
Seminggu berlalu dengan cepat, tapi bagi Ratna yang sedang harap-harap cemas waktu seminggu itu seakan setahun. Ia sangat menantikan hasil ujian keduanya, bahkan ia sempat tak enak makan karena terus memikirkannya.
Dddrrrrrrttttt Ddrrrrrrttttt
Suara ponsel berbunyi saat ayah dan anak itu sedang makan siang, Sapardi segera mengambilnya dan mengangkat telpon itu.
"Halo... "
"Oh, iya kebetulan dia ada di sini. Sebentar!" ujar Sapardi menyerahkan ponsel itu kepada Ratna.
Meski bingung Ratna tetap menerimanya dan cukup kaget saat tahu itu adalah telpon dari wali kelasnya.
"Baik bu, terimakasih!" ujar Ratna yang kemudian menutup telpon.
"Ayah, aku harus pergi!" ucapnya sambil bergegas pergi.
Dengan tergesa-gesa ia memakai sepatu dan berlari keluar rumah, Amus yang melihat itu penasaran dan bertanya.
"Kau mau kemana?"
"Hasil ujian ku sudah keluar! aku akan pergi untuk mengambilnya" teriak Ratna tanpa menghentikan langkahnya.
Amus yang mendengar itu seketika ikut harap-harap cemas, segera ia memanggil Ardi dan Jimy untuk datang ke rumahnya dan menunggu bersama hasil dari ujian Ratna.
Sedang Ratna sendiri yang tak lama kemudian sudah sampai di sekolah segera menemui wali kelasnya.
"Masuklah ke dalam, sebentar lagi pak kepala sekolah akan membagikan suratnya" ujar wali kelasnya.
Ratna segera masuk dan duduk menunggu semua siswa yang mengikuti ujian ke dua hadir semua, pak kepala sekolah memulai pidatonya saat semua siswa sudah hadir.
Tak banyak yang ia bicarakan, hanya ucapan selamat dan beberapa poin mengenai nilai mereka yang tidak jauh berbeda dengan yang telah lulus lebih dulu. Mereka bisa mendaftar kemana pun tanpa takut meski mereka sempat tak lulus, setelah itu pak kepala pun membagikan surat kelulusan sesuai nama yang tercantum di sana.
Ratna menerima surat miliknya dengan tangan bergetar, cukup takut untuk membukanya. Dalam kertas itu yang pertama kali ia baca adalah nama RATNA MANGALIH kemudian kebawah tercantum sebuah tulisan LULUS dengan huruf besar.
Ia menggosok mata dan membaca sekali lagi, kali ini matanya tak salah. Ia benar-benar telah lulus, rasa bahagia bercampur haru memenuhi ruang dalam dadanya.
"Selamat Ratna, kau telah berhasil!" ujar wali kelasnya menghampiri.
"Terimakasih bu"
"Kau sudah berjuang keras, setelah ini kau bisa melanjutkan sekolah ke SMA yang kau mau. Cepatlah mendaftarkan diri sebelum pendaftarannya di tutup"
"Baik saya mengerti!"
"Beberapa minggu lagi akan ada acara perpisahan di sekolah, datanglah menggunakan kebaya dan ambil ijazah mu"
"Baik bu"
"Kau boleh pulang sekarang" ujar wali kelasnya sambil menepuk lembut pundaknya.
"Baik, sekali lagi terimakasih" jawab Ratna sambil tersenyum senang.
Dengan surat kelulusan di tangan ia pulang, membawanya erat di tangan untuk di perlihatkan kepada ayahnya. Sapardi berteriak senang melihat surat itu, di peluknya Ratna sebagai bentuk syukurnya.
"Pergilah ke rumah Amus, teman-teman mu sudah menunggu dari tadi" ujar Sapardi memberitahu.
"Baik ayah" jawabnya.
Ratna segera bergegas pergi, di depan pintu rumah Amus ia merubah ekspresinya menjadi datar sebelum akhirnya masuk ke dalam.
"Ratna! bagaimana?" tanya Jimy cepat begitu Ratna masuk.
Wajah mereka nampak penasaran melihat ekspresi Ratna yang datar, tapi tiba-tiba Ratna berteriak sambil mengancungkan suratnya.
"Aku lulus!"
"Ah... jantungku hampir copot!" hardik Amus.
"Syukurlah... " ujar Ardi.
"Selamat saudariku.... akhirnya kerja kerasmu terbayar juga" ucap Jimy merangkul Ratna.
"Ah... hatiku benar-benar lega" akui Ratna.
"Bagaimana kalau kita beli Burger untuk merayakannya" ujar Ardi.
"Um boleh juga" jawab Ratna.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita pergi.... " teriak Jimy memimpin jalan.
Karena Ratna telah lulus maka kini Sapardi memulai persiapannya untuk menyekolahkan Ratna di SMA, karena mereka tidak punya cukup biaya maka Sapardi memilih sekolah dengan biaya SPP yang cukup terjangkau. Ia dan Ratna berunding untuk memilih sekolah mana yang jaraknya tidak terlalu jauh tapi biayanya juga cukup murah.
Saat keputusan telah diambil mereka pun segera pergi untuk mendaftar, mereka di beritahu untuk menunggu beberapa minggu sebelum keputusan penerimaan siswa tahun ajaran baru.
Memiliki waktu yang cukup lama Ratna menyempatkan diri mempersiapkan segala kebutuhan sekolahnya seperti membuat seragam dan membeli beberapa perlengkapan sekolah yang baru.
"Apa kalian sudah memutuskan akan masuk sekolah mana?" tanya Ratna saat ia berkumpul dengan teman-temannya di rumah Amus.
"Aku akan masuk SMK" jawab Amus.
"Aku juga akan masuk SMK yang sama dengan Amus, tapi kami beda jurusan" ujar Jimy.
"Kenapa?" tanya Ratna penasaran.
"Aku adalah calon pewaris restoran keluarga jadi aku mengambil jurusan bisnis sedang Amus mengambil jurusan TKJ"
"Kenapa kau memilih jurusan TKJ?" tanya Ratna penasaran.
"Suka-suka aku, apa urusannya denganmu?" ujar Amus balik bertanya.
Ratna mendengus dengan kasar tanpa di acuhkan oleh Amus.
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Ratna kepada Ardi.
"Aku sekolah di SMA biasa"
"Kita senasib" balas Ratna.
"Kau memilih SMA mana?"
"SMA 4"
"Kita berbeda sekolah" ujar Ardi.
"Itu artinya... kita berpisah" ucap Ratna pelan.
Mereka termenung, masa SMA yang bagaikan emas sayangnya akan mereka jalani masing-masing. Bahkan Amus dan Jimy pun yang satu sekolah tetap berbeda jurusan yang membuatnya mungkin jadi jarang bertemu. Ratna sudah menyadari hal ini lebih dulu, jauh saat mereka ujian semester satu. Pada akhirnya mereka akan berpisah demi menjalani kehidupan masing-masing, meski begitu tetap saja ada rasa sedih dalam hatinya.
"Kenapa murung? kita masih bisa berkumpul setelah pulang sekolah atau pas libur, kita hanya sekolah di tempat yang berbeda saja" ujar Amus.
* * *
Yati pulang tepat saat esok adalah acara perpisahan di sekolah Amus, ia membawakan stelan jas untuk putranya itu yang telah dia siapkan jauh-jauh hari. Ia juga memberikan makeup untuk Ratna agar dihari istimewa itu Ratna tampil lebih cantik dari biasanya.
"Kenapa? kau tidak suka?" tanya Yati saat melihat raut wajah Ratna yang murung.
"Tidak bi, aku suka, aku sangat menyukai hadiah ini hanya saja.... " ucap Ratna yang bingung harus bagaimana mengatakannya.
"Katakan! hanya apa?"
"Aku... tidak bisa memakai makeup" akuinya dengan wajah malu.
"Ah bibi kira apa, kau tenang saja besok bibi akan membantumu berdandan"
"Benarkah?" tanya Ratna riang.
"Tentu saja" jawab Yati.
Empat sekawan itu sepakat untuk berangkat bareng ke sekolah, sedang para orangtua akan datang secara terpisah karena memang tempat duduk mereka juga terpisah.
Pagi sekali Jimy dan Ardi sudah berdiri di depan rumah Amus dengan tampilan rapi, mereka nampak lebih tampan dari biasanya dengan setelan jas yang mereka pakai.
"Mana Ratna?" tanya Ardi.
"Entah! aku belum melihatnya" jawab Amus yang sibuk membetulkan dasinya.
"Ah... di mana-mana perempuan memang selalu lama jika sedang berdandan" erang Amus yang tak sabar.
Ratna sudah memakai kebaya yang di berikan Yati untuknya, kebaya merah muda itu nampak cantik di tubuh Ratna. Kini ia hanya harus bersabar sampai Yati selesai mendandaninya.
"Bibi... tolong jangan terlalu tebal" ujar Ratna yang takut akan terlihat buruk.
"Tentu saja tidak, makeup-nya akan tipis agar kesan remajanya tidak hilang" jawab Yati.
"Yap! sudah selesai" ujar Yati mengangkat tangannya dari wajah Ratna.
__ADS_1
Dengan gugup Ratna berbalik untuk bercermin, saat dilihatnya pantulan wajahnya di cermin ia cukup kaget sebab wajahnya terlihat begitu cantik.
"Sekarang kita hanya perlu merapikan rambutmu, karena kau adalah gadis yang masuk fase remaja maka kita akan mengepang rambutmu agar nampak sederhana tapi tidak berantakan juga" ujar Yati sambil menyisir rambut Ratna.
"Sudah selesai, bagaimana? kau puas?" tanya Yati setelah ia selesai.
"Ini.... sangat bagus, lebih bagus dari bayanganku" jawab Ratna.
"Baiklah waktunya keluar, kasian yang lain telah menunggumu dari tadi.
"Baik" jawab Ratna.
Perlahan ia keluar kamar, bertemu dengan Sapardi yang nampak takjub atas kecantikan Ratna. Kecantikan yang mengingatkannya pada mendiang istrinya, setelah ijin untuk pergi lebih dulu Ratna pun membuka pintu rumah dan keluar menemui ketiga kawannya.
Bak putri keraton, dengan keanggunannya yang suci Amus, Ardi dan Jimy dibuat takjub hingga tak mampu berkedip. Ayu nan lembutnya senyuman Ratna menghipnotis mereka dalam satu kedipan mata, apalagi saat Ratna tertunduk malu matanya nampak lebih indah.
"Pergilah.. bibi akan menyusul dengan yang lain nanti" ujar Yati.
Ratna mengangguk dan mulai berjalan menghampiri ketiga sahabatnya, saat itu yang pertama kali Ratna lihat adalah dasi Amus yang berantakan. Ia berjalan terus, melewati tangan Ardi yang rupanya telah terulur untuknya.
"Kenapa kau tidak membenarkan dasimu? ini sangat berantakan" omel Ratna.
Amus berkedip saat tangan Ratna menyentuh dadanya, dalam jarak sedekat itu ia bisa melihat kecantikan Ratna dengan jelas yang membuat jantungnya tak aman.
"Sudah selesai!" ujarnya sambil mundur beberapa langkah.
"Wah... kau terlihat berbeda sekali, aku hampir lupa ada gadis dolar dalam tubuh itu" ujar Jimy.
"Tolong jaga ucapanmu! di hari yang istimewa ini akan sangat sia-sia kebaya yang kugunakan jika marah" ucap Ratna tegas.
"Hahahaha aku mengerti!" jawab Jimy yang tak bisa menahan geli.
"Tapi kalian juga terlihat berbeda, kalian terlihat keren dari biasanya" puji Ratna.
"Kita sudah terlambat, ayo pergi" ujar Ardi menahan sakitnya yang telah di acuhkan.
Mereka pun pergi, di sekolah Mita yang sudah menunggu Ratna segera menghampiri mereka. Ia memuji penampilan Ratna yang nampak cantik begitu pun dengan Ratna yang mengakui bahwa Mita tampil sangat anggun.
Mereka masuk ke ruangan sambil berbincang-bincang seputar sekolah dan masa depan mereka, rupanya Mita mendaftarkan diri ke sekolah yang sama dengan Ardi. Ini artinya Ratna benar-benar akan berada di tempat yang baru tanpa satu orang pun yang ia kenal.
Acara di mulai sesuai dengan jadwal, kemeriahan acara itu begitu terasa saat anak-anak kelas dua dan satu mempersembahkan penampilan mereka. Ada paduan suara, drama hingga menyanyi bersama anak kelas tiga yang kini telah resmi lulus.
"Na aku ke toilet dulu ya" ujar Mita yang sedari tadi duduk di sampingnya.
"Baiklah, cepat kembali!" jawab Ratna.
Mita segera bergegas keluar, setelah selesai dari toilet ia cukup terkejut melihat Angga yang baru akan masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanyanya.
"Aku menggantikan orantuaku yang tak bisa datang"
"Owh... "
"Kau... terlihat cantik hari ini" ujar Angga yang menatap Mita dengan lembut.
"Te-terimakasih" jawab Mita yang tersipu malu.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk mengobrol di luar, Ratna yang bingung atas kehilangan Mita mencoba mencarinya ke segala tempat.
Beruntung bagi Mita ia yang baru ingat telah meninggalkan Ratna cepat kembali sebelum ada yang melihat kebersamaan mereka, dia bertemu dengan Ratna tepat di lorong sekolah saat perjalanan hendak kembali.
"Kau dari mana saja?" tanya Ratna.
"Maaf, tadi aku keasyikan mengobrol dengan teman yang lain" jawab Mita beralasan.
"Sudahlah, ayo pergi! sebentar lagi ijazah kita akan di bagikan" ajak Ratna.
Mereka kembali ke ruangan dan tetap di sana sampai acara selesai, sebagian telah pulang setelah menerima ijazah ada juga masih di sana untuk mengobrol.
"Kapan-kapan mainlah ke rumah ku, kau juga harus sering mengabariku" ujar Ratna.
"Baiklah, meski kita terpisah karena beda sekolah aku harap kita masih bisa menghabiskan waktu bersama"
"Aku pun!" ujar Ratna yang tak mampu membendung kesedihan.
"Hei jangan menangis! ini bukan perpisahan abadi, kita masih bisa bertemu lagi" ujar Mita menghapus air matanya.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi tetap saja rasanya sedih sekali."
Dengan tersenyum Mita memeluk sahabatnya itu, pelukan yang menandai berakhirnya pertemuan mereka.