
Sesaat setelah mas Feri pergi, Rara menoleh padaku dengan sennyum nyengir, ku coba pandangi wajahnya dengan datar dan berkata.
“Sepertinya kamu sudah pulih?”ucapku datar, Rara tampak Kikuk dan berjalan menghenyak di sofa.
“Semalam mas Feri gak datangi Rara, bahkan mau kerja juga dia gak bilang ama Rara, jadi Rara paksain deh buat susul dia keluar kaamar.’’ujarnya Cemberut, aku menghela nafa sedikit dan ikut juga menghenyak disampingnya.
“Rara sayang banget ya sama mas Feri?"
Gadis itu hanya tersenyum tersimpul. Aku berusaha juga menarik ujung bibirku untuk tersenyum,
“Maaf kalo mba banyak Tanya, kenapa bisa kamu begitu mencintainya?’’ucapku lagi, Rara sedikit memainkan bibirnya dan berkataa.
“Ya karna Mas Feri juga sayang sama Rara. Mba tau, mas Feri pernah ngajak Rara ke puncak berduaan aja, dan Rara suka perlakuan mas Feri yang lembut dan romantic”celetuknya sembari senyum-senyum bisa aku lihat wajahnya menggambarkan hal paling indah, aku mendegup dan coba tegar.
“Oh ya, kapan? Dan kalian ngapain aja disana?’’tanyaku.
“Waktu itu, Mba Ina pulang kerumah mama Rania.”ujarnya aku mendegup gemetar. Sedikit aku remas kemejaku kesal, karna ternyata aku pernah senaif itu membiarkan mereka berduaan,
“Oh iya. Aku lupa. Ya sudah, aku kedapur dulu ya? Kamu sanggup bergerak? Kalo gak biar mba bawakan kesini sarapanmu.”ujarku dia tidak menjawab dan kembali bercerita.
“Mas Feri, dia dah janji bakal nikahin Rara waktu itu, dan kami sudah jadian, Rara yakin mas Feri juga cinta sama Rara kare-..”ucapannya aku hentikan dengan bergerak pergi.
“Aku harus kebelakang.’’Singkatku. gadis itu memilih bungkam.
Sesampai didapur aku menghela nafas yang sesak sembari menyibak belahan rambutku, aku gundah lama-lama seperti ini terus bisa saja membuatku mati berdiri,gadis itu terlalu banyak bicara, aku tidak boleh biarkan ini berlama-lama. Aku sudah terlanjur membawanya kesini, aku harus sembuhkan dan buat dia sadar bahwa mas Feri tidak akan pernah berpaling, aku tidak akan memaafkan diriiku sendiri jika itu terjadi, aku sangat mencintai suamiku, aku tidak biasa dengan orang lain selain dia, ya aku harus lakukan sesuaatu.
Ting nong..
Bunyi bel bergema setelah membereskan sarapan Rara aku kembali keluar, bisa aku lihat Rara beranjak ke pintu membukkannya. Aku sangat lega melihat bagas datang, karna sempat chat dia sebelumnya dan dia Cuma punya waktu hari ini, yaitu selasa dan rabu, semoga saja bagas bisa membuat dia pulih,
“Cari siapa?’tanya Rara, aku coba menyimak mereka jarak tiga meter,
“Aku bagas, aku temennya Ina dan Feri, aku “ucapan bagas aku cegat dengan menyapannya.
“Siang bagas, silahkan duduk dulu,dan,Ra, ini makananmu”pintaku wanita itu juga ikut menghenyak di sofa kalian bicara saja ya, aku mau kebelakang bikinkan minum”ucapku, bagas menoleh dan berkata.
“Gak usah Ina. Aku datang sesuai panggilannmu,”ujarnya, aku mengangguk dan menoleh ke Rara.
“Ra, ini bagas, di psikiater dan dokter juga kamu bisa cerita banyak sama dia ya agar kamu pulih”ujarku Rara terdiam sejenak melirik bagas.
“Rara pulihnya kayak apa mba Ina? Apa tuan ini bisa membuat mas Feri sadar dan nikahin Rara?”tanyanya mataku membulat sedangkan Bagas terkekeh. Aku hanya geleng-geleng tak habis pikir,
“Ya udah cerita aja sama bagas ya, kamu bisa curhat dan luapkan segala kesahmu mungkin dia akan bisa bantu,”ujarku lagi.
“Bisa bantu mas Feri sadar gitu, biar dia nikahin Rara, dia udah janji soalnya”ucapnya kembali manyun aku kembali mendegup, dan bagas melirikku dengan senyum tipis.
__ADS_1
‘’Ya sudah, terserah kamu. Bicarakan semuanya pada dokter apa masalahmu ya.’’ujarku dia tampak diam dan menoleh bagas sesekali. Aku meninggalkan mereka beranjak dapur, namun kembali bunyi bel bergema, aku berfikir itu lastri, pembantunya mama Rania yang di minta mas Feri untuk datang, aku beranjak ke pintu dan bukakan,
“Ayo masukmbok lastri”ujarku sesaat pintu itu kubuka,
“Makasih nyah, disuruh mama Rania kesini, katanya tuan yang minta,”ujarnya aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya mbok makasih ya udah datang” Melihat kedatangan Lasrtri Rara manyun.
“Kok banyak nambah sih orang-orang dirumah ini, bikin rame aja.”sungutnya, aku diam dan coba mengantar Lastri kehadapan mereka berdua
‘’Bagus donk Ra, ini kenalin Lastri. Dia asisten setianya mama dan dia akan jadi asisten kamu, kalo ada apa-apa kamu bilang aja sama dia.”ujarku Rara tampak tak senang melihat dua orang ini.
“Mba bukannya gak suka keramaian ya? Ini Rumah dah kayak pasar semua orang disuruh masuk. Males banget”suungutnya, aku menarik nafas dan berkata.
“Mereka bukan orang asing, mbok lastri sudah dari sepuluh tahun lalu bersamaku. Dan Bagas dia juga pernah mengobatiku waktu itu, masak rame Ra, hanya ada dua orang, lagian Bagas hanya punya waktu dua hari dalam seminggu”jelasku Rara hannya diam.
Siang berkunjung, bisa aku lihat Bagas bisa berinteraksi banyak dengan Rara, mereka memilih taman untuk berkonsultasi, sedangkan mbok Lastri berberes didapur, aku berniat untuk keluar hari ini, walau aku tak biasa berpergian tanpa mas Feri aku harus lakukan ini, aku harus temui Aldo. Hanya dia yang bisa membantuku sekarang, dengan tekad bulat aku coba nyalakan mesin mobil untuk menemui mamanya Rara ingin menanyakan alamatnya pria itu.
Sesampai disana aku bisa liat mama Rara diluar sedang duduk, dan mataku makin membulat lagi saat sesesok pria datang dari dalam. Pria yang sangat bertanggung jawab akan berantaknya tatanan hidupku, pria yang sangat aku benci, bahkan aku tidak bisa hidup dengan normal sekarang, yakni ayahku, aku gemetar dengan mata yang mulai terasa basah, kucoba alihkan pandangan dan terunduk menangis secepat kilat aku kembali coba hidupkan mesin mobil dan bergegas pergi sebelum mereka menyadari aku disana.
Aku melajukan mobilku pelan hingga aku bisa lihat Aldo mengendarai motornya di persimpangan, kucoba mempercepat laju mobilku untuk mengejarnya.
Berapa kali aku coba bunyikan klakson. Agar pria itu mendengar
“Ayolah Aldo berhenti.”bisikku.
Tot Tot
Kembali aku bunyikan lebih sering aku bisa lega melihat pria itu memelankan motornya dan berhenti. Aku menepi dan coba turun dari mobil. Pria itu membuka helmnya dan melihatku dengan penuh tanda Tanya,
“Ada apa?”tanyanya. aku mengatur nafas dan coba mendekat.
“Bisa kita bicara sebentar”singkatku.
“Aku ingin kamu membantuku, Rara. Pernah cerita sebelumnya bahwa dia mencintaimu”ucapku pada Aldo di café yang tak jauh dari kami berhennti tadi, dia melihatku datar dan berkata.
“Apa yang bisa saya lakukan. Faktanya cinta itu sudah hilang semenjak dia mengenal suamimu.”ujarnya aku mendegup dan berkata.
“Dia hanya sedang depresi, tekanan kejadian yang terakhir kali membuat dia stress hebat, aku mau kamu membantuku untuk mengingatkan dia kembali rasa cintanya untukmu Al, itupun kalo kamu mengasihani aku, aku wanita keterbelakangan, butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk mendapatkan kenyamanan bersama suamiku. Tapi setelah itu terwujud, aku harus menuai masalah ini, aku memang paling bertanggung jaawab untuk Rara.”jelasku panjang kali lebar, untuk sejenak Aldo diam. Berat ia coba katakan sesuatu.
“Jujur, aku sudah berusaha melupakanya. Suamimu lebih berarti baginya dari apapun. Dari ceritanya Rara kamu juga madu yang baik, dari sana aku berfikir mungkin aku akan mundur saja.”jelasnya.
“Ini memang sedikit runyam. Mas Feri dia Bohongi aku sebelumnya, dan sekarang saat aku tau mereka tidak beneran menikah, aku egois. Aku berharap itu tidak kenyataan, aku ingin cegah jika masih bisa mencegahnya, mereka saling mencintai. suamiku telah jujur padaku, setidaknya sekarang pertemuan ini berkesan, jika kamu juga ingin memperjuangkan cintamu, tolong Aldo bantu aku mempertahankan rumah tanggaku. Aku terasa berat berjuang sendiri. Bantu aku agar Rara melupakan mas Feri dan membuat dia mencintaimu lagi.”jelasku pria itu hanya diam. Merasa Aldo tak bergeming aku berdiri dan menyodorkan kartu nama yang tertera nomor ponselku padanya.
__ADS_1
“Semoga kamu mempertimbangkan ini”ucapku meletakkannya didepannya, aku pergi dan meninggalkan Aldo yang diam.
POV RARA.
Sudah satu jam pak dokter ini tanya-tanya aku pusing juga bagaimana jawabnya, aku terdiam sejenak memijat kepalaku . Melihat aku terdiam begitu tuan dokter itu mengatakan sesuatu.
“Maaf, membuatmu tak nyaman begini okey kita akan bicara lain waktu aja”ujarnya, aku sedikit berdengus dan berkata.
“Gak usah kembali esok hari Pak dokter, intinya, aku gak sakit, yang sakit itu mas Feri. Dia yang harusnya disadarkan, kenapa dia seenaknya menggantungkan perasaan Rara dan ingkar janji gitu aja.”gerutuku, dokter itu tampak manggut-manggut.
“Okey, aku tidak akan Tanya-tanya lagi. Tapi aku akan tetap kembali esok hari. Kamu boleh cerita lebih banyak, apa aja? Gak usah ditutup-tutupin aku bakalan setia dengerin kamu.’ujarku, mataku membulat dan memperhatikan wajah pak dokter itu denngan seksama.
“Apa aja?”tanyaku, dia mengangguk dengan senyum.
“Baiklah,”ucapku girang sedikit aku mendekat dan berkata pelan pada pak dokter,
“Aku punya cerita yang sedikit sensitive”bisikku, pak dokter tampak manggut dengan sedikit membulatkan mata hingga mulutnya
“Ya cerita aja, aku bakal dengerkan.”ujarnya senyum dengan sedikit menautkan alisnya.
“janji pak dokter tidak akan bilang siapa-siapa?”bisikku lagi. Pak dokter tersenyum sembari mengacungkan jari kelingkingnya
“Ini apa?”tanyaku.
“aku janji..”ucapnya aku tersnyum lega dan menyelipkan kelingkingKu ke kelingkingnya. Pak bagas tersenyum melihat tawa renyahku.
“Ya sudah saya balik dulu, besok saya akan kembali lagi.
“Siap Bos!”
Nafasku lega saat melepas pak dokter pergi, besok aku akan ceritakan banyak hal yang akan membuat pak dokter itu berpihak padaku. kembali aku tertegun akan gejolak yang ada dalam dirku semua yang aku lakukan rasanya bertentangan dengan hatiku, aku tak bisa pungkiri kalau aku memang sudah terlalu jahat pada mba Ina, tapi dengan semua pelik ini, Mba ina jauh lebih beruntung dariku, dia dikelilingi oleh-oleh orang yang menyayanginya dari kecil,
Sedangkan aku hidup disia-siakan oleh keluargaku dari kecil, dia dicintai sepenuh hati oleh mamanya dan mas Feri. Aku tidak meminta banyak, aku hanya inginkan secuil dari kebahagiannya yang berlimpah ini, didiri mas Feri aku temukan bahagia, aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini dan terbuai akan sentuhan pria lembut seperti mas Feri semabuk ini. Aku hanya ingin mas Feri tidak membohongi perasaannya, aku tau dia juga mencintaiku.
Aku tak mau memadamkan cinta dalam hati mas Feri begitu saja, aku akan sadarkan dia bahwa betapa berartinya aku dalam hatinya, aku juga pantas untuk jadi prioritasnya, bagaimanapun dia telah berjanji, bahwa dia akan menikahiku, jannji yang tak bisa dilupakan begitu saja, harapanku itu masih mennggatung di angan dan akan segera aku capai secepatnya....,
Hayyyo siapa yang pernah digantung. gimana rasannya sakit gak?
__ADS_1