
Kabar hubungan Jimy dan Rere sudah tersiar hingga ke kuping Ardi dan Amus juga, sebagai teman mereka hanya bisa mendukung tanpa mengatakan apa pun lagi.
Sementara itu Amus tetap betah menjomblo meski sebenarnya ada beberapa gadis yang mencoba mendekatinya, sedikit pun ia tidak memberikan kesempatan kepada mereka meski ia tahu sudah tidak ada kesempatan baginya untuk memiliki Ratna.
Ardi sendiri masih bergelut dengan pikirannya antara terus maju dan menyatakan perasaannya atau menyerah karena merasa telah berbuat curang.
Dan Ratna terlalu pusing memikirkan Ardi yang entah akan menyatakan cinta atau tidak, sedang hatinya masih saja berharap pada Amus meski ia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi.
Hubungan ketiga orang itu kini masih sebagai teman masa kecil yang saling mendukung satu sama lain, tetap saling membantu di kala susah dan menghabiskan waktu bersama jika ada waktu.
Hingga ujian kenaikan kelas tiba, mereka sibuk dengan belajar agar dapat naik kelas dengan nilai yang memuaskan.
Jimy mendapat peningkatan semenjak ia berpacaran kembali dengan Rere, kini sifat Rere yang sudah lebih pengertian membuatnya bersemangat dalam belajar atas dukungan Rere juga.
Sementara itu Amus dan Ardi tetap bertahan pada rangking mereka yang tidak pernah turun ke lima besar, namun Ratna tetap kesulitan seperti biasa. Ia sampai harus minta bantuan Ardi untuk mengajarinya meski mereka beda jurusan.
Setelah ujian selesai dan rapot telah di bagikan Ratna cukup puas melihat nilainya yang bagus meski hanya masuk sepuluh besar itu pun benar-benar mendapat rangking ke sepuluh.
"Ratna kemarilah!" teriak Sapardi dari luar.
"Iya ayah... " jawab Ratna bergegas keluar kamar.
"Lihat apa yang ayah miliki untukmu" ujarnya sambil menyerahkan sebuah tas plastik.
Ratna menerimanya dan melihat sebuah dus kotak di dalamnya, saat ia keluarkan rupanya itu merupakan ponsel baru.
"Ayah... ini.... " ujar Ratna yang tak bisa menyelesaikan kalimat.
"Ini hadiah untukmu, selamat! sekarang kau sudah naik ke kelas tiga dan sebentar lagi kau bisa mewujudkan cita-cita mu" ujar Sapardi.
"Ayah... terimakasih... " ucap Ratna sambil memeluk haru.
"Boleh aku coba sekarang?"
"Tentu saja!" jawab Sapardi.
Ratna segera menghidupkan ponsel itu, pertama-tama ia menyimpan kontak teman-temannya baru kemudian ia berlari keluar rumah untuk menunjukkannya pada Amus dan yang lain.
Tapi saat ia ke rumah Amus dilihatnya nenek dan Amus sedang rapih-rapih, dengan penasaran ia bertanya.
"Kau mau pergi?"
"Mm, liburan kali ini aku mau pergi ke rumah ibu lagi"
"Begitu ya, eh lihat! ayah memberiku ponsel baru" ujarnya sambil menunjukkan ponsel itu.
"Wah kau beruntung, kalau begitu sekarang kita bisa berkirim pesan" sahut Amus.
"Berapa lama kau di sana?"
"Mungkin sekitar seminggu"
"Baiklah, jangan lupa bawakan oleh-oleh ya... aku ingin cemilan khas sana"
"Dasar rakus! pikiran mu makanan terus" hardik Amus.
"Liburan kali ini aku juga bekerja di kedai, andai aku punya pasti aku juga akan memilih liburan seperti mu. Kasihanilah teman mu yang kurang beruntung ini"
"Baiklah... " ujar Amus menyerah.
* * *
"Mulai besok aku tidak aku bisa datang lagi ke toko" ujar Jimy saat ia makan berdua dengan Rere.
"Kenapa?"
"Masa liburan ku harus ku habiskan dengan membantu pekerjaan orang tua ku di restoran"
__ADS_1
"Begitu ya, itu artinya kau akan sibuk terus"
"Kita masih bisa saling berkirim pesan atau telponan, jika ada waktu sesekali kita bertemu"
"Mm baiklah" jawab Rere.
Hari itu mereka habiskan waktu dengan bersama hingga sore hari, menikmati saat-saat kebersamaan mereka mumpung masih ada kesempatan untuk bertemu.
Setelah mengantar Rere pulang ia pun bergegas ke restoran untuk membantu orang tuanya, hari itu sengaja mereka tutup dengan cepat karena ada hal yang ingin mereka bahas dengan putra bungsu mereka.
"Sekarang kau sudah resmi menjadi kelas tiga, waktu mu tidak banyak sebelum sibuk dengan ujian dan sebagainya untuk itulah ibu ingin kita rencanakan semuanya di awal agar berjalan dengan lancar" ujar ibunya memulai obrolan empat mata.
"Kau tahu restoran ini akan jatuh ke tangan mu, semakin hari kami semakin tua dan sudah lelah mengelola restoran. Untuk itulah meski kau sudah tahu bagaimana cara mengurus restoran tapi kau tetap harus kuliah dengan benar agar restoran ini tak hanya terus berdiri tapi juga berkembang" ujar pula ayahnya menambahkan.
"Jimy, meski begitu kami tidak ingin membebani mu Jika kau mau ambilah restoran ini tapi jika tidak buat perencanaan mu sendiri sejak awal agar kau tidak menyesal apalagi salah jalan"
"Jika... aku tidak mau meneruskan usaha ayah dan ibu apa yang akan kalian lakukan pada restoran?"
"Kami bisa menjualnya pada orang lain, kita punya cukup tabungan untuk masa tua dan biaya kuliahmu" jawab ibunya.
Jimy berpikir keras, sebenarnya ada waktu dimana ia bosan dengan restoran dan ingin mencoba sesuatu yang lain. Tapi restoran adalah satu-satunya masa depan paling cemerlang yang ia punya, mengingat ia tidak pandai seperti Angga.
"Ayah... ibu... aku ingin mencoba sesuatu yang baru, untuk saat ini aku akan tetap sekolah dan melanjutkan ke kuliah tapi sementara itu aku akan mencoba kerja paruh waktu pada bidang yang lain. Bisakah... ayah dan ibu memberiku sedikit waktu hingga aku lulus kuliah? sebab setelah itu sepenuhnya hidup ku akan ku gantungkan pada restoran" ujarnya memutuskan.
Kedua orang tua Jimy tersenyum puas pada jawabannya, mereka cukup mengerti bahwa memang Jimy juga membutuhkan pengalaman lain.
"Baiklah mari kita pulang dan akan ku buatkan nasi goreng spesial untuk kalian" ajak Jimy.
"Ah... kau memang suka memasak" ujar ibunya.
Mereka tertawa bersama dan pulang dengan perasaan bahagia, mengisi masa liburan anak mereka dengan menghabiskan waktu bersama yang dimana selama ini hal itu cukup sulit di lakukan.
Sementara itu di kediaman Ardi ibunya sibuk membereskan rumah, ada banyak barang yang akan ia buang sebab sudah tidak terpakai lagi.
"Ibu... inikan sudah malam, berhentilah dan lanjutkan besok" ujar Ardi.
"Astaga... sudah di cari kemana-mana ternyata ada di sini" teriak ibunya.
"Apa?" tanya Ardi penasaran.
Ibunya memperlihatkan sebuah kotak kayu ukuran sedang yang terlihat sudah tua dan berdebu, ibunya membersihkan kotak itu dari debu hingga dan membukanya.
Ardi bisa melihat berbagai macam benda ada di dalamnya, mulai dari buku memo hingga beberapa foto dan mainan anak kecil berupa patung kuda dari kayu.
"Kau ingat ini? kau merengek ingin mainan robot saat melihat Jimy memamerkan mainan robot yang baru ia beli, ayahmu tidak punya cukup uang untuk membelinya jadi sebagai gantinya dia membiarkanmu patung kuda ini" ujarnya.
Samar-samar Ardi mengingat kenangan itu, memang pada saat itu ia sampai menangis dan baru berhenti saat ayahnya memberikan patung kuda itu. Ia sangat suka patung itu hingga selalu memainkannya, kemana pun akan ia bawa patung itu hingga tidur sekali pun.
"Ah... lihatlah foto-foto ini, ayahmu bersikukuh ingin memotret mu yang masih bayi. Dia bilang kau akan tumbuh menjadi pria tampan sepertinya dan pintar seperti ibu, tak di sangka ucapannya telah menjadi kenyataan" ujar ibunya lagi sambil memegang sebuah foto bayi yang telanjang.
"Ada banyak sekali kenangan yang tersimpan di dalam kotak ini, kenangan masa kecil mu dan juga ayahmu" lanjutnya.
"Simpanlah lagi kotak itu, suatu hari nanti saat aku telah sukses akan ku bawa calon menantu ibu dan ibu bisa menunjukkannya kepada calon menantu ibu"
"Hahaha kau baru naik kelas tiga dan sudah membicarakan menantu, apa kau sudah ingin menikah?" goda ibunya.
"Aku hanya tidak ingin ibu sendirian, selama liburan ini aku akan bekerja pada paman Hamdani lagi. Apa ibu akan baik-baik saja jika aku tinggal?"
"Tentu saja, kau tidak perlu khawatir" jawabnya.
"Baiklah... cukup dengan mengenang sekarang kita bereskan semuanya dan pergi tidur, ibu harus cepat istirahat agar selalu sehat" ujarnya.
Ardi mulai mengumpulkan barang-barang yang sudah tidak di butuhkan, kemudian akan dia taruh pada satu tempat dan dia buang.
* * *
Amus tiba beberapa jam kemudian, ia menggunakan waktu senggang itu untuk beristirahat tapi yang terjadi setelah malam justru ia tidak bisa tidur. Bersama dengan Yati dan ayahnya mereka menikmati momen kebersamaan itu dengan setelah kopi dan roti bakar yang manis.
__ADS_1
"Um... ibu.. aku ingin bicara masalah masa depan ku" ujar Amus memulai.
"Apa kau sudah merencanakan masa depan mu?" tanya Yati.
"Ya, sekarang aku sudah kelas tiga. Waktu ku tidak banyak lagi sampai menghadapi ujian nasional, setelah itu aku memutuskan akan melanjutkan dengan kuliah"
"Itu bagus, rupanya kau sudah memikirkan dengan matang"
"Masalahnya adalah nenek, setelah naik kelas tiga selama satu semester bukanlah masalah tapi jika sudah masuk ke semester kedua... "
"Ayah mengerti, lalu menurut mu bagaimana?"
"Setelah lulus aku akan melanjutkan kuliah ku di sini, kita berempat akan tinggal satu atap tanpa harus berpisah lagi. Oleh karena itu jika nenek mau setelah aku masuk ke semester dua sebaiknya nenek tinggal di sini saja"
"Itu lebih baik, tapi masalahnya apakah nenek mau meninggalkan rumahnya?" tanya Yati.
Mereka terdiam, sejak dulu nenek tidak pernah mau pergi dari rumahnya. Sampai saat ini pun ia betah meski harus tinggal sendirian, tentu sebagai anak Yati menaruh banyak khawatir tapi ia juga tak bisa menentang kemauan nenek.
Meski begitu Amus mencoba membicarakan ha ini dengan nenek, tak di sangka kali ini nenek mau menurut. Dia berkata umurnya semakin berkurang, di saat-saat terakhir dalam hidupnya ia ingin di kelilingi anak dan cucunya.
Satu minggu berlalu dengan cepat, jika di habiskan bersama orang yang kita sayang maka memang waktu terasa cepat berlalu. Amus masih senang berada di sana, menikmati hari-harinya yang menyenangkan bersama keluarganya.
Tiba waktunya bagi mereka untuk pulang, tapi sebelum itu seperti biasa Yati mengajak Amus ke pusat perbelanjaan untuk mencari oleh-oleh untuk tetangga mereka di sana.
Hal itu mengingatkan Amus pada permintaan Ratna yang ingin di belikan makanan, ia cukup bingung entah makanan apa yang harus dia belikan. Selama beberapa menit ia hanya bisa melamun di depan toko oleh-oleh tanpa bisa memutuskan.
"Bagaimana kalau kue akar kelapa?" tanya Yati seolah bisa membaca isi pikirannya.
"Kau sedang mencari oleh-oleh untuk teman-teman mu kan?"
"I-itu... begitulah.. "
"Kau bisa membeli kue akar kelapa atau telor gabus, itu makanan khas sini. Rasanya enak apalagi jika di makan ramai-ramai"
"Begitu ya... baiklah aku beli ini saja" ujar Amus memutuskan.
"Sekarang ibu tinggal membeli oleh-oleh untuk Ratna, sebaiknya ibu belikan apa ya?" gumam Yati sambil berfikir.
Melihat ibunya begitu serius membuat hati Amus sedikit sakit, ia tahu ibunya sangat menyayangi Ratna dan mungkin berharap mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tapi bagaimana jadinya jika ibunya melihat bahwa Ratna lebih nyaman dengan Ardi, apakah hatinya tidak sakit setelah semua kebaikan yang ia lakukan?.
"Tidak perlu" ujar Amus.
"Apa?"
"Ibu tidak perlu membelikan apa pun untuk Ratna, makanan ini saja sudah cukup"
"Tapi ibu ingin memberikan sesuatu yang lain, dia seorang gadis mana bisa di samakan dengan yang lain"
"Tapi ibu, bagaimana jika yang ibu harapkan tidak pernah terjadi?" tanya Amus pelan.
Yati sedikit bingung dengan pertanyaan itu, tapi kemudian ia mengerti apa maksud Akus yang sebenarnya.
"Memang kenapa?" tanya Yati balik.
Amus mengangkat kepalanya dan melihat wajah ibunya yang damai dengan senyum manis di sana.
"Ibu menyayangi Ratna tulus dari dalam hati, jika ibu memberi dengan mengharapkan imbalan maka itu sama saja dengan memberi hutang. Di dunia ini tidak ada seorang pun ibu yang memberi hutang apa pun kepada anaknya, baik itu harta benda atau kasih sayang yang berlimpah" ujar Yati.
"Yah meski kadang-kadang ibu masih berharap kau berhasil mendapatkan hatinya dan menjadikanya menantu ibu"
"Ibu.... "
Hahahahaha
"Ibu hanya bercanda!" ujarnya.
Amus lega karena perasaan ibunya tulus, dengan begitu ia tidak akan terbebani meski tidak berhasil mendapatkan hati Ratna. Ia sudah berjanji akan mendukung Ardi sepenuhnya, maka oleh-oleh yang ia beli ini akan ia berikan sebagai teman masa kecil.
__ADS_1