Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 14 Harta paling berharga


__ADS_3

Semenjak status hubungan mereka pacaran Jaya selalu mencoba mencari waktu agar bisa bertemu Ratna sesering mungkin, hari ini pun ia sudah nampak di dekat gerbang sekolah menunggu Ratna agar bisa mengantarnya pulang.


Awalnya Ratna selalu menolak tapi ia pun sadar tidak pantas bagi seorang kekasih menghindari pasangannya terus, maka dari itu hari ini ia mengijinkan Jaya mengantarnya pulang.


Dengan senang hati Jaya berjalan tepat di sampingnya, rasa senang berkecamuk di hatinya hingga membuat kecanggungan diantara mereka. Dengan perlahan tangannya bergerak menyentuh punggung tangan Ratna, sentuhan yang cukup membuat Ratna terkejut hingga dengan cepat ia menarik tangannya untuk menunjuk jalan di hadapan mereka.


"Lihat! kita sudah dekat dengan rumahku" ujarnya.


"O-oh benarkah?" ujar Jaya jelas kecewa.


"Baiklah kita berpisah di sini, terimakasih sudah mengantarku" ujarnya tepat di depan gang.


"Hmm" jawab Jaya sambil memaksakan senyum.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jimy yang tiba-tiba keluar dari gang.


Nampak Amus dan Ardi juga yang memperhatikan mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Ratna.


"Ke toko DVD, kami berniat nonton film"


"Kau belum menjawab pertanyaan tadi!" ujar Ardi.


Ratna hanya membuka mulut tapi tak ada suara yang keluar, sekilas ia menatap Jaya kemudian bergantian menatap ketiga sahabatnya.


"Aku mengantarnya pulang" jawab Jaya.


"Kenapa kau harus mengantarnya pulang?" tanya Ardi lagi.


"Karena aku pacarnya"


"Apa?" teriak Ardi dan Jimy secara bersamaan.


Ratna hanya bisa menelan ludah dan menundukkan kepala tanpa ada keberanian untuk menatap ketiga sahabatnya itu.


"Hei! kenapa respon kalian seperti itu?" tanya Jaya yang kaget.


"Tentu saja, kau... "


"A..... kan ku jelaskan nanti, ayo kita masuk! cepat! cepat! cepat!" ujar Ratna memotong ucapan Ardi sambil mendorong mereka masuk kembali ke dalam gang.

__ADS_1


"Hei tunggu dulu!" sergah Ardi yang tak mau pergi.


Dengan terus memaksa mereka masuk tanpa suara Ratna meminta Jaya untuk pulang, meski masih bingung dengan apa yang terjadi Jaya hanya bisa pulang sambil merenung.


Di dalam kamar Amus, Ratna duduk rapi menghadapi tiga sahabatnya yang berdiri dengan tatapan penuh amarah kepadanya.


Hhhhhh


"Aku tidak melakukan kesalahan, kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini?" rengek Ratna yang tak tahan pada tatapan itu.


"Kau bilang tidak bersalah? kau sudah berpacaran dengan teman kami dan itu Jaya pula, apa kau tidak tahu dia orang yang seperti apa?" ujar Ardi siap murka.


"Kau bilang dia orang yang setia kawan" ujar Ratna sebagai pembelaan.


"Apa? jadi alasan mu waktu itu bertanya pada kami adalah untuk berpacaran dengannya!"


"Dia memang setia kawan tapi bukan berarti orang baik, dia sering merokok dan melakukan kenakalan lain" ujar Jimy.


"Dia juga bukan tipe pacar yang baik, setelah bosan dia pasti akan membuangmu. Aku sangat kenal baik sifatnya pada gadis" tambah Ardi.


"Tapi selama ini dia baik padaku"


"Sudah berapa lama kau berhubungan dengannya hingga bisa mengatakan dia baik? kau baru tinggal beberapa bulan saja dan belum kenal baik tempat ini bagaimana mungkin kau bisa kenal baik orang asing!"


"Aahh.... kau membuatku hampir kehilangan kesabaran" gumam Ardi.


"Maaf... ku pikir dia orang baik sebab Amus terus mendesak ku untuk membalas surat darinya" ujar Ratna sambil menunjuk.


"Apa? kapan aku mendesakmu?" sergah Amus panik sebab Ardi dan Jimy memandangnya seketika itu juga.


"Kau terus menanyakan kapan aku akan membalas surat itu, karena dia menitipkan surat itu padamu jadi ku pikir dia orang baik"


"Hei! aku hanya menyampaikan surat bukan berarti memaksamu untuk menyetujuinya"


"Pokoknya kau terlibat, kau yang jadi mak comblang kami" tuduh Ratna.


"Kau... " erang Amus dengan mata melotot dan tangan yang terkepal.


Kini ia terpaksa duduk di samping Ratna dan siap menghadapi omelan kedua sahabatnya, sambil sesekali menatap Ratna dengan kesal ia hanya bisa diam mengakui dosanya.


"Apa kau sudah kehilangan akal? meski dia teman kita tapi bukan berarti kau harus mengikuti permintaannya, justru sebagai orang pertama yang tahu seharusnya kau larang Ratna bukan menyudutkannya" omel Jimy.

__ADS_1


"Kau mungkin hanya tahu dia sebatas teman tongkrongan, tapi aku lebih mengetahui kebusukannya jadi seharusnya kau memberitahuku masalah ini bukan menyembunyikannya" tambah Ardi.


"Aku minta maaf" jawab Amus.


"Lalu sekarang aku harus apa?" tanya Ratna.


"Tentu saja putuskan dia, apa lagi?" bentak Ardi.


"Tidak! Jaya orang yang cukup pendendam, jika Ratna sampai memutuskannya aku takut dia melakukan hal yang jahat. Lagi pula ini juga keputusan Ratna untuk menerimanya, untuk sekarang kita pantau saja pergerakannya jangan sampai membawa Ratna pada bahaya" sergah Jimy.


"Benar juga, tiba-tiba aku teringat dia pernah berkelahi dengan pacar mantannya"


"Dengar! mulai sekarang kau harus laporan pada kami apa pun yang kalian lakukan bersama, dan jika dia mengajakmu ke suatu tempat atau meminta sesuatu padamu kau harus melaporkannya pada kami" perintah Jimy.


"Baik... " jawab Ratna.


"Sudah selesai kan? tiba-tiba aku lapar bagaimana kalau kita beli bakso" ucap Amus.


"Aku mau!" teriak Ratna yang ceria kembali.


"Sebagai hukuman kau yang bayar" ujar Ardi.


"Ayo kita pergi.... " teriak Jimy memimpin jalan.


* * *


Tangannya terus bergerak mencatat di buku pelajaran, sambil sesekali menghela nafas dan merenung kadang juga membolak-balikan halaman di buku.


"Astaga PR kelas tiga benar-benar sulit! padahal ujian semester satu masih ada waktu beberapa bulan lagi tapi kenapa para guru memberi banyak tugas yang sulit dengan dalih persiapan ujian terus" gumamnya dengan muka di tekuk.


Terlalu lelah menghadapi persiapan ujian semester satu membuatnya melamun, namun yang terbayang dalam benaknya justru perilaku Jimy dan Ardi tadi siang. Terkadang ia merasa mereka terlalu berlebihan sebagai teman, apalagi mengingat ia yang lebih tua beberapa bulan membuatnya jengkel.


"Sampai kapan aku di anggap anak kecil terus?" gumamnya.


Teringat lagi masa kecil mereka yang selalu bermain bersama, pada masa itu pun jika mereka memainkan sesuatu yang cukup berbahaya Ratna hanya di perbolehkan melihat. Jika ada anak kecil lain pun yang mendekatinya maka ketiga orang itu akan merundung anak itu agar menjauh dari Ratna.


"Jika di pikir-pikir sejak kecil mereka sudah memonopoli hidup ku, apa karena ibu yang selalu memperingatkan mereka untuk menjagaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Memang di lingkungan itu sebagai anak perempuan satu-satunya Ratna sering di perlakukan istimewa oleh yang lain, terlebih oleh ibu Amus. Karena terlahir dari keluarga miskin ibu Amus lah yang sering memberikan pernak pernik cantik hingga gaun indah untuk Ratna.


Pernah sekali Ratna terjatuh dari kuda-kudaan milik Amus hingga hidungnya mengeluarkan darah, ibu Amus yang mengetahui hal itu memarahi Amus habis-habisan dan menghukum ketiga anak itu sebab di pikir tidak bisa menjaga Ratna dengan benar.

__ADS_1


Jika di pikir lagi semenjak itu pula ibunya selalu mengingatkan Jimy, Amus dan Ardi agar selalu menjaga Ratna dan tidak membiarkannya terluka. Bagi mereka Ratna adalah harta paling berharga yang mereka punya di sana.


__ADS_2