FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
HASRAT


__ADS_3

“Mas tolong jangan hindari Rara lagi..”ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca mengelus pipiku lembut. Aku mendegup dan untuk sejenak tak tau berkata apa.


 


“Ra,…’’lirihku ucapanku dicegat karna Rara mengacungkan telunjuknya ke bibirku. Aku bungkam dengan menatap dalam manik matanya.


“Rara tau, mas juga menyukai Rara.”


Aku menarik nafas, dan coba cari cara agar bisa pergi dari sana, aku tidak bisa kebablasan lagi, yang ada aku hanya akan melukai gadis ini semakin parah nanti. Sedikit aku dorong bahunya. Dia meremas kemejaku dan membenamkan wajahnya didadaku.


 


“Mas, aku tidak sakit. Aku hanya ingin kamu, apa yang salah dengan perasaanku. Bukankah kita sudah mengikat cinta kita, bagiku, itu tidak mudah saja terlepas. Kamu paham akukan hiks.”ujarnya, aku mendegup dan coba mengelus bahunya yang gemetar karna menangis, aku tidak bisa berkata apa-apa. Takut salah-salah ini gadis semakin rapuh. Apa aku berikan penolakan atau, entahlah aku sangat bingung sekali jika aku baikin, akan terjadi sesuatu. Aku tau Rara wanita yang agresif,


“Oh tuhan, aku bingung sekali.”batinku di hati.


“Mas jawab aku..”lirihnya, aku bungkam mengelus pipinya lembut entah kenapa aku sakit melihat air matanya mengucur deras. Aku berdesih dan tertunduk membawanya ke pelukan,


“Kamu bodooh Rara, kenapa kamu sakiti dirimu sendiri hanya karna aku,”ucapku. Rara meratkan pelukannya


Dan setelah itu menatap mataku.


“Aku mencintaimu, itu saja.”lirihnya mendekatkan wajahnya padaku. Sedikit aku mundurkan leherku dan berkata semmbari mengelus kedua pipinya.

__ADS_1


“Mm-as, pengen minta sesuatu dari Rara boleh?”ucapku terbata. Aku susah menahan hasrat yang datang-datang tiba-tiba karna sikap gadis ini. Dia tampak mengangguk dengan binary mata yang lekat memandangku.


“Kk-kita akan mm-enikah. Jadi kamu jangan datangi mas dengan cara seperti ini. Kita sembunyi-sembunyi dari Ina? Giimana?’’tanyaku dengan nafas tak beraturan, gadis itu mendegup.


“Tapi kapan mas?”rengeknya, aku pusing dan coba tertunduk gadis itu membawa wajahku lagi kehadapannya dan berkata.


“Aku tidak mempercayaimu lagi.”ujarnya  berusaha menciumku. Namun aku hentikan dengan mendorongnya sedikit kencang.


“Bener, beneran Rara. Untuk sekarang kamu tidur ya? Kita bisa bicarakan ini lain waktu. Atau kapan aja itu saat taka da dekat Ina.”ucapku spontan dan asal. Untuk sejenak gadis itu melihatku dalam, semoga saja dia menganggapku serius


“Mas, serius kan?”tanyanya, aku mendegup dan mengangguk walau jantungku berkecamuk. Dia terlihat tak percaya. Reflek aku mengenggam tangannya dan berkata, bisa aku lihat manik mata Rara meliihat bola mataku intens.


“Beneran sayang, mas tidak bohong. Kamu yang sabar ya? Akan ada waktunya kebersamaan kita?”ucapku dengan menaikkan alis tersenyum padanya. Rara kembali masuk kedalam pelukanku dan berkata.


 


“Ayo sekarang kamu tidur, besok kita akan piknik.”ujarku. Rara manyun dan berkata sembari mengelus bibir hingga pipiku.


“Antaren Rara kekamar,”rengeknya, sedikit nafasku tersengal dan menoleh kelain arah, sesaat setelahnya mantap mengangguk.


Sesampainya dikamar, aku membantunya merebah hingga memperbaiki selimutnya.


“Kamu tidur ya, ini sudah larut. Apa kamu tidak tidur dari tadi?’’tanyaku Rara menggeleng dengan sedikit senyum.

__ADS_1


“Rara, gak bisa tidur sebelum lihat mas.”ucapnya serak, aku hanya bisa menarik senyum tipis dan beranjak dari sana.


“Mas,” panggilnya lagi, seketika aku gundah. Dengan berat hati aku membalik.


“Mau cium..”rengeknya, aku menarik nafas dan coba menggetarkan bibir untu bicara. Namum gerakku bibirku terhenti saat Rara berkata.


“Rara. Tidak butuh yang lebih jauh, satu kecupan di kening mungkin?.”ucapnya. Aku mengambil nafas dan mendekat dan reflek merunduk mencium keningnya, bisa aku llihat mata gadis itu merintikkaan air mata.  aku  jadi gundah karna kagum dan takjub dengan rasa yang dia punya.


“Sekarang tidurlah.”singkatku Rara mengangguk dan memperbaiki posisi tidurnya. Aku melangkah pergi meninggalkannya. Jujur kejadian barusan mampu mengaduk-ngaduk perasaanku, apakah aku telah goyah, entah kenapa melihat air matanya. Aku juga sakit dan merasa sangat bertanggung jawab akan sakit ia rasakan, aku berdesih dan mengusap wajahku gundah terus saja berjalan kekamar.


TRAKT…


Bunyi pintu kamar terbuka, aku teranyuh melihat Ina tertidur pulas, seketika aku miris dan makin memijit kepalaku pusing, ini seperti sebuah terpaan badai hebat bergejolak dijiwaku. Aku tidak ingin menyakiti siapapun, bahkan sekarang tatanan hatiku berantakan dan terombang ambing, aku kesal dan terus melangkah.


“Tuhaaan,, bunuh saja aku”bisikku menghenyak disamping Ina, sedikit aku elus wajah cantik istriku itu dan mengecup pipi hingga memelluknya, merasakan itu dia bangun,


“Mas, kamu belum tidur?”ucapnya dengan suara serak. Aku mengelus-ngelus kedua pipinya hingga menciumi setiap sisi wajahnya, dia terkekeh dan beringsut melirik jam setengah tiga malam.


 


“Ih mas, ganggu tidur Ina aja..”rengeknya.


“Aku kangen sayang.”ucapku serak, Ina tersenyum mengelus pipiku.

__ADS_1


“Hummm, kamu itu ya.”singkatnya, aku tidak bisa berlama, segera aku bawa Ina dalam pelukkan dan rangkulan, menuruti kata hasrat yang bergejolak hangat membubung panas didada tadi sempat sebelumnya menggelora.


Et dah Na... pelampiasan canda lampiasann


__ADS_2