah turun aku sudah bikinkan sarapan”ujar Ina membawakan perlengkapan kantor padaku, sedikit aku beriyak dan meletakkan laptop menyambar pinggang istriku yang sok sibuk itu


“Kamu ini sibuk sekali ya, aku masih pengen di peluk,”


“Mas, ayo pakai pakaianmu dan turun ke bawah,”ujarnya aku tidak mau dan coba menghalangi langkahnya.


“Satu ciuman mungkin akan membuatku patuh”sungutku mencandainya, Ina terkekeh dan coba membawa wajahku mendekat,


Cup…


“Ayo buruan..’’ujarnya beranjak berlalu, aku melongo melihat dia berlalu.


“Ih sayang, ,masa Cuma sekali gak seru tau?”sorakku saat Ina sudah menuruni tangga. Terdengar ia berteriak.


“Cepetan mas, nanti kamu telat,’’ujarnya, aku hanya bisa tersenyum dan memakai seragam kantor,


 Siang berkunjung, di tengah kesibukan kantorku, ,mama Rania yang tak lain adalah tanteku, datang dengan wajah kesal. Mungkin dia tidak suka Ina bebankan tanggung jawab ini padaku.


 


“Kenapa kamu masih mendatangi kantor, kamu gak punya malu ya? Kalau saja bukan karna Ina dari kemaren sudah aku campakan kamu dari sini”ujar mama Rania, aku menghela nafas dan coba berkata dengan pelan.


“Tante, aku rasa tante tau. Kita sama-sama berjuang sebelumnya untuk menyembuhkan Ina. Dan kali ini masalahnya sensitive, dia trauma akan ****, aku hanya coba menyembuhkan istriku”jelasku, tante Rania tampak mengerutkan keningnya.


“menyembuhkannya dengan menikah lagi maksudmu?”tanyanya, aku terdiam sejenak dan coba berkata lagi,


“Aku membayar Rara untuk memancing rasa ingin tau Ina tentang ****, dan itu berhasil dia sudah bisa menjalani hiidupnya dengan normal sekarang. Dah bahkan kami baru saja pulang dari berbulan madu’’jelasku sontak wajah tanteku berubah,


‘’Benarkah? Jadi semuanya hanya bohongan?”ucapnya terdengar lega, aku segera mengangguk nafas tante tersengal dan bergegas pergi sembari berkata,


 


“Aku harus temui Ina dulu”ujarnya, hatiku hangat saat melihat wajah berseri adik sepupu ayahku itu.


Sore berkunjung, aku bersiap hendak pulang dari kantorku langkahku pasti menuju parkiran hingga aku dicegat oleh pemuda dengan motor Gp berwarna merah dia menghalangi langkahku untuk menuju mobilku, sedikit aku memandangnya datar, saat ia menatap pasti bola mataku.


“Apa masalah pemuda ini denganku,’’bisikku dan mendekat.


“Tuan Feri?”tanyanya, aku mengangguk ragu dan berkata.


“Ya ada apa?”singkatku.


“Aku hanya ingin memberi taumu, bahwa saat ini kondisi Rara memburuk, aku bahkan tidak tau apa yang kamu lakukan padanya hingga membuat dia bisa sehancur itu, jadi aku mohon, jangan berlagak biasa saat ada seseorang yang tengah memprihatinkan,”jelasnya nafasku tersengal dan coba tak terpancing akan omongan itu.

__ADS_1


“Kamu siapanya Rara?’tanyaku.


“Kamu tidak perlu tau siapa aku, yang jelas sekarang. Rara tengah sedang tidak baik!-baik saja’tegasnya kembali lagi menaiki motornya. 


__ADS_2