FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
MISI FERI


__ADS_3

POV FERI


Aku beranjak pergi meninggalkan Ina sendiri, tadinya aku lega Ina sudah mulai bisa menerima sentuhanku ternyata tidak, dia masih belum stabil. Tapi jujur perlahan sudah mulai berhasil, Ina sudah mau sedikit terbuka tadi. Mungkin aku harus bisa buat dia lebih panas lagi agar dia bisa menyadari betapa berartinya aku dalam hidupnya.


Ciiits..


Bunyi rem mobilku berhenti didepan kantor. Aku turun dari mobil dan beranjak masuk lagi keruanganku. Di loby aku sudah ditungga Rara. Wanita itu mengibaskan senyum hangatnya dan berkata.


"Mas, gimana mba Ina? Aku lihay tadi dia jelous gitu mas,"ucapnya riang.


"Iya Rara, makasih ya. Aku senang dengan perubahan Ina barusan, ini benar-benar luar bias setelah sekian lama."ujarku.


"Apa tugas kita dah selesai mas? Mba Ina udah sembuh?"tanyaya dengan datar.


"Belum, tapi ada perubahn ini tugas kamu ya. Bikin Ina makin cemburu. Kadang berfikir dengan dia menyuruh aku menikah,secara tak langsung ia memberi solusi. Makasih ya Ra, dah mau bantu aku."jelasku pada Rara. Gadis itu hanya bisa senyum manis sambil berkata.


"Gak apa mas, aku seneng bisa bantu kamu."ujarnya aku tersenyum hangat dan kembali melangkah keruanganku.


"Bersiaplah, sebagaimana kata psikiater itu. Kita harus tingkatkan kecendrungan ingin tahu Ina, pokoknya kamu cerita indahnya percintaan dan tentang hubungan badan"jelasku. Seketika mata gadis itu membulat.


"Tapi kan mas, aku gak paham-paham apa tentang itu"sungutnya.


"Ih ,Rara. Kamu bisa cari di gogle atau dimana aja. Okey. Kita harus tuntaskan misi ini"ujarku.


"Baiklah mas."Lirihnya.


"Mas, kenapa kamu gak nikahin beneran saja aku, aku ikhlas mas. Lagian madu seperti mb Ina itu asyik kok gak horor. Akunya jadi gak bingung jugakan manas-manasin mbak Ina."gerutuny Aku berdesih dan reflek menggaruk dahiku.


"Rara... Kamu jangan ngacok ya, kalau aku sanggup kenapa harus repot-repot cari solusi. Lebih baik aku menikah lagi. Bereskan urusannya. Sepertinya kamu juga sama seperti Ina yang tidak percaya Cinta"gerutuku. Rara terkekeh.


"Aku bukannya gak percaya mas. Aku over kalo begini, masak pria semanis dan sekece ini dianggurin sih"bisiknya. Aku menoleh menatap datar wajah gadis itu.


"Apa? Kamu bilang apa tadi?"tanyaku.


"He he gak mas, gak ada."tuturnya terbata, aku hanya bisa berdesih dan menggeleng beranjak keruanganku setelah mengambil jasku aku kembali lagi ke luar.

__ADS_1


"Ayo Ra, kita pulang"titahku. Gadis itu hanya bisa manut membuntutiku di belakang.


"Malam ini, kamu kenakan mine dres sexi dirumah ya, biar Ina beranggapan bahwa kita sedang di mabuk cinta."jelasku saat berada dalam mobil. Sontak Rara bingung.


"Mini dress?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.


"Aku gak punya mas,"rengeknya. Aku tak habis pikir dan meliriknya.


"Kamu gimana sih, satu minggu liburan dengan uang sebegitu masa gak beli pakaian sexi, di Thailand banyak kali baju sexi."gerutuku.


"Ih kali mas, aku kepikiran buat beli yang begituan, lagian kayaknya gak asik aja gitu mas. Kalo kamu gak ikut. Seminggu liburan serasa di penjara. Gak asyik mana gak bisa posting di IG, kalo ketauan mba Ina aku liburan sendirikan berabe"cerocosnya. Aku hanya bisa menghel Nafas.


"Emang pria Thailan gak ada naksir kamu apa?"ucapku pelan.


"Gak tuh mas, yang rela pungut aku itu cuma mas Feri aja deh keknya, nanti kalo ada pergi-pergu kayak kemaren mas ikut ya, gak asyik tau sendirian?"ujarnya lagi. Aku memijat kepalaku pusing. Ni anak sepertinya terlalu banyak bicara dari tadi.


"Kamu bisa diam gak, gak perlu banyak ngomong gini?"ucapku datar.


"Maap mas, maap. Hehe"singkatnya nyengir. Aku terus melajukan mobil hingga berhenti didepan Mall.


"Cuman baju aja ya mas? Berlian?"ucapnya menhmgacungkan dua jari. Aku mengatur nafas dan coba berkata.


"Bayaran kamu itu dah cukup mahal dalam dua minggu ini Rara, sudah selesaikan misi ini dulu. Nanti aku bayar mahal."ketusku. Gadis itu tampak riang turun dari mobil. Aku hanya bisa geleng-geleng.


Malam berkunjung, Setelah selesai makan melam bersama aku dan Ina bersantai didepan TV, sesuai intruksiku Rara datang dengan pakaian sexinya tadi. Reflek Ina bingung melihat Rara berdiri dihadapan kami berdua.


"Mas, tidur yok. Aku ngantuk"rengeknya. Aku menoleh pada Ina, sektika wajahnya mengangguk tanda setuju. Aku jadi gundah. Bagaimana bisa aku ikuti Rara kekamar. Jujur ni gadis punya tubuh sexi dan mulus juga membuat aliran darahku memanas.


"Aduh mati aku.."bisikku. Melihat Rara manyun menunggu sembari merengek. Dia berdiri beranjak hendak pergi kekamarnya.


"Ya udah, aku istirahat dulu ya mas, Malam Rara.."ujarnya menyapa Rara dengan senyum paksa. Aku otomatis bengong melihat istriku itu berlalu.


"Duh gimana donk.. Dia gak mencegahnya?"bisikku menoleh pada Rara. Gadis itu hanya bisa mengangkat bahunya dengan sedikit mencibir. Selang beberapa menit Ina datang lagi menuruni tangga.


"Mas.."panggilnya, sontak saja hatiku riang dan membalik dengan senyum merekah.

__ADS_1


"Ya sayag, "singkatku, aku berharap Ina mencegahku untuk tidur bersama Rara.


"Kok belum masuk kamar? Gak kasian apa sama Rara, bisa kemasukan angin dengan baju minim begitu?"ujarnya. Sontak aku mendegup.


"Kamu ngapain balik lagi Ina?"lirihku sedikit merintih.


"Mau ngambil minum!"singkatnya. Aku membuang nafas berat dan membawa Rara sedikit menjauh dari situ. Aku harus pikirkan bagamaina cara membuat tu orang. Benar-benar cemburu. Dan gak mau membagi aku pada siappun.


" Ya ampun Ina, susah sekali untuk mendapatkan cintamu."batinku dihati. Ina kembali lagi dengan segelas air di tanganya. Tak habis akal aku langsung meyandarkan Rara kedinding tu orang tampak terkejut. Karna itu terjadi tiba-tiba tanpa intruksi. Perlahab aku belai pipi dan rambutnya, tanganku mengelus lengan gadis itu. Aku tau Ina tengah memperhatikanku di belakang.


"Mas, kamu mau ngapain, kesepakatan kita gak ada kek gini"bisik Rara..


"Ssstt.. Diamlah, kamu bisa lihat ekpresi Ina tidak?"bisikuku biscara begitu dekat padanya, sedikit ekor mata Rara melirik Ina yang tengah mematung.


"Wajahnya biasa aja."bisiknya, aku berdesih dan dengan berat hati aku kecup bibir Rara dengan mesra.bisa aku rasakan Rara terkejut. Matanya membulat, dan coba membalas kecupan itu. Berharap kali Ini Ina benar-benar cemburu. Namun tak ada reaksi. Istriku itu melangkah lebih cepat ke anak tangga menuju kamarnya.


Trakt..


Pintu kamar terhempas sedikit kuat. Reflek aku mundur dari Rara dan menghentikan ciuman itu. Wajah wanita itu tampak menikmati kejadian beberapa detik yang lalu itu.


"Maaf, tadinya aku fikir ini bakalan berhasil ternyata reaksinya biasa saja."lirihku, Rara masih tampak mengatur nafasnya.


"Mas,..."ucapnya sembari mengigit bibir bawahnya. Aku memandangnya datar sembari menaikkan alisku. Rara tampak terkekeh dengan menepuk sedikit jidatnya.


"Aku bisa Gila, jika terus-terusan seperti ini"ujarnya.


"Aku kan sudah bilang, aku minta maaf."ketusku. Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan plasdisk.


"Ini kamu setel ini di speker dikamarmu, kasih volume sedang, agar bisa terdengar hingga kekamar Ina, aku mau istirahat dulu."ujarku beranjak


"Mas, ini rekaman apa?"


"Itu suara desahan aja. Biar kedengaran seperti bercinta. Aku mau Ina paham. Kalo dia benar-benar tak sanggup berbagi dengan wanita lain"jelasku.


"Baiklah, Good night.."desis Rara melepasku pergi kemar tamu.

__ADS_1


__ADS_2