
“Aden dari mana aja. Mamang bingung den bilanginnya ama tuan.”cegat satpam saat aku sudah sampai di gerbang, aku menoleh kerumah dan menoleh ke pintu melihat papa berdiri, aku berdesih dan kembali menyalakan mesin motorku.
“Papa kapan pulang?’’tanyaku,
“Tadi siang den,”ujar kang maman, satpam dikediamanku, males banget aku tancap gas menuju garasi dan turun menemui papa. Dengan ogahan aku terus melangkah, sesampai disana.
PLAK
Tamparan keras melayang dipipiku, aku nanar sejenak dan geraam memegangi pipiku yang terasa ngilu.
“Ngapain aja kamu disini. Gak nyelesaian kuliah gak bantu papa di perusahaan, kamu mau apa ha?’bentaknya, aku tertunduk menahan amarah.
“Kakakmu sudah mampu berdiri sendir tapi kamu, menjalankan usaha papa saja tidak bisa! Punya hoby hanya keluyuran siapa sih yang didik kamu kayak gini!”geramnya, aku masih tertunduk.
“Trus sekarang papa maunya Aldo kek mana pa? sedangkan papa selalu sibuk dengan urusan papa keluar negri?”jawabku coba menantang matanya.
“Selesaikan skripsimu secepatnya kamu harus segera lulus.dan mulai bulan depan kamu harus bisa menghandel perusahaan, jadi mulai sekarang jangan keluyuran, kapan perlu buang itu motormu, “ujarnya mataku membulat saat menoleh pada motorku di garasi.
“Enak aja di buang”gerutuku membuntuti papa masuk.
“Cepat, rapikan dirimu. Nanti manager papa akan datang, kamu bisa belajar banyak dari dia untuk menjalankan perusahan papa. Ingat jangan macam-macam lagi Aldo kamu dah besar,”ujarnya menohokkan tatapan sinis, aku hanya mengaangguk ragu.
Selesai berberes aku kembali keebawah sudah bisa aku lihat, papa dan beberapa rekan bisnisya sudah menungguku, sedikit aku berdengus padahal tadinya aku mau me cek keadan Rara, selain masih ingin melihat perkembangannya, aku juga ingin memastikan apa Feri masih disana.
“Ini dia calon direkture baru kita.”ucap papa. aku hanya bisa suggingkan senyum hangat yang terpaksa, pada mereka.
“Jadi kalian bisa asah dia, aku harus metting dulu sebentar dengan klyen penting”ujar papa berlalu ke taman dengan pertemuan santainya dengan orang-orang penting lainnya
“Bisa kita mulai.”Sigap manager papa menyambut dengan males banget aku duduk.
“Buruan, aku mau pergi.’’singkatku merebahkan badanku disofa tak peduli dengan berkas-berkas itu.
“Jadi den Aldo sekarag kita lagi memegang beberapa saham dari perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Tugas Aden sebagai Direkture cuman memantau dan menjalankan bagaimana baiknya perusahaan, dan saya akan menjelaskan bagaimana caranya membuat perusahaan ini berjalan dengan baik.”penjelasan pak manager terus saja berlanjut hingga fokusku buyar melihat salah satu berkas, yang bertuliskan INA Production, sontak saja aku menyambar berkas itu, aku pernah dengar dari Rara kalo dia bertemu dengan Feri saat melamar pekerjaan disana. Apa ini perusahaan yang sama.
“Ini berkas perusahaan apa ya? Bisa dijelasin.”
“Oh itu, ini perusahaan kecil yang papa aden tanam 2% saham disana. Dan kebetulan perusahan ini lagi butuh penginvest karna gudangnya baru saja kebakaran.”jelasnya nafasku tersengal dan manggut-manggut,
“Oh iya berarti ini benar perusahaan mereka.”bisikku, mungkin ini caranya aku bisa masuk dalam permasalahan ini tidak lagi sebagai Aldo mantan kekasihnya Rara, yang terkadang tak pernh diikutsertakan, tapi kali ini aku akan menjadi bagian yang terpenting bagi mereka. Aku menoleh pada manager papa dengan senyum
“Baiklah tolong jelaskan bagaimana caranya saya menjalankan perusahaan papa.”ucapku manager papa tampak senang sekali melihat aku bersemaangat.
“Baik Aden Aldo.’’
POV INA
Tuuuut tuuuut
__ADS_1
Bunyi panggilan tersambung, butuh dua kali sambungan baru mas Feri bisa angkat.
“Hallo sayang?’’sahutnya dari sana.
“Mas gimana? Apa dapat penginvestnya?”tanyaku ini sudah dua hari, mas Feri sangat sibuk dengan kantor akibat inseden baru-baru ini.
“Belum sayang, tapi bakal mas usahakan. Kamu tidur ya ini dah malam. Besok mas akan pulang.”ujarnya. aku sedikit menghela nafas dan berkata.
“Mas kamu jaga kesehatan, jangan terlalu di pusingkan kita pasti punya solusi lain nanti.”ujarku. mas Feri terdengar diam sejenak dan berkata.
“Iya sayang, semua akan baik-baik aja kamu gak usah khawatir aku akan mengatasi ini.”ujarnya aku menghela nafas dan berkata,
“Miis you..”lirhku.
“Miis you to.. dah tidur ya, besok mas akan pulang.”ucapnya, aku mengangguk dan mematikan telponya.
Malam ini aku terbangun dini hari, entah kenapa mataku tak bisa terpejamkan, aku tidak tau apa yang tengah menganggu hatiku, hanya ada rasa tidak tenang, dan berkecamuk tak karuan, ini untuk pertama kalinya aku tidak suka mas Feri pergi-pergi, sebelumnya dia pernah disibukkan dengan pekerjaanya tapi aku tidak puusingkan itu, tapi sekarang kenapa aku tidak bisa tenang begini. Ternyata begini rasanya rindu saat ditinggal suami kerja. Aku bahkan tak sabar. Menunggu pagi datang untuk menyambut dia pulang.
Hingga beberapa jam berlalu, mentari datang juga mengusik aku langsung berberes menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut suamiku, namun dua jam aku duduk dimeja makan menunggu bell berbunyi ataupun ponselku berdering, namun aku tak dapati keduanya, mataku terasa berkaca, mungkin mas Feri gak jadi jalan semalam, padahal dia udah janji bakal pulang hari ini. Reflek aku menyambar ponselku dan mecek pesan, belum ada pesan apa-apa dari mas Feri, sedikit aku hela nafas dan coba hubungi.
Tuuuuut…. Tuuuut..
“Hallo..”
“Mas, kamu dimana? Katanya semalam bakal pulang?”ujarku.
“ Maaf, gak sempet semalam. Ini juga mau Otw, mungkin siang, kamu tunggu ya.”ucapnya. aku mendegup dan coba berkata serak.
“Baiklah..”
“Cepatlah pulang, Ina kangen.”ujarku, terdengar dari sana terkekeh
“Baik sayang, mas pasti pulang jadi tenang aja.”kembali aku letakkan ponsel dimeja dan melirik semua hidangan perlahan aku gapai dan sarapan sendiri sembari air mata merintik.
Siang berknujung, atas permintaan mama Rania aku harus datangi kantor karna urusan lain, selagi mas Feri mencari Investor diluar kota, aku harus temui peginvest disini. Yang mau membantu masalah perusaahaan kami sekarang.
“Kamu kenapa telat sih nak?”ujar mama saat aku memasuki ruangan kerjaku.
“Mama dah ada disini, maaf mah,hmm mas Feri dia ngurus penginvest yang diluar kota, saat Ina cek email ternyata ada penginvest dari perusahaan besar, jadi Ina putuskan untuk temui sendiri.”ujarku.
“Iya memang mereka sudah menunnggu,ayo buruan mama mau cek yang lain,’ucapnya.
“Baik mah.”
Aku duduk di meja kerja dan fokus pada berkas dan prensentasi singkat untuk menghadapi mereka setelah itu aku beranjak ke ruangan metting.
“Ufffthh..”desisku coba mengatur nafas hendak masuk
Trakt
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka semua menoleh padaku, dan senyumku terasa hambar saat melihat Aldo duduk paling ujung,
“Humm.. mungkin aku salah masuk ruangan.”ujarku sembari nyengir. Namun langkahku terhenti saat aku membalik hendak pergi namun dicegat oleh Aldo.
“Tidak mba Ina. Tadi memang aku yang mengirim email pada perusahaan ini.”ujarnya nafasku tersengal dan mulutku sedikit menganga.
“Oh.. benarkah, bb-baiklah kalo begitu,”ujarku beranjak mendekat dan duduk di meja metting itu.. aku sontak saja salah tingkah dan gak tau mau bilang apa.
“Bisaa tinggalkan kami berdua.”pintanya pada asisten dan sekretarisnya, mataku mengikuti gerak langkah dua orang itu keluar, sejenak aku canggung disenyumin Aldo yang tampak berbeda dari biasanya
“Ekhem.. mungkin aku akan mulai presntasinya.”ucapku terbata, Aldo terkekh dan berkata.
“Tidak usah terlalu kaku, kita bicaranya seperti ini saja,”ucapnya, sejenak aku nanar.
“Okey..”ucapku perlahan.
“Jadi, perusahaan mba butuh berapa persen saham untuk bisa normal kembali?”ucapnya, menjurus tentang poin penting pertemuan ini.
“Saya tidak butuh banyak, karna kami juga berjuang untuk dapatkan investor lain.”ujarku.
“Dah dapat penginvestnya?”tanyanya datar, aku mendegup dan berkata.
“Saya belum dapat kabar, dari mas Feri.”ucapku terbata. Aldo tampak terkekh dan berkata.
“Ini sudah berhari-hari, dan belum ada progress mau cari investor atau mau jalan-jalan.”ucapnya spontan yang membuat aku bingung,
“Kamu tau dari mana, mas Feri pergi dan belum pulang?’’tanyaku, sontak Aldo menelan tawanya dan berkata.
“Mm-maksud aku, ini kan sudah lama dihitung dari inseden itu?’ucapnya, aku mengambil nafas lega,
“Iya belum ada investor, aku sebenarnya cemas, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”ucapku, Aldo tampak manggut-manggut, melihatnya hari ini yang berbeda dari biasanya aku jadi tersenyum simpul.
“Aldo, aku gak nyangka. Kamu ternyata pria yang berkompeten juga. Aku bangga padamu,”ucapku Aldo tersenyum dan berkata.
“Biasalah kecipratan nighrat orang tua,”ujarnya tertawa renyah, aku juga terkekeh. Dalam hatiku sempat bertanya, kenapa bisa Rara mengabaikan Aldo hanya terobsesi pada mas Feri. bodoh sekali dia, ingin sekali aku menanyakan Rara Tapi aku lagi gak mood bahas wanita itu sekarang.
“Jadi berapa saham yang harus saya investasikan untuk perusahaan ini, agar bisa normal kembali.”ujarnya, aku juga bingung,
“Karna belum cadangan penginvest lain, saya ajukan 20%”ucapku terbata. Aldo tampak memikirkann kerugian dan segala yang dibutuhkan tampak ia mecek berkas-berkas dari perusahaanku dan memeriksanya dengan seksama
“Okey mba, Saya akan tanamkan saham 50%”ucapnya, mataku membulat. Dan sedikit tak percaya.
“Tt-tapi itu berlebihan Aldo. “lirihku dengan mata nanar.
“Selain mau menginvestasikan saham, saya juga ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan mba Ina. Karna saya lihat, perusahaan ini cukup berkembang setiap tahunnya, hampir setiap hari dari perusahaan ini selalu memunculkan produk terbaik berbahan kulit. Saya tertarik untuk join, semoga kita bisa sukses bersama menjadi perusahaan terbaik.”jelasnya, hatiku terasa lega, dan sangat senang sekali.
“Terima kasih sekali Aldo aku tidak menyangka. Hari ini benar-benar luar biasa,”ucapku Aldo hanya tersenyum sembari mengulurkan jabatan tangannya.
“Selamat bergabung dengan PT Astra Al Company Internasional’’ujarnya aku gemetar menjaabat tangan Aldo sembari berkata
“Tt-erima kasih.’’ Ucapku dengan hati lega, Aldo mengulurkan beberapa berkas untuk di tanda tangani tangani. Aku hela nafas lega, tidak percaya saja rasanya aku dapat kesemptan menjadi mitra perusahaan besar seperti ini, dan tak pernah terfikir juga Aldo adalah direkturnya.
__ADS_1
bersambung