
POV FERI
“Ya udah kamu tidur ya ini sudah malam,”ujarku, Rara tersenyum dan sedikit beringsut mendekat. Aku diam saat dia mengelus pipiku lembut.
“Mas, selama kita menikah,Gimana kesannya kamu bermalam denganku.”ujarnya, sedikit aku menautkan alis dan berkata,
“Humm.. ya gimana ya, ya biasa aja sih, nikmat.”bisikku dengan sedikit memainkan wajah, Rara mendekat dan coba mengecup bibirku dan sama seperti sebelumnya aku masih diam.
“Rara terlalu terbuai, atau gimana ya mas, kok Rara gak ingat?’’ujarnya sedikit aku garuk tengkukku dan berkata.
“Masa sih.. ngawur kamu.”ujarku, kembali wanita itu mengendus leherku yang membuat aku bergidik sedikit aku hela nafas sedikit dalam dan membuangnya pelan,
“Ra, aku capek. Kamu tidur ya. Beneran deh mas gak mood banget sekarang,”ujarku dia tampak kesal mendorong hingga naik keatas badanku, sedikit ritme nafasku tak beraturan saat layyuk pinggang Rara berdiri diatasku, dia menatap mataku dengan mata sayu, perlahan dia mendekatkan wajahnya dan kembali ******* bibirku aku sempat bingung, kenapa Rara masih keliatan fresh dan tak mengantuk sama sekali, aliran darahku juga terasa sangat memanas hingga aku berusaha mendorong bahunya,
“Kenapa mas?”tanyanya, aku mendegup dan coba melet, berusaha mikir gimana caranya menghindar.
“Mm… gak kenapa-napa sih. Mas lagi kepikiran sesuatu aja,”ujarku terbata. Kembali Rara mengelus bibirku dan berkata.
“Ya udah, kita nikmatin malam mini dulu ya. Biar Rilex..’’ujarnya, aku mendegup dan berkata, kembali wanita itu mendatangi dengan hasrat sembari gerakannya lebih erotis lagi, aku kesal aku tidak bisa memikirkan bagaimana menghentikannya hingga aku sangat bersyukur ponselku berdering, segera aku dorong bahunya dan menjangkau ponsel yang ada di nakas. Aku menautkan alis saatku lihat Bagas yang nelpon, nafasku tersengal dan merasa lega sekali, karna tu orang dah bantu, mengulur-ngulur waktu sebelum Rara tertidur.
“Halo Bagas.”ucapku menempelkan ponsel ke telinga, Raraa datang mendekapku dari belakang dan berkata,
“Ayolah mas..”bisikkya.
“Tunggu.’
“Ina, dia menelponku barusan, karna tak bisa meghubungi dokter, katanya dia lagi sakit dirumah, minta jemput, aku rasa ini tugas kamu, makanya aku telpon, kamu dimana sih.”ucapnya, nafasku tersengal dan reflek berdiri, melihat itu Rara juga ikut berdiri,
“Mas, ada apa sih?”tanyanya.
“Aku harus ketempat Ina sekarang Ra, dia lagi sakit.’ujarku, wanita itu menautkan alisnya dan berkata.
“Mas, gak boleh!”kesalnya menghentakkan kakinya kelantai, aku diam melihat raut wajah kesal di mukanya.
“Ina lagi sakit, dia butuh aku. Jadi aku pergi dulu sebentar, ucapku beranjak. Langkah Rara begerak lebih kencang mencari sesuatu di laci untuk mengambil pisau, aku binggung kenapa dia masih menyimpan pisau itu,
“Ra, buat apa pisau itu! Turunkan!”bentakku, aku mengussap wajah gundah dan berkata
"Bukannya aku dah sitadari dia kenapa masih ada lagi."gerutuku.
“Kamu bingung kan mas, ini bukan pisau yang kamu ambil waktu itu, pisau ini selalu aku bawa mas, berharap suatu saat aku pasti bisa menusukkannnya pada mba Ina..”ujarnya terkekeh, aku makin tak habis pikir. Dia menodongkan pisau itu kearahku. Dan aku mundur perlahan hingga mentok di jendela.
“Kamu lihat, aku buang susunya. Dan malam ini kamu harus jadi milikku!”ancamnya aku menoleh keluar jendela dan kembali menatap matanya,
“Kamu memang sakit jiwa Rara!”geramku coba mengibas tangannya dia mundur perlahan dan mengancam akan menyayat tangannya.
“Jika kamu pergi malam ini, aku akan bunuh diri!”bentaknya, aku gemetar dan coba bingung, ku tau dia begitu nekat dia tidak main-main dengan ancamannya
“Rara turunkan pisaunya.”ujarku, dia tak peduli hingga coba meletakkan kekulitnya reflek tanganya terluka karna sedikit goresan pisau yang tajam.
“Tolong hent_”ucapanku terhenti karna dari luar mama Rara membuka pintu.
Ibunya itu langsung bergerak dan mengambil pisau di tangannya, walau dia sedikit beronta aku coba membantu ibunya menenangkan Rara.
“Fer, ambil obat tidurnya.”titah ibunya tanpa pikir panjangpun aku ambil dengan bersusah payah kami mencoba membuat Rara, menelan obat itu,
“Lepaskan Rara.. mas Feri gak boleh pergi.”teriaknya ibunya terisak memeluk anaknya itu hingga dia tertidur. Aku meghela nafas sedikit lega karna mamanya datang diwaktu yang tepat.
“Mah, Feri mau izin pulang dulu”ucapku, karna memang Ina lagi butuh aku sekaranga sedikit wanita paruh baya itu beriyak dari badan anaknya dan berkata.
__ADS_1
“Ya udah, sampaikan salamku pada Ina.”ujar mamanya lirih mengelus dahi Rara lembut.
“Rara, dia sudah tau semuanya, aku rasa dia akan kembali histeris besok.”ujarku, mama tampak menghela nafas berat dan berkata.
“Ya sudah, tak apa. Kamu gak usah pikirkan ini.”ujarnya lagi, aku mengangguk perlahan dan beranjak menuju mobil,berusaha bergegas karna aku sangat mencemaskan Ina sendiri dirumah yang lagi sakit.
Tak butuh waktu lama aku sampai juga di kediamanku, tanpa pikir panjang aku langsung menemui istriku itu di kamarnya, terlihat ia menangis dan merintih, gegas aku menghampiri dan memeluknya, mata Ina tampak basah dan sembab entah telah berapa jam dia menangis.
“Mas? Kamu pulang?.’’tanyanya dengan nanar, aku mengelus pipinya lembut dan berkata.
“Kamu kenapa sayang?”tanyaku, Ina mendegup tangisnya dan berkata.
“Aku terasa lemah sekali, dan seluruh tubuhkku terasa sakit,”ujarnya. Reflek aku menggendong tubuhnya dan membawa dia turun.
“Ya sudah kita kerumah sakit.”lirihku, Ina melemah bergelayut di pundakku sembari berkata dengan pelan.
“Apa yang membuat mas pulang?”tanyanya dengan lirih,
“Mas denger suara Ina memanggil mas sambi nangis.”singkatku, dia meeratkan pegangan di leherku dan berkata.
“Ina fikir mas gak akan dengar.”ujarnya, aku terus saja membawanya hingga menyandarkannya di kursi depan.
“Kamu yang sabar ya, bentar lagi. Kita akan sampai kerumah sakit.”ujarku bergegas duduk dikursi kemudi dan melaju, kerumah sakit,
Sesampai disana. Aku sangat cemas menunggu di luar ruangan hingga tak butuh waktu lama dokter keluar,
“Bagaimana dok?”tanyaku.
“Tidak perlu khawatir, istri bapak hanya sedang hamil, kondisinya yang lemah dan saking banyak fikirannya membuat dia down, taka pa, istirahat yang cukup dan minum obatnya dia akan pulih.”ujarnya. aku masih nanar melihat Dokter, karna belum percaya dengan apa yang aku dengar.
“Hamil?”lirihku dengan air mata merintik,
“Mas.. aku.”ucapnya aku cegat sembari memelukknya erat, aku merintih merangkulnya dan berkata,
“Akhirnya sayang, impian kita terwujud juga.”ujarku menciumi dahi hingga pipinya namun Ina tampak kesal mendorong tubuhku,
“Tapi Rara juga hamil mas, Ina gak bisa kalau seperti ini, Ina gak mau kamu membagi kasih sayangmu pada anak kita juga,"gerutunya aku mendegup tangisku dan menghampus air matanya,
“Gak sayang, nanti mas jelasin, tapi kenyataanya kamu masih istri mas satu-satunya mas tidak pernah menikahi siapapun’’ujarku Ina tampak menautkan alisnya dengan tatapan nanar seraya air mata merintik.
“Mm-maksudnyaa?’’
“Ya sayang, mas gak pernah menikahi Rara,”ucapku mengelus lembut pipi, namun Ina masih belum percaya dan berkata.
“Tapi mas, aku melihat sendiri kamu mencumbui Rara, malam itu?”ujarnya aku reflek memeluk dan berkata,
“Dia mengancam bunuh diri, mas tak punya cara lain untuk mengambil pisau itu di tangannya,”ujarku Ina tampak tertunduk dengan sedikit manyun.
“Sayang percayaalah, mas tidak pernah ingin, membuatmu terluka, kamu lihat mas melukai sendiri tangan mas karnaa telah menamparmu waktu itu,”ujarku menyodorkan telapak tangan dengan bekas luka, Ina mengelus dengan air mata merintik. Dia menoleh padaku dan berkata.
“Tapi kenapa mas lakuin ini semua?”
“Sayang, nanti mas jelasin Kamu gak boleh banyak pikiran. Fokus sama anak kita aja ya.”ucapku Ina bungkam walau masih bisa aku lihat dia masih belum paham apa-apa. Aku mengecup kening hingga perutnya,
“Terima kasih Tuhan” bisikkku mengenggam tanganya, . Ina tersenyum kecut dan coba menggetarkan bibirnya untuk bicara.
“Mas, aku minta maaf..”ucapnya tertunduk air matanya merintik, Ina tampak berat mengutarakan sesuatu, aku paham dan coba mengerti.
__ADS_1
“Aku dan Aldo..”lirihnya, reflek aku merangkulnya dan berkata.
“Tidak apa-apa sayang, mas gak marah, jadi tenang aja, mas tau Ina mencintai mas,”ucapku, Ina meeratkan pelukannya, kami berdua terdengar menangis, setelah semua ini aku merasa sangat bahagia sekali karna harapan baru dalam Rahim istriku. Semoga setelah ini, semuanya akan perlahan membaik. walau semua begitu menyesakkan dan meresahkan perlahan aku akan coba menrima, karna apapun itu ini memang terasa impas, aku harus balut sendiri luka yang mendalam itu saat melihat sendiri dengan mata kepalaku Ina bercumbu dengan pria lain, aku akan memaafkanya, begitupun dia aku harap dia memaafkanku
“Aku miris mas, aku beneran main hati sama Aldo lah kamunya Cuma pura-pura.”ucap Ina tertunduk aku mendegup dan kembali merangkulnya,
“Gak apa-apa sayang.”ucapku dengan berat hati.
POV INA.
Siang ini, aku masih terbaring dirumah sakit, mas Feri dia keluar sebentar mencari makanan, aku duduk dan berusaha berdiri memandangi langit biru di luar gorden,
Pengakuan mas Feri semalam membuat hatiku teranyuh, terlebih pagi ini dia menjelaskan segalaya, benar-benar aku sanga terkesima. Aku yang selama ini selalu meminta pada tuhan bahwa aku ingin di cintai dengan begitu gila, ini sudah melampaui ekspektasiku. Ini benar suatu hal yang luar biasa bagiku. Aku tidak kehilangan prinsip suamiku, cukup sudah dia tersiksa karna permintaanku sendiri waktu itu. Aku tak mennyangka bahkan berkali-kali saat kesempatan itu ada, dia memilih untuk setia, aku benar-benar beruntung, walau kekacauan yang ditimbulkan oleh ulahku ini sangat berdampak banyak. Andai aku bisa mengembalikan waktu, melayani suami dalam keterpaksaan lebih baik dari pada memintanya untuk berbagi, jujur aku lebih tenang menjadi diriku yang dulu.
Tok Tok Tok…
Pintu rumah sakit itu diketuk, sontak saja aku menoleh dan berkata.
“Rara…?”lirihku. dia mendekat dengan wajah nanar dan sedih, aku mendegup dan coba sedikit mundur.
“Mba Ina?.. Rara datang kesini Cuma mau bilang kalo Rara menyerah.”ucapnya, sedikit aku mengatur nafas dan menghadapinya lebih tenang.
“Tolong, maafkan Rara. Mba.”ucapnya terdengar lirih.
“Setiap malam. Saat mas Feri bersama Rara, bibirnya tak pernah berhenti mencemaskan Ina. Matanya hanya ada rasa bersalah untuk Ina, dan disaat aku sudah mulai merasa menangpun, ternyata aku sedang di permainkan, aku menyerah mba. Tidak ada yang lain selain Ina dalam hati mas Feri, dan iitu mutlak.”ujarnya, aku mendegup. Rara tampak menangis dan coba menggapai badanku.
“Tapi jujur, jauh dibalik ini semua Rara sayang sama mba Ina.”ujarnya membuka pergelengan tangannya ingin memelukku,aku masih diam.
“Rara minta maaf mbak hiks..”tangis nya memeluk dan merangkulku aku mendegup dan coba membalas dekapannya,
“Iya mba sudah maafin.. kamu Ra, “ucapku ragu, namun mendadak ada yang menghunus diperutkan dan itu rasanya sangat sakit, Rara mundur dengan wajah lega dan tersenyum manis, aku mendegup dengan mata ,melotot melihat perutku,
“Arrrghh..’’teriakku seiiring nada tawa renyah Rara.
“Aku kalah, dan aku tidak akan membiarkan kamu menang!”ujarnya. aku bersimpuh dan menangis histeris,
“Anakku..”lirihku mengkhawatirkan kandunganku, dari pintu terlihat ma Feri langsung syock melihatku bersimbah darah,
"Ha.. anak? hihihi"tawanya riang dengan loncat-loncat
“Ina!”teriak mas Feri, dia mengibas Rara kasar dan berkata.
“Kamu benar-benar tidak waras Rara!”geramnya dan reflek mendekat padaku.
“Tolong… tolong”teriak mas Feri hingga semua orang berdatangan sedangkan Rara hanya bisa nanar dan duduk di sofa sambil manyun.
“Sayang kamu bertahan ya?”pinta mas Feri aku terus saja meringis kesakitan sembari berkata.
“Mas anak kita, aku takut dia kenapa-kenapa hiks..”tangisku pecah, mataku terasa berkunang-kunang merasakan darah mengalir hebat saat mas Feri coba cabut pisaunya dan menyuumbat lukaku. Samar-samar bisa aku dengar Rara beronta dibawa petugas, aku kembali menangis saat mengingat kandungan.
“Anakku hiks..’’liriihku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
...............
QUOTES
Melayani suami dalam keterpaksaan, itu lebih baik dari pada memintanya untuk berbagi,
__ADS_1