FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
BULAN MADU


__ADS_3

POV INA


Di balkon kamar, aku termenung teringat akan kecemburuan Rara cukup beralasan tadi , apa salah wanita itu ? disini, akulah yang salah, kenapa juga aku mendatangi kamarnya dan mengatakan itu tadi. Ternyata begini rasanya saat merelakan sesuatu yang sangat berharga, kenapa dadaku terasa sesak saja saat membayangkan mas Feri membagi sentuhannya dengan wanita lain,


Pria yang sudah bersamaku bertahun-tahun, bahkan untuk bisa lebih intim saja dengannya aku butuh waktu yang cukup lama, hingga aku harus buat keputusan konyol membawa Rara kerumah ini. Percikan api cemburu yang selama aku lihat saat suamiku bersamar Rara membuat aku merespon banyak rasa yang sulit aku artikan, ada rasa ingin tau, ingin merasakan dan bahkan benci. Cemburu itu pasti, dia sudah sangat berjasa untukku hingga bisa aku dapatkan lagi keintiman saat bersama suamiku, tapi apa yang menyerubungi jiwa saat ini, kenapa aku egois bahkan aku, ingin Rara pergi dari sini. Apa salah wanita itu


“Oh Tuhan,, bantu aku”lirihku mendongak kelangit- langit kamar sembari merintikkan air mata.


TRAKT


Bunyi pintu kamar terbuka sontak aku menoleh pada mas Feri yang tampak tersenyum mendekatiku yang duduk di balkon kamar kami,


“Mas, bagaimana? Apa kamu sudah bicara pada Rara?”


“Sudah,”singkatnnya, aku menunggu dia datang menghampiriku


“Lalu apa katanya?’’tanyaku lagi.


“Gak ada apa-apa. Ya udah, kamu gak usah pikirkan itu, nanti dia juga baik dengan sendirinya,”ujarnya aku manyun, mungkin benar Rara memang suka mudah berubah moodnya. Kami pernah ertengkar lalu berbaikan lagi, cuman sekarang masalahnya lebih sedikit berbeda, aku akan temui dia nanti, untuk sekarang aku kumpulkan mental dulu.


“Dia gak nanyain Ina gitu mas?”


“Udah kita gak usah bahas itu dulu, gimana kalo kita bicarakn bulan madu?’tanyanya sontak aku menautkan alis.


“Bulan madu?”lirihku, mas Feri tampak memaminkan alisnya dan sedikit megangguk. 


“Tapi mas..’’ucapanku di cegat karna mas Feri mengacung telunjuk di bibirku,


“Ssst… kamu gak usah bicara apa-apa lagi, dua tahun pernikahan kita, bahkan kita tidak sempat berbulan madu? Ayo coba katakan kamu mau kita bulan madu kemana?”tanyaknya, sulit aku getarkan bibirku untuk berucap entah kenapa rencana bulan madu pada waktu sekarang rasanya tidak tepat, atau jangan-jangan Rara diajak juga,


“Lalu mas Rara?’’tanyaku. mas Feri sedikit menggaruk tengkkuknya dan berkata,


"Di ajak gak?"


“Kok di ajak? Ini acara kita, itung-itung merayakan ini. Dan kamu harus ingat, kamu harus terbiasa dengan mas, mas masih bisa rasakan kamu canggung dan masih ada sedikit ketakutan, biarkan kamu mengalir seutuhnya tanpa beban”jelasnya aku tersenyum mengelus pipi pria tampanku itu,


“Kamu tau mas, aku memang sangat bahagia, tapi entah kenapa disaat aku sadar bahwa aku telah membagimu aku serasa tersayat” lirihku dengaan merintikkan air mata,


“Kamu pahamkan sekarang kenapa dari dulu, aku tidak mau menikah lagi? Aku menyayangimu Ina,”jelasnya aku tersenyum, mas Feri mengecup kening hingga pipiku.


“Mang Rara gak apa ya mas ditinggal.”


“Dia pasti mengerti,”singkatnya beranjak, aku menghela nafas dan kembali memikirkan hati Rara, dia pasti keberatan jika aku dan mas Feri pergi dengan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Malam berkunjung aku dan mas Feri sibuk mencari tiket untuk perjalanan bulan madu kami online, setelah lelah berembuk akhirnya kami putuskan untuk ke Thailand menikmati keindahan hotel yang mengarah langsung kelaut, setelah tiket di pesan, mas Feri langsung packing untuk barang-barag dibawa besok, namun aku terfikir Rara dari tadi siang aku tidak melihatnya,


Tok Tok Tok..


Pintu kamar Rara aku ketuk pelan, bisa aku lihat dia masih fokus dengan ponselnya hingga menoleh saat aku datang,


“Boleh aku masuk?’’pintaku, Rara mengangguk dengan senyum, aku datang dan menghenyak didepannya.


“Mas Feri sudah kasih tau kamu belum, bahwa besok kami pergi untuk beberapa hari”ujarku terbata.


“Belum sih mba, tapi Rara dah paham, mba Ina baru saja sembuh. Kalian harus rayakan ini suasana hotel dan pemandangan alam mungkin cocok dan romantic banget,’’ujarnya dengan sedikit senyum tipis.


“Kamu gak apa kan? Kami pergi?”tanyaku lirih, Rara tampak mengangguk pelan dengan sedikit senyum lebar,


“Gak apa mba, beneran. Tadinya Rara fikir mba gak akan mau temui Rara lagi setelah melihat tingkah Rara tadi mbak”ucapnya, aku menyungginkan senyum hangat dan berkata..


“Aku tau persis  kamu Rara, bahkan aku sudah biasa dengan sikapmu ini, “ujarku terdengar Rara terkekeh.


“Aku memang begitu mba, kalo cemburu,”ujarnya pelan dengan sedikit tersipu.


“Iya aku paham, dan itu rasanya tidak menyenangkan”lirihku.


“Pahamkan sekarang rasanya gimana?”tanyanya. aku mencibir dengan sedikit mengangguk.


“Sakitkah, saat mba tau, bahwa sekarang mas Feri membagi cintanya untuk Rara? perbedaan sebelumnya apa”tanyanya aku bungkam dan coba mengatur nafas,


“Ya, tapi ini resikonya. Aku yang memintamu untuk datang perbedaan nya aku berharap bisa tetap memperlakukanmu dengan baik,”ujarku berdiri,


lama Rara menatap dalam manik mataku.


"Itulah cemburu mba, aku bahkan tak yakin kita bakalan tetapa akur kedepannya,''bisiknya lirih, aku mendegup melihat bola mata wanita itu dan berdiri


“Aku balik kekamar dulu, besok. Kami akan berangkat,”izinku , aku melangkah dan pergi namun langkahku terhenti saat Rara coba menghentikanku,


“Mba…”singkatnya, aku menoleh dan bertanya.


“Ya?”


“Malam ini, seharusnya mas Feri bersamaku. Setelah semalam dia bersamamu?”pintanya, aku mendegup serek kerongkongan dan berkata,


“Bb-baiklah, aku akan suruh dia kesini’’ucapku terbata lalu pergi,


Sesampai dikamar, aku melangkah pelan menemui mas Feri, suamiku itu sudah tampak merebah lelap diatas kasur, ada yang mengalir di jiwaku saat priaku itu tertidur, aku jadi tidak tega membangunkannya, sedikit aku elus pipi dan tak lupa mengirim pesan pada Rara.

__ADS_1


“Mas Feri sudah tidur,”singkataku, entah kenapa aku sangat lega, bisa mencegah Rara bermalam dengannya,


Keesokan paginya kami berdua bersiiap hendak pergi tampak Rara juga bersiap hendak pergi dari rumah.


“Ra, kamu mau kemana?”tanyaku, aku takut Rara marah padaku saat semalam aku tidak bangunkan mas Feri. Namun pertanyaanku malah tak di jawab olehnya melainkan mas Feri.


“Munngkin Rara akan kebandung, dia tidak suka menyendiri Ina, Rara pasti bosan sekali dirumah yakan? memang lebih baik, rumah ini kosong sementara waktu”jelasnya, aku kembali menoleh pada Rara dan berkata,


‘’Benern Ra gak apa?’’tanyaku maduku itu mengangguk dan berkata.


“Gak apa mbak. Aku ingin ke bandung, kalian nikmati aja bulan madunya, aku tunggu kabar baiknya”ujarnya melirik pada mas Feri aku tersenyum paksa melihat senyum Rara itu, seakan dia tidak suka akan perjanalana kami ini.


“Baiklah Ra, aku ingin ssekali mengajakmu tapi mas Feri..”ucapku, Rara tersenyum.


“Tak apa mbak, mas Feri hanya inginkan anak darimu, jadi berbahagialah aku pergi dulu”ujarnya beranjak, pergi tanpa sepatah katapun lagi, aku hanya bisa nanar melihat langkahnya berlalu hingga aku disapa oleh mas Feri


“Ayo sayang, nanti kita ketinggalan pesawat”ujarnya, aku hanya menganggu pasti, dan  coba abaikan rasa bersalahku  pada Rara.


Keesokan harinya kami mendarat juga di negri Thailand mas Feri memesankan hotel terbaik di kota itu hotel mewah dengan mengarah langsung ke laut, pemandangan dan ketentraman pulau itu membuat aku begitu nyaman dan rilex


“Bagaimana sayang? Kamu suka tempat Ini,”ujar mas yang datang-datang lagsung memelukku dari belakang. Aku terkejut dan coba merekatkan lagi pelukan itu aku membalik dan mencari matanya.


“Makasih ya mas, kamu bawa aku ketempat seperti ini, dan maaf. Aku baru siap setelah bertahun-tahun. Hanya untu berbulan madu”bisikku mas Feri terkekeh dan coba mengecup pipiku lembut, sedikit aku menggeliat dan tertatawa karna geli.


“Tidak apa-apa sayang, ayo masuk. Didalam malah lebih indah lagi, aku desain kamar yang indaah untuk kita memadu kasih, yang tidak akan kamu lupakan selamanya”ujarnya, aku nurut saat mas Feri membawaku masuk dan coba tinggalkan pemandangan laut dan alam yang indah itu sejenak.


Setelah sampai didalam, aku terkejut dengan design yang telah dipesan ,mas Feri walau diluar masih siang dan panas, didalam sejuk dan sangat tertutup dengan hawa ac yang sejuk, seakan itu pemandangan kamar malam dengan jendala tertutup dan lilin-lilinnya tak lupa pula dengan lampu kerlap kerlap. Design ranjang juga menarik dan tampak indah dipadu dengan selimut dan sprey yang berwarna soft violet dan beberapa aksen-aksen unik yang begitu sukai.


“Mas ini indah sekali,”lirihku, mas Feri tampak tersenyum


“Gimana kamu suka?”tanyanya.


“Suka, sangat suka. Kamu memang selalu tau kesukaanku mas, bahkan tadinya aku berfikir saat kamu menikah lagi, kamu tidak akan pedulikan aku,”ujarnya mas Feri merangkul pinggang dan berkata,


“Bisa tidak, selama kita disini jangan bahas apapun. Selain hanya tentang kita berdua dan cinta kita. Aku mencintaimu Ina, jangan rusak moment hanya karna kita bahas hal lain”jelasnya, aku diam dan tak mau berkata lagi, sedikit ia peluk erat tubuhku dan berkata,


“Aku tidak sabar, mempunyai anak darimu,”bisiknya, aku membenam wajah kedadanya dan memeluknya erat, jikalah tidak mengingat bahwa mas Feri mmpunyai wanita lain, maka aku lah yang paling bahagia di dunia ini sekarang, kucoba peluk erat suamiku itu, seolah tak ingin melepaskan. Mas Feri mengangkat tubuhku keatas ranjang dan mendatangiku dengan cinta, sontak air mataku merintik mengingat betapa bodohnya aku, melihat aku menangis ,mas Feri mengelus pipiku dan berkata.


“Ada apa sayang? Apa phobia mu-“ucapan mas Feri aku hentikan,


“Tidak mas, aku sakit saat mengingat, bukan aku saja yang kamu datangi dengan hasrat seperti ini, kamu juga mengagahi tubuh wanita lain,dan itu adalah karna kebodohanku hiks”tangisku pecah, mas Feri teranyuh dan kembali merangkulku.


“Aku kan sudah bilang, jangan bahas apapun selain kita berdua sekarang, jangan beban pikiranmu dengan masalah ini, kita mau program anak sayang? Kalo kamu setres, nanti tidak berhasil. Apa kamu tidak ingin punya anak dariku?’’tanyanya reflek aku mengangguk dan menyunggingkan senyum, mas Feri menghapus air mataku dan mengecup kedua pelupuknya. Kembali ia cumbui dan bingkai hasrat yang takkan mungkin ku lupakan selamanya, setiap sikap dan tindakannya diatas ranjang membuat aku candu dan haus akan kenikmatan.

__ADS_1


“Aku mencintaimu mas….”lirihku serak, suaraku seakan teredam gelora rasa indah.


__ADS_2