FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
IMPAS


__ADS_3

POV FERI


Setelah mencoba menghentikan Ina aku kembali lagi menemui Rara dirumah sakit.


“Ra, Kenapa Ina bisa pergi.”tanyaku, Rara menolehku dengan wajah biasa dan sedikit mengangkat bahunya,aku berdesih  dan mengusaap wajahku gundah, rencanaku gagal aku yang tadinya mau periksa kandungan Ina sekaligus melanjutkan program hamilnya jadi gagal begitu saja karna dia pergi, bagaimanapun aku masih menunggu kabar bahagia darinya aku berharap dia hamil. karna memang jika aku jujur, dia akan sangat menolak Ini, tapi malah sekarang dia pergi, kembali aku masuk kerumah sakit dan bertanya pada Rara.


“Apa yang kamu katakan padanya?’’ujarku kembali Rara mencibir. Dan berkata


“Abis aku kesel mas, kamu kok bisa-bisanya ngekambing hitamkan aku agar bisa bawa mba Ina untuk program. Emang kamu cuman mau anak sama mba Ina aja, sama aku gak?”tanyanya aku berdesih dan coba beranjak ke mobil. Rara membuntutiku,


“Ra, kalo kamu gak bisa bantu, sebaiknya kamu gak usah ganggu deh, aku dah disini sama kamu, kamu ngapain masih cemburu pada Ina,sekarang jujur apa yang kamu katakan padanya.”tanyaku Rara sedikit menggaruk tengkuknya dan berkata.


“Aku bilang kalo aku lagi hamil dan kita kesini mau periksa.”ujarnya. mataku membulat dan langsung kesal


“Kamu kok bicara begitu, sekarang bagaimana donk. Aku harus cari dia.”ujarku menyalakan mesin mobil Rara hanya bisa manyun melihatku begitu kesal padanya.

__ADS_1


Sungguh aku tak habis pikir kenapa bisa Rara dengan PDnya bilang kalau dia hamil sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini, namun aku hanya coba memaklumi, kalo pikiranny beres dia gak akan membakar gudang sama terobsesi parah denganku, semoga dia bisa cepat pulih, dan aku bisa kirim dia kembali pada orang tuanya.  Dalam kegundahan itu aku coba menelpon Bagas  karna memang tadinya rencanannya aku juga mau sekalian nganterin Rara terapi,


Tuuuut,,


Panggilan itu tersambung,


“Ya Fer?’’


“Aku mau nitip Rara, sibuk gak di klinik.?”tanyaku mendengar itu Rara menimpal.


“Ada, sedikit sibuk sih, tapi gak apa.”ujarnya. aku mematikan panggilan itu dan kemali fokus menyetir melaju kekediamanny bagas.


“Mas aku gak mau terapi,”rengeknya lagi. Aku berdengus pelan dan berkata.


“Kamu harus mau Ra, biar cepat pulih. Lagian aku harus cari Ina dulu, kamu  aku titip tempat Bagas dulu ya, nanti aku jemput “ujarku Rara kesal dan menimpuk lenganku.

__ADS_1


“Ih mas, kok istri dititip-tip sih, aneh deh kamu, gak mau ah, Itu pak dokter kebanyakan nanya bikin Rara tambah pusing.”gerutunya aku tidak peduli dan tetap fokus pada stir mobil.


Sesampai disana, aku menemui bagas diruangannya sedangkan Rara menunggu di luar.


“Lo bantu gua donk, gua pusing ngadepin Rara,”ujarku, melihat itu Bagas tampak melirikku sedikit dengan tersenyum dan kembali fokus pada catatanya


“Ribet banget sih hidup lo, bentar, gua masih punya beberapa pasien, lu bawa Rara kesini aja.”ucapnya pelan. aku beranjak hendak kembali keluar namun langkahku terhenti saat dihentikan Bagas,


“Oh, ya gua rasa Ina sudah cukup membaik sebelum lo makin memprihatinkan sebaik lo sudahi deh suami ini, gak baik juga Rara mengkonsumsi obat tidur berlebihan.”ucapnya aku menghela nafas berat dan mengusap wajahku entah kenapa ucapan Bagas terdengar seperti meledek setelah itu aku pergi keluar menemui Rara di luar.


 


“Rara.. kamu tunggu Bagas di ruanganny dia pasti akan menemuimu nanti, jadi tunggu aja biar di terapi, mas harus cari mba Ina dulu.”ujarku Rara berdengus tak bicara sepatah katapun berjalan masuk dengan kesal. Aku hanya bisa geleng-geleng dan kembali melajukan mobil untuk menemui Ina, aku yakin dia pasti bersama Bocah itu sekarang,


Sesampai disana

__ADS_1


Aku memeriksa keadaan rumah mewah itu dari jarak lima meter, karna tak susah bagiku untuk mengetahui rumah koglomerat ini, aku tidak lihai Aldo di gaarasi yang cukup luas, mungkin mereka keluar. Tak lama setelah aku menunggu akhirnya aku melihat Aldo dan Ina datang juga memasuki pagaar rumah, segera aku nyalakan mobil dan mendekat kearah gerbang, Ina tampak bahagia sekali turun bersama bocah itu dari motor hingga aku bisa lihat dengan jelas mereka berhenti dan saling bicara sebelum masuk. Hatiku langsung terasa hambar seakan terhujam saat aku melihat sendiri Aldo mencumbui istriku. Gemetar aku gepal jemariku dengan dada yang memanas, aku kesal dan reflek menimpuk pegangan stir keras aku kesal dadaku terasa sakit. Aku berhak mencegah tapi aku tidak punya daya apa-apa lagi serasa kepercayaan diriku tercambuk, dan ini rasanya sakit, teramat sakit.


__ADS_2