Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 67 Ditinggalkan


__ADS_3

Biasanya setiap malam jalan itu sepi tanpa ada satu orang pun, tapi malam itu mulai dari jalan hingga depan rumah Ardi di penuhi oleh banyak orang. Mereka berpakaian serba hitam dan yang membuat Ratna syok adanya bendera kuning terpajang di sana, dengan cepat Ratna berlari ke rumah itu dan menemukan Amus serta Jimy berdiri dengan wajah sedih.


"Master.... " panggilannya.


"Ratna, kau... baru pulang?" tanya Jimy.


Amus dan Jimy pun mengajak Ratna pergi ke tempat lain dan mengabarkan kalau ayah Ardi meninggal tadi sore, saat ini jasadnya masih berada di rumah dan akan di kuburkan esok pagi.


"Bagaimana dengan Ardi?" tanya Ratna.


"Dia di dalam" jawab Jimy.


"Baiklah, aku pergi dulu" ujar Ratna.


Amus hanya bisa menatap kepergian Ratna tanpa sepatah kata pun, ia ingat permintaan Ardi agar mendukung hubungannya dengan Ratna. Kini setelah kepergian ayahnya Amus sadar Ardi sangat membutuhkan Ratna di sampingnya.


"Bibi... " panggil Ratna masuk ke dalam rumah.


"Ratna.... " jawab ibu Ardi.


"Aku ikut berduka cita, semoga beliau di terima di sisi-Nya" ujar Ratna sambil memeluk.


Air mata itu semakin tumpah, membuat mata yang sudah sembab semakin membengkak. Tak ada yang bisa Ratna lakukan, tapi ia tetap akan ada di sana hanya untuk menggenggam erat tangan Ardi agar ia bisa membagi kesedihannya dengan orang lain.


Dengan sengaja Ratna ijin tidak masuk sekolah hanya untuk ikut serta menguburkan mendiang ayah Ardi, setelah acara penguburan selesai mereka kembali ke rumah masing-masing. Ratna membiarkan Ardi sendirian agar ia bisa beristirahat, sementara itu ia memasak untuk makan siang keluarga Ardi.


"Bibi... aku sudah buatkan sayur, makanlah agar bibi tidak sakit" ujar Ratna membawakan masakannya.


"Terimakasih, maaf telah merepotkan mu. Tapi bibi belum lapar, kau simpan saja di dapur"


"Lapar atau tidak tapi bibi tetap harus makan, tolong jangan sakiti tubuh bibi dengan kesedihan. Aku yakin paman pun tidak akan tenang jika melihat bibi seperti ini"


"Bibi mengerti, nanti saja ya... "


Ratna tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai, saat mendiang ibunya meninggal ia pun kehilangan selera untuk makan. Bahkan saat itu ia benar-benar sendirian tanpa ada yang perduli padanya, karena itu ia tidak akan membiarkan keluarga Ardi mengalami hal yang sama.


Ia segera pergi ke kamar Ardi dan menemukan Ardi tengah melamun sendirian, di simpannya makanan yang telah ia bawa di atas meja dan duduk di samping Ardi.


"Kau ingin ku suapi atau makan sendiri?" tanya Ratna.


"Aku belum lapar" jawab Ardi pelan.


Sejak kemarin Ratna tidak melihat Ardi menangis, namun matanya yang kosong jelas mengatakan kesedihan dalam hatinya. Itu membuat Ratna lebih khawatir lagi karena tak ada emosi yang keluar, ia takut Ardi semakin berlarut dan hilang keceriaan.


Ratna mengambil piring itu dan mulai menyendok nasi, diarahkannya sendok berisi makanan itu ke mulut Ardi.


"Aku akan makan nanti" ujar Ardi.


"Kau boleh sedih, kau boleh menangis tapi jangan abaikan hidup yang terus berjalan. Lihatlah ibumu, kau masih punya seseorang yang harus kau bahagiakan" ujar Ratna.


Kesadaran mulai mengisi mata Ardi, ia menatap Ratna yang tersenyum padanya. Tiba-tiba ia ingat bahwa Ratna satu nasib dengannya, Ratna lebih dulu berpisah dengan ayahnya secara paksa lalu ibunya meninggal begitu saja saat dia seorang diri.


Tapi gadis itu masih mampu tersenyum, masih mampu marah dan bersikap egois padahal punggungnya telah berdarah hebat menerima semua penderitaan hidup.


"Bolehkah... aku memelukmu?" tanya Ardi.


Ratna tertegun sebentar tapi kemudian ia menyimpan piring itu dan memberikan pelukan hangat untuk Ardi, dengan lembut ia mengelus rambutnya sampai air mata tumpah begitu saja di pipi Ardi.


"Keluarkan saja, kau berhak untuk menangis jad?i tidak perlu ragu" ujar Ratna.


* * *


Sebelum pulang dengan sengaja Ratna membeli beberapa buah pisang dari toko Hamdani, ia ingat Ardi suka buah itu dan pasti mau memakannya. Ia mampir ke rumah Ardi dan menyerahkan buah itu kepadanya.


"Kenapa kau merepotkan dirimu sendiri?" tanya Ardi.


"Aku tidak repot sama sekali, bagaimana keadaan bibi?" tanya Ratna.


"Dia sudah lebih baik, sekarang dia sedang tidur di kamarnya"


"Syukurlah kalau begitu."


Dua berlalu sejak pemakaman mendiang ayah Ardi, kini Ardi sudah bisa beraktivitas seperti biasa begitu pun dengan ibunya. Meski kadang sesekali mereka tiba-tiba sedih karena teringat beliau, tapi sejauh ini semuanya masih baik-baik saja.

__ADS_1


Ardi dan Ratna masih mengobrol bahkan sempat bercanda saat tanpa sengaja Amus lewat dan melihat semua itu, Ardi nampak senang mendapat perhatian dari Ratna yang di sadari oleh Amus.


Ada sedikit rasa sakit hati melihat kedekatan itu tapi Amus mencoba untuk tak ambil pusing, ia segera pergi dari tempat itu sebagai bentuk dukungannya kepada Ardi.


"Baiklah ini sudah malam sebaiknya kau pergi istirahat" ujar Ratna.


"Kau juga, terimakasih untuk pisangnya"


"Tidak masalah, sampai nanti" ucap Ratna melambaikan tangan.


Mereka berpisah tapi kembali bertemu pagi harinya, Ardi dan Ratna berjalan bersama namun berpisah kemudian karena jalan menuju sekolah mereka berbeda.


Tiba di sekolah Rere menanyakan kabar Ardi sebab sebagai teman ia juga ikut sedih atas kepergian ayahnya Ardi, Ratna menjawab sesuai dengan kenyataan.


"Sepertinya kau sangat perhatian kepadanya" ujar Rere.


"Pada siapa?" tanya Ratna tak mengerti.


"Tentu saja pada Ardi"


"Oh, tentu saja. Dia kan sedang membutuhkan ku sebagai teman"


"Jimy juga temannya tapi tidak perhatian sepertimu"


"Perempuan dan laki-laki itu berbeda, meski sama-sama teman tapi kau tidak bisa menyamakan tindakan mereka."


Tak puas dengan jawaban Ratna Rere justru menyipitkan mata dan memandang Ratna dengan tatapan curiga.


"A-ada apa?" tanya Ratna kikuk.


"Firasat ku mengatakan perhatian itu akan berujung pada hubungan yang berbeda"


"Jangan bicara seolah kau paranormal" sahut Ratna tak mau menanggapi ucapan Rere.


Sepulang sekolah seperti biasa Ratna pergi bekerja, namun saat ia sampai Ardi rupanya ada di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ratna.


"Tidak ada, aku hanya ingin mencari suasana baru"


"Dasar gadis dolar! kau pandai sekali memanfaatkan kesempatan" hardik Ardi namun dengan senyum kemudian.


Ratna tertawa menanggapi ucapan itu, Ardi sendiri tentu tidak keberatan karena saat ini ia memang tidak ingin sendirian sebab jika ia sendirian maka tak ada yang bisa ia lakukan kecuali melamun hingga kembali larut dalam kesedihan.


Ratna ceria seperti biasa, melayani pelanggan dengan sopan dan lembut. Ia banyak mengajak Ardi bercanda sampai lupa pada kesedihannya, hingga tiba waktunya untuk pulang mereka pun berpamitan kepada Hamdani.


"Hei kau mau eskrim?" tawar Ratna.


"Apa? kau mau membelikan ku eskrim?"


"Tentu saja, kau tunggu di sini" ujar Ratna yang segera pergi.


Ardi menatap Ratna yang dengan riang pergi membeli eskrim, biasanya dia yang selalu melakukan hal itu tapi kini kebalikannya. Jika di pikir lagi memang semenjak kepergian ayahnya Ratna menjadi lebih perhatian, ia sering mengajaknya tertawa dan bercanda.


"Ini untuk mu" ujar Ratna menyerahkan satu eskrim rasa vanila.


Mereka kembali berjalan sambil menikmati eskrim yang dingin namun manis, meski sudah malam tapi rasanya tetap enak. Tak ada yang saling bicara sampai mereka tiba di gang, ucapan selamat malam menjadi salam perpisahan mereka hari itu.


"Kau mau kemana?" tanya Ratna melihat Jimy yang tiba-tiba keluar rumah dengan tergesa-gesa.


Tanpa mengatakan apa pun Jimy tiba-tiba menarik tangan Ratna dan membawanya pergi dari sana, meski bingung tapi Ratna ikut kemana Jimy pergi.


"Ada apa?" tanya Ratna melihat raut wajah Jimy yang tegang.


"Tolong bantu aku" ujar Jimy setelah mereka tiba di tempat yang sepi.


"Kau kenapa?"


"Ini masalah dengan Rere"


"Maksudmu hubunganmu dengan Rere sedang tidak baik?" ujar Ratna memperjelas.


"Aku kepergok sedang merokok oleh Rere, dia marah besar padaku hingga tak mau bicara. Bahkan dia mengancam akan memutuskan hubungan kami" ucap Jimy bercerita.

__ADS_1


"Aish.... itu urusanmu kenapa kau minta tolong padaku?"


"Kenapa kau bicara seperti itu? tolonglah aku... "


"Percuma, Rere tidak akan pernah mendengarkan ku"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Tentu saja minta maaf, pergilah temui dia dan katakan kau sangat menyesal" ujar Ratna.


Jimy diam sejenak, ia sudah minta maaf tapi di tinggal begitu saja oleh Rere. Sekarang sudah malam dan mungkin saja hati Rere sudah lebih tenang, ia memutuskan untuk mencoba kembali.


Ia segera pergi mengikuti saran Ratna, kakinya terus berlari menyusuri jalan hingga akhirnya tiba di kediaman Rere. Ia menulis pesan singkat agar Rere mau keluar dan menemuinya, tapi lima belas menit berlalu tanpa ada balasan pesan atau pun tanda-tanda kemunculannya.


Dengan gusar Jimy mencoba menelpon tapi Rere tak menjawab, ia terus mencoba berkali-kali meski masih saja tak ada jawaban. Tiga puluh menit pun berlalu begitu saja, udara semakin dingin hingga membuat tubuhnya gemetar.


Jimy mencoba menggosok kedua tangan untuk melawan udara dingin, tapi hal itu tak terlalu berhasil. Setelah penantian yang panjang itu akhirnya Rere keluar dari rumah dan mau menemuinya, dengan senang Jimy tersenyum meski Rere masih memasang wajah dingin.


"Rere.... aku... " belum selesai ucapan Jimy Rere sudah lebih dulu memotong.


"Dengarkan aku! aku hanya akan mengatakannya sekali dan aku tidak peduli bagaimana tanggapanmu"


"Jimy... mari akhiri hubungan kita" ucapnya yang beberapa detik kemudian Rere pun kembali masuk ke dalam rumahnya.


Jimy berharap itu hanya ilusi akibat tubuhnya yang kedinginan, tapi sebuah pesan ia terima dari Rere yang bertuliskan.


"Jangan hubungi aku lagi."


Bruk


Seketika Jimy jatuh terduduk, hatinya yang gusar tiba-tiba kosong seketika seperti sesuatu telah mengambilnya begitu saja. Cukup lama ia termenung di sana sampai akhirnya dengan sisa kekuatan yang ada dia pun berjalan pulang.


Ardi, Amus dan Ratna baru mengetahui putusnya hubungan Jimy dan Rere esok harinya sepulang Ratna dari sekolah. Siang itu Ratna yang libur kerja berkumpul di kamar Amus tanpa kehadiran Jimy, tentu yang mereka bahas adalah masalah percintaan Jimy yang kandas.


"Jika di pikir lagi bukankah kita geng yang menyedihkan?" ujar Ratna tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Amus.


"Pikirkanlah, aku putus dengan kisah tragis dimana Jaya selingkuh di belakangku, Jimy putus hanya karena hal sepele padahal dia sangat mencintai Rere, Ardi terus bergonta ganti pacar tapi tidak ada yang benar-benar serius dalam pacaran dan kau adalah jomblo akut"


"Kau benar, kisah percintaan kita tidak ada yang berjalan mulus" sahut Ardi.


Hhhhhhhhh


Mereka menghembuskan nafas dengan lelah, sepertinya hidup mereka hanya untuk sebuah pertemanan saja tanpa ada ikatan lain.


Sebisa mungkin mereka menghibur Jimy meski memang sulit membuat Jimy kembali ceria, Ratna sendiri mencoba membujuk Rere tapi dalam masalah ini keputusan Rere sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


Tak ada lagi yang bisa dia lakukan, baik Rere maupun Jimy sama-sama temannya jadi Ratna tidak mungkin memilih salah satu. Pada akhirnya ia tidak mau ikut campur lagi dan berteman seperti biasa.


Satu minggu kemudian, kini Jimy sudah mulai bisa bangkit walau pun belum seceria seperti biasanya.


"Aku ingin makan gulali yang besar" ujar Ratna tiba-tiba.


"Kau baru saja menghabiskan keripik singkong punyaku, berikanlah waktu sebentar kepada usus mu untuk mencerna" hardik Amus.


"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain? bukankah sudah lama kita tidak pergi bermain bersama?" usul Ardi.


"Kau benar, kita bisa beli gulali yang besar di sana" ujar Ratna antusias.


"Aku terserah kalian saja" jawab Amus seperti biasa.


Kini semua mata tertuju pada Jimy, hanya dia yang belum memberikan jawaban.


"Ah baiklah... aku akan mentraktir kalian" ucap Jimy menyerah.


"Hore..... " sorak Ardi dan Ratna bersamaan.


Rasanya seperti mengulang peristiwa yang telah lalu, Jimy ingat seperti itu ekspresi Ardi dan Ratna yang senang saat akan bermain. Lalu Amus yang selalu berwajah datar tapi diam-diam menikmati kemana pun mereka membawanya, yang paling penting adalah dirinya yang selalu diandalkan.


Di lingkungan ini, bersama dengan teman masa kecilnya apa pun kesalahan yang ia buat semua orang pasti akan mengandalkannya.


Dia selalu di terima meski bodoh, tidak tampan dan kadang menyebalkan. Ucapan Ratna sepertinya memang benar, mereka adalah satu geng yang menyedihkan tapi selalu bahagia dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing karena mereka saling melengkapi.

__ADS_1


Baik di kala sedih maupun senang mereka ada satu sama lain, saat yang satu di timpa musibah atau di tinggalkan oleh orang yang mereka cintai maka yang lain akan ada untuk mengisi kekosongan itu.


__ADS_2