
Keesokan harinya aku banguun dengan pikiran pelik. Kejadian semalam kembai mengusik pikiranku, apa yang harus aku lakukan selain menuruti permainan ini. Aku hanya tidak mau ini lebih kacau. Semoga saja aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan berubah pikiran.
“Sayang ayo buruan mandi, kita harus segera jalan jam sepuluh.”ujar Istriku sedikit aku tersintak dan bangun dari lamunanku bergerak kekamar mandi. Selesai berkemas aku menyusul mereka semua. Bisa aku lihat Aldo tampak bersusah payah untuk ngajak bicara Rara, namun aku coba alihkan pandangan dan fokus mau bantuin Ina berkemas,
“Sayang, apa ada yang bisa mas bantu?”tanyaku sembari melirik Rara dan Aldo yang tengah cekcok, Ina juga memperhatikan mereka dan berkata.
“Mas, kira-kira Rara bisa gak ya di luluhin sama Aldo?”Tanya Ina aku sedikit memainkan mulutku dan berkata.
“Semoga saja.”singkatku.
“Ih, aku bisa sendiri gak usah bantu, sana!”hardiknya. aku memperhatikan Rara yang tampak berjalan mendekat namun sepertinya selalu dicegah oleh Aldo dengan mengusilinya.
“Mas bisa ikut aku sebentar?”pinta istriku segera aku menoleh dan mengikuti langkahnya ke garasi.
“Ya sayang ada apa?”
“Mas aku mau bikin lamaran gitu, dari Aldo untuk Rara? Gimana? Kamu setuju gak. Aku mau bantu Aldo untuk mempersiapkan segalanya, sejenak aku nanar karna terfikir akan kejadian semalam, bisa jadi ini tidak berjalan dengan lancar karna aku kembali memberi harap untuk Rara. Aku bodoh bisa-bisanya aku asal bicara hannya untuk menghindar, tapi mau bagaimana lagi aku bingung,
“Mas…”panggil istriku lagi.
“Ya sayang?”
“Hmm. Ya gak apa bagus banget malah semoga saja Rara luluh ya”ujarku. Ina tersenyum dan coba berkata.
“Bantu aku, bawa beberapa peralatannya, aku baru pesan mas, dan ini bagus banget. Aku yakin suasanya akan semakin romantic.”ujarnya Ina berjalan kearah tumpukan kardus yang lumayan besar , aku mendekat saat Ina coba berusaha angkat salah satu
“Sayang, jangan. biar mas aja”cegatku. Aku mengambil dari tangannya dan berkata’
“Lumayan berat lo Ini,”Ujarku Ina mengangguk sembari tetap memantauku meletakkan Kardus itu di garasi.
“Iya mas, padahal isinya Cuma bunga-bunga aksen pita dan love-love gitu.”ujarnya manyun, aku meletakkan kardus itu dan menoleh pada Ina
“Kamu tau dari mana sih kek beginian, sekarang udahh banyak bisanya kamu ya?”ujarku. Ina terkekeh.
“Ya kan bisa liat di film-film mas?”sungutnya aku tersenyum sembari mengacak rambutnya dan kembali menemui mereka berdua dirumah.
“Ayo mas..”ucapnya menyeret lenganku ke mobil melihat itu Ina tampak termangu,
“Mas, kamu jangan jauh-jauh dari aku ya. Aku kesel itu Aldo deketin Rara terus.”bisiknya aku berdesih dan sedikit garuk tengkuknya, sepertinya atas perlakuan semalam dia ngelunjak. Aku hanya diam sembari tetap fokus masuk ke mobil menunggu Ina dan Aldo menyusul.
POV RARA.
Sungguh perjalanan yang sangat menjengkelkan. Aku harus ngalah duduk dibelakang bersama Aldo. Sedangkan mas Feri didepan bersama Ina. Dan makin menjengkekan lagi, sesekali mba Ina senyam-senyum gak jelas kebelakang aku melirik Aldo sedikt dan kembali buang muka
“Ra, kamu mau minum?”ujarnya memberikan sebotol jus buah aku menggeleng dan berkata.
“Gak haus.”singkatku, Aldo kembali menarik tangannya dan berkata.
“Kamu suka sekali jus mangga sayang, makanya aku kasih.’’ujarnya, aku menoleh dan menatapnya dengan tak habis pikir.
“Udah deh, kamu jangan panggil aku sayang, resek banget sih, kamu udah buang aku cuman karna *****. Trus sekarang seenaknya kamu usik hidup aku begini.”gerutku, Aldo mendegup dan coba getarkan bibirnya.
“Berapa kali sih aku jelasin, aku gak pernah ingin duain kamu sayang. Kamu sih gk kasih aku kesempatan buat jelasin dan buktikan semuanya.”timpalnya aku hanya bungkam sembari melirik mas Feri yang menyetir. Mba Ina yang juga mendengar itu ikut menimpal.
“Mba rasa, lebih baik kamu coba beri Aldo kesempatan deh.”singkatnya, aku meliriknya mba Ina yang mendadak gugup saat aku pandangi sinis. Kembali dia beringsut memperbaiki duduknya dan menghadap kedepan.
Aldo memilih diam, aku pun diam. Hingga mobil itu uterus saja berlalu.
Setelah sampai disana. Mba Ina tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu menggelar tikar dan meletakkan beberapa makanan ringan dan buah. Setelah itu mereka berdua izin pergi dan meninggalkan kami, aku tidak tenang saat di tinggal berdua saja dengan Aldo, aku tidak ingin seperti ini. Tau begini aku tidak akan ikut.
“Kamu mau keman Ra,”cegat Aldo saat aku hendak bergerak menyusul mas Feri dan Ina. Aku berdesih dan berkata.
“Mau cari mas Feri.”singkatku.
__ADS_1
“Mereka akan kembali kita tunggu saja.”ujarnya. sejenak aku berfikir mungkin ya, mas Feri minta aku untuk menyembunyikan hubungan ini dan gak boleh terlalu aggresif padanya okey aku tidak akan menganggunya, aku kembali duduk dan manyun melihat Aldo, pria itu tersenyum menyodorkan aku snack ringan, aku menggeleng, dia terdengar berdengus pelan dan menarik nafas dalam sembari menatap keindahan alam yang segar. Pria itu merebahkan badannya ditikar dan bertopang siku meneoleh kearahku.
“Hummm suasananya Indah, sayang sekali kita tidak memanfaatkan moment ini,”ujarnya aku menoleh ke lain arah dan berdesih’ Aldo mendekat lebih dekat dan menggenggam jemariku, untuk sejenak aku diam. Melihat dalam bola matanya.
“Kamu beneran, dah lupain aku. Banyak hal, yang terjadi diantara kita dan takkan mudah terlupakan begitu sajakan?”ucapnya pelan aku tau banyak sekali hal indah tapi aku tak ingin mengingat itu’ sedikit aku tarik tanganku dan berkata.
“Kehidupanku sekarang adalah mas Feri, kamu tidak perlu ikut campur dan mengusik kehidupanku aku mencintainya. Dan aku bahagia disini.”jelasku. sejenak Aldo terdiam.
“Percayalah, akulah yang lebih pantas membahagiakanmu Ra, Feri dia pria beristri apa kamu siap dengan segala konsekuensinya, kamu cantik, masih muda jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk Ini.”ujarnya aku tidak bergeming, namun perlakuan mas Feri semalam membuat aku yakin dia juga sangat mencintaiku, karna sekarang dia hanya terikat janji dan prinsipnya pada mba Ina.
“Dia mencintaiku,’’singkatku, Aldo menatap dalam manik mataku dan berkata,
“Kamu memang terlihat menyedihkan Rara, aku mohon. Kamu sadar.”ucapnya terdengar tertekan. Aku menghela nafas sedikit dan berkata dengan pasti,
“Ikatan kami memang masih pribadi, bagaimanapunn mas Feri dia masih memprioritaskan aku dihatinya, dan aku berharap suatu hari nanti, hubungan ini tidak disembunyikan lagi.”ujarku, seketika Aldo menautkan alisnya.
“Maksudmu?’’singkatnya. dengan penuh tanda Tanya.
“Rahasia..”singkatku dengan senyum girang, bisa aku lihat nafas pria itu sedikit tersengal. Namun sepertinya dia enggan bicara lagi. Aldo berdiri dan coba meninggalkanku sendiri, akupun tak apa dia tak gannggu kesendirianku sembari menunggu mas Feri dan mba Ina kembali.
Dalam lamunanku aku merasakan ada yang jatuh di pahaku, sontak aku melihat lipatan kertas kecil berwarna biru itu dan berbiisik sembari menoleh kanan kiri.
“Ini siapa yang lempar?’bisikku membuka gulungan kertas itu,
“Ikuti panahnya “tulisnya, aku menoleh ke belakang dan melihat panah yang di tempel di pohon aku tersenyum dengan sigap berdiri, otakku sudah memikirkan hal indah, bahwa mas Feri menyiapkan sesuatu yang mengejutkan untuk kami berdua saja,
“Mas,,,”panggilku saat aku tidak temukan tanda panah lagi, aku melirik kiri kanan hanya ada hamparan hijau dan pohon\=pohon yang rimbun.
“Mas kamu dimana?”tanyaku aku terus saja mencari apa yang ada disana langkahku terhenti dan mataku membulat melihat karangan bunga, berbentuk Love didesain sedemikian rupa, aku bahagia dan terkesan sekali, mataku berkaca-kaca saat perlahan mendekat, aku melirik kiri kanan tak ada satupun orang. Kembali aku melihat itu, dan makin terkesan dengan ucapan yang tertulis.
“I Love you Rara’’
Aku teranyuh dan perlahan mataku terasa berbinar, segera aku menoleh kesemua arah, tak sabar ingin melihat wajah pujaan hatiku,
“Mas Feri… Ilove you to.”bisikku namun aku tidak bisa temukan siapapun, kembali aku teranyuh dan tersadar, mungkin dia sibuk dengan mba Ina. Aku kesal pasti mba Ina yang membuatnya tak bisa datang, mba Ina tidak bisa berikan sedikit saja waktu mas Feri bersamaku, sepertinya dia sekarang sudah sangat paham akan posisinya tanpa dia tau, bahwa mas Feri sekarang bukan hanya mencintai dia seorang.
“Mas? Aldo mana?”tanyaku menunggu Aldo untuk muncul tapi sepertinya tidak datang, aku sudah cukup senang melihat reaksi Rara yang tampak bahagia sekali dengan kejutan itu,
“Kok gak datang mas?”tanyaku menoleh pada mas Feri sedikit suamiku itu mencibir dan mengangkat bahunya kami melihat dari Rara jarak sepuluh meter. Dibalik pohon.
“Mungkin Aldo tersesat, atau gak tau tempatnya?”ujarnya, aku tampak bingung .
“Bisa berantakan ini rencananya.”ujarku. memijit-mijit kepalaku. Setelah terasa cukup lama. Kami kembali ke tempat pertama tadi, bisa kami lihat Aldo tampak santai menikmati keindahan alam sembari menyeruput jus dalam botol, kami berdua tak habis pikir dan bergegas mendekat.
“Al, kamu kok gak temui Rara sih sesuai kesepakatan tadi?”ujarku duduk bersimpuh dihadapannya. Mas Feri juga taampak menghenyak.
“Gimana mau datang, dia aja liat saya bawaannya marah, ya udah deh males juga.’’gerutunya nafasku tersengal dan reflek mengusap wajahku.
“Kok bisa begituu, kamu dah janji lo sama aku.”ucapku sedikit manyun, Aldo tampak menyibak belahan rambutnya dan berkata.
“Mungkin ini belum waktu yang tepat.”singkatnya. aku membuang nafas dan menoleh pada arah yang tadi, bisa aku lihat Rara datang, dengan wajah berseri yang membuat aku terheran, dia girang sekali tentu saja aku sangat terheran atas reaksinya apa dia berfikir kejutan itu dari mas Feri,
“Oh Tuhan, aku lupa kasih nama Aldo dikejutan itu,”bisikku menoleh pada mas Feri. Sepertinya mas Feri punya mimik wajah yang sama.
“Siang semuanya”dengan senyum girang dan ikut juga menghenyak di tikar, ia merekahkan senyum pada mas Feri dan kembali menyapa kami semua.
“Ini kenapa snacknya di anggurin aja.”ujarnya menyambar makanan ringan dan memakannya, kami semua hanya diam melihat ekpresinya.
“Huuuh… ini benar-benar liburan yang sangat berkesan.”ucapnya sembari mengunyah makanan dengan Riang, melihat itu aku coba menggetaarkan bibir dan berkata.
“Kamu terlihat senang sekali Rara.”ujarku terbata, dia merekahkan senyumnya sembari melirik mas Feri.
“Tentu saja, aku sangat senang sekali. Bukankah piknik ini untuk refreshing ya? Tentu saja Ini sangat menyenangkan sekali.”ujarnya lagi.
“Baiklah, aku ikut senang mendengarnya,”ucapku pelan, sembari melirik mas Feri, suamiku itu juga tampak gundah.
Malam berkunjung kami semua kembali kerumah, aku kecewa sekali rencanaku berantakan bukannya membuat Rara tambah dekat dengan Aldo tapi malah dia berpikir kejutan itu dari mas Feri, aku harus bagaimana sekarang, tapi kenapa dia sepertinya berfikiran itu kejutan dari mas Feri, apa yang membuat dia begitu percaya diri sekali. Aku jadi bingung, hari ini aku putuskan untuk datangi Aldo kekamarnya, aku kesal kenapa dia tak bisa di ajak kompromi tadi.
__ADS_1
Tok Tok Tok…
“Bisa kita bicara sebentar’’ujarku menoleh pada Aldo yang masih terbangun duduk diatas ranjangnya sembari mengotak atik ponselnya dia menoleh sedikit dan sigap berdiri keluar kamar, aku melangkah dan menghenyak disofa diruang keluarga,
“Rara dan Feri kemana?’’ Tanyanya aku mengatur nafas dan coba berkata,
“Mereka keluar sebentar, beli makanan. Mama mendadak butuh lastri karna pembantu yang disana sakit, Aku gak sempat masak karna tadi kita sudah pulang kesorean.”ujarku, Aldo terkekeh,
“Mereka berduaan?”singkatnya dengan senyum tipis aku mengangguk.
“Ya, bentaran kok, lagian tadi aku gak bisa cegah Rara yang ngikut sama mas Feri. Aku percaya suamiku Al, dia sangat menyayangiku. “ujarku dengan santai, Aldo mencibir dan terdengar tertawa geli. Sontak aku menautkan alis, ku coba abaikaan wajah itu dan berkata.
“Kenapa kamu tidak mau mendatangi Rara tadi? Kita sudah sepakat akan lakukan misi ini kan? Apa kamu tida serius untuk membawa Rara kembali?”tanyaku.
“Aku serius, tapi aku tidak yakin akan berhasil.”ujarnya, sedikit aku menghela nafas dan berkata.
“Aku mohon jangan patah semangat gini donk. Aku tau Rara itu mencintaimu Aldo, dia akan bisa menyadari kembali cintanya itu”ujarku Aldo menyibak belahan Rambutnya dan berkata.
“Percuma..! kalo suamimu sendiri berpolitik lain, maaf, tapi bagiku Feri cukup naïf,”ujarnya dahiku berkerut dan melihat bola mata pria itu lekat.
“Maksudmu?’lirihku.
“Logikaanya, Rara bisa seposesif itu, aku tidak yakin
“Tidak!”ujarku gemetar. Aldo menarik nafas dan berkata,
“Rara sendiri mengaku, akan adanya hubungan diantara mereka. Sepertinya suamimu terlalu banyak memberi dia harapan”ujarnya lagi, aku menggeleng sembari berkata tidak.
“Tidak..”
Aldo menatapku datar dan berkata,
“Aku tidak tau ini benar atau tidak, yang jelas semalam ada yang terjadi diantara mereka didapur gak sengaja liat sih mereka keluar dari dapur hingga kekamar tidur.’’jelasnya dengan santai, nafasku tersengal sembari yakin, itu hanya tuduhan Aldo.
“Mas feri, dia bersaamaku semalaman.”singkatku, Aldo memilih diam dan tak mau bahas itu lagi. Sejenak sepi hingga aku mendengar mobil mas Feri datang, aku beranjak ke pintu menyambut mereka bisa aku lihat Rara bergelayut di bahu suamiku hingga saat mereka melihatku Rara menjauh, dia masuk kedalam sembari melihat wajahku datar, untuk sesaat aku nanar melihat mas Feri yang salah tingkah.
“Ini ss-sayang makanannya,”ujarnya, aku mendegup dan coba menyambar beberapa kotak makanan itu. Mas Feri merangkul kedalam, sedangkan aku masih mencari jawaban diwajahnya, apa benar suamiku berani menjalani hubungan dengan Rara di belakangku.
Setelah makan malam selesai. Kami kembali kekamar masing-masing hari ini Rara tidak merengek atau betingkah banyak pada mas Feri seolah dia sudah yakin bahwa nanti mas Feri akan menemuinya.
Trakt,,
Aku membuka pintu kamar, sejenak aku tak bergeming dan coba mengatur mental untuk menanyakan pada mas Feri tentang apa yang tengah membebani hatiku. Dia menoleh ke pintu saat tau aku datang,
“Sayang sini..”ujarnya kucoba hela sedikit nafas dan mendekat padanya.
“Mas, boleh Ina tanyakan sesuatu?”ujarku. dia tampak mengangguk dan menatap dalam manik mataku,
“Apa yang terjadi semalam di dapur?”ucapku terbata, untuk sejenak mas Feri diam. Dia coba menghela nafas dan mengusap wajahnya.
“Ada apa? Mas gak paham. Maaf,’’singkatnya coba menyibukkan diri. Dengan ponselnya
“Kamu dan Rara?”lirihku mata mas Feri sedikit terbuka dan berkata
“Ya, ada apa? Aku turun ngambil minum dan kebetulan ketemu Rara, udah begitu aja.”ucapnya. aku menghela nafas dan berkata.
“Apa yang dia katakan, aku tau bagaimana Rara mas, kenapa kamu tidak ceritakan ini padaku. Kamu dah mulai nutup-nutupin sesuatu dari aku sekarang?”tanyaku tak habis pikir. Mas Feri tampak mengusap wajahnya dan menghela nafas sesak.
“Katakan mas, apa yang terjadi diantara kalian. Apa kamu masih berikan pengharapan pada wanita itu,kamu sadar gak sih, kamu hanya akan membuat semuanya semakin runyam!”ujarku mas Feri berdesih dan berdiri sembari menghardik.
“Terus aku harus apa!”bentaknya, bibirku gemetar dengan tatapan mata berkaca-kaca.
“Kamu tau kan, bagaimana agresifnya gadis itu, aku hanya ingin menghindar darinya. dan kamu ingat gak sih kamu yang minta aku untuk ikut dalam permainan ini, aku bingung mau menolaknya atau bagaimana! Dan sekarang kamu marah saat aku perlakukan dia yang seharusnya sudah terjadi jauh-jauh hari. Ini gak gampang Ina, setiap hari aku haarus bertengkar dengan akal sehatku hanya sekedar meyakinkan bahwa aku tidak akan pernah tidak akan pernah tertarik dengan Rara, tapi kamu tau sendiri kenytaannya,’’ujarnya panjang kali lebar.
“Kenyataannya Bb-ahw kk-kamu men-cin-tainya mas?’lirihku terbata dengan air mata menghujan, mas Feri bungkam, melihat diamnya itu dadaku terasa sesak. Aku tertunduk sembari menangis tersedu-sedu ada luapan sakit yang harus tertumpahkan.
“Hiks… kamu punya banyak waktu untuk bercerita padaku dari semalam,tapi kenapa kamu pilih sembunyikan dariku…, aku lupa ternyata suami-ku men-cintai Rara hiks..”rintihku terbata dengan nada sesak, mas Feri terdengar berdesih gundah akan air mata dan tangisku yang menggema.
__ADS_1