FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
RSJ


__ADS_3

POV FERI


“Ina bangun sayang.”bisikku mengenggam tangan Ina, istriku itu terbaring pucat tak sadarkan diri, aku terus saja merintikkan air mata karna tak sanggup menerima kenyataan ini.


“Anakku..’’teriak Ina yang tiba-tiba sadar dan menangis histeris reflek aku memeluk dan coba menenangkan.


‘’Tenang, sayang.”lirihku.


“Mas, bagaimana dengan anak kita?’’tangisnya, aku menghela nafas sesak dan coba menatap mata istriku itu dalam. Aku bingung bagaimana katakanya, harapan kami yang besar sebelumya harus pupus, tak tega hatiku melihat wajah Ina yang tampak menunggu jawaban dariku.


“Kamu…, yang sabar ya.”lirihku terbata dahi Ina berkerut dan reflek merintikkan air matanya yang menghujan.


“Gak… kamu bilang apa sih mas, tolong yang jelas. Janinku baik-baik saja kan hiks?”tangisnya menangis sesegukan, aku miris dan hanya bisa memeluk Ina erat. Janinnya harus diangkt karna rusak akibat tusukan tepat di rahimnya Ina, entah bagaimana caranya aku menghibur hatiku sekarang, aku juga sangat hancur akan kabar ini.


“Sayaang, kamu jangan menangis, jahitan di perut Ina bisa lepas jika terus merintih, kita pasti bisa punya anak lagi nanti.”lirihku, Ina menangis terisak-isak.


 


“Gak mas, Ina gak mungkin hiks. Kamu tau kan, menunggu ini gak sebentar, kita sudah sangat lama menunggu ini, Ina gak bisa terima Ini, kembalikan anakku, biarkan dia tumbuh denganku hiks.”tangisnya, air mataku merintik dan mendekap istriku yang masih saja menangis tergugu-gugu.


"Yang sabar Ina, kamu pasti kuat."lirihku


“Ini gak mungkin kan mas, anak kita di bunuh oleh Rara..”ucapnya nanar, aku mendegup gemetar dan merintikkan air mata, entah bagaimana rasanya melepas kesal dan sakit hatiku sekarang, namun aku harus kuat demi Ina.


“Aku kehilangan anakku mas hiks..”tangisnya lagi..

__ADS_1


“Sudah sayang,”lirihku mengelus-ngelus bahuya aku mendekap Ina erat hingga aku rasakan Ina tak bergeming, badannya terasa melemah dingin tak sadarkan diri,


“Ina?.. sayang kamu kenapa?”bisikku serak dengan hati berat. Gegas aku memenccet tombol otomatis keruangan dokter,


“Sayang kamu kenapa? tolong bangunlah…”tangisku menepuk-nepuk lembut pipi istriku, aku terasa sangat patah hati sekali. Merengek dan menciumi istriku, namun Ina tak bergeming, dia terdiam kaku dengan wajah pucat, tak lama setelahnya dokter datang.


“Dok, tolong banttu, ada apa dengan istri saya, barusan dia terbangun dan..”ucapanku tak sanggup aku teruskan. Dokter langsung memeriksa dan menanganinya,


“Tolong jangan ajak bicara dia dulu, pasien mengalami trauma hebat pasca penusukan itu”ujarnya, aku teranyuh dan kembali mengenggam tangannya.


“Kamu pasti kuat sayang.. maafkan mas”lirihku dengan merintikkan air mata.


Hingga keesokan harinya, Ina belum juga sadar, aku makin terpukul dengan penjelasan dokter kalau Ina tengah mengalami trauma, bathinnya tidak siap menerima ini hingga tubuhnya hanya bisa lemah, aku salah telah menganggap semua ujian ini berhasil menempanya, ternyata dia belum siap untuk kehilangan untuk pertama kalinya ini.


“Sayang aku mohon bangunlah..’rengekku dengan nada prustasi sekali, aku menangis tersedu-sedu memeluk tubuhnya yang berbaring. Bisa aku lihat air mata Ina mengalir perlahan disudut matanya


“Sayang, kamu dengar mas kan. Bangun ya, mas sudah sangat mencemaskanmu”lirihku, dalam kegundahanku itu, terdengar seseorang membuka pintu, aku menoleh ke pintu dan melihat siapa yang datang, mataku membulat saat Aldo berdiri di pintu dengan bingkisan yang ada di tangannya, aku tau, mungkin dia ingin menjenguk Ina, tapi entah kenapa aku kurang suka melihat dia datang mungkin karna belakangan banyak sekali moment yang tidak mengenakkan dengannya,


“Aku datang untuk menjenguk Ina.”ujarnya. sedikit aku hela nafas dan berkata.


“Dia belum sadar sepenuhnya, dia bisa merespon kata- kata hingga merintikkan air mata, tapi dia tidak bisa bangun dari keterpurukannya.’’ujarku Aldo meletakkan bingkisannya dan mendekat pada Ina untuk mengajaknya bicara.


“Mba Ina…, Ini  Aldo mba bisa denger?”ucapnya, aku hanya bisa melihat usaha pria itu untuk bicara dengan Ina.


“Mba kesel ya? Sakit hati? Mba harus bangun, kita bisa berteriak lagi di tepi jalan betebing itu buat lepasin semuanya, ayo mbak bangun..”ujar Aldo, aku memperhatinkan reaksi Ina hingga aku tersintak melihat tangannya bergerak, reflek aku bergegas mendekat dan mengelus pipinya,

__ADS_1


“Sayang kamu bisa denger Aldo?”


“Tebing manakah? Mas akan mengajakmu kesana.”ucapku, perlahan mata Ina bergerak, aku sangat menanti dia membuka mata.


“Tebing, yang dari kecil mba Ina kesana bersama mama jika dia iingin melepaskan beban hatinya.”ujar Aldo. Aku coba berfikir sejenak.


 


“Ya aku tau tempat itu.”ucapku, kembali aku menoleh pada Ina dan berkata.


“Sayang, kamu  ingin berteriak tapi nanti, untuk sekarang. Kamu sembuh dulu ya.jadi tolong bangunlah”ujarku, kembali Ina diam dan tenang dengann memejamkan mata. Aku berdengus, tapi aku senang setidaknya dia sudah bisa merespon hingga berusaha membuka matanya hari ini.


 


“T-terima kasih,”ucapku pada Aldo terbata, pria itu hanya mengangguk dan berlalu pergi, kembali aku elus wajah istriku itu lembut dan mencium dahinya.


 


Siang ini, aku percayakan menjaga Ina pada mama dan asistennya, karna aku harus mengurus sesuatu dulu yaitu Rara, wanita itu sudah sangat banyak menyengsarakan aku, aku tak habbis pikir kenapa semuanya sekarang seperti ini. Hidupku berantakan dan bahkan kehilangan darah dagingku. Sesampai di kantor polisi aku tidak dapati Rara disanaa. Karna sebelumnya aku mengajukan laporan penusukan itu, namun poliisi tidak bisa menindak lanjuti tersangka dalam keadaan depresii, akhirnya aku harus menemuinya kerumah sakit jiwa, miris memang karna aku tak akan menyangka Rara berakhir seperti ini, tatapannya kosong menatap dinding ruangan itu diatas ranjang kasur beralaskan seprey putih, aku mendekat dan mengajaknya bicara.


“Aku memang pernah merasa bersalah, saat aku menggantung dan memberi harapan untukmu, sejauh ini aku bertindak, karna bentuk dari kepedulianku padamu, aku menghindari ini, agar kamu tidak benar-benar depresi, sebagai gantinya kamu tlah mengancurkan karirku, membuat keretakan dirumah tanggaku hingga membunuh darah dagingku. Itu semua sudah sangat terbalas Rara, aku tidak perlu memikirkan rasa bersalahku lagi padamu.”ujarku, wanita itu terdengar merintih, seiring langkah kakiku menjauh.


 


 

__ADS_1


__ADS_2