FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
HARI BARU


__ADS_3

“Ini apa sayang? Kenapa kamu masih memakai cincin ini?’ujarnya aku bungkam dan gemetar, perlahan aku elus leherku taka da kalung pemberian mas Feri dan sialnya aku lupa tarok dimana, malah cincin Aldo aku pakai. Tanpa menjawab sepatah katapun aku mengibas tanganku dan berlalu pergi,


 


Aku tidak  banyak bicara bicara setelah kejadian tadi, sepanjang  jalan  aku kalud entah bagaimana caranya agar tidak terbawa perasaan saat bersama Aldo,


“Ina kamu kenapa?”Tanya mas Feri yang tengah fokus menyetiir mobil melaju hendak pulang. Aku menoleh dan sedikit menyunggingkan senyum pada mas Feri.


“Ina rasanya gak enak badan aja mas.”ujarku lirih. Mas Feri mengelus pipiku sedikit dan berkata.


“Ya udah kamu sabar ya, sebentar lagi akan kita istirahat.”ujarnya aku mengangguk dengan senyum


Sesampai dirumah, aku langsung merogoh semua tasku dan laci untuk mencari sesuatu aku coba ingat lagi waktu itu aku tarok dompet kalung pernikahanku, tapi aku sudah cari kemana-mana malah gak ketemu dompetnya.


“Katanya kamu gak enak badan? Kok gak langsung istirahat?”Tanya mas Feri, aku berhenti mengeluarkan koleksi tas dan dompetku satu-satu.


“Bentar mas, Ina mau cari sesuatu.”ujarku.


“Caria apa?”


“Cari kalung Ina mas, ada Nampak gak?”Tanya menoleh padanya, wajah mas Feri tampak bingung.


“Mas Kira kamu sengaja lepas?”ucapnya aku berdesih dan kembali mencari.


“Kok bisa ilang sayang?”tanyanya.


“Gak tau mas, kalo aku tau juga udah ketemu.”gerutuku menghenyak di kasur,mas Feri mendekat dan berkata.


“Emang kamu gak kerasa apa jatuh dari lehernya?”ucapnya pelan.

__ADS_1


“Ina lepas mas, waktu itu ina tarok dompet kalo gak salah tapi lupa juga dompet yang mana?”ucapku.


“Kok di lepas?”Tanya mas Feri aku mendegup dan coba menatapnya gugup.


“Ya waktu itu, ..’’ucapku terhenti bingung juga mau nerusin.


“Udah ah mas, Ina juga gak tau kenapa di lepas waktu Itu.”gerutuku melepas higsheel ku dan beranjak mengganti baju dengan piyama tidur.


Mas Feri tampak diam juga dan merebah di atas kasur sedangkan aku masih bingung memikirkan kalungku.


“Ya sudah, kamu sini sayang, nanti juga ketemu.’’pinta mas Feri menggangkat tanganny menggapaiku, aku melangkah mendekat, keatas kasur dan masuk kedalam pelukannya.


“Maaf ya mas, Ina ceroboh jaga kalungnya.”rengekku. mas Feri diam dan berkata.


“Sayang banget sebenernya, itu kalung pernikahan kita,”ujarnya aku manyun lebih meeratkan lagi dekapanku di dadanya.


“Ya mas, Ina juga sedih semoga bisa ketemu ya.”lirihku.


Aku bingung apa yang terjadi dengan istriku sekarang  yang jelas aku merasa kehilangan dia yang dulu. Aku harus kuat dan juga harus tekankan lagi pada hatiku, bahwa tidak akan ada yang baik-baik saja setelah semua ini.


Hari ini aku terbangun di pagi hari sebelum Ina bangun, disini aku memandangi fajar dengan langit berkabut redup karna mentari belum berani memunculkan cahayanya, dari balkon kamar ini, aku gundah ada rasa sakit didadaku yang ingin aku kadukan pada sang fajar,  percakapan kami semalam menyiisakan tanda Tanya yang besar, selama ini dia tidak pernah melepas kalung itu, aku  sangat  ingin tau apa yang membuat Ina melepasnya sekarang, melihat glegat istriku akhir-akhir ini, aku bisa simpulkan bahwa ia sangat  merindukan Aldo, tapi bagaimanapun aku gak boleh cemburu, ini semua adalah ulahku, begitu gegabah hingga tidak bisa mencegah ini terjadi, pria itu hanya mengambil kesempatan dalam kerapuhan Ina,


“Mas, ‘’panggil Ina, aku menoleh kebelakang dan menunggu dia datang sembari membawa secangkir teh dI nampan,


“Matahari akan sangat lambat terbit jika di pandangi terus,”ujarnya, Aku tersenyum dan kembali menoleh pada biasan cahaya yang sudah mulai terang,


“Mas sudah lama tak menunggu matahari bersinar di pagi hari “ujarku, Ina menghela nafas panjang dan menyodorkan segelas teh,


“Akhir-akhir ini memang melelahkan sekali mas, bahkan kita tidak bisa menikmati hari-hari dengan baik.”ujarnya, aku meneguk pelan teh hangat sembari melirik wajah cantik istriku.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Ina kamu mau 'kan memulai semuanya seperti hari baru lagi?”tanyaku, lama Ina menatap wajahku hangat hingga akhirnya dia mengangguk pasti.


“Kita akan memulainya semua dari awal lagi.’’ucapnya pelan aku meletakkan cangkir itu dimeja hias itu dan memeluknya,


“Maukah Ina berjanji, jangan ada Rahasia lagi di antara kita?”ucapku, Ina diam sedikit meregaangkan dekapannya yang sebelumnya sangat erat, perlahan dia mencari wajahku dan berkata.


“Rahasia?”


“Ya? Jujur tentang segala hal? mas mau kita sama-sama terbuka. karna aku sangat takut kehilangan kamu. Aku ingin hubungan kita tenang dan bahagia,”ujarku lagi, Ina tampak menautkan alis sedikit.


“Gak harus mas, kita saling percaya aja.”ujarnya, reflek aku genggam tangannya dan menatap manik matanya lekat.


“Jujur sayang? Hubungan ini akan lebih baik jika adanya kejujuran.”ujarku, Ina tampak mendegup.


“Apa kamu tidak mempercayaiku mas?”ucapnya pelan, aku menggeleng mengapit pipinya dengan kedua telapak tanganku, sedikit aku tengadahkan wajahnya dan menatap biinar matanya yang sudah tampak berkaca-kaca.


“Sama halnya sebelumnya, mas jujur padamu tentang Rara sekarang tolong jujur juga , tentang Aldo”ujarku, Ina mendegup.


“Katakan sayang? Apa kamu mencintainya?”


 


 


..................


hayyyo.. tebak jawabannya apa? 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2