FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
GUGATAN CERAI


__ADS_3

Malam semakin larut aku masih terbangun sembari menangis memandangi nanar langit malam. Sejauh ini mas Feri masih bungkam. Dia memBereskan semua kamar kami yang berantakan tanpa kata sepatah katapun sesekali aku lirik dia dengan wajah menyesal dan rasa bersalahnya itu. Aku mendegup tangis dan coba menghela nafas menyiapkan mental bicaraa dengannyaa.


“Kenapa kamu masih disini?”tanyaaku, mas Feri tampak menoleh dan mendegup. namun kembali dia tidak peduli padku menyibukkan diri dengan yang lain.


“Tidak ada lagi yang tersisa diantara kita mas.aku bisa sendiri jadi pergilah.”ujarku. mas Feri dia tampak mengatur nafaas untuk mengeluarkan kata-katanya yang dari tadi bungkam.


“Aku masih ingin disini Ina, terlepas dari semua ini kamu tau betapa aku mencintaimu,’’ucapnya. Sontak saja aku menautkan alis dan merintikkan air mata.


“Jangan bicara omong kosong, jangan bilang cinta jika masih bisa berkhianat.”ucapku, mas Feri kembali diam. Aku menghela nafas dan coba berkata.


“Aku ingin mengakhiri ini semua, kamu sudah melepas prinsipmu, jadi sekarang aku juga ingin berprinsip mas. Kita akan bercerai. aku tidak bisa dimadu, aku memang pernah tidak waras sebelumya tapi kali ini aku tidak bisa serumah dengan Rara”ujarku dengan nada begitu berat. Mas Feri tampak teranyuh dan menoleh kelain arah mengeppal jemarinya kemulutnya.


“Jujur.., aku akui ini memang salahku. Aku yang menghadirkan Rara untukmu, secara tidak sengaja aku mencarikan pengganti istri untukmu. Sebelumnya aku sudah siap jika ini terjadi. Tapi ketika aku sembuh aku jadi egois. Intinya sekarang aku hanya ingin memperbaiki kesalahan.”ujarku dengan gemetar. Air mataku merintik tak terbendung. mas Feri menghenyak disofa dengan mengusap wajahnya.


“Jadi sekarang tolong, pergi dari hadapanku.”desisku geram. Mas Feri tampak membuang nafas dan melangkah gontaai keluar. Aku membuntutinya dan membiarkan dia keluar sembari menngunci pintu kamar. Kesalnya dia masih sempat bilang sesuatu.


“Aku mohon jangan macam-macam Ina, istirahatlah ini sudah malam.”ujarnya aku menautkan alis melihat wajahnya dari celah daun pintu.


“Maksudnya, kamu berfikir aku akan mengkhri hidupku hanya untuk pria sepertimu, tidak mas, aku masih waras,”ucapku, bisa aku lihat mas Feri bernafas lega,malah aku benci meihat ekpresi itu.”


Trakt


Aku menutup pintu dan merekatkan knopnya, bisa aku rasakan dadaku  sesak dan air mataku kembali menghujan, tak sanggup saja rasanya membayangkan esok hari aku akan mengakhiri pernikahan ini.


Keesokan paginya semenjak semalam aku tak bisa memejamkan mataku, aku tak semangat apa-apa bahkan untuk bangkit dari tempat tidurpun, aku melirik jam diinding sudah setengah tujuh pagi, bisa aku dengar bunyi keributan dibawah, mungkin mas Feri bersiap hendak kekantor aku tidak peduli dengan bekal dan persiapannya kekantor, tak butuh waktu lama terdengar dia mengetuk pintu kamar.


Sedikit aku tersintak dan berdiri


“Ina, izinkan mas mengambilkan pakaaian”ujarnya aku berdengus dan berjalan kearah lemari mengambil semua pakaiannya dan melemparnya turun lewat jendela setelah itu aku melangkah membuka pintu.


“Mas, mau ngambil pakaian maaf menganggu.”ujarnya aku diam sembari memandanginya datar, mas Feri melangkah ke lemari dan dia terkejut melihat pakaiannya kosong, kembali ia menoleh padaku dan berkata,


“Pakaiannya mana?”taanyany datar, aku menoleh jendela dan menunjuk dengan mulutku, bergegas mas Feri melihat keluar jendela dan kembali melihat wajahku yang datar.


“Ina kok di buang sih, kan kotor semua. Mas mau kekantor.”ujarnya.


“Lagian siapa suruhh sih kamu masih disini mas? Dan mulai sekarang kamu gak usah ngantor lagi.”ujarku, mas Feri mendegup dan tertunduk, ada sedikit kasian tapi aku harus tega, mas Feri beranjak keluar dengan langkah gontai. Aku diam taak bergeming hingga mendengar mesin mobilnya menyala, sedikit aku gepal jemariku dan berbiisiik.


“Aku lupa ingatkan kalo mobill itu juga tidak boleh dibawa,”gerutuku , tapi aku tidak peduli. kembali aku menghenyak di kasur  menangis histeris  meski setelah semua ini, aku masih tidak tega pada mas Ferri aku rasa tindakanku ini, begitu kejam mengusir hingga membuang pakaiannya. Aku menghela nafas dan coba menghapus air mataku.


“Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Sebelumnya juga aku sendiri. Aku pasti bisa bahagia kembali dengan kesendirianku.”batinku dihati, kembali aku menghela nafas sedikit panjang dan melepaskannya perlahan setidaknya itu bisa sedikit membantu meringankan dadaku yang terasa sesak. mantap aku menyambar handuk bersiap hendak kekantor pengadilan untuk mengngugat mas Feri, tekadku sudah bulat, tidak ada lagi yang tersisa sekarang.

__ADS_1


Siangnya aku melaju kekediaman Rara untuk mengajukan surat itu pada mas Feri untuk bisa dia tanda tangani surat perceraiann kami.


Tok Tok Tok..


Aku mengetuk pintu rumah Rara, tak butuh lama wanita itu membuka pintu. Dia nanar sejenak melihat aku berdiri dihadapanya dengan membawa seberkas surat ditanganku.


“Aku mau bertemu mas Feri.”ujarku. sedikit wanita itu mundur dan menoleh kedalam, bisa ku lihat mas Feri duduk diruang keluarga rumah itu, dia menatap lekat dan berkata sembari melirik beerkas di tanganku.


“Apa itu Ina.”ujarnya. aku menghela nafas dan meletakkan itu dimeja tepat didepannya.


“Surat perceraian, seperti yang aku katakana semalam. Aku tidak bisa dimadu.”ujarku, mas Feri menghela nafas melirik berkas itu, aku mendegup dan coba beranjak hendak pergi, karna aku tidak sanggup berlama-lama disana.


“Jadi tanda tangani dan sampai jumpa lagi di persidangan mas.”ujarku, melirik Rara dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun aku membuang muka dan pergi dari sana.


Setibanya dalam mobil kembali aku menangis, entah kenapa aku begitu Rapuh, aku ingin sekali kuat tapi aku tidak bisa.


“Hiks… aku pasti kuat,”lirihku tertunduk pada stir mobil, air mataku merintik hebat, tak taulah harus bagaimana menata hatiku kedepannya, seakan duniaku sekarang berguncang hebat, selama ini aku kuat karna meyakini kebesaran cinta yang ada dalam diri mas Feri. Tapi sekarang cinta itu terjatuh hancur dan melebur menjadi khianat, segera aku hapus air mataku dan melaju menuju kantor.


 


Sesampai di kantor, aku dapati beberapa klyen dan asisten Aldo berada di ruang metting, aku terfikr akan project kami bergegas aku keruangan untuk bersiap.


“Buk, klyen dari Al company sudah datang,”ujar bambang, aku mengagguk dan berkata.


“Baik buk.” Aku menghenyak di kursi kantor sembari bertopang siku dimeja, sesekali aku sibak belahan rambuutku dan mengusap wajahku yang sangat terasa lelah sekali, aku pusing dan penat.


Drrrrrt…


Bunyi ponsel berdering aku melirik ponsel dan melihat Aldo memanggilku. Segera aku angkat daan menempelkan ponsel kedaun telingaku.


“Ya Al, tunggu bentar lagi aku akan datang,”ujarku.


“Aku juga belum datang, cuman mau bilangin aku juga bakalan telat.”ucapnya mataku terbuka dan menoleh keluar


“Oh kirrain kamu sudah ada disini. Aku melihat asisten dan sekretarismu tadi,”ujarku.


“Iya emang udah aku utus duluan tadi.”ujarnya, aku megagguk dan berkata.


“Ya udah, kamu hati-hati di jalan.”


“Okey mbaak.”

__ADS_1


Kembali aku merebah di meja kantor dan menangis lagi, entah bagaimana aku teriakan lelahku pada semua orang sekarang, bahkan semalam aku tidak tidur sedetikpun, aku bahkan tidak tau pada siapa aku berkeluh kesah sekarang


“Mama…”lirihku. Tapi aku takut mama akan syock mendengar kabar ini. Biarlah aku pendam saja


“Hiks… aku lelah.’’ucapku lirih memejamkan mata, hingga tak sadar satu jam berlalu, aku disadarkan akan kehadiran Aldo, sedikit aku membuka mata, yang tengah merebah di sofa, reflek aku duduk dan mengusap wajahku,


“Aku tertidur,”lirihku sembari berdesih, melihat meja kerjaku, siapa yang membawaku kesini, aku menoleh pada Aldo yang melihatku datar.


“Mba kenapa keliatan kacau begini?’’ujarnya, kembali aku memijit-mijit batang hidung karna kepalaku terasa sakit sekali.


“Aku tidak tidur semalaman? Bagaimana dengan mettingnya.”tanyaku, Aldo berdengus dan berkata,


“Sudah selesai, melihat mba tertidur aku jadi gak tega, ini..”ucapnya menyodorkan berkas, aku menjangkau berkas itu.


“Ini hasil metting tadi, mba istirahat dulu aja. Sepertinya bambang bisa diandalkan, dan ya asisten mba mana?’’tanyanya sedikit aku berdengus dan berkata.


“Sudah aku pecat.”ujarku, Aldo menautkan alis.


“Oh, kok bisa??”singkatnya aku terdiam sejenak.


“Kamu benar, mas Feri dia…”ucapanku terhenti karna air mataku kembali mengucur melihat itu Aldo mendekat dan ikut menghenyak di sampingku.


“Rumah tanggaku berakhir hiks..”ucapku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, Aldo sedikit mengelus bahuku dan berkata,


“Mba yang sabar ya, Suami mba sangat bodoh menyia-nyiakan wanita setulus mba Ina.”ujarnya, aku mengusap pipiku yang berurai air mata dan berderi.


“Aku harus pulang, aku capek sekali,’’ujaarku. Aldo juga berdiri coba mencegatku,


“Mba, yakin bisa pulang sendiri? Atau Aldo antar aja?’’tanyanya, aku menoleh dan reflek menggeleng.


“Gak apa, aku bisa sendiri.”ucapku menyambar tas dan blezerku di meja, masih sempat bingung, kenapa bisa aku pindah ke sofa, karna sebelumnya aku tertidur di meja kerjaku, tapi aku coba abaikan karna pikiranku tengah dibebani banyak masalah aku sangat kalud.


Malam kembali lagi membawa sunyi dan sepinya, aku sudah sangat kacau aku bahkan tak tau sudah berapa jam aku disini. Berdiri menatap langit malam yang berkabut tertutup awan hitam, dari bawah aku bisa dengar mobil mas Feri datang, sontak saja aku menautkan alisku melihat kebawah


“Kenapa dia kembali lagi kesini”bisikku beranjak turun, bisa aku lihat mas Feri membuka pintu Rumah dengan kunci yang ada padanya. Aku geram dan coba menggetarkan bibirku untuk bicara.


“Apa lagi yang kamu cari kesini mas, cukup tanda tangani suratnya dan temui aku di persidangan.’’ujarku mas Feri membuka tasnya dan mengambi berkas itu, mataku membulat saat dia berusaha merobeknya hingga kepingan kecil, sontak mulut terngaga karna nanar,


“Apa maksudmu merobek surat gugatanku!”geramku kesal.


“Aku tidak ingin bercerai! Dan  aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian.”ujarnya, aku kesal mengepal jemariku dan berkata,

__ADS_1


“Lagian, siapa yang masih ingin bersamamu mas, percaya diri sekali kamu bicara seperti itu, aku tidak mau kamu dan Rara jadi parasit dalam hidupku, “geramku mendekat, mas Feri tak peduli dia tetap melangkah keatas menuju kamar.


“Mas, pergi dari rumahku! Aku tidak akan pernah rela berbagi dengan wanita itu!”teriakku, aku makin kesal karna mas Feri tidak bergeming. Gemetar aku kepal jemariku sembari tatapan mataku berkaca-kaca.


__ADS_2