FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
KEMBALI


__ADS_3

POV INA.


 


Yang tersayang


Saudaraku Ina,,,


Demi rasa rindu yang membubung hingga menyesakkan kerelung-relung hatiku. Aku tak bisa berbuat banyak selain hanya bisa merasakannya dan mengalir bersama Rindu ini. Aku mencintai keindahan yang mba lihat, pada anuugrah yang mba punya, rasa yang mba sentuh segalanya aku mencintai cinta yang ada pada hati mba Ina..


Ya, aku mencintai separuh jiwamu saudaraku,


Sepertimu aku juga sesak saat berjauhan dengannya, namun kamu mengikatnya dengan ikatan halal sedangkan aku nmasih dalam simpul entah berantah, tapi begitupun tak sedikit mengurangi rasa cintaku padanya, Dia adalah keindahan itu sendiri, cukup satu detik bagiku untuk menancapkan senyumnya direlungku, tapi butuh seumur hidup bagiku untuk mencabut tancapan itu, maaf akan kelancanganku, yang memuji suamimu sebegini adanya, tapi benar saja, suamimu tlah bertahta bak dewa dihatiku.


Tak tau, kapan kamu akan baca surat dengan pengakuan yang begitu nekat ini, mungkin aku tak perlu menulis isi hatiku padamu, tapi mba, kita adalah sahabat seperti yang selalu mba katakan, mba tidak punya tempat untuk bercerita yang lain selain Rara, begitupun Rara,


 


Aku bukan madumu, bukan juga orang asing tapi saudaramu.


Salam sayang Rara..


 


Aku kembali menoleh pada mas Feri, hatiku teranyuh sekali akan rasa cinta yang luar biasa Rara untuk mas Feri walau ada sayatan yang menggores didadaku aku tersadar suatu hal, yakni akulah yang palig bertanggung jawab, untuk semua derita Rara.


“Mas, kita harus bawa Rara kembali’’singkatku berbicara dengan lirih


“Sayang kamu ngomong apa sih?”Tanya mas Feri tak habis pikir, aku menghela nafas dan berkata.


“Mas, Rara depresinya karna kamu, dan kita sangat bertanggung jawab atas kejadian ini. Dia gak salah mas. Dia hanya mengikuti kata hatinya.”ujarku, mas Feri menoleh kelain arah dan coba mengepal jemarinya kesal.


“Trus kamu maunya apa? Apa kamu ma, mas beneran nikahin Rara apa?”tanyanya. Aku menghela nafas.


“Tidak mas, demi apapun aku tidak akan rela.”ujarku mas Feri memandangi wajahku lekat lalu berkata.


“Lantas kenapa bawa Rara kerumah kita lagi?”ujarnya, aku menghela nafas dan berkata.


“Seperti sebelumnya Rara pernah bantu kita, kita juga harus membantunya mas, dia harus pulih dengan menghilangkan depresinya.


“Tapi apa kamu tau caranya, kamu ini bukan psikologis Ina, udah deh jangan lakukan ini, kita tidak bisa mengatasi ini jadi gak usahh saja, kita pulang saja sayang’’ujarnya


“Dia hanya setres  dan depresi karna merindukanmu mas, kehadiranmu akan membuat dia pulih.”ujarku mas Feri berdesih dan berkata,


“Aku tidak bisa lakukan ini.”tegasnya aku mengenggam tangan mas Feri dan berkata.


“Sayang, aku tau ini sulit. Tapi kita tidak bisa biarkan Rara begitu saja. Dia harus pulih, aku percaya padamu mas, makanya aku berani membawa Rara kerumah kita lagi”jelasku, mas Feri terdiam melihat wajah senduku, dia menghela nafas sesak, dan aku memasang wajah memelasku agar dia mau karnaku rasa dengan ini Rara bisa sembuh mas Feri sedikit berdesih dan coba mengangguk dengan ragu.


“Terserah..”lirihnya sembari memjit dahinya, aku menghela nafas sesak, ini  memang keputusan yang paling gila tapi aku harus lakukan, mungkin ini bentuk dari terima kasihku padanya, aku akan usahakan supaya Rara cepat pulih.


TRAKT


 


“Ayo mas. Kita turun, kita bawa Rara kembali.’ujarku turun dari mobil. Dengan malas hati tampak mas Feri juga turun, kami kembali menemui ibunya Rara untuk membawa Rara kerumah, melihat kebesaran hatiku, ibunya tampak menyetujui

__ADS_1


“Ina terima kasih sebelumnya, jujur aku juga bingung bagaimana cara menanganin Rara. Tapi apa Kamu yakin membawa  dia kedalam rumah tangga kalian?”Tanya ibunya aku mengangguk pasti dan berkata.


“Bagaimanapun Rara seperti itu karna kesaalahan kami  dan aku akan berusaha, mengobatinya buk, jadi tenang saja, “jelasku, orang tua Rara itu tampak lega dan menoleh pada mas Feri dan Rara, aku mendekat menghampiri mereka berdua,Rara masih bungkam dengan tatapan kosong menatap sudut kamarnnya. Aku mendekat dan coba bicara padanya,


“Rara, kamu bisa dengar mba, mba mau ajak kamu pulang?kamu mau kan?”tanyaku. untuk sesaat dia tak bergeming, aku coba katakana sesuatu lagi dan coba mengenggam tangannya.


“Apa kamu gak kangen bertengkar sama mba, mba bisa ajari kamu masak lagi?”ujarku, aku bingung mau bikin kata-kata apa lagi agar dia merespon.


“Atau kita bisa piknik bareng lagi ke puncak.”ujarku, perlahan bibirnya gemetar dan mendegup, aku senaanng dia bisa merespon.


“Ra, jadi kamu harus sembuh dulu, biar nanti kita bisa ke puncak lagi.”ujarku, perlahan matanya berkaca-kaca. Dan sedikit sesegukan.


“Mba Ina…”lirihnya, hatiku hangat dan sontak memeluknya.


“Aku disini Ra, saudaramu. Jangan takut.’ujarku dia meeratkan pelukannya dan kembali menangis, aku melihat wajahnya dan berkata.


“Ayo kita kembali. Rumah terasa sepi jika tak ada kamu”ujarku. Rara mengangguk aku menoleh pada mas Feri dan berkata.


“Mas Feri bantu Rara ke mobil,”titahku mas Feri tampak menghela nafas sedikit dan menghampiri Rara yang tengah terbaring, reflek ia rangkul Rara, dan menggendongnya ke mobil untuk sejenak aku termangu, ini belum apa-apa. Tapi rasanya hatiku bereguncang hebat,


"Tenang Ina, mas Feri hanya mencintaiku, tuhan tolong kuatkn aku."batinku coba membujuk diri sendiri


Sesampai dirumah, kembali mas Feri membantunya dan membaringkan Rara di atas kasur di kamarnya Rara. Aku kefikiran untuk memesan Dokter pribadi untuk Rara, aku sibuk mengotak atik ponsel sembari tetap melirik mereka,


Tuuuuut Tuuuuut


Bunyi telpon itu tersambung aku lega saat Dokter itu tersambung dan terdengar terangkat,


“Hallo..’


“Ya Ina? Kamu menghubungi buat controlkah? Terakhir aku mendengar kabar bahwa kamu menjalani pengobatan keluar neggri”ujarnya,


“Tidak, bukan aku, Aku mau mengobati temanku, kamu bisa kan? Menangani kasusnya dia hanya depresi berat kurasa tidak sulit, karna sebelumnya dia wanita yang baik-baikk aja”ujarku,


“Baiklah kamu bisa antar dia keklinik.”


“Tapi bagas, ini sensitive, aku tidak mau dia beranggapan kalo kami sedang berusaha menyembuhkan dia kamu mau kan, bagi waktu buat tugas ini” jelasku.


“Oh, begitukah baiklah katakan saja jadwalnya”ujarnya.


“Ia nanti aku hubungi kamu lagi ya?”tutupku. segera aku matikan ponsel itu dan menemui mereka di kamar. Bisa aku lihat Rara menangis dan mas Feri menenangkannya, untuk sesaat aku bengong, namun kembali aku mantapkan langkahku mendekat.


“Ra, kamu mau apa. Biar mba masakin,’’ ujarku Rara beringsut dari nyendernya di bahu mas Feri dan berkata dengan lirih,


“Gak mau, maunya sama mas Feri Aja.’’ Lirihnya aku mendegup dan coba melirik wajah mas Feri yang tampak merasa bersalah denganku. Namun aku coba hela nafas dan berkata.


“Oh, ya udah kalo begitu mba tinggal dulu ya,”ujarku. Rara menghentikan langkah dengan memanggilku lirih.


“Mba Ina…”cegatnya, sontak menoleh dan menghentikan langkahku,


“Rara sayang mba Ina juga.”ucapnya  pelan dengan memaksa senyum pada tubuhnya yang tampak lemah aku tersenyum dan  coba mengangguk lalu berlalu pergi.


Sesampai di dapur aku coba menghela nafas sesak, entah kenapa air mataku berbinar,susahku tahan naamun aku rintikkan juga air mataku karna rasa sesak ini, mas Feri juga tak berdaya dia tak bisa pergi dari situ, tapi setidaknya, Rara sekarang sudah mau bicara. semoga saja dia lekas pulih


Sore berkunjung, setelah selesai menyiapkan makanan untuk malam Ini aku kembali kekamar Rara aku lihat dia sedang tertidur sedangkan mas Feri duduk di taman yang tak jauh dari kamar Rara, aku memilih menemuinya dulu sebelum membangunkan Rara untuk mandi.

__ADS_1


“Mas,”sapaku mas Feri menoleh dan menggapai badanku aku duduk dalam rangkulannya dan berkata,


“Mas maafin Ina.”rengekku membenamkan wajah didadanya, mas Feri menghela nafas sesak tanpa komentar, hanya elusan lembut di rambutku yang menandakan ia tengah gundah, sedikit aku dongakkan kepala melihat wajah taampan suamiku itu.


 


“Mas marah ya sama Ina?”tanyaku lagi.


“Tidak sayang, mas hanya tak habis fikir hatimu terbuat dari apa.”ujarnnya, mataku sediki terbuka.


“Mas, Ina jahat, Ina yang menyebabkan penderitaan untuk Rara, jadi ini bukan sesuatu yang berlebihan, kita memang harus lakukan ini,”ujarku, mas Feri berdesih dan coba mengelus wajahku lembut, 


“Ina, gak takut kalo mas. Akan mencintaI Rara?”Tanyanya terbaata.


“Takut, sangat takut!, Tapi Ina percaya sama mas. “lirihku, kembali mas Feri mendekapku.


“Aku berharap agar semua ujian ini berlalu, aku ingin hidup tenang Ina. Dan itu hanya berdua denganmu saja.”lirihnya. aku mengelus dadanya dan berkata.


“Maafkan Ina mas, Rara akan sembuh, hanya saja sekarang kita harus menjaga perasaannya, aku sudah hubungi bagas, dan dia mau membantu kita, semoga Rara bisa pulih, dan bisa memahami semuanyaa dengan pikiran jernih lagi”jelasku, Mas Feri hanya mengangguk dengan mengelus pipiku lembut,


Malam berkunjung, Setelah senja berlalu, kami berdua dan mas Feri bersiap dengan hidangan di meja, 


“Mas, habis ini kamu antar makan malam untuk Rara ya, dia pasti senang kamu yang berikan,”ujarku, mas Feri diam tak menjawab perkataanku sembari tetap fokus. Menyuap makanannya, setalah sampai waktunya tiba, aku melihat mas Feri tak peduli degan nampan yang aku siapkan, aku paham mungkin mas Feri tidak mau dibebani dengan tugas-tugas seperti ini hingga aku coba ambil dan berikan sendiri pada Rara.


 


Tok Tok tok…


Aku mengetuk pintu kamar Rara dia menoleh dengan lemes, bisa aku lihat, wajahnya kecewa saat yang datang bukan mas Feri,


“Ra, Kamu makan dulu ya?”ujarku menghenyak disampingnya dengan nampan itu, dia bungkam tanpa suara, sembari mengelus kalung yang pernah aku beri.


“Ada apa kamu gak suka ya, mba nganterin makanannya.”tanyaku pelan.


“Mba Ina, dah baik beri Rara kalung. Waktu itu mba Ina berfikir kalo kita mempunyaai suami yang sama, mba Ina tak apa kan? Lantas kenapa sekarang mba Ina tidak mau memberikan mas Feri juga?’tanyanya melihat mataku dengan sayu. Untuk sejenak aku nanar,


“Mm- maaksud Raraa apa?tanyaku.


"Mba Ina larang mas Feri untuk datang kesini."tegasnya nafasku tersengal kembali gadis itu berkata sambil manyun.


“Rara mau menikah denngan mas Feri, mas Feri dah janji sama Rara.’’singkatnya, sontak hatiku terhujam dan menyempit sulit bagiku mengatur nafas, tapi aku harus kuat.


“Mas Feri dia gak kemana-mana. Dia selalu ada disini deket Rara, jadi kamu makan dulu ya?”ujarku, Rara menoleh ke arah pintu dan berkata.


“Mana, Rara gak liat, Rara mau di suapin mas Feri”ujarnya, aku mendegup dan berdengus sedikit.


“Mas Feri lagi sibuk, dia akan kesini nanti jadi kamu tenang aja ayo makan dulu”titahku.


 


PRANG…


Makanan itu melayang karnaa di kibas oleh Rara, sontak aku berdiri dan memandangnya dengan tak habis pikir. Dia manyun sembari bersandar di ranjang itu tanpaa kata sepatahpun lagi, sedikit aku kepal jemariku geram dan beranjak dari sana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2