
Aku menghenyak di sofa dengan kesal dan mengusap wajahku gusar
“Aku bisa gila jika terus-terusan begini”bisiikku menggerutu sembari melirik keatas kamarku. Sigap aku kembali berdiri dan mendatangi mas Feri kekamar dari luar sudah bisa aku lihat dia mengotak-atik laptopku gegas aku sambar dan berkata.
“Mas ini bukan urusan kamu ya?”ucapku menyambar laptop itu dan berkata lagi.
“Aku sudah bisa urus semuanya, jadi aku gak butuh kamu lagi!”bentakku, mas Feri memandangiku datar dan berkata.
“Aku cuman mau menyelesaikan tugas yang belum selesai.”ujarnya, aku menghela nafas sesak dan coba memandangi langit-langit kamar agar air mataku tak jatuh karna kesal melihat tingkahnya.
“Apa yang membuatmu kembali? Apa karena kamu mengkhawatirkan masa depan Rara? Kamu bisa bawa dia kesini menjadi budakku, jika memang kamu belum puas menyakitiku.”gerutuku, mas Feri hnya bungkam membuka sepatu dan kemejanya dan berbaring diatas tempat tidur menarik selimut,
“Ayo tidur Ina.. ini sudah malam.”singkatnya, aku geram menggertakkan gigiku dan mengambil selimut didalam lemari dan membawanya turun kebawa, lugas kakiku menuruni tangga sembari menggerutu.
“Sepertinya setelah, bergaul dengan wanita iitu mas Feri sudah kehilangan akalnya.”gerutuku melangkah pasti kekamar tamu namun saat teringat kamar itu yang biasa di pakai Rara langkahku terhenti, takut moodku jadi tak baik, spontan aku membalik mencari kamar lain.
"Amit jika aku harus menempati bekas Rara''batinku dihati
Sesampai disana kembali aku menghempaskan badanku keatas kasur, hatiku lelah dan penat sekali, kembali aku menangis tersedu-sedu sembari melingkar dibalik selimut.
“Sekarang, aku bahkan tak mengenal dirimu lagi mas, dimana dirimu yang dulu.”rintihku menangis sesegukan.
Keesokan paginya aku terbangun mecium bau teh hangat dan segelas coffe dinakaas tempatku berbaring, perlahan mataku terbuka dan menoleh pada gorden yang sudah dimasuki cahaya, bisa aku lihat mas Feri berdiri, menatapku, reflek aku beringsut duduk dan berkata.
“Apa yang kamu lakukan disini?”tanyaku tak habis pikir, dia tampak berdengus pelan dan berkata.
“Buruan kita harus kekantor.”ujarnya, reflek aku menautkan alisku dan berkata.
“Kita? Aku mas yang harus kekantor, kamu urus saja istri barumu itu.”ujarku kesal, mas Feri memilih beranjak melirik sarapan yang dibikinkannya.
“Buruan Ina, berkemas dan makan sarapanmu! Kamu sangat terlihat tidak baik, “ujarnya aku kesal saat mas Feri menutup pintu.
“Ini semua gara-gara kamu!, aku bisa saja mati berdiri jika setiap hari seperti ini”teriakku, aku makin kesal karna mas Feri tak menggubris kekesalanku,
“Sial!”lirihku bersimpuh,
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu aku sudah rapi dengan baju kantor dan tak lupa menenteng kunci mobil. Melihat itu mas Feri berdiri.
“Jangan bawa mobil sendiri, ikut saja denganku.”ucapnya. aku menoleh padanya dengan tatapan datar dan sedikit menautkan alisku.
“Gak bisa, lagi pula mana tau aku punya urusan lain, kamu gak usah kekantor urus saja istrimu itu lagian tugasmu sudah DI gantikan sama Aldo mas,”ujarku, reflek dahi mas Feri berkerut,
“Aldo?”lirihnya.
“Iya donk?, secara Al company itu perusahaan besar, memang sewajarnya dia ambil alih, 50 % saham itu tidak sedikit mas, mereka mempertaruhkan perusahaan mereka hanya untuk perusahaan kecil ini itupun nyaris gulung tikar akibat terbakar bersama gelora cintamu itu dengan Rara. Yang membara-bara.”jelasku menggebu-gebu karna sakit hati, mas Feri bungkam melihatku dengan tatapan datar.
“Jadi gak usah ke kantor.”singkatku berlalu pergi,, sesampai di mobil aku buang nafas sesak aku bingung akhirnya aku kepikiran buat telpon mama. Bagaimanapun aku harus ikut sertakan mama dalam hal perusahaan terlebih sekarang mas Feri telah menanggung jawabi Rara, aku tidak sudi jika dia dapatkan jerih payah mama yang memulai perusahaan ini dari nol.
Tuuuuut… Tuuuut
Telfon tersambung,
“Hallo nak?’
“Mah? Mama dimana? Bisa ketemu di kantor?”ujarku.
“Ada apa?’
“Ina mau ngomongin sesuatu.”lirihku.
“Ada apa sayang?”
“Nanti mah, Ina akan cerita jika kita sudah bertemu ya.’’
“Oh iyaa baiklah.”
Aku meletakkan ponsel dan fokus menyalakan mesin mobil, bisa aku lihat mas Feri juga menyusul aku melajukan mobilnya juga, aku kesal melihatnya menyusul dari kaca spion
“Buat apa lagi dia kekantor dasar gak tau malu.”gerutuku.
Sesampai disana aku meilihat mama turun dari mobilnya diantar sopir bergegas aku tarok mobil di parkiran dan menyusul mama di loby.
“Mama..”panggilku saat mama tampak menunggu aku langsung memeluk orang tuaku itu dan merangkulnya.
__ADS_1
“Ada apa Ina?’tanyanya
“Ayo mah, kita bicara didalam saja.”pintaku, mama nurut mengikuti langkahku keruangan. Mataku sudah terasa basah karna tak sabar berkeluh kesah pada ibuku itu. Kami berdua menghenyak di sofa saat diruangan, sudah bisa aku lihat. Wajah ibuku cemas melihat air mataku merintik.
“Apa yang terjadi?”tanyanya.
“Mama…”rengekku memeluk ibuku itu dan menangis histeris. Mama cemas dan sontak melihat kedua mataku.
“Mama benar, Wanita itu, dia tidak bisa diremehkan, mas Feri sekarang beneran menikahinya mas.”ujarku. mama tampak linglung mengelus-ngelus pipiku, bibirnya tampak susah digerakkan hingga kami berdua terkejut melihat mas Feri datang membuka pintu, sontak saja mama langsung bertanya.
“Feri apa benar yang di bilang Rara?”tanyanya tak habis pikir, Mas Feri diam sembari mengangguk pelan.
“Berani sekali kamu menyakiti Ina, lantas mau apa lagi kamu kesini. Jangan pernah usik hidup putriku lagi”ujar mama. Mas Feri mengangguk pelan dan berkata.
“Saya juga berhak menjalankan perusahaan ini tante"ucapnya mendengar itu kami berdiri.
"percaya atau tidak saya juga ikut serta memajukan perusahan ini selama 2 tahun, dan ya, bukankah yang lebih berhak untuk pewaris itu saya, saya ponakan tante sedangkan Ina hanya anak pungut.”ujarnya, sontak aku sedikit terhuyung karna sakit akan kata yang terlontar dari mulut mas Feri, sebelumnya dia tidak pernah menyakiti aku dengan perkataannya tapi kali ini, dia berikan sayatan besar yang membuat air mataku berderai hebat, sejauh yang aku tau, aku tidak pernah menganggap mama Rania itu mama angkatku begitupun mama, entahlah hatiku sangat sakit sekali mendengar ini.
Plak…
Tamparan keras melayang kepipi mas Feri, mama tampak gemetar dan kesal sekali mendengarnya.
“Lancang sekali kamu bicara seperti itu, dia putriku! Asal kamu tau aja. Sepersenpun ayahmu tidak ikut serta dalam menjalankan perusahaan ini.”ucap mama. Mas Feri hanya terdiam, aku mendegup tangis dan coba mendekat padanya dengan air mata mengucur deras.
“Segitu prustasinyakah? Kamu mas? Hanya untuk mengamankan masa depan Rara, Hiks..”ucapku terbata sembari tetap melihat manik matanya, bisa aku lihat mas Ferii tak sanggup melihat mataku.
“Kapan perlu ambil semua ini mas, aku tidak butuh, kehilangan harta benda lebih baik bagiku dari pada kamu ingatkan aku akan derajatku. “lirihku sesegukan menangis mengepal jemariku.sedikit aku ambil nafas sesak dan bersiap berteriak mengeluarkan sakit itu.
“Aku jauh lebih baik dari pada pelacurmu itu mas!”teriakku histeris, mas Feri bungkam menatap dalam manik mataku, aku tidak bisa artikan itu, tapi yang jelas aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Aku pergi dengan sakit hati dan menghempas daun pintu cukup kuat,
"Teruskanlah.. aku takjub akan cintamu pada Rara"lirihku, berlalu aku terus saja berjalan dengan air mata mengucur hingga berpapasan dengan Aldo.
“Mba.. mba Ina?”tanyanya, aku tidak peduli aku terus saja berjalan.
“Mba..’’panggilnya mengikuti langkahku,
“Biarkan aku sendiri Al.”singkatku bergegas pergi, anak itu tampak tak mau diam dia mencengkram lenganku dan berkata.
“Tapi mba mau kemana?”tanyanya, reflek aku tarik dan kibaskan tangannya yang mencengkram lenganku.
__ADS_1
“Aku bilang tolong biarkan aku sendiri!”bentakku sesegukan, menangis. Pria itu mendegup dan perlahan melepaskan cengkramannya. Aku tak peduli bergegas aku berjalan kearah parkiran untuk mencari mobilku.