
Seragam putih abu-abu yang telah siap sejak lama kini dapat ia pakai, dengan bangga dan senang Ratna tak sabar untuk segera berangkat ke sekolah barunya.
Sepanjang perjalanan ia terus bersenandung hingga tiba di sekolah, tak lupa ia menyapa pak satpam yang bertugas menjaga gerbang sekolah. Hari senin, dimana biasanya ia malas berangkat dan mengikuti upacara hari itu ia sangat bersemangat.
Dalam pidatonya Pak kepsek menyampaikan ucapan selamat datang kepada anak-anak tahun ajaran baru dan berharap mereka akan menjadi murid yang berprestasi kedepannya.
Selesai upacara semua murid bubar masuk ke dalam kelas masing-masing termasuk Ratna, ia memilih bangku paling depan tapi paling pojok dekat ke pintu.
"Um... maaf apa kursi itu kosong?" tanya seorang anak perempuan padanya.
"Iya"
"Boleh aku duduk di sana?"
"Duduk saja" ujar Ratna.
Ia segera duduk dan menyimpan tas-nya, wajahnya imut seperti bayi dengan suara yang lembut. Sebelum duduk ia melihat anak perempuan itu me-lap kursi dan mejanya dengan tisu.
"Hai, aku Rere" ujarnya sambil menyodorkan tangan.
"Oh hai juga, Ratna" jawabnya menyambut tangan itu dengan agak kaku.
Tak ada yang mereka obrolkan sampai seorang guru datang dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas, dalam sesi ini mereka tidak akan belajar hanya saling berkenalan dan bermain game kecil.
Beberapa waktu berjalan cukup seru hingga tanpa sadar sudah waktunya untuk pulang, sebelum bubar wali kelas memberikan jadwal pelajaran agar semua muridnya bisa mengikuti pelajaran yang resmi di laksanakan besok. Mereka juga memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelas, sekertaris dan bendahara.
Seorang anak laki-laki bernama Galih terpilih menjadi ketua kelas, kemudian Rere menjadi sekertaris dan Ratna menjadi bendahara.
Sebelum pulang ke rumah Ratna memutuskan untuk mampir dulu ke kedai Hamdani, rupanya di kedai itu Hamdani sudah merekrut karyawan baru bernama Shila. Meski begitu sesuai rencana Ratna tetap di ijinkan bekerja lagi di sana, ia akan mulai besok setelah pulang sekolah dan tentu hal ini sudah ia rundingkan terlebih dahulu dengan Sapardi.
"Kau baru pulang?" tanya Ardi yang kebetulan sedang berjalan menuju rumah Amus.
"Ya, tadi aku mampir ke kedai paman Hamdani"
"Oh... kamu jadi kerja paruh waktu di sana?"
"Jadi, besok aku baru mulai"
"Apa kau tidak lelah, bekerja habis sekolah"
"Kau tahu aku butuh uang itu" jawab Ratna.
__ADS_1
Seperti biasa mereka berkumpul di rumah Amus saat malam hari, menonton film ditemani setumpuk makanan dalam toples.
"Apa motor yang terparkir di luar itu motor mu?" tanya Ratna penasaran.
"Mm, ibuku membelikannya kemarin agar aku mudah pergi ke sekolah" jawab Amus.
"Ah... aku sangat iri padamu" tukas Ratna dengan wajah memelas.
"Itu belum seberapa, apa kau tidak tahu master di beri mobil sebagai hadiah penerimaannya di SMK?" ucap Ardi.
"Benarkah? orangtuamu memberikan mobil untukmu?" tanya Ratna kaget.
"Itu mobil bekas, tidak sehebat yang kau pikirkan" ujar Jimy.
"Jangan merendah! tetap saja itu sebuah mobil, bagaimana dengan mu? apa yang kau dapat?" tanya pula Ratna pada Ardi.
Dari dalam saku Ardi mengeluarkan sebuah ponsel QWERTY sambil tersenyum, membuat Ratna melongo tanpa bisa bicara apa pun.
Sejak awal ia sadar bahwa diantara yang lain dia memang yang paling kurang beruntung dari segi ekonomi, walau sebagai gantinya ia di perlakukan istimewa oleh yang lain tetap saja ada rasa iri di momen seperti ini.
Ratna harus bangun lebih pagi lagi sebab jarak sekolahnya yang cukup jauh, hari itu pun ia bergegas membuat bekal untuk makan siang nanti. Setelah menghabiskan sarapan ia berpamitan dengan ayahnya dan bergegas keluar rumah, dalam perjalanan mencari angkutan umum sebuah motor berhenti tepat di depannya.
"Kau mau ku antar ke sekolah mu?" tanya Amus.
Tanpa basa basi ia segera naik dan mereka pun melaju pergi.
"Bukankah sekolah mu tidak terlalu jauh? kenapa kau berangkat pagi sekali?" tanya Ratna.
"Aku ada keperluan jadi sengaja berangkat lebih awal"
"Oh... ah praktis sekali berangkat menggunakan kendaraan pribadi, meski kau bangun kesiangan kau pasti tidak akan terlambat" ujarnya sambil menghela nafas.
Mereka sampai di sekolah Ratna tak lama kemudian, tanpa sepatah kata Amus segera pergi setelah Ratna turun dari motor.
"Na..... " teriak seseorang.
Ratna menoleh dan rupanya itu adalah Rere, gadis manis itu berlari ke arahnya dan menyapa. Bersama mereka berjalan masuk sambil berbincang-bincang.
"Kau mau ikut ekstrakurikuler apa? OSIS atau pramuka?" tanya Rere.
"Tidak keduanya"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku tidak punya waktu, pulang sekolah aku harus bekerja lagi pula aku malas ikut hal-hal semacam itu"
"Kau bekerja? dimana?" tanya Rere penasaran.
"Kedai jus, lokasinya dekat alun-alun jika kau punya waktu mainlah ke sana"
"Baiklah" jawab Rere.
Pelajaran di mulai tak lama kemudian yang dimana mereka berkenalan terlebih dahulu dengan guru-guru baru, banyak yang mengatakan mereka telah memasuki masa emas. Masa yang paling menyenangkan dalam hidup, di usia ini mereka telah di anggap mampu menjaga diri sendiri dan bebas berekspresi.
Mereka di ijinkan untuk merenovasi kelas sesuai keinginan mereka, entah itu mengatur tata letak kursi atau mengecat ulang dinding kelas. Setelah di buat rapat mereka setuju untuk mengecat ulang kelas itu dan menghiasnya dengan beberapa tanaman.
Sepulang sekolah semua murid tetap tinggal di kelas untuk memulai persiapan, mulai dari membersihkan kelas dari debu baru kemudian me-catnya.
Butuh waktu yang cukup lama mengerjakan hal itu, oleh karenanya beberapa murid pulang dan sisanya yang bisa tinggal tetap mengerjakannya sampai selesai.
Sebenarnya Ratna ingin ikut membantu lebih lama, tapi ia tidak bisa bolos kerja di hari pertama. Tak enak juga rasanya sebab ia yang meminta pekerjaan itu kepada Hamdani.
* *
Esok harinya Amus kembali mengantarkan Ratna ke sekolah, di tepi jalan yang tak jauh dari gerbang sekolah seseorang tiba-tiba memanggil Ratna.
"Pagi... " sapa Rere seraya tersenyum.
"Pagi" jawab Ratna.
"Aku pergi dulu!" ujar Amus sebelum kedua teman itu saling mengobrol.
"Oh, baiklah... hati-hati di jalan" ucap Ratna menatap kepergian Amus dengan sepeda motornya.
"Siapa itu? pacarmu?" tanya Rere.
"Bukan, dia hanya temanku"
"Teman seperti apa yang mengantar ke sekolah?"
"Teman yang baik pastinya, kami satu jalur kebetulan bertemu di jalan jadi akhirnya pergi bersama" jelas Ratna.
"Aku tidak percaya, tidak ada namanya pertemanan antara pria dan wanita"
__ADS_1
"Terserah kau saja!" ujar Ratna malas berdebat.
Ia berjalan lebih dulu yang di susul oleh Rere, ketika mereka sampai di pintu kelas alangkah terkejutnya mereka melihat kelas baru yang cerah dan masih bau cat. Beberapa orang memang membenci bau itu, tapi Ratna cukup senang karena salah satu impiannya telah tercapai. Mulai dari kelas yang baru ini awal kehidupannya di mulai, Ratna yang baru kini telah hadir di kelas satu SMA.