
POV RARA
Apa yang bisa aku lakukan di kliniknya dokter Bagas ini . Sudah satu jam aku duduk disini, dan tak berbuat apa-apa selain melihat Bagas, yang sibuk dengan pasiennya,
“Apa aku bisa konsul sekarang?”tanyaku, Bagas tersenyum sembari menutup kembali menggapai knop pintu ruangannya yang baru saja menemui pasiennya.
“Tunggu sebentar ya, Lagian kamu akan disini sampai sore, Feri bilang nitip kamu sama aku, katanya dia bakal jemput kamu sore, jadi santai aja kita punya banyak waktu.”ujarnya aku manyun dan kembali bersandar di sofa sembari mengotak atik ponselku. Menghubungi mas Feri tapi malah mas Feri meriject dan bahkan dia mematikan ponselnya,
“Nitip, emangnya barang.’ujarku, Dokter Bagas tampak terkekeh, dan kembali menemui pasien di ruangan sebelah.
“Is mas Feri nyebelin, banget sih.’’ Gerutuku aku menghela nafas berat, satu jam setelahnya Dokter Bagas Menemuiku.
“Kita mungkin bisa bicara dirumah saja, aku sudah habis jam kerja, mungkin asistenku sudah masak sesuatu nntuk makan malam.”ujarnya aku manyun dn beranjak membuntuti Bagas keluar kliniknya dan menuju rumahnya yang masih dalam lingkungan klinik itu.
“Dokter, dirumah yang besar dan bagus seperti ini Dokter tinggal sendirii?”tanyaku, Bagas menoleh dengan sedikit tersenyum tipis,
“Tidak, aku tinggal sama asisten, pekerja lainnya, dan beberapa perawat-perawat di klinik, selain psikolog aku dokter kanker jadi aku butuh banyak anggotab untuk mengurus klinik ini.”ujarnya,aku manggut-manggut dan kembali berkata,
“Maksud Rara? Istri dok?”tanyaku, Bagas tersenyum dan berkata.
“Istriku, dia Dokter juga, dia dokter termuda yang kena serangan leukemia, sayangnya dia gagal berjuang untuk kesembuhan dirinya sendiri. dan lebih miris lagi itu bidangku namun aku tidak menyembuhkan istriku”ujarnya. aku terdiam melihat raut wajah bagas yang tampak sedih
“ Maaf, Rara tidak maksud membuat Dokter bersedih,”ucapku Bagas menghela nafas dan berkata,
“Taka pa, itu sudah cukup lama.”ujarku.
“Sejak kapan?”
“Dua tahun yang lalu.”
“Oh maafkan aku,”ucapku Bagas terus saja berjalan kerumah aku juga ikut mengikutinya, sesampai didalam aku menyapu pandangan disetiap sudut ruangan rumah ini, kenapa Dokter Bagas, memilih sendiri saat dia sangat mapan rumahnya sangat megah dan mewah sekali,
“Sore Tuan..”sapa asisten rumah tangganya yang tampak berumur sekitar 40 tahun itu.
“Mbok asrih, siapin makan malam buat kami ya, “tItahnya.
“Baik tuan.”
__ADS_1
“Dan kamu Ra, aku keatas dulu sebentar, kamu istrahat aja, anggap aja rumah sendiri”ujarnya aku mengangguk pelan dan berkata.
‘’Makasih dok.” Mataku mengikuti langkah dokter Bagas keatas, aku penasaran dan coba melihat-lihat semua foto yang terpajang dan terletak di atas laci disamping sofa, bisa aku lihat istrinya Dokter sangat cantik sekali, dan aku gagal fokus sama satu frame, di hari pernikahan mereka di hadiri mba Ina dan mas Feri, sepertinya hubungan mereka sangat akrab sekali,
Aku kembali duduk menghenyak menunggu Dokter bagas datang,
Malampun datang. Dokter itu tau mau aku terasa terbebani dengan terapi yang katanya aku sedang tidak normal mood dan mentalku, aku heran pada semua orang, Dokter Bagas dia memilih cara yang lain untuk bisa mengulik hatiku tanpa harus kaku seperti didalam ruangan terapi, setelah selesai makan malam dokter Bagas mengajakku keruang keluarga.
“Rilex aja ya, jangan terbebani, aku akan banyak Tanya tapi gak usah pusing, kamu jawab aja apa yang ada dalam fikiranmu.’’jelasnya. aku mengangguk dan coba menghela nafas, aku bingung kenapa orang-orang menganggap aku sakit, padahal aku tak merasa sama sekali, aku tampak tegang dengan keadaan duduk,
“Kalo kamu gak nyaman, kamu tukar posisi, rebahan aja diatas sofanya, atau kayak gimana, yang kamu suka.”ujar Dokter itu, aku menautkan alis dan melihatnya dengan penuh tanda Tanya.
"Harus ya?"
“Aku gak bisa lanjutkan pertanyaannya jika kamu tidak rilex.”ucapya lagi, aku manggut-manggut dan coba mengangkat kakiku keatas sofa dan bersandar sejenak aku merasa nyaman. Aku tarik nafas dan menoleh padanya.
“Buat apa aku harus rebahan begini?”tanyaku, Bagas hanya diam tampak menyetel music pelan aku makin bingung.
“Dokter mau modus ya?”ucapku, Bagas menoleh dengan wajah datar dan berkata.
“Aku gak mau macem-macem. Dokter tau sendirikan, kalau aku sangat mencintai mas Feri.”ujarku, Bagas tampak mengangguk perlahan.
“Apa yang membuatmu sangat mencintai Feri?’’tanya Bagas, aku memandang langit-langit rumah itu sembari memainkan ujung rambutku.
“Karna dia pertama kalinya menyentuhku, aku merasakan ada desiran dalam darahku.”sambutku, Dokter Bagas tampak manggut-manggut.
“Walau kamu tau, ini hanya akan rumit, cintamu tidak akan pernah bahagia?”Tanya Bagas lagi, aku menghela nafas dan berkata.
“Rumit memang, tapi lebi rumit lagi ketika hatiku menyadari bahwa aku juga tidak bisa tanpa dia.”
“Tidak pernahkah kamu berfikir untuk menghapus cinta itu?”ujarnya aku menoleh dan menatap wajah Bagas sedikit dalam.
“Apa pertanyaan ini bagian dari terapinya?”tanyaku, sedikit Bagas mengatur nafas mengangguk dan berkata dengan senyum.
“Ya ini bagian dari terapinya, "singkatnya ,aku berdengus dan kembali melihat keatas posisiku merebah diatas sofa sambil menyandar setengah duduk disamping dokter Bagas yang jarak satu meter itu.
“Aku tidak pernah ingin menghapus tentang mas Feri, karna dia adalah bagian dari diriku sendiri.”ujarku.
__ADS_1
“Dalam hal ini, kita tau cintamu bukan seperti halnya cinta romeo dan Juliet, hubungan ini hanya dipaksa untuk terbentuk. Apa yang sangat kamu inginkan kedepanya.’’Tanyanya lagi
“Bahagia’’singkatku.
“Walau itu mustahil?”
“Aku yakin, aku pasti bisa bahagia.”ujarku lagi. Dokter Bagas tampak manggut-manggut. Dan kembali coba bertanya,
“Dan sekarang, aku ingin bertanya tentag Ina? Apa yang kamu fikirkan saat mendengar nama Ina.”tanyanya sontak aku jawab.
“Benci..”singkatku.
“Kenapa?’’
“Dia memiliki kebahagiaan yang aku punya.”
“Jika kamu ingin meminta sesuatu, apa yang kamu inginkan dari tuhan?”Tanya Bagas, aku terdiam sejenak. Perlahan aku coba getarkan bibirku dan berkata,
“Aku ingin meminta pada Tuhan, hapus mba Ina dari kehidupan mas Feri.”ucapku terasa lega, sejenak dokter Bagas diam dan berkata.
“Jika kamu ingin lakukan sesuatu, apa yang akan kamu lakukan untuk membuatmu bahagia?’
“Membunuh mba Ina..’’ucapku spontan, namun aku tersadar dan menoleh pada Dokter Bagas lagi sudah bisa aku lihat wajahnya Datar dan tampak terheran,
“Mm-maksud saya, menghapus, andai tidak ada mba Ina pasti aku sangat bahagia sekali,”’ujarku. Dokter Bagas mengangguk dan menutup sesi pertanyaan itu.aku jadi sedikit nervous kenapa bisa aku kecplosan untuk membunuh mba Ina, dan semoga saja dokter itu paham aku hanya terbawa emosi. walaupun aku mau, aku tidak bisa melakukannya.
“Baiklah, kita akan lanjutkan besok.’’ujarnya aku menghela nafas dan beringsut duduk dari rebahanku tadi.
Malam pun semakin larut, aku cemas dan panik, karna menunggu mas Feri tak kunjung jua menjemputku.
Berkali-kali aku telfoni ponselnya kuhubungi namun dia masih belum aktif aku putuskan untuk pulang sendiri, melihat aku bersiap hendak pergi Dokter Bagas tampak menghentikan langkahku,
“Kamu mau kemana Rara, “tanyanya, aku menoleh dan berkata,
“Aku akan pulang, mas Feri sepertinya dia tidak akan menjemputku.”ucapku lagi, Bagas tak bisa mencegatku yang sudah beranjak keluar mencari Taxi. Aku kesal kenapa bisa suamiku bisa lupa menjemputku, ini bahkan sudah larut,
Sesampai dirumah aku berteriak memanggil mas Feri hampir disetiap ruangan namun aku tidak dapati mas Feri berada dirumah, di kamarnya mereka aku melihat ada jas terlgeletak diatas kasur mba Ina, aku berfikir mas Feri baru saja disini. Tapi dia sudah pergi, aku mengibas jas mas Feri kesal kelantai, namun mataku membulat melihat, ada botol kecil pecah dan ada beberapa pil berserakan, aku menautkan alisku jongkok untuk melihat apa itu yang jatuh dari jas mas Feri. Mataku terbuka dan membbulat saat fikiranku mengartikan sesuatu, apakah ini obat tidur? bayangan malam-malam dengan mas Feri yang memang terkadang terasa ganjil membuat aku coba memutar otak mengingat lagi saat hari dimana katanya aku sudah menikah, mataku lebih membulat hebat, mengingat akan susu yang di berikan mas Feri jika kami bersama di malam hari.
“Kenapa? Kenapa? Haruskah aku mempercayai, apa yang ada dalam fikiranku sekarang?”batinku dihati, air mataku sontak saja merintik.
__ADS_1
“Tidak, ini tidak mungkin.”gerutuku bicara dengan nanar.
Happy reading...