
Bukan hal mudah untuk memberi jawaban, dua hari sudah berlalu semenjak surat itu sampai di tangannya. Amus sudah menanyakan surat jawaban tapi ia masih meminta sedikit waktu lagi untuk memutuskan, entah perasaannya saja atau bukan tapi karena hal ini sebuah dinding pemisah tercipta antara dirinya dan Amus.
"Na.... " panggil Sapardi dari dapur.
"Iya ayah.... " jawabnya malas tapi tetap beranjak menemui.
"Bisakah kau belikan ayah baterai jam?"
"Oh baiklah!" jawabnya.
Udara di luar terasa menusuk tulang saat Ratna berjalan keluar gang, rambutnya yang terurai di tiup angin hingga lehernya ikut merasakan dingin.
"Ah... kenapa langit pun begitu hampa?" gumamnya mencari-cari bintang atau bulan.
"Kau sedang apa disini?" tanya Jimy yang tiba-tiba datang.
"Oh, ayah menyuruhku membeli baterai. Kau sendiri mau apa?"
"Isi perut" jawabnya sambil masuk ke dalam toko.
Ratna masih berdiri di depan toko hingga Jimy selesai berbelanja.
"Kau mau?" tawar Jimy setelah selesai belanja.
Ratna menggeleng dengan lesu, jelas di mata Jimy ada yang salah dengannya.
"Apa kau sakit?" tanyanya yang di jawab gelengan lagi.
"Lalu kau kenapa? ku lihat akhir-akhir ini kau sangat lesu tidak seperti biasanya."
Awalnya ia ragu untuk menjawab, tapi di saat seperti ini saran Jimy sepertinya memang ia perlukan.
"Master! jika.... seseorang menyukaimu dan kau menyukainya juga tapi kau tidak ingin merusak pertemanan diantara kalian, lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Bisakah kau gunakan kalimat yang sederhana? aku tidak mengerti apa maksudmu!" ujar Jimy mengerutkan kening.
"Arrhhhhh... sudahlah lupakan saja!" bentak Ratna kesal.
"Ck, jika kalian saling suka lalu masalahnya dimana? kau hanya tinggal jalani saja hubungan itu!" ujar Jimy yang mengerti garis besar maksud Ratna setelah berfikir beberapa saat.
"Tapi master, lalu bagaimana cara menjalaninya?"
"Aish, jangan khawatirkan masa depan! hidup harus terus berjalan, jika kau takut untuk melangkah atau mengambil keputusan maka selamanya kau akan menyesal. Kau juga harus bahagia, cintailah dirimu sendiri dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, kau berhak untuk itu!" ujar Jimy.
Perlahan ada secercah cahaya yang membawa Ratna pada keputusan yang siap ia ambil, selama ini ia tak pernah berfikir untuk melakukan apa yang ia sukai sebab ia terbiasa melakukan apa yang orang lain perintahkan padanya.
__ADS_1
Diawali dengan perintah ibunya yang mewajibkan dirinya untuk mengikuti perintah ayah tirinya sebagai tanda hormat, kemudian perintah ibunya untuk mengikuti keinginan Sari sebagai tanda sayang keluarga.
Bahkan ia harus melakukan apa yang ia benci demi keinginan ibunya hanya demi hidup berkecukupan meski pada akhirnya kata masa depan yang cerah itu belum tentu ia dapatkan di keluarga barunya.
Mungkin, karena ibunya sadar bahwa masa depan yang cerah itu memang belum tentu maka dari itu ia di minta untuk kembali kepada ayahnya di akhir hayatnya. Kini ia sudah mengerti, apa pun yang terjadi nanti biarlah terjadi sebab yang utama adalah haknya untuk bahagia.
Setelah sampai di rumah segera tangannya bergerak mengambil bolpoin, merangkai sebuah kalimat di atas kertas yang mewakili isi hatinya.
"Maaf telah membuatmu menunggu" ujar Ratna pagi itu.
Sesaat sebelum mereka berangkat ke sekolah di serahkannya surat balasan kepada Amus.
"Oh ya, tidak apa-apa" jawab Amus pelan.
"Baiklah, aku pergi duluan" ujar Ratna tersenyum sebelum pergi.
Hhhhhhhh
Dibuangnya nafas berat yang tiba-tiba tertahan tadi, gemetar tangannya dengan hati yang berdebar memegang sepucuk surat yang baru ia terima. Bahkan kakinya enggan bergerak, hanya matanya yang masih memandang kepergian Ratna dengan mata yang memerah.
Pelajaran pertama di mulai sesaat setelah bel tanda masuk berbunyi, nampak suasana hati Ratna lebih baik bahkan seolah berbunga-bunga. Sesekali ia mencuri pandang kepada Amus sambil tersenyum, memperhatikan gerak gerik Amus yang terlihat lebih keren dari biasanya.
"Kau mencari sesuatu?" tanyanya melihat Amus yang mengecek tas dan mejanya.
"Kau bisa gunakan punyaku" tawar Ratna sembari menyodorkan benda itu.
Awalnya Amus terlihat ragu, tapi ia tetap mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Di jam istirahat seperti biasa mereka pergi ke kantin untuk memesan mie rebus, dengan sigap Ratna menyerahkan pesanan mereka bahkan menuangkan saus dengan takaran yang pas untuk Amus.
"Kau ingin sambal juga?" tanya Ratna.
"Um... ya, boleh" jawab Amus bingung atas sikap Ratna yang tiba-tiba baik.
"Hmm.... aku perhatikan dari tadi sepertinya ada yang berbeda darimu" ujar Ardi yang duduk tepat di depan Ratna.
"Apa?"
"Hmm...... "
Ardi merenung sejenak, memperhatikan setiap celah di wajah Ratna yang membuatnya tak nyaman.
"Ah.. kau memakai jepit rambut" tebak Ardi yang membuat semua mata ketiga sahabatnya menatap ke arah rambutnya.
"O-oh ini... ya... aku sudah lama ingin memakainya tapi ragu, apa ini tidak pantas ku pakai?" tanyanya gugup.
"Tidak juga! kau terlihat manis memakai itu" jawab Ardi.
__ADS_1
"Benar, kau terlihat seperti gadis baik-baik" ujar pula Jimy.
"Jadi selama ini aku bukan gadis baik-baik?" bentak Ratna.
"Kenyataannya memang seperti itu kan? kau memeras teman mu sendiri apa itu bisa di bilang baik"
Plak
Aw...
Erang Jimy sambil mengusap lengannya yang di tampar, perkelahian tak dapat dielakkan. Ratna terus menyerang meski Jimy sudah meminta ampun, ia berhenti saat melirik Amus yang tersenyum melihat tingkahnya dan itu membuatnya tersipu malu.
* * *
Biasanya Amus akan berkutat dengan komik atau bermain bola setelah pulang sekolah, ia memiliki banyak waktu senggang yang bisa habiskan untuk hal apa pun. Tapi hari itu, setelah sepucuk surat balasan ia terima bahkan untuk makan pun ia kehilangan selera.
Ia hanya mengurung diri di kamar sambil menatap surat itu, terbayang wajah Ratna yang berseri bahkan jepit rambut yang membuatnya terlihat semakin manis.
Dari ekspresi itu ia menebak mungkin jawaban Ratna adalah ya, di tambah dengan perhatian yang tiba-tiba Ratna tunjukkan.
Aaarrrhhh
Erangnya mengelus dada yang berdebar.
"Tapi... apa benar ia menyetujuinya? bukankah ini terlalu cepat mengingat ia baru pindah, bahkan ia masuk ke sekolah juga belum genap satu bulan. Apa seorang gadis memang mudah jatuh cinta?" gumamnya lagi sambil berfikir.
"Sudahlah, aku memang tidak berhak."
Amus memutuskan menyimpan surat itu di dalam tas sekolahnya, malam yang panjang ia lewati dengan mencoba memikirkan hal lain selain dari surat itu.
Dan keesokan harinya.
"Aish.... kau membuatku kaget saja!" bentak Amus saat ia keluar rumah dan menemukan Ratna sudah berdiri di sana.
"Selamat pagi" sapa Ratna sambil tersenyum manis.
"Oh, ah... ya.. selamat pagi... apa yang kau lakukan disini?" tanya Amus lebih kaget lagi melihat sikap Ratna yang tak biasa.
"Menunggumu!"
"Menungguku? ada apa?"
"Tidak ada! aku hanya ingin berangkat sekolah bareng denganmu saja" jawabnya.
'Kenapa?... kenapa bersikap seperti ini? jika begini terus bisa-bisa aku mati' batin Amus menatap lekat-lekat.
__ADS_1