
POV INA
Air mataku tak hentinya mengucur karna haru sepanjang jalan, sesampai dirumah kami berdua masuk bergandengan dan saling merangkul dalam pelukan hangat, sisa kebahagiaan tadi masih melekat erat melihat kami harmonis begitu mbok Lastri tampak heran. Karna memang semenjak dia datang aku dan mas Feri tidak pernah akur.
“Duh seneng banget deh mbok lliatnya, hari ini terasa berbeda.” Ujarnya aku dan mas Feri tersenyum, Mas Feri membawaku kedalam rangkulan dan berkata,
“Tentu saja mbok, hari ini patut dirayakan, karna Ina mengandunng janin kembar.”ujarnya, mbok lastri tampak membulatkan mata dan mendekat.
“Wah beneran non, nyonya Rania harus tau donk kalo begitu.”ucapnya girang , kami berdua mengangguk.
“Kamu telpon mama gih mas?”ucapku, mas Feri tampak mengangguk.
“Baik sayang.”ujarnya, aku menghenyak di sofa di iringi mbo Lastri.
“Gak sabar non, mbok liat baby cewek biar mbok, yang dandanin tiap hari.”ujarnya, aku terkekeh sembari tetap menoleh pada mas Feri.
“Ma, mama kalo bisa kesini deh, ada kabar bahagia dan kami mau rayainnya.’ujarnya,
“Apa Fer?. “
“Ina, dia mengandung bayi kembar.’’ujar mas Feri tersenyum padaku, aku membalasnya dengan senyum hangat,
“Benarkah? oh Tuhan, mama akan segera kesana.”ujarnya, kami berdua tersenyum. Mas Feri mendekat padaku juga ikut menghenyak disofa.
“Mbok bikinin susu dulu ya, biar bocilnys kuat.”ujar mbok Lastri beranjak kebelakang, kami berdua mengangguk dan tersenyum.
“Makasih ya mbokk..”ucapku, kembali aku menoleh pada mas Feri matanya masih tampak memancarkan kebahagiaan. Sedikit ia elus kepalaku dan berkata,
“Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat, biar mereka juga tumbuh sehat, aku dah gak sabar liat anak-anak kita.”ujarnya, hatiku hangat.
“Kamu seneng mas?’’rengekku, dia sedikit menautkan alis dan berkata.
“Senenglah.”ujarnya. aku tersenyum.
“Kamu mau apa? Mas bakalan beliin.”ujarnya, aku menggeleng dan masuk kedalam pelukannya.
“Gak mau apa-apa, cuman mau peluk kamu mas.”rengekku sedikit lirih membenam dalam dadanya.
“Oh, begitu baiklah.”ujarnya, aku mengangguk.
__ADS_1
“Dan mulai sekarang, aku mau mas tidur dalam pelukan Ina, temanin Ina mandi, suapin makan,dan ya Ina mau ikut kemanapun mas pergi, truus pokonya mas gak boleh jauh-jauh dari Ina.”rengekku manja mengelus-ngelus bahu bidangnya menggerutu.
“Itu namanya banyak maunya sayang, nyebelin banget sih.’’guyonnya.
“Ih ini bawaan babynya juga yang nyebelin,”rengekku lagi, mas Feri mencubit pipiku dengan gemes,
“Lah, jangan salahin babynya. Kamunya aja yang manja!”gerutunya aku terkekeh, mas feri menatap lekat mataku yang terasa berkaca-kaca.
“Semoga bayinya selalu sehat ya?’’bisiknya, aku menghela nafas agar aku tidak mengucurkan air mata di moment bahagia ini, namun aku tidak bisa, air mata itu akhirnya merintik juga bagaimana tidak aku haru. Sekali lagi aku takjub akan kebesaran hati suamiku ini, reflek mas Feri mengelus pipiku yang di aliri air mata itu.
“Jangan menangis, mas gak suka liat air mata kamu, sudahi semua sayang terlalu banyak kesedihan.’’ujarnya, air mataku semakin mengucur lebih deras, mas Feri mengecup bibirku sedikit lama dan berkata.
“Sudah sayang…”singkatnya menghapus kedua pipiku berurai air mata dengan telapak tangannya, kembali aku memeluk suamiku itu sembari menangis terisak-iisak.
“Aku mencintaimu mas hiks,”tangisku, mas Feri hanya bisa mengelus rambutku lembut sembari menciumi pucuk kepalaku , dari luar terdengar mobil mama datang, tak butuh waktu lama dia masuk dan langsung menyapa dengan riang.
“Ina sayang….”ujarnya sedikit berteriak, kami berdua berdiri menyambut mama, ibu angkatku itu langsung memelukku dengan air mata bahagia.
“Kita harus rayain ini,”ucap mama lagi, kami berdua saling menoleh.
“Ya sih ma, tapi nanti deh kayaknya Ina belum sepenuhnya fit.’’ujar mas Feri.
“Iya nanti, bukan sekarang. Ya udah sini kamu ikut mama, mama dah belikan manisan yang seger-seger sama vitamin juga, mama mau bayinya sehat”ucap mama kembali menyeretku kesofa.
“Lastri, tolong ambilkan di bagasi mobil ya.’titahnya pada si mbok , kami semua tampak menunggu, ada beberapa banyak manisan yang di bopong Lastri kedalam.
“Ini semua kaya serat dan nustri, direkomendasikan oleh dokter.”ujar mama membuka satu persatu.
“Bisa melar mah Inanya, secarakan akhir-akhir dia doyan makan”ujar mas Feri aku sedikit manyun.
“Gak apa-apa biar sehat, bayinya dalam kandungannya'kan ada dua.”ujarnya, aku tersenyum mengangguk riang, mengambil satu persatu kotak makananya,
“Aku mau ini mah.”ujarku menyambar sekotak yogurt dan buah,
“Ya udah sayang,, yang lain ini tolong kamu tarok di kulkas Lastri.’’titah mama, memberikan sekantong makanan bumil itu.
__ADS_1
Malam semakin larut, setelah lelah berbincang dan melepaskan rindu dan rasa syukur tadi bersama mama dia izin pulang, aku memang sempet mencegatnya untuk pergi, namun mama emang gitu, dia tidak mau menganggu ketenangan kami, terlebih. Mama lebih nyaman bersama asisten-asistennya yang udah ia anggap keluarga itu, jadi diaa gak pernah bosan dirumah kalo gak ada Ina, sebelum tidur mas Feri mecek laptopnya sebentar dan habis itu. Menemuiku keatas kasur yang tampak memperhatikan perutku dengan seksama.
“Kok belum keliatan juga sih, babynya udah sebesar apa”bisikku, melihat itu mas Feri datang dengan tertawa simpul.
“Bantu jawab, mamanya kurang banyak makan,”ujarnya, aku tersenyum dan menoleh padanya, mas Feri mendekat dan meletakkan tangan kekarnya diatas perutku.
“Jangan mas,nanti babynya sesak.’’rengekku, mas Feri terkekeh.
“Mas mau ngomong sesuatu sama mereka.’’
“Mas mau ngomong apa, kan babynya belum punya telinga?”ucapku, mas Feri sedikit manyun dan beringsut mendekat.
“Ya sudah aku bisikin ke telinga kamu aja.’’ujarnya, aku tersenyum dan sontak geli saat mas Feri mendekatkan bibirnya ke telinga.
“Nak, bilangin sama mama, kalo papa kepengen. Eh maksudnya kangen.’’ucap mas Feri terkekeh, aku mencubit pinggangnya dan berkata,
“Kamu gak boleh mesum sama anak, gak lucu,”sungutku.
“Kan masih minjem telinga kamu.’’ucapnya terkekeh, aku tersenyum dan reflek bergelayut di pundaknya.
“Mas.. ini gak mimpikan?”bisikku mengelus sedikit wajah tampannya.
“Gak sayang,
"Kamu beneran sudah ma-“ucapanku terhenti saat dia mengacungkan telunjuknya ke bibirku.
“Sssssst…, udah jangan bahas apapun lagi sekarang. “desisnya, aku tertunduk menyembunyikan air mataku. Sedikit mas Feri mengangkat daguku dan melihat wajahku dengan jelas.
“Kita akan kemana? Yang mungkin bisa menjauh dari semua ini.”ujarnya, aku mendegup. Dan berkata.
“Mungkin keluar negri.”singkatku, mas Feri kembali bertanya.
“Lalu mama?’’tanyanya.
“Kita ajak,”singkatku.
“Yakin mama mau? ya sudah kita pikirkan ini nanti, untuk sekarang kamu fokus sama kandungan kamu aja.”ujarnya aku mengangguk. Mas Feri mengelus wajahku lembut dan menciuminya di setiap sisi wajahku, aku berharap kali ini tidak ada lagi yang menganggu fikirannya, tidak ada rasa jijik dan benci lagi,
Semoga hatinya bisa mengalir damai dengan ikhlas, kalau tidak. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, aku degdegan saat mas Feri rangkul dan sentuh setiap sisi tubuhku, setiap detik mengukir syahdu dan aku tau itu cintanya terbingkai lagi bak rindu yang kian menggebu, bahagia tentu saja. Aku mendapat kembali hati suamiku.
__ADS_1