
"Apa yang kalian lakukan?" sergah Ratna keluar dari tempat persembunyiannya.
Jimy segera memasukkan kembali kotak itu kedalam saku sedang yang lain hanya bisa mematung dengan wajah kaget.
"Keluarkan!" perintah Ratna dengan nada mengancam.
"A-apanya?" tanya Jimy tergagap.
"Jangan pura-pura bodoh, cepat keluarkan"
"Apa yang kau lakukan disini? bukankah aku sudah menyuruh mu untuk kembali ke kelas lebih dulu?" tanya Amus.
Ratna tak menjawab, dengan tajam satu persatu orang itu ia tatap.
"Baik.... aku akan pergi" ujar Ratna.
Dengan perlahan ia membalikkan badan namun dengan mata yang tetap mengawasi, saat mereka lengah barulah ia melancarkan serangan.
Uwa.....
"Apa yang kau lakukan?" teriak Jimy saat tangan Ratna mencoba merogoh sakunya.
"He-hei! kembalikan!"
"Jadi ini alasan kenapa kalian selalu meninggalkanku sendiri! " ujar Ratna mengacungkan kotak itu.
"Hei bocah jangan ikut campur, urus saja urusan mu sendiri!" ujar orang yang selalu mengingatkan Jimy.
"Siapa yang kau panggil bocah?" tanya Ratna dengan mata melotot.
"Tenang Na tenang" ucap Ardi menyabarkan.
Ratna beralih kepada kotak yang dipegangnya dan mengeluarkan beberapa batang.
"Astaga... sejak kapan kalian mulai menghisap ini?" tanyanya.
Tak ada yang menjawab.
"Kalian ingin ku laporkan kepada guru?"
"Hei tenang! kita bisa bicarakan baik-baik" ujar Ardi cepat.
"Kami sudah kelas tiga, hal yang wajar jika kami mencobanya" ujar Jimy.
"Wajar katamu? umur kalian bahkan belum genap lima belas tahun" balas Ratna.
"Sudahlah tidak usah di perpanjangan, sebaiknya kita kembali ke kelas" ucap Amus.
"Eh tidak bisa seperti itu, kita sudah membelinya! rugi jika tidak kita pakai" sela orang itu.
"Perhitungan sekali! apa kau tidak sayang pada tubuhmu? asal kau tahu saja benda ini akan merusak paru-paru mu secara perlahan" kata Ratna.
"Memangnya kenapa? aku beli dengan uangku yang rusak juga paru-paru ku apa pedulimu?"
"Baik kalau begitu akan ku bawa benda ini kepada guru sekaligus melaporkan mu"
"Hei!" teriaknya hendak membantah tapi tak ada kata yang bisa ia keluarkan.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri Ratna diam menunggu sampai akhirnya orang itu bertanya dengan suara pelan.
"Aku akan memberimu tanda perdamaian, bagaimana?"
"Tergantung! apa yang bisa kau berikan?" tanya Ratna menahan senyum.
Amus, Ardi dan Jimy hanya bisa melongo mendengar ucapan Ratna, mereka tak menyangka ia akan melakukan negosiasi dengan orang lain juga.
"Seharga barang itu" ujar orang itu.
"Setuju! siapa namamu?" tanya Ratna seraya mengulurkan tangan.
"Jaya" jawabnya menyambut tangan Ratna.
"Nikmatilah degan cepat, bel sebentar lagi akan berbunyi" ujar Ratna menyerahkan benda itu kepada Jaya.
"Yang ku tahu dia hanya perhitungan, aku tidak menyangka ia pandai bernegosiasi juga" gumam Amus menatap kepergian Ratna.
"Ah... entah sejak kapan dia seperti ini, seingat ku waktu kecil dia anak yang penurut" lanjut Ardi.
"Sepertinya kalian kenal baik gadis itu" ujar Jaya.
"Dia teman masa kecil kami" jawab Jimy.
"Oh begitu, gadis matre! di otaknya pasti hanya ada uang"
"Mungkin karena dia miskin"
"Apa? jadi dia dari keluarga miskin! oh... dia pandai bicara dan menggertak karena itu ku pikir dia dari kalangan berada, wah... gadis yang mengerikan" komentar Jaya yang membuat Amus tersenyum kecil.
Bel berbunyi tak lama kemudian, memaksa kumpulan anak-anak itu bubar ke kelas masing-masing, di tengah pelajaran Ratna mencolek punggung Ardi hanya untuk bertanya.
"Tiga A, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lupa bertanya kepadanya"
"Apa yang mau kau tanyakan?"
"Bukan urusan mu, sebaiknya siapkan upetimu sendiri jika tidak akan ku laporkan kepada bibi"
'Ternyata dia memang gadis yang mengerikan!' batin Ardi mendengar jawaban itu.
Saat bel tanda pulang berbunyi dengan cepat Ratna membereskan buku-bukunya, dialah orang pertama yang berlari keluar kelas hanya agar bisa bertemu dengan Jaya.
Beruntung saat ia tiba di kelas tiga A kelas itu baru saja bubar, di samping pintu kelas ia perhatikan satu demi satu murid yang keluar dan begitu ia melihat Jaya segera ia berjalan menghampiri.
"Hai!" sapanya.
"Oh... astaga kau membuatku kaget saja, dasar gadis dollar" ujar Jaya sambil mengelus dada.
"Apa-apaan itu? kenapa kau memanggilku seperti itu?"
"Karena kau persis wanita yang ada di film Hollywood, pintar bicara, pintar menggertak, pintar bernegosiasi semua hanya untuk dollar alias uang"
"Kau yang mulai dulu menawarkan"
"Sudahlah, ada apa?" tanya Jaya.
__ADS_1
"Kau belum mengatakan kapan kau akan memberikannya padaku"
"Apa?" tanya Jaya yang belum paham.
"Harga yang kau katakan tadi, kau belum bilang kapan kau akan memberikannya padaku"
"Oh astaga... kau benar-benar gadis dollar! baiklah besok akan ku berikan"
"Janji?" tanya Ratna mengacungkan jari kelingking.
Sejenak Jaya menatap jari itu sebelum kemudian menatap mata Ratna yang berbinar dan senyumnya yang manis.
"I-iya... " jawab Jaya yang tiba-tiba tersipu malu sambil mengaitkan kelingkingnya di kelingking Ratna.
Hal itu membuat Ratna cukup senang hingga ia tak berhenti tersenyum bahkan melambaikan tangan pada Jaya yang pergi meninggalkannya, tanpa tahu di belakang Amus tengah memperhatikannya.
Tingkah Ratna yang manja dan senyumannya yang manis membuat hatinya sakit sebab itu semua di tunjukkan bukan kepada dirinya, entah mengapa tiba-tiba Amus merasa ada retakan dalam pertemanan antara dirinya dan Jaya hanya karena senyuman itu.
Retakan yang tak ia tunjukkan, retakan yang ia coba perbaiki sendiri sebab ia tahu retakan itu ia sendiri yang buat.
"Amus.... " teriak Ratna membuyarkan lamunannya.
Dengan santai Amus berjalan menghampiri Ratna dan bertanya.
"Apa?"
"Ini payungmu, terimakasih sudah meminjamkannya" ujar Ratna menyerahkan payung itu.
"Ku pikir apa, kau bisa mengembalikannya nanti di rumah"
"Aku takut lupa, lagi pula hari sudah cerah jadi aku tidak membutuhkannya"
"Sepertinya panggilan gadis dollar sangat cocok untuk mu, kau hanya mau menggunakannya di saat kau butuh jika sudah tidak menguntungkan dengan santai kau kembalikan begitu saja"
"Apa maksud mu bicara seperti itu?" tanya Ratna mulai emosi.
"Aku malas membawanya, jika kau ingin berterimakasih bawakan payung itu untuk ku" ujar Amus sambil berjalan meninggalkan Ratna.
"Hei kau... dasar menyebalkan! " teriak Ratna yang mau tidak mau akhirnya berjalan sambil membawa payung itu.
Senyum kecil tersungging kembali di wajah Amus karena teriakan itu, hatinya kembali hangat meski bukan senyuman atau tingkah manja yang ia lihat. Retakan yang ia rasakan pun tiba-tiba lenyap begitu saja, dengan begini semuanya akan berjalan seperti biasa lagi.
Setelah sampai di rumah Ratna menyerahkan payung itu kepada Amus.
"Terimakasih" ujar Ratna dengan wajah cemberut.
"Hmmm" jawab Amus yang kemudian berlalu.
"Hei tunggu!" sergah Ratna menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?"
"Kau juga berhutang upeti kepadaku, ingat yang ku pergoki bukan cuma Jaya seorang"
"Apa? kau mencoba memerasku? " tanya Amus kaget.
"Ardi dan Jimy juga akan membayar, perjanjian itu berlaku untuk kalian semua"
__ADS_1
"Kau benar-benar gadis dollar yang mengerikan" gumam Amus.