
Lagi-lagi Hamdani menyuruh menutup kedai meski malam belum larut, ini dikarenakan sejak mereka buka sampai tadi sore kedai tidak pernah sepi. Mereka banyak menjual jus hingga stok mereka habis, mendapatkan untung yang di luar ekspektasinya membuat Hamdani tak hanya memberikan gaji saja tapi juga bonus di minggu malam itu.
"Ini belum larut, gunakan gaji pertama kalian sebaik mungkin" ujar Hamdani.
"Terimakasih paman!" ucap Ratna senang.
"Aku harap dengan bonus ini kalian akan semakin giat bekerja lagi"
"Tentu saja, kami tidak akan mengecewakan paman"
"Baiklah, paman pulang duluan" ujar Hamdani pamit.
"Ah....tanpa terasa kita sudah kerja selama seminggu, waktu cepat berlalu begitu saja" gumam Ratna setelah kepergian Hamdani.
"Hei bagain kalau kita pergi ke pekan raya? kita masih punya waktu untuk menaiki beberapa wahana" saran Ardi.
"Sepertinya menyenangkan"
"Baiklah ayo pergi!" ajak Ardi yang segera menggandeng tangan Ratna.
Rupanya di pekan raya lebih ramai dari biasanya, semenjak libur sekolah semua tempat rekreasi memang jadi banyak incaran semua orang untuk berlibur apalagi bagi mereka yang tidak pergi keluar kota atau luar negeri.
"Kau ingin naik apa?" tanya Ardi.
"Entahlah, sebenarnya aku sedang tidak berminat naik apa pun" jawab Ratna yang nampak lesu.
"Kenapa? kau sakit?" tanya Ardi mulai khawatir.
"Tidak, hanya sedang tidak ingin saja"
"Baiklah.. bagaimana kalau kita main mesin pencapit" usul Ardi.
Ratna mengangguk sambil tersenyum, segera mereka pergi dan melihat benda apa yang mereka inginkan. Mata Ratna tertuju pada boneka sapi yang ada di salah satu mesin, sadar bahwa itu yang di inginkan Ratna Ardi segera mencoba peruntungannya.
"Ah.... dapat! arh..... " erang Ratna melihat boneka itu jatuh kembali.
Dengan rasa penasaran mereka mencoba kembali, Ratna menutup mata sambil mengepalkan tangan tak sanggup melihat saat boneka itu diangkat naik. Ardi hendak bersorak saat boneka tersebut berhasil ia dapatkan, tapi begitu melihat mata Ratna yang sedang terpejam penuh harap seketika ia mematung.
Ini hanya sebuah boneka yang bisa ia belikan di toko, tapi jika ia melakukannya ia tak akan pernah bisa melihat kesungguhan Ratna saat menginginkan sesuatu. Sejak kecil hal ini yang membuatnya tertarik pada Ratna, wajah harapan yang tidak ingin ia kecewakan.
Sambil tersenyum Ardi mengambil boneka itu dan menempatkannya tepat di depan mata Ratna yang masih tertutup, kemudian ia berkata.
"Aku berhasil."
Seketika Ratna membuka mata, wajah harapnya berubah riang sambil mengambil boneka tersebut.
"Ah.... lucu sekali...boleh aku mencoba memainkannya?"
"Tentu saja" jawab Ardi mempersilahkan.
Dengan antusias Ratna mulai memasukkan koin dan mencoba penuh harap, tapi nasibnya tak sebaik Ardi. Ia sudah mencoba beberapa kali sampai akhirnya lelah dan menyerah, dengan kesal ia pun kini mau menaiki beberapa wahana yang tak terlalu menegangkan.
Tak cukup sampai di sana ia membeli beberapa makanan hingga perutnya kenyang sampai tiba-tiba hujan membuyarkan kerumunan, orang-orang termasuk dirinya dan Ardi segera berlari mencari tempat perlindungan.
"Ah.... kenapa harus hujan di saat seperti ini" erangnya sambil mengibas-ngibaskan pakaian.
"Ini hanya gerimis, sebentar lagi juga pasti berhenti" ujar Ardi.
Dari tempat yang cukup terlindung mereka menatap langit gelap yang kelam, hujan telah mengusir taburan bintang dan keindahan bulan tanpa menyisakan apa pun.
ZZZZZRRRRRTTTT
DUAR
BRUK
Kyaa........
__ADS_1
Reflek Ratna merangkul Ardi untuk berlindung dari suara petir yang menyambar pohon tepat di depan mata mereka, Ardi yang ikut kaget hanya bisa memeluk Ratna sampai ia bisa lebih tenang.
"Ah... pohonnya" ujar Ratna pelan tanpa melepaskan rangkulannya.
"Tidak apa-apa, itu hanya pohon"
"Bisakah kita pindah? aku takut terus berada di sini" ucapnya parau.
"Baiklah, kita cari tempat yang lebih aman" jawab Ardi setuju.
Mereka segera pergi ke tempat lain, agar Ratna lebih tenang Ardi memutuskan masuk ke dalam sebuah kafe sekalian memesan minuman untuk menghangatkan tubuh.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ardi yang duduk tepat di hadapannya.
"Mm, aku tidak apa-apa"
"Kau sangat ketakutan tadi" komentar Ardi.
"Aku suka hujan tapi tidak dengan suara petir, suaranya sangat kencang seakan membuat telingaku tuli."
Tanpa di duga Ardi mengelus tangan Ratna, tindakan yang cukup membuat Ratna kaget sebab raut wajah Ardi pun nampak lembut dengan tatapan yang lurus padanya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku ada di sini untuk mu" ujarnya.
"Ah... minuman kita sudah datang" ucap Ratna menarik tangannya yang membuat senyum Ardi hilang.
Semenjak mereka bekerja di tempat yang sama tindakan Ardi padanya cukup aneh, bahkan tatapan matanya sekarang pun membuat Ratna tak nyaman. Entah hanya perasaannya saja atau memang Ardi bertindak seolah dirinya adalah miliknya.
"Apa ada yang sedang menganggu pikiranmu?" tanya Ardi jelas melihat tatapan mata Ratna yang kosong.
"Ah.. tidak!" jawab Ratna cepat.
"Um.... Di, bagaimana keadaan pacar barumu?"
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya?" tanya Ardi heran.
"Oh... aku sudah memberitahunya kalau aku kerja, lagi pula apa peduliku jika dia marah"
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku sudah memberinya pengertian, aku sudah bersikap baik sebagai pacar jadi jika dia cemburu dan masih kesal padaku untuk apa aku repot-repot menjelaskan semuanya. Yang perlu ku lakukan hanya satu hal, memutuskannya"
"Kau benar-benar kelinci putih yang licik" ujar Ratna.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dua kali" ucap Ardi serius.
"Aku telah bertindak kasar kepadamu, dan aku berjanji hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan mendengarkan ucapan orang lain lagi tentang dirimu, aku hanya akan terus menjagamu" lanjutnya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, jangan menyalahkan dirimu terus. Lagi pula aku paham betul posisimu, wajar jika kau bertindak demikian"
"Tidak, semuanya tidak wajar! padahal aku tidak mencintai Yuni tapi aku lebih percaya ucapannya, aku pun bingung kenapa aku bisa melakukan hal itu"
"Apa?" tanya Ratna bingung.
"Selama ini aku memacari gadis-gadis yang mencintaiku tanpa membalas cinta mereka, sulit bagi seorang gadis menyatakan cinta karena itu ketika ada seorang gadis yang mampu menyatakan cinta padaku rasanya aku tidak sanggup menolak. Aku tidak ingin menyakiti hati lembut itu, aku tidak bisa mematahkan mereka"
"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan? apa kau sadar kau telah bertindak tidak adil?" tanya Ratna heran.
"Aku rasa aku cukup adil, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku pun tidak masalah menjalani hubungan seperti itu selama mereka tidak melakukan hal yang membuatku jengkel"
"Jangan bodoh! kau tidak bisa berkompromi pada cinta seseorang, dengan menerima cinta itu tapi tidak membalasnya sama saja dengan menerbangkan seseorang tanpa memberi sayap. Pada akhirnya dia akan terjatuh dengan sangat keras hingga tak mampu bangkit lagi" ujar Ratna tegas.
"Tidak perlu bicara berlebihan, kau tidak pernah mengalami apa yang ku alami" jawab Ardi santai.
"Apa maksud mu? aku paham betul bagaimana kondisi pacaran mu" jawab Ratna jelas sebab kondisi pacarannya dengan Jaya pun seperti itu.
Tapi kerlingan mata Ardi yang syarat akan tanda tanya membuatnya sadar bahwa ia telah membongkar rahasia hatinya.
__ADS_1
"A-aku juga seorang perempuan, jika aku di perlakukan seperti itu maka seperti yang tadi ku jelaskan aku... aku akan sakit hati" ujar Ratna cepat agar Ardi tak curiga.
"Astaga.... aku hampir lupa bahwa kau juga seorang perempuan" canda Ardi.
"Apa maksud mu?" tanya Ratna tersinggung.
"Tidak apa-apa, ku pikir di otak mu hanya ada uang dan makanan tapi ternyata kau juga punya hati sama seperti gadis lainnya"
"Kau mau ku pukul? beraninya bicara seperti itu" ujar Ratna kesal.
Setelah lima tahun lamanya berpisah dan bertemu kembali setelah menjadi remaja memang tak banyak yang di ketahui Ardi tentang Ratna, bahkan ia juga baru tahu insiden pembullyan yang di terima Ratna setelah mereka bersitegang.
Satu hal lagi yang tidak Ardi ketahui adalah tentang perasaan Ratna sebagai seorang gadis, matanya telah melihat sosok gadis cantik di dalam diri Ratna tapi belum melihat orang yang mengisi hatinya.
"Sepertinya hujannya tidak akan berhenti" ujar Ratna memandang keluar jendela.
Mereka menatap tetesan air yang jatuh ke bumi dengan jumlah yang banyak, bau basah tercium tajam dan udara dingin yang cukup menusuk meski mereka di dalam ruangan. Ratna menggosok kedua lengannya agar ada sedikit kehangatan yang ia rasakan, Ardi yang melihat hal itu cukup peka dan melepaskan jaketnya.
"Pakai ini" ujarnya sambil memakai jaket itu di tubuh Ratna.
"Bagaimana dengan mu?"
"Tidak perlu khawatirkan aku" jawab Ardi seraya tersenyum.
"Hmm, kau ingat? dulu saat hujan pertama di musim kemarau kita akan bergegas keluar rumah dan main hujan-hujanan" ujar Ratna mengenang.
"Orang tua kita tidak pernah marah akan hal itu, kecuali jika kita bermain sampai lupa waktu"
"Haha ya, aku ingat ibu..... " ucapan Ratna terhenti mengingat sosok ibunya yang ia rindukan.
"Bibi akan memarahi kami karena mengajakmu bermain terlalu lama" ujar Ardi meneruskan kalimat itu.
"Ya, kemudian aku akan menangis karena tidak tega melihat kalian di marahi."
Mereka tertawa karena mengingat jelas kenangan itu, untuk beberapa saat keheningan hadir diantara mereka. Memberi ruang untuk kenangan yang singgah hanya demi mengisi waktu yang kosong, sampai tak lama kemudian hujan pun mereda.
Mereka memutuskan untuk pulang sebab hari memang sudah cukup larut, dengan berjalan kaki menyusuri jalan yang basah akhirnya mereka berpisah tepat di depan rumah Ardi.
"Ini jaketmu, terimakasih sudah meminjamkannya" ujar Ratna menyerahkan jaket itu.
"Tidak apa, kau bisa memulangkannya besok pakailah agar tubuhmu tidak kedinginan"
"Tidak perlu, rumah ku sudah dekat. Jika boleh aku ingin boneka sapi saja"
"Tentu saja, boneka itu untuk mu" ujar Ardi.
"Terimakasih, sampai jumpa besok" ucap Ratna berpamitan.
Ardi tetap di tempatnya hanya demi melihat Ratna yang berjalan semakin jauh hingga hilang di belokan, hari pertama mereka gajian cukup menyenangkan dan memiliki kisah sendiri yang dapat mereka kenang nantinya.
Dengan berjalan perlahan Ratna menikmati semua hal yang terjadi dalam hidupnya, bahkan ia nampak senang. Terlihat dari cara jalannya yang santai sambil bersenandung.
Ia tiba di depan rumahnya dan hendak mengetuk namun suara teriakan seseorang tiba-tiba menarik perhatiannya, ia menoleh kebelakang namun jelas tak ada siapa pun di sana.
Rasa penasaran akhirnya membuat Ratna berjalan ke depan demi memastikan, namun tiba-tiba.
Bruk
"Ratna!"
"Amus!" balasnya memanggil.
Nampak wajah Amus panik dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Ada apa?" tanya Ratna yang ikut panik.
"Tolong.... tolong aku!" pintanya.
__ADS_1