
POV RARA
Entah sudah berapa lama aku berdiri disini menatapi hamparan air yang menggenang dibawah jembatan, aku lelah dengan semua pelik ini, aku sudah terlalu mencintai mas Feri, bahkan aku tidak peduli itu pelampiasan hasratnya atau apa, yang jelas hadirnya adalah sesuatu yang berharga untukku.
Untuk pertama kalinya aku tidak suka dengan mba Ina. Kenapa dia pulih diwaktu yang salah, aku bahkan belum bisa menikmati waktu sedikit lebih lama dengan mas Feri, jika aku ingin meminta, aku ingin mengulang waktu itu dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan berduaan dengannya, dan hari ini aku akan bawa mati kenangan ini, aku sudah bahagia bersama kenangan bersama mas Feri yang hanya beberapa jam itu.
Aku mengenggam sebuah janji yang aku yakini tidak akan pernah dia ingkari tapi dalam sekejap janji itu goyah dan bahkan ingkar.
“Maafkan Rara…. Rara juga harus pergi mas,”ujarku.sedikit aku melangkah pada besi penghalang. Jembatan air mataku merintik deras saat memejamkan mata, dan bersiap untuk meloncat.
“Maaf…”lirihku merebahkan badanku turun namun dengan secepat kilat, ada seseorang yang menyergap dan membawaku turun aku nanar saat di peluk-peluk seseorang yang tampak kesal akan tindakanku ini,
“Apa kamu sudah gila apa?” hardiknya, kucoba lihat siapa orang yang menarik dan menghardikku ini, sedikit aku buyarkan tatapan kosong yang sudah sangat kalud itu, aku teranyuh meihat amarah dan cemasnya meremas erat bahuku.
“Apa yang membuatmu seprustasi ini, apa jadinya jika aku tidak datang,”ujarnya, aku tertunduk menangis dan coba beronta dari cengkraman.
“Lepas, apa pedulimu Aldo, kalian para lelaki sama saja, hanya bisa memberi harapan, lalu kalian hempaskan aku dengan kenyataan pahit, “kesalku. Aldo memelukku erat dan terdengar berbisiik
“Aku mohon tolong maafkan aku, Rara, aku memang bohong padamu, tapi aku tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya setelah menjalani hubungan bersamamu. Dia murahan, aku tidak sengaja menemuinya dan terjadilah apa yang seperti kamu lihat, percayalah sayang aku tidak serius dengannya aku mabuk waktu itu”jelasnya aku berdesis dan coba keluar dari cengkramannya.
“Apa yang terjadi Rara,tolong cerita padaku, ceritakan mana tau aku bisa bantu kamu, ada apa sayang, apa kamu kecewa lagi sama mama?”ujarnya lirih, aku lemes terhuyung dan menghenyak di bahu jembatan.
“Aku merasa duniaku sekarang sudah hancur hiks”lirihku dengan suara serak, Aldo juga ikut bersimpuh dan coba merangkulku
“Aku tidak tau apa masalahmu Rara tapi aku mohon pulanglah bersamaku,”Ujarnya, aku menghela nafas dan teringat akan masa yang telah lalu bersama mas Feri sesuatu yang sangt aku yakini adalah cintanya aku yakin, mas Feri juga mencintaiku aku bisa lihat dalam binar matanya, aku yakin setiap sentuhan cinta bukan nafsu belaka, aku tau mas Feri hanya ingin berprinsip untuk jadi suami yang setia untuk mba Ina aku yakin pasti ada sedikit tempat dihatiku yang ia harus sadari bahwa aku bukanlah orang asing baginya,
“Baiklah, aku akan pulang”lirihku Aldo merasa lega dan coba menintinku ke mobill, aku melepaskan penat merebahkan badanku disandaran mobil dan berkata dengan air mata merintih..
“Mas, aku merindukanmu hari ini aku tidak akan mengakhiri nyawaku tapi perlahan aku akan mati dengan rindu ini,”bisikku liriih.
__ADS_1
Hari terus saja berlalu, sudah satu minggu lamanya aku tak dapati kabar dari mas Feri lagi, entah kenapa semakin hari aku tak bisa menahan beban batin ini, ada perasaan terganjal hingga harus lemah akan rasa rindu yang tak kunjung sudah, bagaimana caranya aku meyakinkan hatiku, bahwa aku tengah mencintai pria dalam pelukan wanita lain,
ToK Tok Tok..
Aku tau ada pintu diketuk tapi aku enggan untuk menoleh seperti biasa aku yakin itu pasti Aldo yang berusaha menghiburku akhir-akir ini.
‘’Ra, mau sampai kapan kamu mengurung diri seperti ini?”tanyanya tak habis pikir, aku berdesih dsn tertunduk,
“Aku tidak tertarik pada apapun sekarang Al, bahkan aku tak tau bagaimanaa cara menghibur hatiku”lirihku, Aldo sedikit berdengus dan berkata,
“Kamu tidak boleh begini, kamu harus kuat demi mama, dia sekarang tengah memusigkan Rara.”ujarnyaa, aku makin memeluk kain tipis yang menyelimuti badanku, makin hari aku semakin down saja karna memikirkan ini, ternyata penyakit rindu sangat sukar sekali di obati selain orang yang dirindui itu sendiri ada disini, semua terasa menyiksa kenyataan ini, dan cinta ini. Apa salahku dalam hal ini, aku hanya mengikuti kata hatiku dan mencintai, hingga aku terjerumus dalam gelora yang sangat dahsyat, apa itu juga salahku, ada orang yang memberi harap dan mengukir janji untukku tapi sepertinya itu hnaya tertitip pada angan semata, bodohnyaa aku terlalu berharap.
“Ra, apa yang sempurna dari pria yang sering kamu sebut itu”ujarnya, sedikit aku membuka mataku sedikit lebar dan berkata,
“Dia tidak sempurna, tapi dia ada dalam aliran darahku, aku sakit saat aku paksakan ia keluar aku akan terluka.’’lirihku,
“Sedalam itu bahkan kamu menyakiti dirimu sendiri sekarang, tolong jangan bodoh Rara.”ujar Aldo dengan kesal,
“Tak usah Aldo biarkan saja dia menyakiti dirinya, dia tak semangat untuk hidup, dia mungkin ingin mati dan tak peduli disini ada aku yang begitu mencemaskannya”ujar mamaku kesal aku masih bungkam terdiam sembari merebah menatap kosong langit biru dibalik gorden,
“Sekarang mama Mencemaskanku, kemana mama saat aku butuh mama, mama sibuuk dengan suami-suami yang selalu gonta ganti, dan sekarang saat Rara lemah mama terbebani?”tanyaku dengan lirih tanpa menoleh padanya, mama berdesih dan berkata,
“Siapa, yang bilang beban?”ucapnya heran aku hanya bungkam saat mama berlalu sembari berkata.
“Aku tau dia, tidak suka dengan kehadiranku.”ujarnya, kembali Aldo menatapku dengan tak habis pikir,
”Aku tidak suka kamu seperti ini Rara, bahkan aku berhak mengetahui apa yang membuatmu serapuh ini hingga jatuh sakit”ujarnya. Aku mengepal jemari dan berkata lirih,
__ADS_1
‘’Aku hanya jatuh cinta’Singkatku dengan sedikit terssenyum kecut, Aldo mendekat.
“Aku tidak pernah melihat ada orang jatuh cinta sesakit ini”ujarnya, aku sedikit teranyuh dan berkata.
“Aku juga baru tau ternyata ada cinta yang menggoreskan luka mendalam seperti ini, aku bahkan terasa sesak dialam yang luas ini karna dadaku dipenuhi dengan rindu akan mas Feri, aku bahkan tidak tau kapan lagi bisa aku lihat wajahnya hiks,.”rintihku, Aldo mendekat dan coba merangkulku erat.
“Bahkan aku sangat ingin menemuinya, siapa dia yang begitu sangat kamu cintai, aku cemburu Rara, secepat itukah kamu lupakan aku hanya untu Feri. Aku memilih tak bergeming saat Aldo meremas bahuku gundah, aku memang pernah mencintanya, tapi itu dulu sebelum mas Feri bertahta di hati dan pikiranku. dan sekarang saat aku putuskan menjauh dari mas Feri aku malah tersiksa seperti ini, akankah rasa ini perlahan membunuhku.
“Dia sangat sempurna Aldo lihatlah, semoga saja aku bisa bertemu dia kembali”ujarku liriih.
Hingga satu bulan berlalu, aku tak dapati kabar dari mas Feri ataupun mba Ina. Dengan nafas sedikit berat aku coba keluarkan sim card dari ponselku dan mematahkannya, sepertinya aku sudah tak dibutuhkan lagi, mas Feri dia sudah menemukann solusinya begitu juga dengan mba Ina, serasa sekarang mereka terlalu asing dan jauh dariku, aku mungkin tak lagi mereka kenang atau merek sebut dalam perbincangan mereka, gemetar aku coba torehkan kata demi kata diatas kertas sembari air mata beruarai berharap aku bisa mengirimya pada mba Ina suatu saat nanti.
Yang tersayang
Saudaraku Ina,,,
Demi rasa rindu yang membubung hingga menyesakkan kerelung-relung hatiku. Aku tak bisa berbuat banyak selain hanya bisa merasakannya dan mengalir bersama Rindu ini. Aku mencintai keindahan yang mba lihat, pada anuugrah yang mba punya, rasa yang mba sentuh segalanya aku mencintai cinta yang ada pada hati mba Ina..
Ya, aku mencintai separuh jiwamu saudaraku,
Sepertimu aku juga sesak saat berjauhan dengannya, namun kamu mengikatnya dengan ikatan halal sedangkan aku nmasih dalam simpul entah berantah, tapi begitupun tak sedikit mengurangi rasa cintaku padanya, Dia adalah keindahan itu sendiri, cukup satu detik bagiku untuk menancapkan senyumnya direlungku, tapi butuh seumur hidup bagiku untuk mencabut tancapan itu, maaf akan kelancanganku, yang memuji suamimu sebegini adanya, tapi benar saja, suamimu tlah bertahta bak dewa dihatiku.
Tak tau, kapan kamu akan baca surat dengan pengakuan yang begitu nekat ini, mungkin aku tak perlu menulis isi hatiku padamu, tapi mba, kita adalah sahabat seperti yang selalu mba katakan, mba tidak punya tempat untuk bercerita yang lain selain Rara, begitupun Rara,
__ADS_1
Aku bukan madumu, bukan juga orang asing tapi saudaramu.
Salam sayang Rara...