
Hari-hari berjalan seperti biasa saja tanpa ada yang istimewa, namun hari itu saat Ratna bekerja di kedai ia mendapat tamu yang sudah cukup lama tidak ia temui. Dia adalah Mita, teman satu kelas yang kini jadi calon kakak ipar Jimy.
"Kau bekerja sangat giat, bukankah ini sudah tahun?" tanya Mita.
"Ya, tanpa terasa aku sudah melewati dua tahun dengan menjadi karyawan di sini. Lama-lama aku merasa kedai ini menjadi bagian dari diriku"
"Tentu saja, aku sengaja datang kemari untuk memberikan mu surat undangan" ujar Mita menyerahkan surat itu.
"Apa? surat undangan? apa kau memutuskan untuk menikah dini?" tanya Ratna kaget.
"Apa maksud mu? ini surat undangan dari SMP kita, ada acara reuni yang akan di laksanakan minggu depan"
"Oh.... aku pikir kau memutuskan untuk menikah dengan kak Angga"
"Jangan bercanda, mimpi ku masih panjang" jawab Mita.
"Oh ya, tolong berikan juga kepada Amus, Ardi dan Jimy. Aku tidak punya waktu untuk mengunjungi mereka satu persatu, masih banyak teman yang belum aku kunjungi"
"Baiklah serahkan saja padaku" ujar Ratna menerima surat undangan itu.
Tak berapa lama kemudian datang seorang gadis yang tidak Ratna kenal, rupanya dia adalah panitia penyelenggara acara reuni. Mita juga tergabung di dalamnya, oleh karena itu mereka janjian ketemu di kedai Ratna agar lebih mudah bertemu.
Karena Ratna murid baru waktu itu jadi dia hanya mengenal anak-anak yang satu kelas dengannya, ia tak begitu tertarik pada acara reuni tapi jika yang lain akan pergi maka dia juga pasti ikut.
"Kau sudah selesai membagikan surat undangannya?" tanya gadis itu kepada Mita.
"Mm, sudah semua. Bagaimana denganmu?"
"Belum, tinggal satu orang lagi. Namanya Jaya, rumahnya cukup jauh jadi aku agak malas mengantarkan suratnya"
"Maaf... apa Jaya yang kamu maksud itu adalah Jaya yang dulu satu tongkrongan dengan Amus?" tanya Ratna yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Benar, dulu dia terkenal bandel karena sering bolos. Ku dengar dia pun di keluarkan dari sekolahnya karena terkena masalah, sekarang aku tidak tahu dia sekolah dimana"
"Dia satu sekolah denganku, jika kau mau aku bisa berikan surat undangan itu kepadanya" tawar Ratna.
"Benarkah? wah suatu kebetulan sekali, tolong ya... " ujar gadis itu senang.
Ratna menerima surat undangan itu, ia senang bisa membantu pekerjaan orang lain jika hal itu memang tidaklah sulit. Sepulang bekerja ia juga langsung membagikan surat undangan itu kepada teman-temannya, mereka mengatakan akan datang karena memang mereka sudah rindu dengan teman-temannya yang lain. Oleh karena itu Ratna juga pasti akan datang memenuhi undangan.
Esok harinya ia membawa surat undangan untuk Jaya tapi hari itu ia tidak masuk sekolah karena ijin, entah ada keperluan apa Ratna tak tahu dan tak perduli juga. Ia memutuskan akan memberikannya besok saja, masih ada waktu jadi itu tidaklah masalah.
Tapi esok harinya Jaya masih tidak masuk sekolah lagi, hal ini membuatnya bingung sebab ia takut Jaya akan terus membolos dan surat undangan itu tidak sampai padanya. Saat itulah tiba-tiba seorang teman satu kelasnya berteriak.
"Ratna... ada yang mencarimu!"
Ratna menoleh dan melihat seorang murid kelas satu berdiri dengan wajah gugup, ia menghampiri dan anak itu terlihat semakin gugup hingga tak berani menatapnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Perkenalkan ini pacar baru Jaya, dia ingin melihat mantan Jaya makanya aku memanggilmu" ujarnya.
"Oh jadi kau pacar barunya?" tanya Ratna.
"E-eh... tidak seperti itu, aku.... aku hanya.... kebetulan lewat" sergah anak itu.
Padahal yang kenyataannya terjadi adalah beberapa hari setelah ia jadian dengan Jaya anak itu baru mengetahui kalau Jaya satu kelas dengan mantannya sewaktu di SMP, rasa penasaran mulai timbul di hatinya untuk mencaritahu siapa mantan Jaya itu.
Dari teman-temannya Jaya ia mengetahui nama Ratna, oleh karena itu ia sengaja mengintip ke kelas Ratna hanya untuk melihatnya. Saat melihat wajah Ratna yang cantik lalu tingginya yang proporsional rasa percaya dirinya menjadi hilang, jika di bandingkan dengan dirinya ia merasa kalah banding dengan Ratna.
Saat itulah teman Jaya melihatnya kemudian memanggil Ratna agar ia bisa melihat dengan jelas.
"Perkenalkan aku Ratna" ujar Ratna mengulurkan tangan.
"Ha-halo... aku Dea"
"Wah...nama yang lucu ya sangat cocok dengan mu" puji Ratna.
Dea baru tersenyum dan mulai berani menatap Ratna meski masih ada sedikit rasa takut.
"Ah benar juga, tunggu sebentar" ujar Ratna tiba-tiba.
Ratna masuk kedalam kelasnya dan mengambil surat undangan reuni, diberikannya surat itu kepada Dea sambil berkata.
"Ada acara reuni di SMP kami, sudah dua hari Jaya tidak masuk jadi aku belum menyerahkannya. Jadi bisakah kau bantu aku menyerahkan surat undangan ini? kau pasti akan bertemu dengannya kan?"
"Ba-baiklah" jawab Dea.
* * *
__ADS_1
Hari ketiga Jaya masuk ke sekolah seperti biasa, namun karena surat undangan itu sudah ia titipkan kepada Dea jadi Ratna tidak memberitahunya lagi.
Tiba di akhir pekan Ratna bersama teman satu gengnya pergi memenuhi undangan itu, Mita sebagai panitia menyambut kedatangan mereka di pintu masuk.
Acara cukup meriah dengan menghadirkan band lokal, terdapat juga suguhan makanan yang enak-enak. Ratna berbaur dengan orang-orang tapi lebih banyak membantu pekerjaan Mita sebab tak banyak teman yang ia temui di acara itu.
Dalam puncak acara terdapat doorprize yang memeriahkan suasana, keberuntungan sedang berpihak kepada Ardi sebab ia memenangkan satu botol parfum.
Hingga tanpa terasa acara pun selesai dan di tutup dengan pembagian suvenir berupa gelang dari manik-manik, Ratna dan kawan-kawan pulang bersama dengan menaiki mobil Jimy.
"Aku mau ke toko kaset dulu, kalian tidak buru-buru pulang kan?" tanya Jimy.
"Tidak, terserah kau saja" jawab Amus.
Jimy pun memutar mobil menuju toko kaset, sesampainya di sana Ratna juga ikut turun dan melihat-lihat kaset yang mau Jimy beli.
"Aku sudah mendapatkan apa yang aku cari, apa kau juga mau membeli sesuatu?" tanya Jimy.
"Tidak, baiklah ayo pulang" jawab Ratna.
Jimy pergi ke kasir untuk membayar sedang Ratna keluar duluan, saat itulah tanpa sengaja ia melihat Jaya tengah bersama Dea.
"Jaya.... " panggilnya.
Jaya dan Dea menoleh, menatap Ratna yang menghampiri mereka.
"Ku pikir kau kenapa kau tidak datang, rupanya kau sedang berkencan ya? ah... kau memang tipe pria yang lebih suka berduaan dengan pasangan" ujar Ratna.
"Apa maksud mu?" tanya Jaya bingung.
"Oh, jangan-jangan kau lupa ada reuni di SMP kita"
"Reuni? kapan?"
"Tentu saja hari ini, kau sudah mendapatkan surat undangannya kan?" tanya Ratna memastikan.
"Aku tidak menerima surat apa pun"
"Tapi... aku sudah memberikannya kepada Dea" ujar Ratna.
Mata mereka segera tertuju kepada Dea, dengan wajah muram Dea hanya bisa menundukkan kepala. Setelah menerima surat undangan itu Dea tidak mau Jaya pergi ke acara reuni sebab jika Jaya pergi maka ada kemungkinan Jaya akan terkenang masa pacarannya dengan Ratna.
"Dea pasti lupa, tidak apa-apa lagi pula tidak ada yang menarik dalam acara itu" ujar Ratna melihat mata Dea yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak lupa!" ujar Dea tiba-tiba.
Jaya dan Ratna menatap air mata yang mulai mengalir di pipi Dea, tiba-tiba Dea menarik tangan Jaya hingga mundur beberapa langkah demi menjauhi Ratna.
"Aku sengaja tidak memberitahu Jaya agar kau tidak punya kesempatan untuk mendekatinya lagi" ucap Dea sambil menunjuk.
"Apa maksud mu?" tanya Ratna heran.
"Kau tidak bisa menipu ku! kau sengaja mau membuatku marah dan berkelahi dengan Jaya agar kau bisa kembali pacaran dengannya kan?"
"Apa? tuduhan macam apa itu?" sergah Ratna.
"Pokoknya aku tidak akan membiarkan mu memiliki kesempatan" ujar Dea bersikukuh.
Ratna tersentak melihat tekad Dea yang kuat, matanya yang membara bukan karena cemburu tapi demi mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Bagi Jaya mungkin tindakan itu sangat kekanak-kanakan, tapi sebagai sesama wanita Ratna cukup mengerti.
Hahahaha
Tawa Ratna membuat Jaya dan Dea terheran-heran sebab tak ada yang lucu, mereka hanya terdiam sampai Ratna berhenti tertawa.
"Kau sangat beruntung, kau mendapatkan seseorang yang tidak hanya peduli padamu tapi sangat menjaga hubungan kalian" ujar Ratna.
Dengan santai Ratna berjalan mendekati Dea dan memegang tangannya.
"Apa kau tahu alasan di balik berakhir hubungan kami?" tanyanya.
"I-itu... aku tidak tahu"
"Karena aku tidak menghargai hubungan kami, karena itulah dia pergi dengan wanita lain dan aku menyalahkannya padahal aku lebih peduli pada tema laki-laki ku sendiri" jawabnya yang membuat Dea tercengang.
"Baiklah sampai jumpa" lanjut Ratna pergi begitu saja.
"Apa.... itu benar? alasan kenapa kalian putus?" tanya Dea setelah kepergian Ratna.
"Ya... "
__ADS_1
"Maaf, aku... cemburu pada kecantikannya. Aku pikir jika kalian terus bersama kau akan kembali jatuh cinta padanya" ujar Dea menyesal.
Tuk
Aw...
Dea mengusap jidatnya yang di sentil, tapi kemudian Jaya mengusap kepalanya dengan lembut.
"Meski dia cantik tapi sifatnya sangat buruk, jika aku mau berpacaran dengannya hanya karena cantik hubungan kami tidak mungkin berakhir" ujarnya yang membuat Dea tersenyum.
* * *
Langkah Ratna terhenti saat ia melihat Ardi duduk sendiri di luar rumahnya, seolah sesuatu sedang mengganggu pikirannya beberapa kali Ratna lihat ia memijit-mijit kepalanya.
"Kau sakit kepala?" tanya Ratna menghampiri.
"Oh kau sudah pulang"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ratna lagi.
"Menunggu mu pulang"
"Menunggu ku? ada apa?"
"Besok ada pertandingan futsal, aku ikut masuk tim Amus. Apa kau bisa datang untuk memberi kami semangat?" tanyanya.
"Entahlah, jika tidak menggangu waktu kerja ku sepertinya aku bisa datang"
"Pertandingan di mulai pukul delapan, itu selesai kau kerja kan?"
"Baiklah kalau begitu aku akan datang"
"Bagus.. "
Ratna mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi dan di balas dengan lambaian tangan oleh Ardi.
Ratna memenuhi permintaan Ardi dengan datang sambil membawa jus untuk mereka minum, Amus cukup kaget melihat Ratna datang sebab ia tak tahu jika Ardi mengundangnya tapi ia kemudian tak begitu menanggapi dan fokus pada pertandingan.
Pertandingan berjalan dengan lancar, seperti biasa tim Amus mendominasi permainan jika Ardi masuk dalam tim. Di babak pertama tim Amus menang dengan mencetak dua gol sedang lawan tidak berhasil melakukan satu gol pun.
Maju ke babak kedua tim Amus positif dapat memenangkan pertandingan itu dengan mudah, tapi rupanya lawan mereka punya tempramen yang buruk. Beberapa kali Amus di incar bahkan rusuknya di sikut dengan cukup keras hingga terasa sakit, hal itu terlihat jelas oleh yang lain tapi Amus tidak mau memperpanjang masalah.
Namun beberapa menit kemudian masalah yang lebih serius muncul, saat Amus berlari menggiring bola salah satu lawannya mencoba merebut bola tersebut.
Karena Amus cukup gesit ia selalu lolos hingga membuat lawannya kesal, dengan kasar Amus di pepet hingga jatuh dan satu detik kemudian salah satu lawannya yang lain tersandung kakinya hingga ikut terjatuh.
Itulah yang orang lain lihat tapi yang Amus rasakan lawannya itu sengaja menendang kakinya hingga cedera, sambil meringis kesakitan ia hanya mampu terbaring menunggu pertolongan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ardi menghampiri.
Jelas Amus tidak baik-baik saja, timnya memprotes tindakan tidak profesional itu dan mereka mendapat kartu kuning. Tapi itu tidak merubah apa pun bagi Amus, terpaksa ia harus duduk karena tak bisa ikut bermain.
"Apa masih sakit?" tanya Ratna melihat kaki Amus yang beri pereda nyeri.
"Tidak jika tidak digerakkan"
"Apa-apaan mereka, beraninya bermain curang" ujar Ratna kesal.
"Ini sudah biasa terjadi"
"Tapi tetap saja kan ini sangat keterlaluan"
"Sudahlah, tidak ada gunanya mengeluh" ujar Amus.
Tanpa adanya Amus tim mereka menjadi pincang, terlebih Ardi tak bisa konsen pada pertandingan melihat Ratna yang terus memberi perhatian kepada Amus. Ia menjadi menyesal telah meminta Ratna datang karena kini ia malah membuat kesempatan bagi Amus dan Ratna saling mendekat lagi.
Pertandingan hari itu selesai tanpa ada pemenangnya, tim lawan dan tim Amus sama-sama mencetak gol yang itu menjadikan pertandingan akan diulang di lain hari.
Amus pulang di bopong oleh kedua temannya sampai ke rumah, nenek yang melihat cucunya pulang dengan pincang tentu kaget dan khawatir tapi setelah menjelaskan bahwa itu hanya cedera kecil nenek pun bisa tenang. Ardi dan Ratna pamit pulang setelah memastikan Amus tidak butuh bantuan mereka.
"Ratna... " panggil Ardi sebelum mereka berpisah.
"Apa?"
"Jika... aku yang mengalami cedera apa kau juga akan memapahku dan membantuku?" tanya Ardi.
"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak, baiklah sampai nanti" ujar Ardi segera pergi dari sana.
__ADS_1
Ardi yakin Ratna memang akan bertindak hal serupa, tapi ekspresi khawatir yang jelas ada di wajahnya belum tentu akan ia lihat saat dirinya terluka.