Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 29 Rencana Liburan


__ADS_3

"Ini adalah hari terakhir kalian ujian, meski begitu selama seminggu kalian harus tetap masuk untuk melihat apakah kalian kena ramedial atau tidak" umum pengawas.


"Baik bu!" jawab murid-murid itu serentak.


Ratna mengambil lembar soal dan jawabannya, menatap kolom nama cukup lama. Semua murid tengah menantikan liburan ini, setelah melewati ujian ada banyak tempat liburan yang jadi referensi. Tapi dia sendiri belum sanggup menghadapi liburan ini sebab setelah ujian selesai dia harus menyatakan perasaannya.


Bimbang antara mengetahui isi hati Amus yang sebenarnya dan takut akan penolakan membuatnya tak bisa berkonsentrasi.


"Ini salah Mita, aku sudah tenang dengan kondisi ku yang dulu kenapa sekarang aku jadi galau?" gumamnya.


Hhhhhh


"Mau bagaimana pun aku harus menyelesaikan ujian dulu" ucapnya mulai menulis nama di kolom yang sudah di sediakan.


Tak ada masalah di ujian terakhir itu, sorak gembira dari para murid menandai liburan yang akhirnya akan tiba meski tetap mereka harus masuk dulu selama seminggu.


"Bagaimana ujian mu tadi?" tanya Mita yang bertemu di saat akan pulang.


"Aku berhasil mengatasinya"


"Baguslah, apa kau akan tetap masuk selama seminggu? sebenarnya bolos juga tidak masalah sebab kita hanya datang untuk melihat kena ramedial atau tidak"


"Sebenarnya aku malas, lebih baik aku melakukan hal lain" akui Ratna.


"Kalau begitu kau bolos saja biar aku yang datang menggantikan mu, jika kau kena ramedial akan ku hubungi lewat ponsel"


"Kau mau melakukannya?" tanya Ratna kaget.


"Kenapa tidak? kau sudah membantu banyak hal kepadaku"


"Owh.... kau memang sahabat terbaik ku" ujar Ratna memeluk sahabatnya itu.


"Sudahlah sudah, aku pulang duluan ya sampai jumpa!"


"Sampai jumpa!" balas Ratna melambaikan tangan.


Ia pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah, sambil berfikir bagaimana caranya menyatakan cinta. Apakah akan lewat surat atau bicara secara langsung, dalam benak yang tak henti berfikir ia di kejutkan oleh kemunculan Amus yang keluar dari dalam rumahnya.


"Oh... kau baru pulang" sapanya.


"Ah.. um, kau... sudah sampai sejak tadi?" tanya Ratna kikuk.


"Ya.. ayah ku akan pulang dan tinggal sampai pembagian rapot jadi aku harus beres-beres"


"Begitu ya.. kau perlu bantuan?" tanya Ratna menawarkan diri.


"Um... sepertinya tidak ada, tapi nanti malam datanglah ayah bilang ingin makan bersama kalian"


"Oh baiklah.. " jawab Ratna yang langsung lupa pada pernyataan cinta ketika mendengar kata makan.


Sesuai janji Ratna pergi ke rumah Amus untuk menghadiri makan malam bersama, rupanya Ardi dan Jimy juga ada di sana.


"Ratna, paman ada sesuatu untukmu" ujar Wijaya yang tak lain ayah Amus.


"Benarkah?" tanya Ratna antusias.


Wijaya segera mengeluarkan sebuah paperback dan menyerahkannya kepada Ratna, saat di lihat rupanya itu merupakan kebaya cantik berwarna merah muda.


"Ini hadiah dari ibu Amus untuk mu, dia ingin melihat kau memakainya di pesta perpisahan sekolah nanti. Sebenarnya ia ingin menyerahkannya nanti saat ujian kelulusan tapi dia tidak bisa menahan diri"


"Bibi sangat baik kepadaku, meski... ibuku sudah tidak ada tapi dengan perhatian bibi ini bahkan aku merasa ibu tak pernah pergi. Paman, tolong sampaikan ucapan terimakasih ku" ujar Ratna terharu.


"Kau sudah ku anggap sebagai anak kami sendiri, mulai sekarang jangan sungkan lagi" jawab Wijaya.


"Baiklah nikmati makanan kalian, paman akan pergi ke rumah Ratna dan ngobrol dengan ayahnya" lanjutnya.


"Baik, terimakasih paman" jawab mereka.


Ratna segera menyimpan hadiah itu dan mulai berebut makanan dengan Ardi, bercanda sambil menikmati udara liburan yang akan tiba.


"Ah... perutku kenyang" ujar Jimy bersandar pada dinding.


"Menyenangkan sekali, aku ingin makan seperti ini setiap hari" ujar Ratna.


"Setelah pembagian rapot kalian akan liburan kemana?" tanya Jimy.


"Aku berniat kerja di sebuah tempat" jawab Ardi.


"Dimana?" tanya Ratna penasaran.


"Teman ayah ku memiliki toko buah-buahan, tepat di sampingnya dia juga membuka kedai yang menjual jus dan aneka makanan yang terbuat dari buah-buahan. Dia butuh orang untuk membantunya menjaga kedai itu, aku mengajukan diri untuk bekerja selama liburan dan dia menyetujuinya"


"Berapa gajinya?"


"Tidak banyak, hanya dua puluh ribu sehari"


"Dua puluh ribu sehari jika di kali satu minggu bisa mencapai seratuh empat puluh ribu, itu cukup menguntungkan juga. Apa aku bisa ikut kerja juga?" tanya Ratna antusias.


"Kau berminat kerja?" tanya Jimy.


"Kenapa tidak? aku tidak tahu mau liburan kemana, lagi pula aku tidak punya uang jadi lebih baik jika aku kerja kan?"

__ADS_1


"Kau benar, orangtua ku juga meminta ku untuk membantu mereka di restoran selama liburan. Bagaimana dengan mu Amus?"


"Hah? entahlah aku tidak punya rencana apa pun" jawab Amus.


"Ah... sepertinya kau yang paling enak, kau bisa lakukan apa pun yang kau mau bahkan pergi kemanapun selama liburan" ujar Jimy iri.


Amus hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman untuk menutupi kepahitan hatinya, meski mereka sudah berteman sejak kecil tapi tak pernah ada yang tahu kesepian yang di landa hati Amus.


Seperti sebelum-sebelumnya ia hanya akan mengisi waktu liburan dengan bermalas-malasan meski sebenarnya ia ingin sekali saja pergi liburan dengan keluarganya, kadang ia juga ingin mengisi waktu dengan kerja seperti yang di lakukan teman-temannya tapi ia tak mungkin meninggalkan nenek begitu saja.


"Ratna jika kau memang berminat besok ikut aku menemui teman ayahku, mintalah sendiri pekerjaan itu agar dia terkesan" ujar Ardi memberitahu.


"Baiklah" jawab Ratna.


Ini adalah pertama kalinya bagi Ratna bekerja di orang lain dan di gaji, ada sedikit kegugupan tapi ia tahu harus bisa tenang dan bersikap sopan. Dengan pakaian rapi pagi sekali ia menemui Ardi untuk menagih janji, dengan penuh semangat Ardi pun mengajaknya pergi menemui teman ayahnya.


"Selamat pagi paman" sapa Ardi saat mereka tiba.


"Oh Ardi, akhirnya kau datang juga"


"Ini temanku Ratna yang ku ceritakan di telpon semalam" ujar Ardi mengenalkan.


"Selamat pagi, nama saya Ratna" ujarnya memperkenalkan diri.


"Pagi, panggil saja paman Hamdani"


"Baik paman"


"Ratna ini pintar dalam hal menghitung uang, aku yakin paman akan terbantu olehnya" ujar Ardi.


"Benarkah?"


"Ti-tidak juga, Ardi hanya melebih-lebihkan tapi aku berjanji jika paman mengijinkan aku kerja di sini aku pasti akan bekerja keras" jawab Ratna gugup.


"Baiklah aku percaya pada mu, paman akan jelaskan bagaimana kerja di sini dan jika kalian mau kalian boleh mulai kerja sekarang"


"Sungguh? terimakasih... " jawab Ratna girang.


Hamdani mulai menjelaskan tentang pekerjaan mereka, karena pemula mereka baru di beri tugas membersihkan tempat dan memilah buah-buahan bagus untuk di pajang dan yang sudah masak untuk di buat jus atau makanan yang lainnya.


Hari pertama cukup menyenangkan, Hamdani menyuruh mereka pulang sore hari meski sebenarnya kedai tutup malam hari. Ini dikarenakan ia tak mau mereka cepat lelah saat mulai kerja, perlahan ia akan mengajarkan semuanya dan mengijinkan mereka pulang di malam hari.


Ratna menerima hal itu dengan baik, di sepanjang jalan pulang ia terus berjalan dengan riangnya. Membuat mata Ardi tak mau berhenti menatap senyumnya.


"Kau mau eskrim?" tanya Ardi dalam perjalanan pulang.


"Mau!" jawab Ratna cepat.


"Aish.. makanlah dengan benar, kau seperti anak kecil saja" ujar Ardi sambil me-lap eskrim di ujung bibir Ratna.


Tangannya berhenti saat matanya tertuju pada bibir yang merah merona itu, terasa lembut dan penuh saat ia sapu dengan ibu jarinya. Anehnya, Ratna merasakan sensasi yang tak bisa ia jelaskan hingga membuat jantungnya berdegup tak karuan. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam dan menatap sampai Ardi menjauhkan wajahnya.


"Te-terimakasih" ujar Ratna canggung.


"Ayo pulang" ajak Ardi.


Ratna mengangguk, mereka kembali berjalan pulang namun kali ini ada keheningan yang kentara di antara mereka. Hingga sampai di depan rumah Ardi, Ratna mengucapkan salam perpisahan layaknya seorang gadis yang berbeda dari Ratna yang biasanya.


Sampai di rumahnya Ratna langsung masuk ke dalam kamar, berbaring di atas ranjang dan kembali merasakan sensasi aneh itu saat benaknya mengingat sentuhan lembut di bibirnya.


Hal itu cukup mengganggunya sebab image kakak pada diri Ardi hilang seketika, tergantikan oleh sosok remaja pria yang tampan.


"Arh.. apa yang aku pikirkan? kenapa aku seperti ini?" ujarnya kesal pada diri sendiri.


"Huft... tenang Ratna, itu bukanlah apa-apa... kau tidak boleh bersikap bodoh" gumamnya.


Hari cepat berganti, kini Ratna pergi bekerja dengan sosok yang seperti biasa. Melihat kinerja Ratna yang cukup baik membuat Hamdani memberikan tugas-tugas yang lebih menantang lagi untuknya, semua itu rupanya membuat Ratna lebih nyaman lagi saat bekerja.


Tiga hari sudah ia bekerja, kini Hamdani memberikan jam kerja yang normal. Ratna menyanggupi sebab Mita memberitahu bahwa nilainya aman sehingga ia tak perlu risau, ia hanya perlu datang di hari pembagian rapot saja.


Hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya ia pulang malam tanpa sengaja mereka bertemu dengan Amus di depan gang.


"Kalian baru pulang?" tanyanya.


"Ya, mulai sekarang kami akan pulang malam sesuai jam tutup kedai" jawab Ardi.


"Kau mau kemana?" tanya Ratna.


"Membeli baterai"


"Baiklah kami pulang duluan" ujar Ardi.


Amus hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, menatap kepergian Ratna dan Ardi.


Empat hari kemudian mereka pergi ke sekolah bersama orangtua mereka untuk mengambil rapot, Ratna cukup senang saat Sapardi yang bertugas mengambil rapot memberitahu bahwa nilainya cukup bagus.


"Ratna!" panggil Mita.


"Oh ayah pulanglah duluan, aku mau menemui temanku dulu" ujar Ratna.


"Baiklah, sampai ketemu di rumah nanti"

__ADS_1


"Dah... " ujar Ratna melambaikan tangan.


Ratna segera menghampiri Mita dan pergi ke suatu tempat yang enak untuk mengobrol.


"Bagaimana nilai rapotmu?" tanya Mita.


"Ayah ku senang sebab nilaiku cukup bagus"


"Aku senang mendengarnya"


"Kau sendiri bagaimana?"


"Biasa saja"


"Jangan begitu, aku yakin rangking mu pasti naik kan?" sergah Ratna.


"Itu tidak penting, oh ya bagaimana?"


"Apanya?" tanya Ratna bingung.


"Pura-pura lupa, pernyataan cintamu" jawab Mita mengingatkan.


Ratna tertegun mendengar hal itu, karena bekerja membuatnya lupa bahwa ia berencana melakukannya.


"Entahlah, aku... tiba-tiba merasa ragu" akuinya.


"Kenapa?" tanya Mita penasaran.


Ratna tak bisa menjawab sebab ia sendiri bingung apa alasanya, ia tak yakin tapi sejak merasakan sensasi aneh itu ia berhenti memikirkan cara menyatakan cinta.


"Sudahlah, lagi pula tidak baik perempuan yang mulai duluan. Jika dia memang mencintai ku suatu saat dia pasti akan mengatakannya"


"Apa itu tidak menyiksamu? apa kau bisa hidup menanggung harapan yang bisa kau ketahui sekarang?" tanya Mita khawatir.


"Entahlah, mungkin aku memang akan tersiksa tapi cinta bukanlah satu-satunya yang harus aku pikirkan. Sekarang kita menghadapi semester kedua dimana waktu kita akan habis dengan belajar, aku sudah menentukan pilihanku. Aku ingin lanjut ke SMA dan untuk itu aku harus punya uang yang cukup."


Mata Mita mulai meredup, ia tahu ucapan Ratna benar dan tak bisa ia bantah.


Angin sepoi berhembus membawa udara liburan melewati mereka, mereka pun saling berpamitan dan berpisah untuk mengisi awal liburan dengan rencana masing-masing.


Ratna pulang ke rumahnya dan di sambut oleh Sapardi dengan meja yang penuh makanan, inilah cara Sapardi untuk menyambut awal liburan yang nantinya akan di habiskan dengan bekerja.


"Oh ayah lupa, tolong berikan jagung ini kepada nenek. Tadi siang nenek meminta jagung kering untuk di buat nasi" ujar Sapardi menyerahkan sekantong penuh biji jagung kering.


"Baiklah" jawab Ratna yang segera meluncur.


"Nenek.... aku membawa jagung pesanan nenek!" teriak Ratna sambil membuka pintu rumah Amus.


"Ish.. ini rumah bukan hutan!" omel Amus sambil berjalan menghampirinya.


"Mana nenek?"


"Ke warung" jawab Amus mengambil jagung itu dari tangan Ratna.


"Oh... eh bagaimana nilai rapotmu?" tanya Ratna.


"Tidak ada yang berubah" ujar Amus dingin.


"Bisakah kau bicara lebih baik lagi? aku ini perempuan bersikaplah lembut lah padaku" ujar Ratna ketus.


"Seorang perempuan tidak teriak-teriak di rumah orang lain" balas Amus.


Ratna semakin cemberut mendengar ucapan itu.


"Apa kau punya rencana liburan?" tanya Ratna dengan suara yang lebih pelan.


"Tidak ada"


"Lalu apa kegiatan mu selama liburan?"


"Tidak ada"


"Apa kau tidak ada kegiatan apa pun?"


"Kenapa kau cerewet sekali!? sudah ku bilang tidak ada!" bentak Amus kesal.


"Ba-baik, kau tidak perlu marah begitu aku hanya bertanya" ujar Ratna kaget sebab meski sering di marahi bentakan Amus cukup kencang dengan nada yang benar-benar marah.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud memarahi mu" ujar Amus menyesal.


Selama beberapa menit mereka terdiam sampai Amus bicara.


"Aku tidak bisa meninggalkan nenek untuk bekerja seperti kalian, aku juga tidak punya rencana liburan kemana pun. Mungkin liburan kali ini aku hanya akan bermalas-malasan."


Ucapan Amus membuatnya menyesal telah bertanya, ia tahu meski nenek kelihatan bugar tapi dengan usia yang sudah renta sesuatu bisa terjadi tanpa di duga. Karena itulah Amus tidak pernah pergi jauh kecuali orangtuanya ada di rumah.


"Amus... besok adalah hari pertama kita libur, bagaimana jika malam ini kita berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama sebelum kita sibuk dengan kegiatan masing-masing"


"Um.... baiklah, ada DVD baru yang ingin aku tonton" jawab Amus kembali tersenyum.


"Ki

__ADS_1


__ADS_2