
POV FERI
Hari ini aku masih tetap ngantor seperti biasanya, project kerja sama dengan perusahaan luar itu tidak sesuai ekspektasi pencapaian kami tidak sesuai target, sekarang aku lebih banyak bertemu Aldo karna membahas masalah ini. Terlebih tekanan yang harus aku lakukan menghadapinya ialah aku terkesan patuh padanya, karna dia punya kelemahanku, aku tau pria seperti Aldo masih terbilang bocah dan labil mudah baginya membeberkan semua ini,yang akan membuat semuanya berantakan. Apalagii Aldo memiliki perusahaan yang sangat berpengaruh, sekali terendus media Ina bakal jadi sorotan hebat, dan aku tau betul ini akan jadi beban batin yang begitu dalam untuknya,
“Sekarang bagaimana? Apa kamu punya solusi untuk masalah ini?”Tanya Aldo saat kami dalam ruangan metting sejenak aku terbangun dari pikiran kaludku dan menoleh padanya.
“Aku akan usahakan berikan yang terbaik.”ujarku, Aldo manggut-manggut dengan sedikit mencibir.
“Aku tidak mau tau Fer, aku mau pasarmu kembali aktif seperti biasanya dan pemasukan stabil kembali, aku tidak ingin sahamku jadi beku di perusahaan ini.”ujarnya aku menghela nafas dan tetap diam melihat dia berlalu. Sedikit aku hela nafas hingga memijit batang hidungku karna pusing, aku pusing karna jika seperti ini terus aku harus kembalikan semua saham milik Aldo beserta kerugiannya, bisa-bisa perusahaan ini bagkrut karna memang asset perusahaan ini hanya tinggal saham milik Aldo 50 persen saja , sedangkan perusahaan ini sendiri nyaris tak punya pegangan dana pribadi untuk dikembangkan,
“Apa yang harusku lakukan.”bisikku sendiiri, aku sangat kalud dan coba beranjak pulang.
Sesampai dirumah aku di sambut Ina dengan senyum merekah. Ia menjabat tanganku untuk dia ciumi.
“Mas, kamu kenapa, kok wajahnyaa bête gitu ?”tanyanya padaku.. sedikit aku hela nafas dan merangkulnya untuk masuk.
“Gak apa-apa sayang, namanya juga mas lagi capek.”ucapku menghenyak di sofa, Ina juga ikut menghenyak disofa perlahan karna bisa aku lihat kandunganya sudah mulai besar.
“Capek banget ya”ucapku mengelus pinggangnya, dia mengangguk dengan sedikit manyun.
“Bayinya kan ada dua mas, sehat-sehat lagi. Jadi suka nyeri gitu punggung Ina. Sama ini, bekas lukanya suka nyerii”ujarnya. Sedikit meringis
“Ya sudah sayang, sini mas urut pinggangnya.”ujarku, Ina tersenyum dan coba berkata
__ADS_1
“Gak sayang,gak usah. Kamu mandi gih keatas dan abis itu turun, aku dah masak kesukaan kamu.”ujarnya. mendengar itu mataku sedikit terbuka.
“Kamu dah mulai lagi masak?”tanyaku, Ina tersenyum dan mengangguk.
“Udah mas, sekarang Ina gak ennek lagi nyium bumbu dapur, kamu tau kan kalo aku gak suka kalo gak didapur,.”ujarnya aku tersenyum dan berkata dengan sedikit mengelus pelan rambutnya.
“Makasih ya sayang, mas dah kangen juga sama masakan kamu.’’ujarku Ina tersenyum.
“Tu makanya buruan mandi, Ina tunggu di meja makan”ucapnya berdiri, aku menintin istriku itu dulu ke meja makan memastikan dia duduk dengan aman dan habis itu baru naik keatas untuk berberes,
“Mbok, siapkan hidangannya segera ya.”Titah Ina pada Lastri.
“Baik non.”
Lima belas menit berlalu aku selesai berkemas dan mengganti pakaian kantorku dengan baju santai, pasti aku langkahkan kaki hendak turun hendak menemui Ina di meja makan, namun bunyi bel bergema aku menoleh ke pintu, sedangkan Ina sigap berjalan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang, mataku membulat saat Ina reflek mundur ketakutan saat melihat Rara,, begitupun aku panik gegas menghampirinya,
“Mba Ina..”lirihnya tak lama setelahnya tampak Bagas menyusul. Aku sedikit terheran kenapa dua orang itu berbarengan. Melihat wajah kami yang masih terlihat cemas itu Bagas berkata.
“Tidak apa Fer, Ina. Rara dia tidak membawa apapun, dia sudah cukup stabil dan kedatangannya kesini mau meminta maaf.”ujarnya, sontak saja Ina merenggangkan cengkramannya di lenganku,
“Oh begitukah? Silahkan masuk.”pintaku pada Bagas, dua orang itu berjalan masuk dan aku persilahkan duduk Ina juga tampak membuntutiku di belakang.
__ADS_1
“Akhir-akhir ini Rara sangat ingin bertemu Ina, saya yang menanganinya selama ini di klinik saya, saat saya rasa dia sudah stabil saya ingin mempertemukannya pada Ina.”ucapnya, aku menoleh pada istriku, sedikit Rara melirikku dan mendekat pada Ina, bagaimanapun kami berdua masih was-was karna Ina lagi mengandung anakku, aku tidak mau terjadi apa-apa lagi, sedikit Ina beringsut lebih dekat padaku saat Rara berdiri di hadapan kami.
“Maafin Rara mba..”ucapnya terdengar berat, Ina melihat pasti wajahnya Rara yang tampak berkaca-kaca. Kami terdiam sejenak hingga dengan ragu Ina meraih tangannya, wanita itu reflek menangiis memeluk Ina. Ina masih terdiam dengan rasa was-wasnya, aku pun juga tampak berdiri mencegah agar Rara menjauhi Ina namun Bagas mengisyaratkan dengan wajahnya bahwa semuanya akan baik-baik saja aku kembali duduk.
“Rara mungkin tidak bisa menghilangkan segala perasaan ini,tapi Rara harus sadar mba Ina uukanlah musuh Rara, maafkan Rara keterlaluan hiks,’’tangisnya Ina sedikit mundur dan melihat wajah wanita itu.
“Sudah tak apa Ra, semuanya sudah berlalu. Aku dah maafin kamu kok.’’ujar istriku itu, Ina pasti begitu dia selalu berbesaar hati pada semua orang tapi entah kenapa pada ibunya dia tak ingin memaafkan hingga detik ini, aku kadang bingung. Rara tersenyum haru pada Ina dan melepaskan kalung yang Ina kasih waktu itu.
“Ini mba, Rara kembalikan. Mulai hari ini mbak jangan takut lagi karna gak aka nada lagi yang mengharapkan Mas Feri,”ucapnya, Ina tampak teranyuh, mengambil kalung itu dari Rara.
“Tadinya Rara berfikir, bahwa kita bisa berbagi dan melengkapi, denngan segala suka dukanya, jujur Rara kangen berantem dengan mba Ina di dapur, tapi memang mas Feri itu pria terbaik, dia hanya ingin mencintai mba Ina seorang.”ujarnya, aku jadi salah tingkah gini saat di pandangi Bagas dengan wajah meledeknya, namun beda lagi dengan dua orang in yang tampak terharu biru,Ina terdiam merintikkan air mata.
“Ya kamu benar, mas Feri yang terbaik, dia memang sangat pantas untuk dicintai’’lirihnya aku merangkul Ina dan berkata.
“Kamu juga terbaik sayang”bisikku, Rara kembali membalik pada Bagas dan berkata.
“Dokter bisa kita kembali,’’pintanya.
“Oh iya baiklah.”ucapnya berdiri melihat itu Ina dan aku berdiri.
“Tinggallahn untuk sebentar Bagas Rara, kebetulan hidangan di meja makan sudah tersaji.”ujar istriku, Rara menggeleng dengan teresenyum tipis. Dan berkata.
“Aku datang bukan untuk ingin tinggal mba, melainkan aku datang untuk izin pergi. Setelah ini jangan cemaskan segala tentang Rara lagi.’’ujarnya, Ina teranyuh dan kembali mendekat untuk memeluk Rara.
__ADS_1
“Terima kasih ya.”lirih Ina, Rara mengangguk dan setelah itu mereka pergi, kami tertinggal dengan rasa hangat didada. Reflek Ina memelukku dan berkata,
“Aku mencintaimu mas.”bisiknya, aku hanya bisa diam mengelus rambutnya dan mengecup keningnya.