Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 75 Pilihan Masa Depan


__ADS_3

April 2013 murid-murid kelas tiga mulai di panggil satu persatu oleh wali kelas mereka, hari itu pun Ratna akhirnya mendapat giliran untuk di panggil. Ia masuk ke dalam ruangan dan duduk tepat di hadapan wali kelasnya, awalnya ia di beri pertanyaan seputar keluarganya sebelum masuk pada inti pembicaraan.


"Apa kau sudah memutuskan fakultas mana yang akan kau pilih?" tanyanya.


"Itu... sebenarnya saya memilih untuk melanjutkan ke fakultas mana pun, setelah lulus saya berencana untuk mencari pekerjaan"


"Begitu ya, seandainya jika kamu mendapatkan beasiswa apa kau akan mengambilnya atau tetap memilih opsi pertama mu?"


"Entahlah, sepertinya aku tetap akan mencari pekerjaan"


"Kau adalah salah satu murid terbaik yang ibu punya, public speaking mu bagus dan kau juga kreatif. Ibu merasa akan sayang jika kamu langsung terjun ke masyarakat begitu saja, tapi kembali lagi semua pilihan ada di tangan mu. Ibu hanya bisa mengatakan apa pun yang jadi pilihan mu ke depannya nanti kau tidak menyesal, karena itu sangat penting menentukannya dari sekarang"


"Aku mengerti"


"Dan masalah biaya untuk ujian nanti serta SPP mu yang terlambat dua bulan ibu sudah mengajukan keringanan kepada kepala sekolah, dan hasilnya kau di bebaskan atas segala macam biaya"


"Apa? benarkah Bu?" tanya Ratna tak percaya.


"Iya, karena itu jangan buat ibu malu. Kau harus lulus dengan nilai yang bagus"


"Aku pasti akan berusaha" ujar Ratna tegas.


"Baiklah berikan surat ini kepada ayah mu, kau boleh kembali ke kelas sekarang"


"Baik bu, terimakasih" jawabnya sambil membawa surat itu.


Tentu ia sangat senang mendapatkan bantuan dari sekolah, tapi kini ia memikul tanggung jawab yang sangat berat. Baginya yang sulit memahami pelajaran les dari sekolah saja tidaklah cukup, maka dari itu ia mencoba menghubungi Angga untuk di mintai tolong.


Waktunya tidaklah banyak sampai ujian nasional di adakan, beruntung Angga mau memberikan les gratis untuknya. Bahkan ia juga memberikan les gratis itu untuk yang lain juga, seperti mengulang yang telah lalu teman masa kecil itu dan Mita datang ke rumah Jimy untuk mendapatkan pelajaran tambahan di akhir pekan.


"Kau semakin cepat belajar, hampir semua jawabannya benar" ujar Angga setelah mengecek buku Ratna.


"Di banding matematika bagiku fisika dan kimia lebih sulit, karena itulah aku memilih jurusan IPS" jawab Ratna.


"Kakak hanya bisa mengajari pelajaran ini saja, untuk pelajaran IPS yang lain seperti ekonomi dan akutansi kau harus belajar sendiri"


"Baik aku mengerti"


"Ah.... aku tak menyangka kau akan cepat belajar, rasanya aku seperti di tinggalkan" ujar Jimy.


Hahahaha


"Salah mu, makanya kau harus belajar lebih keras lagi" celetuk Ratna.


"Sebodoh apa pun seseorang jika berusaha dengan keras pasti akan berhasil juga" ujar Angga.


"Tujuan ku adalah lulus dengan nilai yang tinggi, dengan begitu aku pikir bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi" sahut Ratna.


"Itukah alasan mu belajar dengan keras?" tanya Angga yang di jawab dengan anggukan.


"Bagaimana dengan kalian? apa yang akan kalian lakukan setelah lulus nanti?"


"Kalau aku sudah pasti mengincar beasiswa, aku ingin melanjutkan ke fakultas dan menjadi karyawan kantor seperti biasa. Jika tidak mungkin aku akan membuka kedai seperti paman Hamdani" jawab Ardi.


"Bagaimana dengan mu?" tanya Angga kepada Amus.


"Ah.. aku sudah memutuskan akan kuliah di bekasi, aku sudah berdiskusi dengan kedua orang tua ku dan kami sepakat untuk tinggal bersama di rumah ibu"


"Apakah itu alasannya nenek pergi? apa mulai sekarang nenek sudah tinggal di sana?" tanya Ratna.


"Ya, aku akan menyusul nanti setelah kelulusan"


"Itu artinya.... kau akan pergi meninggalkan kami?" tanya pelan.


Amus terdiam menatap semua temannya yang menunggu jawaban darinya, dari mata mereka jelas ada rasa penasaran yang tak bisa di tutupi.


"Sayang ya, setelah lulus aku akan tinggal di sana dengan keluarga ku" jawabnya.


"Kenapa kau baru bilang sekarang? sialan! kau anggap kami ini apa?" hardik Jimy.


"Maaf, aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahu kalian"


"Dasar! jika tidak di tanya apa kau akan pergi seperti maling? tanpa memberi tahu kami" omel Jimy.


"Lebih tepatnya.... kau akan pergi setelah lulus atau setelah acara perpisahan sekolah mu?" tanya Ratna memastikan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, kita lihat saja nanti" jawab Amus pelan.


Ada rasa sakit yang begitu perih, seolah seseorang telah menancapkan panah di hatinya. Ratna mencoba berfikir jernih, bertahan dalam rasa sedih yang mendalam.


Berita itu memang bagai pukulan besar baginya, tanpa bisa mengatakan isi hatinya kini ia akan di tinggalkan begitu saja tanpa tahu kapan akan bisa bertemu lagi.


Kenangan yang selama ini telah terbentuk bersama Amus membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak, ia berharap itu hanya lelucon dan Amus tetap berada di sana bersamanya.


Tapi Amus bukanlah orang yang suka memainkan lelucon seperti itu, sebagai sahabat seharusnya ia senang karena Amus bisa hidup dengan keluarganya. Tapi rasanya ia tak siap akan perpisahan itu.


"Kau baru pulang?" tanya Amus di malam itu.


"Ya, selesai les aku pergi ke toko buku jadi baru pulang"


"Kau sangat berusaha keras rupanya"


"Aku ingin mengubah nasib keuangan ku"


"Begitu ya, um... aku punya soda kau mau?" tawar Amus.


Ratna mengangguk dengan senang, ia pun berjalan mengikuti Amus dan masuk ke dalam rumahnya. Selain soda Amus juga menyuguhkan beberapa cemilan ringan kepadanya.


"Jadi orang kaya itu enak ya, kau punya banyak cemilan yang enak"


"Yang kaya orangtuaku"


"Tetap saja kau bisa mendapatkan apa yang kau mau dengan mudah, ngomong-ngomong nanti kau ingin bekerja di mana? apakah kau akan mengikuti jejak salah satu orangtua mu?"


"Sepertinya tidak, sebenarnya aku ingin menjadi masinis"


"Kenapa masinis?"


"Karena rasanya pasti menyenangkan bisa naik kereta setiap hari"


"Alasan konyol, tapi pekerjaan itu bagus juga"


"Bagaimana dengan mu?"


"Satu-satunya tempat yang bisa ku tuju hanya pabrik, jika tidak supermarket. Yang mana saja tidak masalah yang penting gajinya cukup membiayai hidupku dan ayah"


Sejenak mereka terdiam, memikirkan masa depan yang tinggal selangkah lagi. Setelah lulus mereka bukan lagi anak remaja melainkan remaja yang siap menjadi dewasa, setelah ini hidup mereka benar-benar akan berubah.


Banyak orang yang setelah bekerja sangat iri melihat anak-anak SMA, mereka ingin kembali lagi pada masa dimana kebebasan adalah hal yang bisa mereka dapatkan dengan mudah. Tanpa beban pikiran dan tanpa tanggung jawab yang terpukul di pundak.


"Jadi... bukankah kita harus mengadakan pesta sebelum kau pergi?" tanya Ratna.


"Alasan yang bagus untuk mendapatkan makanan" ujar Amus seraya tersenyum.


Ratna ikut tersenyum dan mereka pun kembali terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Amus... aku pasti akan merindukan mu, apa... aku bisa memberimu alasan agar kau tidak pergi?" tanya Ratna pelan yang membuat Amus meragukan keputusan yang telah ia ambil.


* * *


Harusnya ia fokus pada buku yang terbuka di atas meja, tapi kegelisahan itu terlalu besar hingga merusak konsentrasinya.


"Ratna!" panggil Rere.


"Hah? ada apa?"


"Kau mau pergi UKS? wajah mu terlihat pucat"


"Tidak apa-apa, aku hanya kurang tidur semalam"


"Astaga... itu tidak baik, sebentar lagi kita akan ujian nasional jadi kau harus sehat terus"


"Aku tahu" jawab Ratna.


Ia kembali memandang buku dan mencoba belajar kembali, tapi pikirannya tetap tak bisa fokus pada pelajaran itu.


"Re, sebenarnya... aku ingin meminta saran padamu" ujarnya pelan.


"Apa?" tanya Rere.


Ratna sedikit menimbang sebelum ia memutuskan untuk bercerita, tapi keresahan di hatinya terlalu menganggu dan ia berpendapat akan merasa baikan jika mengutarakannya. Ini mengenai kepindahan Amus yang pernyataan cintanya yang belum sempat ia utarakan, ia takut tidak akan bertemu lagi dengan Amus.

__ADS_1


"Kalau begitu beritahu dia" ujar Rere.


"Tapi... dia tidak menyukaiku, jadi untuk apa aku mengatakannya?"


"Ah kau ini membingungkan sekali, ini demi perasaan mu agar tidak menyesal. Tidak masalah jika dia menolak mu toh dia akan pergi sehingga kau tidak perlu merasa canggung, yang penting hatimu merasa lega karena telah mengutarakannya" ujar Rere.


"Kau benar, baiklah aku akan mengatakannya nanti"


"Itu lebih baik" jawab Rere.


Setelah sebuah keputusan dia ambil akhirnya ia bisa fokus kembali pada pelajaran, selain menyatakan perasaan yang harus dia fokuskan tentu adalah nilai tinggi di ujian nasional nanti.


Ratna memutuskan akan menyatakan perasaannya setelah ujian nasional selesai, sebab konsentrasinya tidak boleh terganggu oleh hal apa pun.


Ratna dan Rere berpisah setelah les selesai, dengan berjalan kaki Ratna menyusuri trotoar hingga menemukan angkutan umum.


Esok harinya saat jam bebas ketua kelas mereka memiliki ide untuk acara perpisahan yang akan di laksanakan tak lama setelah kelulusan, ia memperlihatkan sebuah desain pakaian yang ia rancang sendiri.


"Ku punya ide bagaimana jika kita membuat seragam batik untuk kita pakai di acara perpisahan nanti, aku sudah membuat desainnya jadi kita tinggal tentukan motif dan warnanya saja" jelasnya.


"Itu ide yang bagus, pasti menyenangkan memakai pakaian yang sama di hari istimewa itu" sahut seseorang.


Yang lain setuju tanpa memberi saran apa pun lagi, maka dari itu ketua kelas telah menyerahkan tugas mengumpulkan uang kepada Ratna dan masalah belanja bahan kainnya akan dia urus sendiri.


Satu kelas itu telah sepakat dan menjadi tak sabar akan seperti apa pakaian batik itu jadinya, Ratna pun sama antusiasnya karena ia merasa akan punya sesuatu yang bisa dia kenang nantinya.


Hari terus berganti dan les masih terus berlanjut selama sebulan lamanya, Ratna benar-benar fokus pada belajar tanpa lupa untuk menjaga kesehatan. Di akhir pekan pun ia masih mengikuti les gratis yang di berikan Angga, namun minggu ini seorang kerabat bertamu sehingga ia tak bisa mengikuti les.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, kini kau sudah besar bahkan akan lulus SMA" ujar wanita itu.


Dia adalah bibinya, adik dari mendiang ibunya yang mengantar Ratna ke terminal bis saat ia memutuskan untuk pergi ke rumah Sapardi. Itu adalah kali terakhir ia bertemu dengan bibinya, setelah hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi hingga sampai saat ini tiba-tiba ia berkunjung.


"Yah.. waktu memang terasa cepat berlalu" ujar Sapardi.


"Jika aku boleh tahu ada keperluan apa sampai bibi mau datang kemari?" tanya Ratna serius.


Meski ia adalah bibinya tapi Ratna kurang suka padanya, itu karena ia adalah salah satu orang yang menentang pernikahan antara ibu dan ayahnya hanya karena ayahnya miskin. Bibinya juga ikut andil dalam perceraian kedua orang tuanya dan pernikahan kedua ibunya dengan ayah tirinya.


Sebenarnya bibinya cukup baik, hanya saja ia terlalu perhitungan dan suka ikut campur. Itulah alasan kenapa saat ibunya meninggal bibinya menyerahkan tanggung jawab menjaga Ratna kepada ayah tirinya, karena ia tidak mau keluar uang demi keponakannya sendiri sebab baginya mengurus dua anaknya saja sudah cukup merepotkan.


"Ah begini... kau kan sebentar lagi akan lulus, artinya kau sudah siap bermasyarakat. Bibi punya rencana akan membuka toko kelontong, untuk itu bibi butuh orang untuk menjaga dan menjalankannya"


"Lalu?" tanya Ratna.


"Setelah lulus nanti sebaiknya kau ikut bibi saja, kau akan tinggal bersama bibi sehingga tidak perlu keluar uang untuk sewa"


"Bagaimana dengan bayarannya?"


"Untuk masalah itu sebenarnya toko ini adalah perjanjian bisnis dengan teman, jadi toko ini bukan milik bibi sepenuhnya. Sebenarnya gaji di toko kelontong itu kecil, tapi kau tidak perlu risau akan masalah itu sebab teman bibi orang yang baik dia pasti akan mencukupi segala kebutuhan mu" jelasnya.


Entah mengapa Ratna merasa curiga, seolah ada sesuatu yang di sembunyikan oleh bibinya itu.


"Apakah teman bibi itu masih muda?" tanyanya.


"Benar, dia muda dan tampan. Ada banyak sekali gadis yang mengejarnya, dia juga sudah mapan dan baik hati" jawab bibinya antusias.


Kini Ratna tahu apa yang membuatnya curiga, bibinya sedang mencoba menjodohkan dirinya dengan temannya.


"Bagus, kalau begitu dia bisa pilih gadis mana pun yang dia suka" ujar Ratna.


"Memang, tapi dia cukup kesulitan mencari pendamping hidup. Dia ingin gadis yang pintar mengelola uang sebab semua harta yang dia miliki akan dia berikan kepada istrinya, siapa pun yang terpilih sungguh dia wanita yang beruntung"


"Kalau begitu kenapa bibi tidak mencalonkan diri saja?"


"Apa maksud mu? kenapa bicara seperti itu kepada bibi mu sendiri?"


"Maaf, tapi aku sudah memilih masa depan ku sendiri. Aku punya ijazah dengan tamatan SMA, aku bisa bekerja di tempat yang lebih baik dengan gaji yang cukup tinggi. Aku tidak akan menyia-nyiakan ijazah ku hanya untuk melayani orang yang belum tentu bisa membahagiakan ku" jelas Ratna.


"Ratna... masa depan mu akan terjamin jika memilih pria yang mapan, seharusnya kau dengar nasehat bibi agar kau tidak menyesal seperti mendiang ibumu"


"Cukup!" teriak Ratna kesal saat mendiang ibunya terseret dalam obrolan yang memuakkan.


"Andai ibuku mengikuti kata hatinya tidak mungkin dia meninggal dalam penyesalan, aku yang ada di sampingnya dan menjadi saksi atas penderitaannya. Karena itu aku tidak akan mengambil langkah yang salah demi masa depan ku, bibi bisa pulang sekarang karena pembicaraan kita telah berakhir" ujar Ratna dingin.


Sejenak bibinya menatap dengan tajam, mencoba meluluhkan hati Ratna yang keras. Tapi semakin lama ia memandang mata itu semakin ia tersadar bahwa gadis yang berdiri di hadapannya adalah seorang piatu dengan tekad kuat.

__ADS_1


__ADS_2