
POV FERI
Pagi berkunjung, untuk pertama kalinya aku bisa menatap matahari terbit dalam pelukan istriku aku tersenyum sembari mengelus-ngelus wajah cantiknya,
“Sayang bangun, kita harus kekantor.”ujarku mengecup bibirnya sontak Ina menggeliat dan membuka matanya.
“Kamu mandi gih,”ujarku Ina keluar dalam pelukan dan duduk menatap mentari pagi dari celah-celah gorden.
“mas ada yang berbeda di pagi hari..”lirihnya membuka tirai gorden dengan senyum, aku beringsut dan tersenyum menghampirinya.
“Ada apa?”
“Gak tau..”singkatnya dengan senyum simpul. Aku mendekat merekahkan senyum hangat mengelus pipinya dan berkata.
“Apa kamu senang bisa meluk mas semalaman?”tanyaku Ina tertunduk dengan sedikit senyum, nafasku sedikit lega melihat perubahannya.
“Boleh mas peluk lagi?”pintaku Ina menghela nafas sedikit, dan mengangguk pelan. Reflek aku memeluk tubuhnya,
“Makasih ya sayang.”lirihku. aku mengelus-ngelus rambut hingga mengecup keningnya. Setelah beberapa detik Ina keluar dari pelukanku dan berkata.
“Aku mandi dulu ya mas.”ujarnya.
“Baik sayang. Lekaslah kita harus kekantor,”ujarku, Ina hanya bisa mengangguk, aku beranjak buat cuci muka dan berniat untuk temui Rara di kamarnya, namun aku terkejut saat melangkah di anak tangga bisa aku lihat Rara di lantai utama telah siap dengan menu sarapannya di meja, aku mendegup gundah mengingat rasa makanan yang disajikannya semalam. Dia menoleh padaku dengan senyum riang.
“Tarraaa.. aku bikinkan sarapan special buat kalian berdua.’’ujarnya menyeretku mendekat. Aku lirik menu Rara satu persatu.
“Maaf mas, aku Cuma bisa bikin nasi goreng, abis aku tidak bisa gunakan tempat bakar rotinya”ucapnya manyun melirik wajan pemanggan roti. aku hanya mengangguk ragu
“Ya gak apa, makasih,’’ucapku pelan Rara tersenyum saat aku menghenyak dikursi dan ikut juga duduk,
“Mba Ina mana mas?”tanyanya.
“Dia lagi mandi”singkatku Rara hanya manggut-manggut, sejenak aku terfikir masalah kemarin yang membebani pikiranku dari kemarin
“Ra, kalian sempat cekcok kemarin Ina cerita padaku, dan ya Rara aku gak suka kamu menghina Ina dengan kata-kata kasar”ujarku untuk sejenak Rara diam dan coba mengingata apa yang telah ia katakan.
“Emang Rara ngomongin apa ya mas?”tanyanya seoalah tak ingat lagi.
“Jangan pernah katakan Ina tidak berguna dan bahkan sampai mengusirnya dari sini, aku gak mau Ina kefikiran masalah ini, dan moodnya gak baik”jelasku, Rara mendegup dan berkata dengan pasti.
“Mas aku tau posisiku, aku kan Cuma sandiwara?”ucapnya tak habis pikir aku menghela nafas sedikit dan berkkata.
“Aku tau, tapi yang aku maksud tidak seperti itu kamu bisa gunakan kata-kata yang lebih baik. Gak perlu menyakiti Ina, akukan minta kamu manasin dia agar dia cemburu? Bukan malah rendahin dia?”ujarku sedikit membentak, dahi Rara sontak berkerut melihatku.
“Kamu kok marah sih mas? Lagian aku gak paham cara kerjanya, aku harus jadi istri muda yang jahat atau baik, egoiskah, lemah lembutkah? aku gak paham mas, bukanya menghargai usahaku kamu malah marah gini”lirihnya tak habis pikir, aku menggaruk sedikit batang hidungku dan berkata.
__ADS_1
“Intinya kamu tau batasan, jangan sampai rendahin bahkan membuat Ina gak nyaman di rumah ini,”
“Mas fikir aku nyaman dengan keadaan seperti ini? Aku…”ucapannya terhenti karna aku cegat.
“Aku membayar kamu untuk Ini Rara, harusnya kamu bisa berdidkasi dengan baik, aku hanya ingin memyakiti istriku itu saja.”ujarku, Ina geram meletakkan sendok sedikit keras diatas piringnya,
“Biarkan aku menjalani tugasku dengan professional! Lagian ini berhasilkan? Aku melihat Ina tidur di pelukanmu semalaman?”ujarnya sontak aku menautkan alisku.
“Lancang sekali kamu, mengintip kami?”ucapku pelan tak habis pikir, Rara tampak menggertakkan rahangnya berdiri dengan kesal.
“Kamu itu yang lancang mas, Kamu membayar aku untuk tugas yang sensitive seperti ini? Aku tidak boleh mendikte kalian tapi kamu seenaknya menciumiku. Bodohnya aku menganggap itu professional kerja,bukannya itu pelecehan ya mas,’ gerutunya aku menautkan alis sembari berkata dengan berbisik.
“Tolong duduklah lagi Rara, aku gak mau, Ina tau kita ributkan ini”bisikku meliriik ke pintu kamar kami yang ada di atas benar saja bisa aku lihat Ina keluar kamar sudah rapi. Aku menoleh kembali pada Rara namun sepertinya wanita itu tak bisa di ajak kompromi dan beranjak kekamar dengan kesal melihat itu Ina bergegas turun.
“Rara..’’ Panggil Ina, namun sorak Ina hanya dijawab dengan hempasan daun pintu sedikit kuat, Ina tampak bingung dan bertanya padaku
“Mas ada apa?”tanyanya, aku kikuk sembari melirik semua makanan di meja seketika aku dapat Ide.
“Tau tu Rara, mas Cuma komplen masakannya, dia kayaknya gak suka mas katain masakannya gak enak,”ujarku, Ina tampak manyun.
“Lagian kamu sih mas, ya udah aku hampiri dia dulu ya”ujarnya beranjak namun aku cengkram lengannya dan berkata.
“Gak usah sayang, bantuin mas berkemas juga ya, kita kan buru-buru?”pintaku Ina tampak ragu mengangguk saat aku seret dia kekamar, sesekali dia melirik pintu kamar Rara namun aku coba alihkan fokusnya dengan mengajaknya bicara.
“Tante Rania pasti sudah nungguin kita sayang, aku bagusnya pakai seragam apa ya, kan aku bukan direktur lagi, “gerutuku
“Mas apa sih, gak ada bedanya juga jika jabatan itu aku yag handle, toh juga aku minta bantuan kamu buat jalani, demi mama kita harus lakukan ini mas, aku mohon kamu jangan tersinggung ya?”ujarnya aku terkekeh sembari menyunggingkan senyum hangat.
POV RARA
Aku terisak-isak menangis di atas sembari telungkup setelah mendengar mobil mas Feri dan Ina berlalu pergi, aku beringsut duduk dengan air mata mengucur. Entah kenapa aku sakit hati banget melihat mas Feri memarahiku tadi, jujur saat ia mengecup bibirku waktu itu, aku tidak bisa menghapuskan bayangan itu di benakku, aku suka dengan bau nafas dan kecupan lembutnya, aku harus bagaimana, aku juga sudah terbiasa dengan mba Ina, dia salah satunya alasan kenapa aku bisa nyaman disini, andai saja mas nurut saja nikahin aku beneran, pasti aku bahagia banget sekarang, sosok mba Ina itu kayak almarhumah mbakku yang meninggal satu bulan yang lalu, aku seakan dapat ganti seorang kakak dari mba Ina, namun tak bisa aku pungkiri juga karna kecemburuanku padanya melihat mas Feri sangat mencintainya, membuat aku reflek berkata kasar sama mba Ina kemarin, aku harus bagaimana. Aku sudah tidak sanggup terus-terusan melaksanakan tugas ini. Aku takut semakin menyukai mas Feri. Aku takut semakin sakit hati karna dia tidak akan pernah bisa menyukaiku, dia sangat mencintai istrinya.
“Apa aku fokus saja tenntang perasaanku dan melupakan misi itu? Apa aku berusaha aja mengambil hati mas Feri? Ah, aku gak boleh jadi orang jahat, tapi perasaan di hatiku, juga tak bisa aku bohongi.
“Ah, mas Feri. Aku bisa gila dengan perasaan ini”gerutuku.
Sore berkunjung setelah berjam-jam berdiam di kamar aku mendengar bel berbunyi, itu mungkin mas Feri dan mba Ina pulang, bergegas aku duduk dan beranjak ke pintu.
“Siang Ina?”sapa mba Ina, aku menarik ujung bibirku tersenyum dan melirik mas Feri.
“Maaf ya, kami keluarnya lama. Kamu bagaimana? Udah gak marah lagi sama mas Feri”Tanyanya, aku menoleh pada mas Feri dan reflek menggeleng, suami mba Ina itu tampak tak pedulikan aku dan tetap fokus. Dengan barang bawannya membawanya keatas,
“Tadi kami sempet belanja macam-macam buat kebutuhan piknik kamu mau kan ikut?’ujar mba Ina aku tersenyum riang dengan senyum pasti,
__ADS_1
“Mau donk mba,”singkatku, ya sudah bantu mba di dapur ya, biar mba ajarin masak.”ucapnya, aku mengangguk dan mengikutinya.
Malam berkunjung setelah makan malam, mas Feri datangi aku kekamar, aku terkejut saat aku rebahan dengan ponselku di atas ranjag.
“Mas, ada apa?”tanyaku berdiri menyambutnya.
“Malam Ini aku ingin berduan sama Ina, kamu taukan maksudku aku senang dengan perubahannya pagi ini dan aku harap dia membaik untuk kali ini, kamu bisa keluar malam ini atau menginap dimana saja,”ujarnya aku mendegup sembari membulatkan mataku.
“Tapi mas, buat apa aku pergi, aku gak apa kali disini aja aku gak akan ganggu kalian?”ucapku nanar.
“Ina suka rusuh gitu, dengan penolakanya, kamu bisa menginap saja agar tenang,”aku terkekeh sembari bicara.
“Mas gak apa, aku paham kok. Mana tau, dengan kehadiran aku, mba Inanya berfikir buat nolak dan beronta sama mas? Dia malu atau apa mungkin?”ujarku sejenak mas Feri tampak berfikir,
“Begitu ya?”ucap mas Feri pelan, aku hanya bisa tersenyum sembari memainkan alisku, mas Feri membalik dan meninggalkanku sendiri.
Malam semakin larut aku bisa dengar mas Feri dan mba Ina masih berbincang, aku tidak mau kepo akan urusan mereka karna tak mau di kira lancang lagi dan akhirnya aku putuskan menyetel music dan memasang earphone di telingaku. Lima belas menit berlalu setelah aku hanyut dengan music klasik pengantar tidur itu, aku dikejutkan dengan suara hempasan pintu keras dari kamarnya mba Ina, cukup lantang hingga aku bisa dengar walau memakai earphone. Reflek aku menarik alat itu dari telingaku dan beranjak ke pintu bisa aku lihat mas Feri berjalan menuruni tangga. Melihat aku berdiri di pintu kamar langkahnya terhenti dan mendekat padaku.
“Aku harus bagaimana Rara?’’ Tanyanya Lirih aku mendekat dan membawanya duduk disofa. Mas Feri tampak gundah berkali-kali mengusap wajahnya gusar,
“Aku sudah patah semangat, aku tidak tau lagi harus bagaimana”lirihnya, aku bingung melihat glegatnya dan mendengar mba Ina yang menangis di atas, sejenak aku tak pedulikan mas Feri dan beranjak untuk hampiri mba Ina di kamar.
Sesampai disana, mba Ina mendegup tangisnya melihat aku berdiri di pintu kamarnya.
“Rara..”lirihnya dengan mengusap wajahnya gundah sembari tetap merintih. Aku mendekat bersimpuh mengelus punggungnya.
“Aku.. tidak bisa Ra, bagaimana caranya meyakinkan mas Feri kalo aku tak sanggup.”rengeknya aku mendegup dan coba mengelus rambutnya yang tertunduk di lututnya, entah kenapa aku juga merasakan sakit yang mba Ina rasakan. Tak lama setelahnya kembali ia angkat lehernya dan menatapku dengan wajah sendu.
“Temui mas Feri Ra.. dia butuh kamu hiks..”terdengar mba Ina bicra tersekat lagi berat, seolah ia tak rela merelakan mas Feri denganku, aku mendegup dan coba berkata.
“Mba udah jangan menangis lagi, mbar rilex aja bawa rebahan. Ayo?’ucapku membawnya berdiri, mba Ina berdiri sambil dipapah olehku. Dia masih menangis terisak-isak hingga aku selimuti dia,
“Udah mba, jangan takut sekarang gak ada lagi yang memaksa mba, “ucapku meremas jemarinya, mba Ina menghela nafas dan membuangnya sembari merintikan air mata deras,
“Pergilah Ra, temui mas Feri, “pintanya, mataku membulat untuk sejenak aku mematung, hingga mba Ina menganggam jemariku erat.
“Aku mohon temui mas Feri?”pintanya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya tampak gemetar menahan rasa sakit, namun jelas kali mba Ina terpaksa mengatakan itu.
“Pergilah..”lirihnya lagi, aku berdiri dengan ragu meninggalkannya. Dan menemui mas Feri dibawah, gemetar kakiku menghampiri pria yang mampu mencuri hatiku beberapa hari ini, dia tertunduk bertopang siku sembari memijit dahinya, aku duduk menghenyak disampingnya sembari berkata.
“Mas..’’lirihku memegangi pundaknya pria itu menoleh dengan binary mata gundah dan sedih,
“Kamu yang sabar ya?”lirihku mengelus bahu bidangnya, sedikit mas Feri beringsut lebih dekat dan menurunkan lenganku lembut, dia mengelus-ngelus jemariku sembari tetap tertunduk.
“Mas, aku yakin suatu saat nanti mba Ina bakalan normal. Mungkin usaha kita belum mak-“ucapanku terhenti karna mas Feri tiba-tiba mendaratkan kecupan di bibirku aku terkejut reflek membulatkan mataku, melihat mata sayu pria itu yang di tutupi kabut gairah, aku tidak punya daya apa-apa selain membalas setiap kecupan lembut mas Feri yang sangat terasa manis, gerakannya erotis menyentuh setiap lekuk tubuhku hingga dia menggendongku kekamar. Namun aku tersadar saat aku telah diatas ranjang di tindih olehnya.
“Mm-as!”cegatku menghentikan mas Feri yang membenamkan wajahnya dileherku aku mendorong dada kekar. pria itu menatapku dalam. Dengan ragu aku berkata.
__ADS_1
“Nn-niikahi aku?’lirihku dengan binar mata berkaca-kaca mas Feri tampak tersadar dan membaringkan badannya kesamping, dia menghela nafas dan mengusap wajahnya gusar, hingga beranjak pergi ke kamar tamu. Nafasku tersengal, saat memperbaiki pakaianku yang sudah berantakan dan sedikit terbuka di bagian dada.