
POV INA.
Tak henti-hentinya bibirku mengukir senyum, mengelus rambut hingga wajah mas Feri, dahinya sedikit terluka parah hingga harus di perban dan sedikit pula ada goresan dipelipisnya seperti sayatan luka tergores kaca, kembali mataku basah, membayangkan betapa mengerikannya sebelum kejadian itu terjadi, sungguh aku ingin dia cepat sadar dan bercerita banyak padaku.
"Sayang? Ayolah , sadar? Aku dah kangen banget ngobrol sama kamu."bisikku mengecup punggung tangannya, ini sudah lima hari dari hari kecelakaan itu namun mas Feri masih tetap koma terbaring dirumah sakit ini.
"Ina.. Kamu makan dulu sayang." pinta mama, yang datang dengan kotak makananya. Aku menoleh dan berdiri menghenyak pada mama.
"Ma, mas Feri denger gak sih segala omongan aku ?"tanyaku saat menoleh padanya.. Mama tesenyum hangat membukakan kotak makanan itu dan berkata.
"Jika dia tidak mendengarmu, dia tidak akan kembali bernafas?"ucapnya. Aku sedikit berdengus dan menyuap makananku dengan lemes. Walau aku tidak nafsu makan aku harus kuat untuk menjaga buah hati kami. Aku sudah tak sabar menunggu mas Feri sadar dan kedua bayinya ini lahir.
"Aku sudah gak sabar menunggu hari bahagia kita mas."lirihku.
Keesokan harinya, aku kembali terbangun di pagi hari ditemani bunyi denting dentak jantung mas Feri di monitor. Perlahan aku kembali memejamkan mata yang merebah disampingnya, sepertinya hari ini masih sama, mas Feri belum membuka mata dan bicara padaku. Aku berdegus sembari tetap memejamkan mata. Namun kembali mataku terbuka saat ada elusan lembut dikepala hingga tengkukku. Reflek aku bangun dan melihat wajah mas Feri.
Matanya sudah tampak mulai terbuka dan perlahan bibir gemetar dia coba bicara sontak aku ambil tangannya yang berada dikepalaku itu dan menangis.
"Mas, kamu sudah sadar..."ucapku pelan, Dengan air mata mengucur.
"Ina..."lirihnya, aku mengangguk dan reflek menciumi wajah suamku itu hingga dahinya.
"Ya sayang, aku disini."bisikku mengelus pipiya, manik matanya tampak berkaca-kaca.
"Kita dimana?"tanyanya, aku tersenyum dan berkata.
__ADS_1
"Kita dirumah sakit mas, kamu kecelakaan. Dan sempat koma beberapa hari. Sekarang kamu istirahat ya, tunggu dokter datang."ucapku. Mas Feri tampak megangkat lengannya untuk bisa menyentuh wajahku.
"Bagaimana dengan malam pertama kita?"ucapnya, reflek aku terdiam.
"kenapa seolah-olah aku baru melihatmu, setelah sekian lama Ina."ucapnya lagi, aku coba memperhatikan raut wajahnya.
"Kenapa aku bisa kecelakaan, bukankah semalam kita akad?"tanyanya lagi wajahku reflek berubah. Apa yang Mas Feri katakan. Apa dia melupakan semuanya, kecuali hari pernikahan kami?
"Oh tuhan?"bisikku sendiri di hati.
"Ada apa sayang?"tanyanya lagi,
"Mas, kita sudah lewati rumah tangga yang bahagia, kamu lihat. Aku tengah
"Benarkah?"
"Iya sayang, jangan bergerak tetaplah berbaring"bisikkku merintikkan air mata.
Tak butuh waktu lama Dokter datang karna tadi aku sempat memencet tombol panggilan untuk keruangan dokter. Aku beringsut pelan berdiri sembari memeganngi perutku membiarkan dokter menanganinya. Mas Feri hanya bisa tersenyum hangat saat melirik perutku, Sigap dokter melepas oksigen dan mecek darah hingga nadi mas Feri.
"Syukurlah, semuanya akan baik-baik saja."ucap dokter aku menghela nafas lega dan mengikuti Dokter keruanganya.
"Dok? Suami saya, tidak mengingat dengan baik semua yang telah terjadi. Dia bahkan menghilangkan moment kehidupan setelah kami menikah?"ucapku terbata. Untuk sejenak Dokter itu diam.
"Ini normal-normal saja, mengingat benturan keras di kepalanya, atau bisa jadi kehidupan setelah menikah terlalu membebani alam bawah sadarnya hingga dia punya trauma sendiri disitu dan terhapus saat ada kasus seperti ini, mudah-mudahan secepatnya dia bisa kembali mengingat semuanya.
__ADS_1
"jelas Dokter. Sedikit aku hela nafas dan berbisik.
"Bahkan aku berharap, mas Feri tak usah saja mengingat semuanya."batinku, beranjak kembali menemui mas Feri di tempat tidurnya. Aku reflek merangkul dan merebah di badannya.
"Sayang..."lirihku menangis, perlahan tanganua terangkat mengelus bahuku.
"Jujur, mas Sedih sekali sayang. Kenapa mas melupakan masa-masa indah kita."ucapnya. Aku tersenyum dan kembali duduk menatap wajahnya lekat.
"Kita akan mulai lagi dari awal untuk mengukir hari-hari indah itu mas."bisikku pelan. Dia tampak menarik bibir untuk tersenyum.
POV BAGAS
Semenjak lima hari yang lalu, kondisi Rara kembali memburuk, dia tidak bisa terima kenyataan bawa Feri tlah tiada, dia menangis histeris dan kembali depresi. walau aku tau kabarnya bahwa Feri tlah lepas dari cengkraman maut itu, tapi aku tidak lantas kasih tau padanya, ini akan lebih baik agar Rara lambat laun akan bisa menerima bawa dia tidak boleh mencintai Feri terlalu berlebihan seperti ini, aku hanya ingin dia kembali normal, dan melupakan rasa yang telah memperbudak akal sehatnya itu.
"Mas Feri...hiks, aku gak percaya kamu pergi secepat ini."rintihnya duduk dari tidurnya
"Kamu yang sabar ya.."lirihku mendekapnya, dia menangis tergugu.
"Dok, aku mencintainya, aku sudah bisa merelakannya dengan mba Ina, asal dia masih ada didunia ini, aku tidak bisa menerima ini Dokter.."tangisnya merintih. aku hanya bisa mengelus rambutnya pelan.
"Tapi itulah kenyataannya Ra.., kamu harus kuat."ujarku, Rara hanya bisa sesegukan dengan sesekali meremas kemejaku.
"Akan lebih baik kamu menganggap Feri mati Rara, semoga saja perlahan kamu pulih "batinku di hati.
..........
__ADS_1