
Yati dan Wijaya masih tinggal untuk beberapa hari lagi, mereka adalah karyawan teladan apalagi Yati yang jarang mengambil cuti. Kesempatan ini mereka manfaatkan untuk berkumpul bersama, setelah nenek sembuh Wijaya memberi ide untuk makan di restoran keluarga Jimy.
Yati yang sudah lama tidak bersantai menyetujui hal itu, sontak kedatangan keluarga Amus mengagetkan orangtua Jimy. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan tamu istimewa itu, Jimy memberikan pelayanan bagus sekaligus memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengurus restoran.
"Ini hidangan yang anda pesan, silahkan di nikmati" ujar Jimy menaruh makanan itu di atas meja.
"Terimakasih" jawab Yati.
"Eh kau mau kemana?" tanya nenek menahan kepergian Jimy.
"Kembali ke dapur"
"Apa pekerjaan mu banyak?"
"Um.... tidak juga"
"Kalau begitu kenapa pergi? duduklah di sini dan ikut makan bersama kami" ujar nenek.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku harus bersikap profesional. Nenek sekarang jadi tamu ku dan aku adalah pelayan, sangat tidak pantas jika aku harus duduk bersama nenek"
"Wah... lunak sekali lidahmu! jadi seperti ini sifatmu saat menjadi pelayan" tukas Amus.
"Jangan menghinaku, di sini aku sedang bekerja" jawab Jimy kesal.
"Ah, kalau begitu saya mohon undur diri" lanjutnya dengan nada yang lebih manis.
Amus menikmati acara makan malam itu, akhirnya ia merasakan juga hidup normal seperti anak lainnya. Yati banyak bertanya tentang sekolah dan teman-temannya, pertanyaan itulah yang membuat Amus tiba-tiba menjadi anak yang cerewet.
Sampai mereka selesai makan Amus masih senang menceritakan hobinya di bidang sepak bola, saat itulah Jimy dan orang tuanya datang untuk bergabung.
"Hei malam ini ada acara musik di alun-alun kota, kau mau nonton tidak?" tanya Jimy.
"Entahlah"
"Pergilah" ujar Yati yang mendengar percakapan itu.
"Nikmati masa liburan mu, tidak perlu cemas pada nenek. Ibu pasti akan menjaganya dengan baik" lanjutnya.
Amus nampak berfikir, menimbang apakah ia akan pergi atau tidak. Di satu sisi ia masih ingin berkumpul dengan keluarganya, tapi di sisi yang lain ia juga ingin menghabiskan waktu liburannya seperti yang lain.
"Benar tidak apa-apa jika aku pergi?" tanya Amus.
"Kenapa masih bertanya, kau jarang keluar untuk main jika bukan main bola. Sekarang kan ada orangtua mu yang menemani nenek" jawab nenek.
"Baiklah, akan ku usahakan tidak pulang terlalu larut" ucapnya senang.
"Kami pergi dulu" ujar Jimy berpamitan.
Mereka segera berlari pergi meninggalkan restoran, meski angin malam cukup dingin tapi hati kaum remaja yang sedang bergelora tak merasakan kedinginan. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di lokasi, hiruk pikuk orang-orang yang menghayati musik membawa suasana ceria bagi mereka.
Tanpa sadar Amus pun ikut terjun dalam keramaian itu hingga berjam-jam berlalu dan rasa haus menyerang tenggorokannya.
"Master, apa kau haus?" tanyanya.
"Lumayan, mau cari minum?"
"Ayo!" ajak Amus.
Mereka berjalan agak jauh dari keramaian, mencari minuman segar yang tidak terlalu mengantri sebab di sana sini kedai minuman ramai hingga antriannya panjang.
"Lihat! bagaimana kalau kita membeli jus saja" ujar Jimy sambil menunjuk kedai yang tak jauh.
"Boleh juga" jawab Amus.
Mereka segera pergi untuk memesan.
"Mbak saya pesan jus jambu tanpa susu satu dan jus mangga satu" ujar Jimy.
"Siap! di tunggu ya mas" jawab si pelayan sambil membalikkan badan.
"Master!" panggil Ratna kaget.
"Ratna!" balas Ratna.
__ADS_1
Hahahaha
Tak kuasa menahan geli mereka tertawa membuat beberapa pelanggan di sana keheranan.
"Owh, jadi kau kerja di sini" ucap Amus.
"Ya, apa yang kalian lakukan di sini?" jawabnya dan bertanya balik.
"Kami menonton acara musik, mana Ardi?" tanya Jimy.
"Dia di dalam membuat jus, akan ku beritahu setelah menulis pesanan tunggulah sebentar!" jawab Ratna.
Amus dan Jimy pun menunggu di kursi yang telah di sediakan hingga tak lama kemudian Ardi datang membawa pesanan mereka, karena pelanggan malam itu sudah mulai berkurang jadi Ardi bisa santai sedang pekerjaan diambil alih oleh Ratna.
Barulah setelah pukul sepuluh malam Hamdani menutup kedai yang di bantu oleh Jimy dan Amus, sekalian berkenalan sebagai teman karyawannya.
"Ini sabtu malam minggu, beberapa tempat masih buka jadi setelah ini kita pergi kemana?" tanya Jimy.
"Entahlah, aku ikut saja kemana kalian pergi" jawab Ratna.
"Kalau begitu kita balik lagi menonton acara musik, bagaimana?" usul Amus.
"Boleh juga, band apa saja yang tampil?" tanya Ardi.
"Lumayan banyak, ada Republik, Sheila on Seven, Seventeen... yah pokoknya banyaklah" jawab Jimy.
Masih bersemangat empat remaja itu bergegas pergi, meski mereka berdiri cukup jauh dari panggung dan hanya mampu mendengar lagunya tanpa melihat band yang bermain tetap saja mereka bahagia.
Hingga tanpa terasa waktu menunjukkan tengah malam, acara musik juga sudah masuk di penghujung acara.
"Ah... apa kalian lapar?" tanya Ratna sambil mengelus perutnya.
"Kenapa?kau lapar?" tanya Amus.
Ratna menganggukkan kepalanya, meski Amus sudah makam malam tapi karena yang lain juga merasa lapar akhirnya mereka memutuskan untuk membeli makanan.
Tak ada pilihan makanan di tengah malam, satu-satunya kedai makanan yang ada hanya tukang nasi goreng. Tanpa pikir panjang mereka duduk dan memesan empat porsi nasi goreng, setelah beberapa saat menunggu mereka pun menyantap hidangan tersebut.
Namun, baru makan beberapa suap saja tiba-tiba terdengar kegaduhan dari jauh yang semakin lama semakin kencang terdengar. Beberapa orang kemudian nampak berlarian melewati mereka bahkan ada seorang yang mencoba bersembunyi di belakang mereka.
"Mau lari ke mana kalian?" tanya seorang polisi yang tiba-tiba menarik kerah baju Amus.
Tak ada waktu untuk berlari atau pun berfikir, beberapa detik kemudian para polisi berdatangan dan dengan kasar membawa mereka masuk ke dalam mobil.
"Amus ada apa ini? kenapa kita tiba-tiba di bawa?" bisik Ratna jelas ketakutan.
"Sepertinya ada kerusuhan, ini hanya salah paham. Kau tenang saja, sebentar lagi juga kita pasti di lepaskan" jawab Amus.
Tapi Ratna tetap tak bisa tenang, wajah-wajah petugas yang keras dan teriakan mereka yang lantang telah membuat nyali mereka ciut. Hanya Amus yang masih duduk santai seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah tiba di kantor satu persatu diantara mereka di interogasi, banyak yang tak bisa menjawab dengan benar bahkan sebagian dari mereka hanya mampu menangis.
"Siapa nama kamu?" tanya seorang petugas dengan nada tinggi sedang petugas lain memeriksa tubuh Amus.
"Amus pak" jawabnya tegas.
"Dari komplotan mana kamu? rasanya kita pernah bertemu" tanya petugas itu lagi.
"Tidak dari mana pun pak, saya dan ketiga teman saya sedang makan malam setelah pulang kerja"
"Kamu jangan berani bohong ya, berapa umur kamu?"
"Empat belas pak"
"Kamu?" tanya petugas menunjuk Jimy.
"Sa-sama pak, kami teman satu sekolah" jawab Jimy gugup.
"Kalian ini... masih di bawah umur sudah berani tawuran, mau jadi apa kalian besar nanti hah?" bentak petugas itu.
Suaranya yang keras kembali menggetarkan hati Ratna, kali ini ia tak bisa membendung lagi air mata akibat ketakutan yang hebat. Tanpa menimbulkan suara ia menangis, membuat petugas itu menyerahkannya kepada seorang polwan.
"Kamu kenapa menangis?" tanya polwan itu dengan nada yang masih tegas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu, saya... saya hanya takut" jawab Ratna jujur.
"Kenapa takut? kamu bikin salah?"
"Tidak bu, saya berani bersumpah saya tidak melakukan apa-apa. Saya baru pulang kerja dan cari makan saja" jawabnya cepat.
"Kerja apa kamu sampai pulang malam?"
"Saya kerja di kedai bu, jual jus. Ayah saya juga tahu itu"
"Bisa kamu telpon ayah kamu untuk datang kemari? coba telpon aja biar dia jemput kamu."
Awalnya Ratna ragu untuk memberitahu Sapardi, ia takut ayahnya akan marah besar atau setidaknya kecewa jika tahu putrinya berurusan dengan polisi. Tapi dengan desakan polwan itu akhirnya Ratna mau mengabari Sapardi.
Menerima kabar itu sontak Sapardi kaget dan sudah berpikiran buruk, pontang panting ia pergi ke kantor untuk memenuhi panggilan. Begitu sampai di lihatnya begitu banyak anak sedang menerima hukuman dan tengah di periksa.
"Ayah!" panggil Ratna.
Sapardi cepat berlari menghampiri putrinya dan langsung memeluk Ratna dengan lega, meski ia melihat jelas putrinya menangis tapi ia tahu Ratna baik-baik saja.
"Ayah.. aku tidak melakukan apa pun, kami hanya sedang makan tiba-tiba petugas membawa kami kemari" ujar Ratna serta merta menjelaskan.
"Bapak silahkan duduk dulu" sambut polwan tersebut.
"Baik bu" jawab Sapardi.
Ia pun segera di mintai keterangan tentang Ratna, ia membenarkan bahwa Ratna bekerja dan sudah mendapatkan ijin darinya. Tak hanya itu, ia juga menjamin Jimy, Ardi dan Amus agar bisa di bawa pulang olehnya. Setelah proses tanya jawab yang cukup memakan waktu mereka pun akhirnya di bebaskan dan hanya mendapat himbauan saja.
"Ayah... maafkan aku" ujar Ratna dalam perjalanan pulang.
"Tidak perlu minta maaf, ayah yakin kalian tidak salah" jawab Sapardi.
"Maafkan aku, ini semua salah ku. Andai aku tidak mengajak kalian semua ini pasti tidak akan terjadi" ucap Jimy menyesal.
"Sudahlah, bukankah kita juga mendapat ijin dari orangtua kita? semua ini hanya salah paham" tukas Amus.
"Mau bagaimana pun aku tetap merasa bersalah, aku minta maaf paman! kerena telah merepotkan"
"Lupakan saja, bagi remaja seumuran kalian hal seperti ini sering kali terjadi. Yang penting jangan buat kenakalan yang lebih parah hingga merepotkan orang tua kalian"
"Kami mengerti paman" ujar mereka berbarengan.
Sampai di rumah mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, Ratna nampak loyo habis menangis dan ketakutan sejak tadi. Begitu kepalanya menyentuh bantal ia segera terlelap dan bangun di pagi hari dengan tubuh yang lebih segar.
Ia melakukan aktivitas seperti biasa seolah semalam tak terjadi apa-apa, begitu keluar rumah untuk bekerja ia berpapasan dengan Amus yang juga keluar rumah.
"Kau mau kemana?" tanya Ratna.
"Ke depan, ibu menyuruh ku membeli minyak"
"Sepertinya hubungan mu dengan bibi semakin baik" komentar Ratna.
"Begitulah, dia semakin terbuka padaku"
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Apa dia tahu kejadian semalam?"
"Tidak! aku tidak memberitahunya sebab jika dia tahu aku takut ibu akan marah lagi padaku"
"Kau benar, tapi... aku heran kenapa semalam kau begitu tenang? aku lihat anak-anak lain yang lebih besar dari mu saja ketakutan" tanya Ratna penasaran.
"Itu karena aku sudah terbiasa" jawab Amus sambil tersenyum nakal.
" Maksudnya?" tanya Ratna lebih penasaran lagi.
Amus pun memulai cerita dari hobinya yang suka main bola, karena hobi itu ia juga suka menonton pertandingan bola apalagi pergi ke stadion. Ratna pun teringat pada saat mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah lima tahun berpisah, pada saat itu pun Amus baru pulang dari stadion.
Amus menceritakan bagaimana kisahnya saat pertama kali ikut teman-temannya pergi stadion, itu adalah momen dimana untuk pertama kalinya ia juga di tangkap petugas karena ikut dalam tragedi kerusuhan.
Awalnya ia juga merasa takut apalagi saat itu ia baru kelas satu SMP, tapi teriakan-teriakan petugas yang mengingatkannya pada Yati membuatnya malah semakin tegar dan perlahan ia mampu menjawab dengan tenang.
Sekarang, di saat usinya sudah empat belas tahun dan siap masuk SMA tak ada lagi ketakutan dalam dirinya saat berhadapan dengan petugas. Jika ia tidak berbuat salah asal menjawab dengan tenang dan mengikuti arahan petugas dengan cepat ia juga akan di bebaskan.
"Kau sangat hebat" puji Ratna yang semakin menyukai Amus setelah sadar betapa dewasanya Amus.
__ADS_1
Dalam hati kecil Amus sebenarnya ia ingin mengucapkan terimakasih, tapi senyum Ratna yang manis membuat rasa malu menahan kata itu di tenggorokannya.