
Amus kembali meski masa liburan masih tersisa lima hari lagi, setelah naik ke kelas tiga ia tidak ingin membuang waktu dengan bersantai seperti biasanya. Kepulangannya tentu di sambut ramai oleh teman satu gengnya yang menunggu oleh-oleh, malam itu juga tak perduli meski Amus masih lelah mereka berkumpul demi menikmati makanan yang Amus bawa.
Sambil menonton TV rumah Amus menjadi ramai seperti biasanya, tak ada yang berubah atau setidaknya belum.
Tiba waktunya dimana mereka harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah, di hari pertama masuk setelah libur panjang rasanya memang cukup malas terlebih mereka harus mengikuti upacara.
"Oh kau baru mau berangkat?" tanya Amus melihat Ratna yang baru keluar dari rumahnya.
"Mm, ini baru pukul setengah tujuh jadi aku masih punya waktu" jawabnya sambil berjalan menghampiri Amus.
"Kau mau ku antar?" tawar Amus.
"Tentu saja mau, aku bisa mengirit ongkos ku" jawab Ratna senang.
Mereka pergi dengan menaiki sepeda motor Amus, sampai di sekolah kebetulan Rere melihat lagi mereka berdua tanpa di ketahui Amus. Setelah Amus berpamitan kemudian pergi barulah Rere menghampiri Ratna.
"Kalian dekat lagi?" tanya Rere.
"Apa maksud pertanyaan mu? sejak kecil kami sudah dekat"
"Jelas yang ku maksud bukan hubungan itu" ujar Rere menekankan ucapannya.
"Dia hanya mengantar ku saja, tidak ada yang spesial dari hal itu" jawab Ratna.
Rere mendengus kesal sebab Ratna berlalu meninggalkannya, dengan berlari kecil ia pun mengejar hingga sampai di sekolah. Karena ini adalah hari pertama mereka masuk maka sepanjang hari jam pelajaran kosong sebab masih banyak yang harus di urus guru seperti jadwal pelajaran, kelas dan lainnya.
Ratna dan Rere masuk ke kelas baru mereka dan kembali mengambil bangku yang dekat dengan pintu, kali ini mereka juga tetap berdekatan seperti biasa dan di pilih menjadi sekertaris dan bendahara lagi.
"Tidak terasa kita sudah jadi kelas tiga ya.. " ujar Rere.
"Mm, rasanya waktu berjalan sangat cepat" sahut Ratna.
"Hei Rere, Ratna! kalian mau gabung bersama kami?" tanya salah satu teman sekelas mereka.
Melihat teman-teman perempuan mereka berkumpul semua maka Ratna dan Rere memutuskan untuk bergabung, untuk pertama kalinya mereka berkumpul semua dan mengobrol.
"Kira-kira wali kelas kita nanti siapa ya?" ujar salah seorang dari mereka.
"Aku harap semoga pak Broto, meski keliatannya galak tapi katanya dia sangat memanjakan muridnya"
"Aku malah ingin bu Ina yang menjadi wali kelas kita, dia sangat cantik dan modis"
"Aku tidak setuju!" ujar salah satu teman Ratna dengan tegas.
"Eh... kenapa?" tanya yang lain heran.
"Soalnya... anak-anak cowok pasti menyukainya.. walau bukan wali kelas saja mereka suka membicarakan tentang bu Ina"
Hahahaha
"Jangan-jangan kau iri pada bu Ina ya? yah... dia memang bukan saingan kita sih!"
"Tidak seperti itu!"
"Ah atau jangan-jangan cowok yang kamu taksir menyukai bu Ina jadi kau marah"
"Itu tidak benar!"
"Ngomong-ngomong soal cowok yang di taksir, bukankah kelas kita termasuk memiliki deretan cowok yang cukup populer" ujar Rere tiba-tiba.
Seketika para gadis itu menatap anak laki-laki di dalam kelas, mata mereka penuh jeli melihat tinggi, wajah dan postur tubuh yang ideal.
"Kau benar, ketua kelas kita cukup keren dan pintar. Selain itu kita punya Ega yang ahli di bidang tari, Deni ahli olahraga, Wira dia tidak punya keahlian yang spesifik tapi wajahnya memang tampan lalu Aris juga keren dan cukup populer"
"Jika di perhatian Jaya juga lumayan, dia punya postur yang tinggi sayangnya dia anak bandel"
"Ngomong-ngomong soal Jaya sampai sekarang aku masih penasaran dengan hubungan kalian di masa lalu, yah... meski aku sudah mendengar bagaimana kisahnya"
"E-eh.... " erang Ratna yang tidak tahu harus bagaimana.
Yah.. semua orang sudah mengetahui bahwa dia dan Jaya pernah berpacaran, hal itu justru di beberkan oleh mereka berdua. Jika mengingat hari itu terkadang Ratna merasa malu, tapi nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula kini Jaya sudah punya pacar baru dan tidak ada hubungan dengannya lagi kecuali teman satu kelas.
"Hei Ratna! apa yang membuatmu menyukainya?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Eh.. itu.... " entah Ratna harus menjawab apa karena yang sebenarnya terjadi adalah kesalahpahaman.
"Dia memang anak yang bandel" ujarnya.
"Saat SMP dulu, aku memergokinya sedang merokok. Aku mengancamnya akan memberitahu guru dan dengan panik ia memberiku uang tutup mulut, tentu saja aku menerima uang itu. Setelah itu kami jadi lumayan dekat dan tiba-tiba dia mengirim surat cinta padaku"
Eeehhh....
"Ja-jaya mengirim surat cinta?"
"Sungguh di luar dugaan" ujar yang lain menambahkan.
Tentu tak ada yang mengira di balik sifatnya yang nakal ternyata dia bisa romantis juga, tapi mungkin memang hanya berlaku pada orang yang dia cintai.
"Ah... tapi dia orangnya penuntut, kalian tahu sendiri itu adalah alasan ku putus dengannya" ujar Ratna.
Mereka mengangguk.
"Tak bisa di percaya jika Jaya ternyata orangnya seperti itu, tapi jika di pikir lagi aku juga tidak sempat kaget saat tahu sifat aslimu"
"Apa?" tanya Ratna bingung.
"Kita sudah satu kelas dari kelas satu, aku pikir kau orangnya pendiam tapi saat melihat mu membela Rere bahkan kau berani menantang satu kelas di mataku kau sangat keren" ujarnya.
"Hehe begitu ya... " ujar Ratna sedikit malu.
"Jika di pikir lagi aku juga kaget waktu itu, kau sangat berani menantang semua orang sampai tidak ada yang berani padamu" ucap pula Rere.
"Saat baru mengenal mu ku pikir kau juga anak yang pendiam, di kelas kau hanya bergaul dengan Rere saja juga tidak banyak bicara. Makanya saat mendengar kalau waktu kelas satu kau adalah yang paling galak aku tidak percaya, sekarang satu tahun kita sudah sekelas aku merasakannya sendiri" tambah yang lain.
"Kesannya aku sangat mengerikan" keluh Ratna.
__ADS_1
Hahahaha
Yang lain tak dapat menahan tawa melihat ekspresi Ratna yang lucu, satu tahun mereka telah bersama setelah dipersatukan dalam satu kelas dari usul yang berbagai kelas berbeda.
Semenjak naik kelas dua teman-teman satu kelasnya lebih bisa pengertian sehingga Ratna tidak pernah mengamuk parah seperti yang dia lakukan di kelas satu, kini kebersamaan mereka tinggal satu tahun lagi dan Ratna ingin membuat banyak kenangan yang menyenangkan agar bisa ia ingat nanti.
Satu hari itu berlalu dengan menghabiskan waktu mengobrol, Ratna tak menyangka hanya dengan melakukan itu ia bisa tahu sifat-sifat asli teman-temannya bahkan rahasia percintaan mereka sekaligus.
Satu pekan pun berlalu, kini mereka sudah belajar seperti biasa. Namun di hari yang panas itu murid-murid perempuan berkumpul di barisan paling belakang untuk bergosip, karena penasaran Ratna ikut bergabung.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Kau sudah lihat? ada guru baru di sekolah kita"
"Guru baru?"
"Ya, dia baru masuk hari ini. Di masih muda dan tampan entah dia akan mengajar apa tapi ku harap dia mengajar di kelas kita"
"Mungkin dia hanya mahasiswa yang magang" ujar Ratna.
"Jika benar harusnya dia pakai jas almamaternya, tapi dia memakai kemeja dan jas biasa"
"Ada guru..... " teriak seseorang.
Dengan panik Ratna dan teman-temannya yang lain segera membubarkan diri, mereka cepat duduk di kursi masing-masing. Seorang guru masuk ke dalam kelas, baru satu langkah saja tapi semua mata memandangnya dengan takjub.
"Selamat siang anak-anak, perkenalkan nama bapak Wayudi. Kalian bisa panggil pak Wahyu saja, mulai sekarang bapak akan mengajar di kelas kalian sebagai guru kesenian" ujarnya memperkenalkan diri.
"Eh, pak.. maaf tapi guru kesenian kami bu Ira" ucap Ratna tiba-tiba.
"Bu Ira di pindahkan ke sekolah lain, jadi bapak datang sebagai penggantinya"
Ooooohhh....
Seru anak-anak itu, mereka tentu tidak keberatan sebab guru kesenian yang baru adalah orang yang mereka gosipkan barusan. Ia memang tampan dan punya sifat yang lembut, meski baru beberapa menit ia di kelas Ratna sudah bisa merasakan kepopulerannya.
"Baiklah karena ini hari pertama bapak mengajar bagaimana kalau kita berkenalan dulu, bapak akan absen kalian" ujarnya.
Rere menyerahkan buku absen sehingga pak Wahyu bisa mulai berkenalan dengan para murid sesuai urutan absen yang tertera.
"Untuk pelajaran pertama bapak ingin kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama, siapa yang biasanya menjadi Dirigen?"
"Ratna..... " teriak murid-murid itu.
"Baiklah yang namanya Ratna silahkan maju ke depan kelas dan pimpin yang lain" perintahnya.
Ratna bangkit dari kursinya, setelah berdiri tepat di depan kelas ia pun menarik tangannya ke atas dan menghitung.
Satu, dua, tiga.
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Pok Pok Pok
"Bagus, kalian menyanyikannya dengan penuh khidmat dan penghayatan. Ratna silahkan kembali ke kursi mu" ujar pak Wahyu.
Ratna kembali duduk di kursinya, pak Wahyu pun menjelaskan sangat penting menghayati sebuah lagu sebab banyak makna terkandung di dalamnya bahkan pelajaran yang bisa di petik dari sana.
__ADS_1
"Sebuah lagu bisa di sebut sarana untuk mengekspresikan perasaan, seperti lagu Indonesia Raya yang menggambarkan kebanggaan dan cinta tanah air. Selain dari lagu ada juga sajak, puisi dan pantun, baiklah siapa yang mau membacakan puisi di depan kelas?" tanyanya.
"Ratna.... " teriak anak-anak itu lagi.
"Eh kenapa Ratna lagi?"
"Itu karena Ratna dua kali juara pertama dalam lomba baca puisi" jawab salah satu murid.
"Oh begitu rupanya, baiklah Ratna kau mau membacakan puisi untuk kami?" tanyanya.
Ratna tak ada pilihan lain, ia kembali bangkit dan berdiri di depan kelas. Pak Wahyu memberinya sebuah buku kumpulan puisi, disuruhnya ia membacakan puisi yang paling terkenal.
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang ******
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Pok Pok Pok Pok
Sekali lagi pak Wahyu bertepuk tangan untuk Ratna.
"Wah wah wah... pantas kamu juara pertama terus, caramu membacakan puisi sangatlah bagus" pujinya.
"Terimakasih pak"
"Baiklah silahkan duduk kembali" ujarnya.
Ratna mengembalikan buku yang di berikan pak Wahyu kepadanya sebelum ia kembali duduk, pelajaran pun berlanjut hingga jam pelajaran itu usai.
Sebelum pak Wahyu keluar ia memberikan tugas kelompok, dia ingin melihat siswa-siswinya dalam hal kreatifitas. Selain itu ia juga ingin melihat hubungan sosial yang terjalin di kelas itu, maka dengan sengaja ia berkata.
"Kalian boleh membuat apa pun sesuai kemampuan kalian, entah itu menampilkan drama, paduan suara atau kalian juga boleh membuat seni gambar atau anyaman. Bapak akan buat kelompoknya, tapi sebelum itu mari kita tentukan dulu siapa ketua kelompoknya"
"Ratna... " teriak anak-anak itu sekali lagi yang membuat Ratna kini menjadi muak.
Hahahaha
"Sepertinya Ratna sangat populer ya, tidak adakah nama lain di pikiran kalian selain Ratna?"
"Habisnya Ratna sudah biasa mengatur kami, dia yang paling galak dan tidak ada yang berani melawan" celetuk salah seorang murid.
"Begitu ya" ujar pak Wahyu sambil melirik Ratna, tapi Ratna terlihat tidak peduli.
"Baiklah Ratna, pilih lima teman yang akan kamu ajak dalam kelompok kamu" perintahnya.
Tanpa berfikir lama atau menengok ke sekeliling kelas Ratna langsung menjawab.
"Rere, Jaya, Sonu, Adinda dan Rian"
"Kenapa kamu memilih mereka?"
"Karena semua kaya, jadi aku tidak perlu pusing masalah biaya"
"Ah... benar-benar dasar gadis dolar! dari dulu kau tidak pernah berubah" hardik Jaya.
"Jangan protes, seharusnya kau senang karena ku pilih sebab hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk tim ku"
"Kau hanya memilih berdasarkan kekayaan seseorang, dasar tidak berperikemanusiaan!"
"Itu karena aku sudah miskin! jika aku kaya pasti aku akan memilih orang-orang yang berbakat, lagi pula di sini kita saling menguntungkan ingatlah selama ini siapa pun orangnya tim ku selalu mendapatkan nilai yang bagus"
"Hentikan! dari pada kalian berkelahi bagaimana kalau kau mengganti Jaya dengan ku?" tanya seorang murid laki-laki.
"Tidak mau, rumah mu yang paling jauh itu sangat merepotkan"
"Bagaimana dengan ku?"
"Tidak... kau selalu datang terlambat"
"Aku saja!"
"Tidak!"
"Ah... selalu seperti ini.. " gumam Rere.
Pak Wahyu sadar hampir semua murid laki-laki di sana ingin satu kelompok dengan Ratna, jika di lihat dari fisik Ratna tidaklah secantik itu maka yang membuat mereka teramat ingin pasti dari segi kenyamanan.
Baru dua jam ia mengajar dan sudah bisa melihat Ratna adalah yang paling menonjol, di tambah pengakuan salah satu murid ia semakin yakin sifat Ratna yang bisa memimpin.
Dengan sifat ini jika ia menjadi ketua tak hanya pintar menyeleksi orang sesuai kebutuhan tapi ia juga teguh pendirian, ia tidak perduli meski Jaya menentang tapi rasanya ia punya kepercayaan diri.
Dengan senyum penuh arti pak Wahyu mengakhiri perdebatan itu dengan mengatakan keputusan yang diambil Ratna adalah mutlak, maka tidak bisa diganggu gugat.
__ADS_1