Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 42 Mengulang


__ADS_3

Meski ujian nasional telah usai tapi bukan berarti mereka telah bebas, mereka harus tetap siaga jika sewaktu-waktu di panggil untuk kepentingan sekolah. Terlebih mereka harus menunggu untuk kelulusan, jika mereka lulus yang perlu mereka persiapkan hanya mendaftarkan diri ke SMA yang mereka inginkan, tapi jika tidak lulus mereka harus belajar lagi dan mengikuti ujian lagi.


"Ratna... " panggil Sapardi yang baru pulang.


"Ada apa ayah?" tanya Ratna menghampiri.


Wajah Sapardi terlihat gembira dengan senyum yang merekah, ditangannya terdapat bungkusan keresek yang di genggam dengan erat.


"Lihatlah!" ujar Sapardi membuka bungkusan itu yang ternyata isinya adalah sepatu.


"Saat ayah bekerja tuan rumah memberikan sepatu ini, dia bilang sepatunya masih baru tapi anaknya tidak mau memakainya karena kekecilan. Apa sepatu ini muat di kakimu?" tanya Sapardi selesai bercerita.


Ratna tersenyum dan segera mencoba sepatu itu, ternyata ukurannya pas. Ratna mencoba berjalan, merasakan kenyamanan sepatu itu.


"Sepatumu muat di kakiku" ujarnya.


"Baguslah, sepatu ini bisa kau pakai untuk pergi ke sekolah. Setelah ayah punya uang nanti akan ayah belikan agar kau punya dua pasang sepatu"


"Kenapa repot-repot? satu saja sudah cukup"


"Eh mana mungkin cukup, setelah SMA jam belajar mu bertambah belum lagi di tambah ekstrakurikuler. Kau harus punya dua pasang sepatu agar kakimu tidak lecet memakai sepatu yang sama selama seminggu" jawab Sapardi.


Saat ini, ia memang kekurangan uang. Mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan uang dan berhemat, tapi Ratna tak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian. Melihat perjuangan Sapardi ia menjadi bertanya-tanya mengapa dulu mendiang ibunya memilih bercerai demi menikahi pria kaya yang tidak berperikemanusiaan, apa gunanya kaya jika makan enak pun tidak nikmat.


"Ayah, aku membuat donat apa ayah mau mencobanya?" tanya Ratna.


"Tentu saja, mari kita makan" jawab Sapardi senang.


Waktu berjalan dengan cepat, murid-murid kelas tiga di panggil untuk untuk menerima surat kelulusan. Hari itu kecemasan mengerubungi hati Ratna sampai ia grogi, di sebuah ruangan pak kelapa sekolah memimpin jalannya acara dengan menyampaikan hal-hal yang perlu mereka perhatikan mulai saat ini.


Cukup panjang lebar pak kepsek bicara sampai murid-murid yang tidak sabar mulai kesal, akhirnya setelah menunggu sekian lama satu persatu murid di panggil untuk menerima surat itu.


Dalam hitungan ketiga mereka akan membuka surat itu secara bersamaan untuk melihat hasil ujian mereka, dengan penuh harap Ratna memejamkan mata. Berdoa agar ia mendapatkan apa yang ia harapkan selama ini, sang guru memimpin hitungan yang di ikuti oleh para murid.


Satu....


Dua....


Tiga...


Srek


Riuh teriakan menggema dalam ruangan itu, mereka saling berpelukan dan mengucapakan selamat. Wajah-wajah bahagia terpampang nyata di antara kumpulan murid itu, guru yang menyaksikan hal itu ikut berbahagia dan membiarkan mereka untuk beberapa saat.


"Untuk yang tidak lulus besok harus datang ke sekolah, sekian untuk hari ini" umum guru itu yang tak mau bicara panjang lebar.


"Apa kau lulus?" tanya Jimy.


"Tentu saja, bagaimana dengan mu?" jawab Ardi.


"Aku berhasil lulus, ah... ibuku pasti sangat bangga padaku. Bagaimana dengan mu?"

__ADS_1


"Kau bercanda, mana mungkin aku tidak lulus" ujar Amus.


"Lalu... dimana Ratna? aku tidak melihatnya"


"Kau benar, dia pergi kemana?" ucap Ardi.


Mereka pun memutuskan untuk mencari Ratna, tapi di seluruh ruangan itu Ratna tak ada di sana. Amus mencoba mencari keluar dan menemukan Ratna keluar dari rumah guru, ia hendak memanggil tapi tiba-tiba Ratna berlari.


Amus mencoba mengejar tapi saat ia melewati ruang guru tiba-tiba wali kelasnya keluar sehingga mereka bertabrakan.


"Ah, maaf Bu saya tidak sengaja" ujarnya.


"Apa yang kau lakukan? kenapa berlarian di lorong sekolah?"


"Saya hendak mengejar Ratna!" jawabnya.


"Sebaiknya... kau tidak perlu mengejarnya" jawab guru itu dengan ekspresi sedih.


"Kenapa?" tanya Amus heran.


* * *


Sebuah surat ia genggam dengan erat hingga tangannya memutih, air mata menitik sedari tadi dan tak mau berhenti. Dalam benaknya terbayang wajah sang ayah yang kecewa berat padanya, itu lebih menyakitkan dari saat mendiang ibunya meninggal.


Rasanya dadanya begitu sesak hingga sulit tuk bernafas padahal ia di ruang terbuka, angin sepoi pun bagai topan yang mampu membuatnya ambruk.


Ia bertanya-tanya mengapa semua harus terjadi, mengapa ia tidak seberuntung orang lain padahal ia tak pernah mengeluh dan selalu berjuang keras. Setiap malam ia belajar, setiap saat ia berusaha tapi tak membuahkan hasil yang ia inginkan.


Dalam genggaman tangannya itu sebuah surat menyatakan ia 'Mengulang' yang artinya tidak lulus secara gamblang, saat itu ia segera menemui wali kelasnya hanya untuk menanyakan apakah surat yang ia dapat itu benar.


Matanya yang tak bisa melihat dengan jelas akibat air mata menatap langit dengan senyum dan berkata.


"Apa kesalahanku hingga KAU menguji aku sedemikian rupa? pertama perpisahan dengan ayah, lalu saudari yang brengsek, lalu kepergian ibu dan sekarang apa yang harus aku katakan kepada ayah?"


Tak ada yang menjawab pertanyaan itu, hanya suara desiran angin yang menggugurkan dedaunan. Tangisannya perlahan semakin menjadi, disertai umpatan dan teriakan terus menerus hingga habis suaranya.


Saat senja telah berganti malam Ratna sadar ia tak bisa berada di sana terus, ayahnya pasti akan khawatir karena ia belum pulang juga.


"Persetan, memang kenapa aku harus takut? jika aku di hukum karena hal ini biarlah tubuhku mendapatkannya, aku sudah biasa menerima semua itu" gumamnya.


Sisi negatif dalam dirinya muncul kepermukaan demi menutupi kelembutan hatinya, sebisa mungkin ia berfikir akan di marahi atau di pukul dan untuk itu ia telah menyiapkan diri. Meski sebenarnya ia tahu Sapardi tidak akan pernah melakukan hal itu, yang ia takutkan bukanlah amarah melainkan wajah kekecewaan yang akan di tampilkan Sapardi kepadanya.


Ratna mencuci wajahnya dengan air mineral untuk menghapus bekas air matanya, setelah merapikan diri ia pun berjalan pulang. Semakin dekat jarak rumahnya semakin kencang degup jantungnya, keringat dingin bahkan mengucur dari keningnya.


Hingga ia sampai di depan pintu rumah, dengan menarik nafas panjang demi menghentikan tangannya yang gemetar ia pun menarik gagang pintu.


"Ayah... aku pulang!" teriak Ratna mencoba terdengar biasa saja.


"Oh kau sudah pulang, kenapa larut sekali? apa kau sudah makan?" tanya Sapardi.


"Mm, aku.... sepertinya akan langsung tidur" ujar Ratna yang tak mampu menunjukkan surat kelulusannya.

__ADS_1


"Baiklah, lagi pula ini sudah malam tidurlah dengan nyenyak" jawab Sapardi yang kemudian berjalan hendak kembali ke kamar.


"Ayah!" panggil Ratna yang tak bisa menahan lagi, ia tak mungkin menyembunyikan surat itu lebih lama lagi sebab pada akhirnya Sapardi pasti akan tahu.


Ia berjalan perlahan mendekati ayahnya, dengan tangan bergetar diberikannya surat itu tanpa bisa memandang wajah Sapardi.


"Apa ini?" tanya Sapardi.


"Surat... kelulusanku" jawab Ratna parau.


Ketika Sapardi mengambil surat itu dari tangannya Ratna hanya bisa menundukkan kepala bersiap menerima reaksi apa pun yang akan di tunjukkan ayahnya.


"Oh.... ya sudah, pergilah istirahat" ujar Sapardi membuat Ratna mengangkat wajah.


Ratna di buat terkejut melihat ekspresi ayahnya yang biasa saja.


"Ayah... aku tidak lulus" ujarnya memperjelas.


"Lalu?" tanya Sapardi.


"Ayah! beginikah ekspresi seorang ayah saat mengetahui putrinya gagal?" tanya Ratna bingung.


"Hei! siapa bilang kau gagal? di sini jelas tertulis MENGULANG bukan tidak lulus, artinya kau tidak sepenuhnya gagal" jawab Sapardi sambil memperlihatkan isi surat itu.


"Tapi tetap saja..."


"Aish.... kau ini benar-benar polos, sama seperti belajar berjalan ibumu akan menyuruhmu berdiri kemudian melangkahkan kaki. Pada saat itu kau tidak langsung bisa berjalan, kau terjatuh dan ibumu menyuruhmu untuk mengulanginya lagi sampai kau akhirnya bisa berjalan. Dalam ujian ini pun tak ada bedanya, di sini sudah jelas tertulis mengulang artinya kau harus mengulanginya sampai kau bisa. Jadi kenapa kau bersedih?" tanya Sapardi.


"Tapi.... teman-teman ku lulus"


"Memangnya kenapa? setiap manusia itu berbeda dan punya kelebihan masing-masing, jangan lihat mereka yang berhasil dengan mata putus asa. Kau hanya akan terpuruk dan itu tidak bagus, ayah tidak peduli jika kau bodoh sekali pun ayah tetap bangga padamu. Sebab putri ayah ini pandai mengurus rumah bahkan bisa mencari uang di usia yang sangat muda, tidak semua anak bisa melakukan hal yang sama seperti mu"


"Ayah.... " panggil Ratna sambil merangkul Sapardi.


Air matanya kembali terjatuh tapi kali ini air mata bahagia, ketakutannya sirna seketika bahkan ia kembali bersemangat.


Beberapa jam yang lalu Amus mengetahui bahwa Ratna tidak lulus dari wali kelas mereka, itulah mengapa ia di minta untuk membiarkan Ratna menyendiri dulu. Amus pun cukup terpukul atas berita ini, ia tak menyangka Ratna tidak lulus padahal ia tahu Ratna sudah bekerja keras selama ini.


Wali kelasnya pun menjelaskan tentang kemungkinan mengapa hal itu terjadi, ia juga di beritahu bahwa Ratna harus masuk ke sekolah setiap hari untuk mendapatkan pelajaran tambahan agar di ujian berikutnya ia bisa lulus.


Setelah obrolan yang panjang lebar itu Amus pun pamit pergi, ia memilih pulang ke rumah padahal awal rencananya ia akan merayakan kelulusan bersama teman-temannya. Saat sampai di rumah ia teringat nasib Ratna yang pasti tidak punya keberanian untuk mengatakan hal ini kepada ayahnya, ia pun berinisiatif memberitahu Sapardi demi Ratna.


Awalnya Sapardi sempat syok mendengar kabar ini, tapi dengan penjelasan yang di berikan Amus perlahan ia pun bisa menerimanya.


"Paman tidak perlu khawatir, Ratna bukan tidak lulus sepenuhnya. Dalam ujian ini lembar jawaban di periksa oleh komputer jadi bisa saja ini kesalahan komputer, sebab meski jawaban yang di berikan Ratna benar tapi caranya mengisi tidak rapih komputer tetap menganggapnya salah"


"Lalu bagaimana dengan masa depan Ratna?" tanya Sapardi yang belum sepenuhnya mengerti.


"Paman, Ratna akan melakukan ujian lagi. Ujian kedua inilah penentu kelulusannya, karena itu Ratna hanya perlu belajar lagi agar ia lulus dalam ujian yang ke dua ini. Lagi pula Ratna bukan satu-satunya yang tidak lulus, totalnya ada sepuluh murid yang tidak lulus bahkan salah satu diantara mereka adalah juara kelas"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, wali kelas kami yang memberitahuku. Bahkan beliau juga sudah menduga bahwa dalam tahun ajaran ini akan ada murid yang tidak lulus sebab penentu kelulusan hanya diambil dari ujian nasional saja. Sekarang yang perlu paman lakukan hanya terus mendukung Ratna, jangan beritahu dia kalau paman sudah tahu dari aku sebab itu akan membuatnya malu"


"Paman mengerti, terimakasih kau sudah mau memberitahu paman" ujar Sapardi sungguh-sungguh.


__ADS_2