FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
JANGAN INGATKAN


__ADS_3

POV INA


 


“Ina sayng?’’panggi mama dari bawah sontak aku beringsut dari tidur siangku dn coba temui mama. Mama pasti datang menanyakan pasal kenapa mas Feri yang datang kekantor.


Trakt


Bunyi pintu rumah terbuka, terkejut saat tiba-tiba mama memeluk dan meciumiku,


“Ina sayang, bahagianya mama hari ini.”ujarnya. mataku membulat saat aku lihat wajah berseri mama.


“Mama, ada apa? Girang banget hari ini?”tanyaku mama menarikku kedalam sambil cengingisan.


“Ya tentulahh mama seneng, kamu dah pulih, dan baru-baru ini kalian berbulan madu. Dan pastinya nanti mama akan nimang cucu? Uuuuh mama dah gak sabar.’’ujarnya seketika hatiku hangat..


‘’Ih mama aku kira apa, semoga ya ma, kita doakan saja, mama dah ketemu mas Feri tanyaku menghenyak di sofa,


“Iya udah tadi, dan dia kasih tau mama segalanya nak, tentu saja mama lega sekali”ujarnya mendekat ikut menghenyak juga disampingku, aku menyunggingkan senyum hangat padanya,


 


“Maafkan mama sempat memarahimu waktu itu, mama sakit hati sekali pada Feri. Tapi sekarang Mama sangat terkesan dengan usahanya,”ujar mama. Aku tersenyum hangat.


“Iya mah, aku bahkan tidak menyangka. Dia lakukan ini semua demi aku. Sungguh. Ina beruntung sekali mempunyai suami sesempurna ini mah,”jelasku.


 


 


“Lalu wanita itu dimana dia sekarang?” Tanya mama, aku diam sejenak dan berkata.


 


“Aku tidak tau,bahkan aku ingin sekali bertemu dengannya lagi.”ucapku mama melihat dalam sejenak hingga aku kembali berkata

__ADS_1


 


“Aku belum sempat berterima kasih padanya”bisikku tertunduk.


“Tak apa nak, jangan kamu rindui bahkan bawa dia kembali kesini, karna tak baik berbaik hati dengan wanita lain, suamimu sudah tahan godaan selama ini itu sudah sesuatu yang menakjubkan, jadi. Jangan cari-cari penyakit deh Ina. Sudah, diakan sudah dapat yang dia mau, tugasmu sekarang, fokus pada program hamilmu ya”jelas mama panjang kali lebar, aku sedikit mengangguk pelan walau dihatiku berkata, aku memang sangat ingin bertemu Rara sekali lagi, mas Feri punya banyak kesempatan waktu itu bahkan dia bisa menyentuh dan mendatangi Rara dengan leluasa tapi dia tak sanggup melakukannya, aku yakin akan kebesaran cinta dan kesetiaan suamiku, yang mengganjal di hatiku sekarang ialah, Rara. Keterlaluan sekali pergi tanpa pamit padaku, aku telah menganggapnya saudaraku, aku harus temui dia,


Sore ini aku menyambut mas Feri pulang dengan wajah gundah dan cemas, namun aku belum berani tegur dia karna mungkin saja dia capek


Setelah selesai berkemas dan menemuiku dibawah mas Feri menghenyak di ruang keluraga bisa aku lihat dengan lesu dia pencet remote TV.  Aku mendekat dengan membawa the hangat dan cemilan di atas nampan.


“Mas,’’tegurku, dia menoleh dan kembali lagi melihat ke layar Tv sembari berkata.


“Ya sayang, ayo sini duduk.’’ujarnya aku meletakkan nampan itu dan duduk di pahanya dengan nurut mas Feri merangkul pinggangku dan menyunggingkan senyum,


“Ada apa?”sepertinya ada yang menganggu pikiranmu.”lirihku mengelus wajahnya lembut, mas Feri sedikit menarik ujung bibirnya untuk tersenyum dan berkata.


“Tidak apa sayang mas Cuma capek, sok tau banget sih..”ucapnya sedikit mencubit pipiku gemes aku terkekeh dan berdiri dan sontak menghenyak disampingnya mas Feri beringsut merangkul bahuku dan berkata.


“Emang kamu lihat, mas kenapa sih sayang?”tanyanya, aku menatap wajahnya sebentar dan berkata,


“Tadinya aku fikir ms punya masalah, gak apa deh, kalo memang capek. Mas istrirahat aja, Ina takut ganggu’’ucapku coba berdiri, aku tak jadi beriyak saat mas Feri membawaku kedalam rangkulan.


“Ina cuman pengen kebelakang sebentar,”Singkatku.


“Ih gak boleh, kamu disini aja ya?”rengeknya memelukku erat, aku membenamkan wajah didada sedikit mendongak untuk bisa kekecupi leher suamiku itu,”


“Bentaran mas, benaran Ina mau kebelakang.”ujarku keluar dari pelukannya pelan.


“Mau ngapain sih?”rengeknya.


“Aku mau kekamar mandi mas”singkatku,berdiri


“Ya udah buruan semenit aja?”soraknya, aku berdecak heran sembari geleng-geleng.


“semenit buat jalan aja masih kurang wktunya mas”gerutuku.

__ADS_1


“Cepetan pokonya sayang..”


Malam semakin larut, mas Feri masih sibuk mengurus sesuatu dengan laptopnya, aku yang dari tadi merebah di atas kasur bosan juga di anggurin terlebih tentang masalah Rara sekarang memadati pikiranku.


“Mas.?.’’panggilku, sejenak mas Feri menghentikan geraknya yang mengotak-atik laptop.


“Apa sayang, kayaknya pulang dari Thailand kamu berubah jadi hipersex gini deh.’’ledeknya yang membuaat aku kesal, aku menautkan alis dan berdiri.


‘’Ih mas, siapa yang mau begituan sih”Rengekku berdiri dan berjalan mendekat. Ia menoleh dengan wajah datar dan berkata.


“Trus apa cinta?”


Aku terdiam sejenak dan bingung juga mau rangkai kata bagaimana mengatakannya pada mas Feri, kalo aku pengen banget ketemu sama Rara. 


“Bentar-bentar, mas Save ini dulu ya.”Ujarnya coba menyelesaikan pekerjaannya, aku hanya bengong melihat mas Feri berdiri dan memelukku.


“Mas bukan itu, Ina mau Tanya ten-‘ucapanku terhenti karna mas Feri menciumku,


“Tentang apa? Tentang kangeen? Maunya nempel gitu terus gak mau jauh-jauh hemm?”Lirihnya membawa badanku berjalan lebih dekat ke tepi ranjang.


 


“Bukan itu mas, Ina..’’


 


BrUK…


Badanku menghempas diatas kasur, aku meghela nafas yang sedang terlentang dbawah mas Feri dan berkata.


 


“Ina mau ketemu Rara..!’’singkatku, mas Feri terdiam dengan sedikit menatap tajam bola mataku. Seketika Suamiku itu tampak badmood dan duduk di tepi ranjang dengan mengusap wajahnya,


“Salah ya mas? Rara. Dia tidak izin pada Ina sebelum dia pergi, setidaknya Ina mau berterima kasih padanya.”ujarku terbata. Mas Feri duduk dan berkata.

__ADS_1


“Kamu sudah janji tidak akan bahas ini lagi, mas sudah bayar dia sebagai bentuk terima kasih itu sudah sangat cukup.”Jelasnnya, aku memilih bungkam dan tak mau terkesan memaksakan mas Feri, namun aku masih ingin tau, kenapa mas Feri enggan untuk bahas ini, apakah mas Feri menyembunyikan sesuatu dariku atau jangan-jangan dia..? gak. Gak mungkin mas Feri menyimpan perasaan untuk Rara, tapi bisa jadi sih, mengingat mereka telah banyak melalui hari hari bersama. Apalagi mereka tak dibatasi saat itu.


“Baiklah.. aku tidak akan ungkit-ungkit ini lagi”batinku di hati.


__ADS_2