
POV FERI
Malam itu aku mendengar keributan dari kamarnya Rara, aku tersintak dan bergegas melihat apa yang telah terjadi disana setauku Ina mengantarkan makanan untuk Rara lalu apa yang terjadi sekarang, dengan rasa cemas aku terus melangkah namun saat dipintu aku berpapasan dengan Ina yang tampak kesal.
“sayang ada apa?’’Tanyaku istriku itu masuk kedalam pelukanku dan berkata.
“Mas, Rara nyebelin hiks.” Bisiknya aku mengelus rambutnya dan berkata,
“Kamu yang sabar ya,”lirihku melirik pintu kamar yang tampak berantakan dengan beling, aku mengecup dahinya dan beranjak masuk. Sedikit aku berdengus melihat makanan berserakan.
“Kamu sama sekali tidak hargai usaha Ina dia sudah baik mengantarkan makanan untukmu.”ujarku Rara beringsut dan coba menggapai badanku mendekat, dia menangis lagi membenamkan wajahnya didadaku sedangkan dipintu bisa aku lihat Ina berdiri melihat kami, sedikit aku dorong bahu mungil Rara dan berkata.
“Jangan seperti itu lagi, tolong hargai Ina. Ingatkan kamu sudah janji padaku bahwa kamu akan menyayanginya juga sama seperti aku.”ujarku untuk sejenak Rara tertegun dia kembali berkkata.
“Kamu, juga pernah berjanji padaku mas.”ucapnya kembali membalikkan pertanyaan, aku mendegupp dan coba mengalihkan pembicaaraan.
“Jangan seperti itu lagi. Ina sudah sangat peduli padamu.”. dia manyun dan kembali menghenyak di kasur.
“Abis Rara fikir mba Ina larang mas untuk datang kesini,’’Bisiknya sambil manyun, aku hanya diam.
“Mas, marah ya sama Rara.”ujarnya melihat mataku.
“Ya, karna aku gak suka kalian bertengakar"gadis itu cemberut sembari mengelus-ngelus dadaku. Sedikit aku tarik nafas agar tidak hanyut dengan sikap dan tingkah laku gadis ini.
“Ya deh, Rara minta maaf, mas temenan Rara disini ya. Rara laper pengen makan. Maunya di suapin’’rengeknya. Aku buang nafas dan berkata,
“Okey, kamu tunggu disini. Kamu denger. Abis ini jangan seperti Itu lagi sama Ina.. Kamu bisakan minta maaf dan bersikap baik padanya?”ujarku Rara tampak berfikir sejenak dan kembali menghenyak.
“Tapi bener, nanti setelah mas gak sibuk, mas Kesini ya?’’rengeknya aku hanya memandanginya datar sembari berkata.
“Liat nanti.’bisikku.
“Ih mas, kok gitu?”rengeknya. aku mengusap wajah dan berkata,
“Ya karna. Aku bakal menyiapkan pekerjaanku sedikit larut, dan pastinya aku capek bakal langsung tidur,”ujarku. Rara manyun dan coba berkata.
“Ya kan, bisa tidur diisini.”gerutunya. aku bingung harus bagaimana bicara pada gadis ini.
__ADS_1
“Ra, aku bingung cara jelasinnya kekamu. Tapi sekarang kamu lagi sakit okey aku akan sangat paham. Intiinya kita belum menikah, kamu ingin selalu liat aku kan, aku sudah disini setiap hari bisa kamu liat, jujur aku sangat terkesan akan istriku yang tulus membantumu untuk sembuh, jadi berusaha lah untuk sembuh kami disini menanti Rara yang dulu.”ujarku. untuk sejenak dia diam, kembali gadis itu menghenyak dan menarik selimutnya.
“Good night.”singkatku berlalu pergi. Aku mengusap wajah dan coba menyusul Ina kekamar aku juga tak tau, kenapa Rara bisa bereaksi begitu dia seakan tertampar dengan perkataanku, dan bahkan untuk sejenak aku berfikir bahwa Rara baik-baik saja. Dia masih bisa aku kendalikan. Gegas aku mempercepat langkahku untuk menemui Ina Sepertinya Ina tak ingin berlama-lama melihat kebersamaan kami tadi dikamarnya Rara. Sesampai dikamar, bisa aku lihat Ina merebah diatas ranjangnya sembari menatap kosong pandangannya. Kebalik tirai. Reflek aku datangi istriku itu merebah dan memeluknya erat merasakan sentuhanku itu Ina membalik dan menatap wajahku lekat.
“Mas, Ina boleh tanyakan sesuatu?”ujarnya sedikit aku elus pipinya dan berkata.
“Apa sayang?’’
“Mas beneran gak punya perasaan apa-apa pada Rara?’tanyanya. sedikit aku menurunkan pandangan dari matanya dan berdengus.
“Kamu mau aku jujur? Apa bohong?”tanyaku bicara dengan suara pelan dan lirih.
“Pilihannya?’’bisik Ina lagi. Aku menarik nafas dan berkata tegas.
“Pilihannya? Bohong akan membuatmu bahagia dan jujur akan membuatmu sakit”ucapku mata Ina terbuka dan sedikit beringsut duduk, mataku mengikuti gerak badannya yang tampak melihatku sedikit tak habis pikir.
“Jj-ujur, cc-oba katakan.’’lirih Ina terbata dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bukankah ini lebih baik? Aku sakiti kamu dengan kejujuran, dari pada nanti aku bahagiakan kamu diatas kebohongan.
“Mas Hiks,,”tangis Ina pecah, dia menggapai bahuku dan mendekapnya aku memeluknya erat. Salah satu alasan yang tidak akan pernah membuat aku berpaling dan menggesr Ina di hatiku itu adalah aku sangat takjub akan keluasan dan kebesaran hatinya, alih-alih marah dia hanya bisa menangis tersedu-sedu.
“Mas, maafkan Ina, jujur Ina tidak akan Rela jika suatu saat nanti hati dan pikiran mas tak da tempat lagi untuk Ina tolong maafkan Ina mas.”Rengeknya, aku memeluk dan coba menciumi pipinya
“Sikapmu, yang selalu membuat mas sadar, bahwa kamu yang terbaik, semoga kamu tidak berubah dengan ungkapan mas ini. Mas hanya ingin jujur dan sekalian mengingatkanmu, karna kita tidak tau kedepannya seperti apa.”bisikku sejenak Ina menelan tangisnya dan berkaata.
“Kedepannya?”tanyanya, aku mengangguk gundah Ina menggeleng dengan air mata merintik.
“Gak mas, Membayangkan saja Ina tidak sanggup hiks”tangisnya kembali pecah, aku bernafas sedikit lega, semoga setelah ini, Ina sadar karna kehadiran Rara hanya akan membuat ricuh rumah tangga kami. Akan lebih baik Ina membenci Rara, aku tau aku salah, Alangkah baiknya Rara menjauh dariku, aku siap menerima Karma dengan sikapku pada Rara waktu itu, namun aku tidak bisa terima karma atas menyakiti hati istriku, karna ada dua kemungkinan yang aku dapat, pertama aku menderita karna aku tau Ina sangat menderita belum lagi dengan ganjaran tuhan padaku, dan yang kedua aku tidak sanggup berpisah dengan kekasihku, itu melebihi dari Karma apapun yang terpedih di dunia ini.
Beberapa jam kemdian bisa aku dengar Rara berteriak. karnaa aku tidak tepati janjiku untuk menemuinya, namun aku kembali memperbaiki selimut dan memeluk Ina erat, aku tidak bissa menemui waniat lain di jam segini, berharap Ina bisa bangun dan menemuinya, palingan gadis itu hanya lapar, tak lama setlahnya, aku rasakan badan Ina bergerak dia keluar dari pelukan dan mendengar seksama suara yang ia dengar, bisa aku dengar juga Rara merintih. Ina duduk dan beranjak turun, sesaat Ina sampai diluar aku duduk dan coba menghubungi mama Rania untuk merekomendasikan asisten untukkku, kasian juga istriku yang direpotkan akan kehadiran Rara, ini berbanding terbalik jika waktu itu Ina mau balas kebaikan Rara, dia malah bisa bekerja sambil happy bahkan sampai jatuh cinta parah seperti ini. sedikit aku beranjak kebalkon dan mengintip mereka dari atas, hanya bisa aku dengar percakapan.
"Ini kamu makaan, kamu lapar kan? makanya teriak-teriak, "ucap Ina Rara bungkam hingga terdengar kembali, Ina berbicara.
"Mas Feri sudah tidur esok hari dia akan menemuimu jadi tenanglah"ucapnya, aku tidak bisa dengar apa-apa lagi sepertinya Rara nurut pada Ina.
__ADS_1
Keesokan paginya Ina menyiapkan segala perlengkapanku hingga membawakan sarapan. Wajah cantiknya yang alami dengan rambut lecek karna baru saja keramas membuat dia tampak segar sekali, dia cantik tentu saja. Satu alasan kenapa detik ini aku masih menangguhkan hati untuknya yaitu dia itu berharga. Dia terlalu sempurna untukku, bodoh memang aku ikuti ketamakan jika ada berlian di genggamanku, aku tau Ina berani membawa Rara kerumah ini karna dia begitu yakin, bahwa aku akan setia. Tapi apakah kejujuranku semalam membuat dia goyah, aku tidak ingin apa-apa selain Ina lebih hati-hati kepada Rara, bagaimanapun Rara tidak pantas mengharapkan aku.
“Pagi saayang?”sapanya dengan senyum tipis yang sedikit terpaksa, dia mendekat dengn nampan berisikan the hijau dan sarapannya, aku meraih badannya dan membawanya kedalam pelukan.
“Entah kenapa aku merasa dia sudah cukup pulih setalah datang kesini, dan ya hari ini. Aku akan datangkan Bagas, dia psikolog dan dokter juga, semoga saja Rara cepat pulih. seutuhnya”ujarnya, aku mengangguk dengan sedikit senyum.
“Okey baiklah, semoga segalanya lancar, aku pamit kekantor dulu ya?”ujarku Ina menganggguk reflek aku cium keningnya dan mengelus pipinya lembut.
“See you..”singkatku, Ina hanya tersenyum hangat melepasku pergi.
POV INA.
Tak ada yang baik-baik saja pada hatiku setelah pengakuan mas Feri semalam, aku sangat menghargai kejujurannya, tapi bagaiamana dengan hatiku yang mendadak takut baahwa ketakutan mas Feri itu akan terjadi, aku tidak bisa jika mas Feri nanti mencintai Rara dan tk lagi memprioritaskan aku lamunanku buyar saat menndengar Rara menghentikan mas Feri hendak beranjak keluar. Mataku membulat tak habis pikir saat melihat ia berjalan dan menghampirii mas feri.tadinya aku fikir dia masih lemah
“Mas, kamu kapan pulang, Rara lemes banget mas, pengen di antar kerumah sakit”rengeknya aku geram sedikit menggeurutu
“Rumah sakit jiwa kali Rara..”bisikku pelan, ku coba langkahkan kaki menuruni tangga dann mendekat pada mereka.
“Mungkin sore, dan Ya, aku sudah pesankan asisten untukmu, kasian juga Ina ngurusin kamu, nanti siang dia akan datang kamu bisa mintak antar dia
juga kalo kemana-mana.’’ujar mas Feri aku sedikit terkejut karna mas Feri tak bilang sebelumnya akan membawa asisten kerumah ini agar aku tidak repot dengan Rara.
“Ya sudah kamu hati-hati ya, aku menunggu kamu mas,”ujarnya, reflek gadis itu menciumi pipi suamiku, nafasku tersengal dengan mata membulat. Kembali aku coba mengepal sakit itu, dan mencoba mendatangkan jurus sabar sesabar-sabarnya. Dia tersenyum melihat mas Feri nanar karna telah dapat mencuri kesempatan itu, sedikit mas Feri melirikku dan berkata dengan Kikuk
“Mas,pergi dulu.’’bisikknya melirikku dengan datar.
__ADS_1