
POV FERI
“Apa nama yang cocok untuk mereka?”tanyaku saat bayi kami melakukan skin to skin contac demi menghangatkan suhu tubuh bayi dan menstabilkan detak jantungnya, Ina mengelus-ngelus punggung bayinya itu lembut.
“Aku kalo cewek sukanya Azzura.”ucapnya pelan, aku berfikir sejenak.
“Kalo nama ceweknya Azzura, mas kasih nama cowoknya Azzam.”timpalku lagi, Ina tersenyum dan mengangguk pelan, matanya berkaca saat memandangi kedua bayi kami telungkup didadanya.
“Kita sudah sangat lama memimpikaan ini mas, dan Tuhan sangat baik sama Kita, dengan sekaligus memberi dua sepasang lagi.”ucapnya merintikkan air mata, aku mengecup kening istriku itu dan berkata.
“Ini balasan untuk segala ujian cinta kita sayang, tugas kita sekarang menjaga mereka dengan baik.”ucapku Ina mengangguk, kami berdua reflek tersenyum saat mendengar salah satu dari mereka merengek.
“Cup-cup sayang jangan nangis.”ujarku reflek berdiri membantu bayi yang telungkup itu memperbaiki posisinya,
......
Trakt
Pintu kamar terbuka tampak mama dan ibuk ningsih datang dengan wajah yang berseri-seri melihat kedua bayiku di atas dadanya Ina,
“Ih gemesnya mama..”ucapnya mengelus kepala bayi itu.
“Iya gak sabar, harus lihat langsung keruang operasi deh, bayinya sehat sekali,”timpal buk ningsih. Kami berdua tersenyum.
“Gak sabar mama, dengar bayinya ngomong trus di ajak main bola di taman.’’celoteh mama, kami berdua reflek terkekeh.
“Umur bayinya baru juga beberapa jam mah.”timpalku dengan senyum simpul.
“Oh, iya abis ga sabar mama, ya sudah ningsih kita tunggu di luar, tunggu dipindahkan dulu Inanya keruangan rawat ya, baru nanti tak cubit-cubit itu babynya,”ucap mama pada buk Ningsih, merekaa berlalu lagi keluar aku dan Ina hanya bisa senyum-senyum.
“Raiferna Azzam dan Raiferna Azzura gimana nama lengkapnya?”Tanyaku Ina mengerutkan keningnya dan bertanya,
“Rai?”
“Iya sayang, singakatan mama Raina,mas dan kamu?”timpalku, Ina senyum ,
“Azzura itu artinya biru langit sedangkan Azzam artinya apa?”tanya Ina menoleh padaku.
“Kebulatan tekad.”singkatku, Ina tersenyum dengan mengangguk.
“Okeh baiklah, kebulatan tekad untuk menggapai mimpi dan kebahagiaan tertinggi setinggi langit.”ucapnya, aku tersenyum dan mengangguk.
“Bagus sih mas, Azzam dan Azzura, semoga menjadi kebanggaan kita keelak,”
“Amiin…”
__ADS_1
POV BAGAS.
Hari ini adalah hari pernikahan aku dan Rara walau aku sangat bahagia, tapi ada satu yang mengganjal di pikiranku sekarang yaitu, Rara hingga detik Ina masih mengetahi bahwa Feri meninggal aku tidak mau ini akan jadi bomerang bagi kehidupanku nanti lebih baik aku jujur sekaarang.
“Ra…”sapaku saat dia tengah di dandani jadi pengantin reflek dia menoleh dan menyunggingkan senyum.
“Ya,”singkatnya aku beranjak mendekat dan melirik tukang dandanya,
“Bisa tinggalkan kami sebentar?”pintaku.
“Gak apa tuan, lagi pula sudah selesai.”ujarnya kami berdua tersenyum melihat tukang rias itu keluar.
“Ada apa Dok?’’tanyanya aku tersenyum dan berkata padanya dengan sedikit menghela nafas,
“Aku mau, tidak kebohongan sebelum kit memulai rumah tangga.”ujarku, Rara tampak memandang lekat wajahku dan berkata.
“Aku tidak menyembunyikan apa-apa dari dokter.”ujarnya, aku tersenyum dan berkata.
“Aku mau jujur, kalau aku bohong tentang Feri, ada kejaiban setelah kita kembali dia masih hidup.’’ujarku seketika dia nanar.
“Kamu sangat mencintainya kan? Terserah jika setelah ini kamu berubah pikiran. Hidup dengan cintamu itu sendirian atau hiduplah denganku.”ucapku Rara tertunduk dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu telah janji pada Ina, takkan kembali kan? Kita juga harus bahagia’’ucapku. Rara terdiam. Aku sedikit menghela nafas dan berkata samba berdiri.
“Tunggu Dok,”cegatnya, aku terdiam tanpa menoleh.
“Aku ingiin menikah dengan Dokter.”ujarnya, sedikit dadaku terasa lega dan membalik, Rara datang menghampriku dan masuk kedalam pelukanku. Aku membalas dekapan itu dan berkata.
“Terima kasih ya, jangan panggil aku dokter lagi Ra, panggil mas aja,”lirihku Rara mengangguk.
Akad nikah berjalan dengan lancar, sekarang Rara telah resmi menjadi milikku aku bahagia tentu saja dan semoga dia juga bahagia dengan duniaku, karna memang amanah istri pertamaku yang sangat aku cintai adalah segala-galanya semoga dia tenang disana.
“Mas, jika aku pergi. Kamu gak boleh menikah lagi. Kecuali sama saudaraku. Semoga saja aku bisa tenang penggantiku adalah darahku juga, kamu harus sabar dengannya Rara dia sedikit keras kepala dan manja. Tapi dia baik kok anaknya”jelasnya waktu itu.
“Kamu jangan bicara seperti itu del, kamu akan baik-baik saja, tidak akan ada yang bisa menggantikanmu.”ujarku waktu itu, adel hanya diam seakan dia yakin bahwa dia akan pergi.
“Mas..” sapa Rara. Aku menoleh dari lamunanku tentang Adell tadi dan menoleh padanya.
“Ya Ra,”
“Kamu gak tidur, ini sudah malam hari ini melelahkan sekali.”ujarnya. aku mengangguk dan melangkah masuk kedalam kamar yang dari tadi di balkon.
“Mas kenapa mba Ina dan mas Feri gak datang di pernikahan kita apa kamu gak kasih tau?”ucapnya
“Hari ini Ina lahiran Ra, nanti kita akan tengok bayinya ya.’’ucapku. Rara terdiam sejenak.
__ADS_1
“Aku rasa gak usah aja mas, mereka sedang bahagia sekali, mana tau mba Ina gak mood liat Rara.”ujarnya, aku mengangguk dan tersenyum,. Dan segera membawa Rara keatas kasur pengantin kami. Dia tampak tertunduk saat aku tatapi wajah Rara. Sedikit aku genggam tanganya. Dan menciumi keningnya.
“Kamu belum siap bercinta denganku?’’ujarku sedikit Rara mengangkat lehernya dan menatapku dalam.
“Apa gak boleh ya, aku nervous di malam pertama?” ucapnya pelan, aku tersenyum dan coba memeluknya.
“Kamu nervous? Aku kira ini bukan yang pertama kalinya,’’ujarku, mata Rara sedikit sayu dan berkata.
“### Jujur, bagiku pengalaman bercinta ternekad hanya bersama mas Feri, tapi dia tidak benar-benar menikahiku.”ucapnya, aku sedikit menghela nafas dan mengecup bibirnya, Rara tampak berusaha menerima hingga perlahan malam pertama kami berlalu dengan Indah, dan satu hal yang membuat aku salud pada Feri, dia menjaga kesucian Rara saat dia sendiri punya banyak kesempatan untuk bisa merenggutnya, bahagia tentu saja aku masih mendapatkan kegadisan Rara dimalam pertama kami,
Hari indah itu terus saja, berlalu hingga satu tahun kemudian Rara melahirkan anak Perempuan pertama kami yang kami beri nama Arumi Nasya Shanum, sementara itu Feri dan Ina hari ini Sedang bahagia merayakan hari ulang tahun putra putri mereka yang pertama, kami di undang namun Rara tengah berada di rumah sakit di rawat pasca lahiran, setiap hari rumah tangga ini menyenangkan walau kadang Rara suka bikin aku bête masih kepoin Ina dan Feri tapi tak apa wajr sih menurutku dia sekarang akan menjadi ibu dari anakku, kami akan bahagia dengan anak-anak yang lainnya nanti,
POV INA,
Ping,,,
Bunyi pesan dari Instagram sesaat aku posting foto azzam dan azzura di social media karna hari ini ulang tahun mereka, sedikit mataku terbuka melihat pesan dari Aldo.
“Congratulasion for your baby.’’ Sedikit aku hela nafas dan tak mau membalas.
“Ayo sayang, kita bawa mereka kebawah. Para Tamu sudah menuggu”ujar mas Feri reflek aku tarok ponsel kembali kenakas dan beranjak mengambil Azzam sedangkan mas Feri menggendong Azzura keluar.
Sesampai dibawah, sudah terlihat Ramai oleh-oleh anak-anak sekitar dan juga anak-anak pekerja mama di tempat lama sedikit terkejut juga banyak yang antusias di hari bahagianyya sikembar, mama yang melihat kami turun itu mendekat dengan girang menggendong Azzam dari tanganku.
“Huumm cucu oma,, kalian tampan dan cantik sekali sayang,”ujarnya.
“Ma.. ini ramai sekali. Paling bisa ya mama kalo ngumpulin orang sekomplek”ucapku dengan senyum mamah terkekh membawa Azzam di hadapan anak-anak balita yang lain, aku tersenyum dan menoleh pada Zurra yang di gendong papa.
“Papa ayo kita bawa mereka duduk.”ujarku, mas Feri nurut sembari menciumi putri kesayanganya itu. Sejauh ini aku lihat mas Feri lebih cendrung ke anak cewe. Tapi alami sih karna memang pria lebih suka anak perempuan, langkah kami di cegat oleh ibu Rt yang juga tampak hadir.
“Mba ina, mas Feri? Anak dari madunya kapan?”tanyanya aku terkekeh mengingat waktu itu saat buk RT tanya Rara itu siapa aku dengan berlapang dada bilang dia maduku. Namun aku ingat mas Feri tak boleh mengetahui ini semua. Aku menoleh pada mas Feri dengan nyengir
“Mas Buk Retenya becanda hehe..”ujarku membawa buk RT menjauh
“Ibuk itu, madunya dah gak ada ya, jangan bahas ini lagi.’’
“Oh syukurlah mba Ina, ikut lega juga ibuk dengarnya aku tersenyum berat sembari garuk-garuk tengkuk melirik mas Feri yang tampak memperhatikan kami,
Inilah sekelumit kisahku, pada akhirnya aku sangat bahagia sekarang, di hari ulang tahun anak pertama kami ini aku berharap kebahagiaan-kebahagiaan yang lain akan selalu berdatangan nanti, dan apapun itu apa yang tlah terjadi dan seburuk apapun kondisinya nanti aku ingin tetap bersama dengan mas Feri, satu-satunnya Insan yang memperkenal cinta dan dunia yang luar biasa padaku aku akan mencintai selama nafasku. Dia pantas dapatkan balasan yang baik akan cinta yang luar biasa itu, junjunganku sekaligus hidup dan matiku semoga dia selalu sehat dan bahagia aku mencintainya suamiku yang paling sempurna...
End....
__ADS_1