
"Aaaahhh..... akhirnya selesai juga" ucap Ratna sambil merenggangkan badan.
Di akhir pekan kedai memang lebih ramai dari biasanya, ia kembali kewalahan melayani pesanan yang datang tanpa henti. Tapi tentu ia juga senang mengerjakannya sebab itu merupakan ladang yang untuknya, terlebih Hamdani selalu berbaik hati memberikan bonus jika kedai ramai.
"Semuanya sudah selesai, kau boleh pulang" ujar Hamdani.
"Baik, terimakasih paman" jawab Ratna yang segera berpamitan.
Malam di hari minggu itu masih panjang, waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam saat ia pergi meninggalkan kedai. Di sepanjang jalan masih banyak orang lalu lalang, kedai-kedai pun masih buka termasuk toko Aksesoris dimana ia membeli topi.
Setelah peristiwa itu Anggi sempat membuat perhitungan lagi dengannya di sekolah, tapi Ratna kembali menundukkannya hingga ia kehilangan nyali bahkan untuk menegur.
Sejak saat itu Anggi dengan jelas memperlihatkan ketidaksukaannya, ia tak ambil pusing dengan hal itu. Selama Anggi tidak membuat onar lagi maka ia akan menganggap orang itu tidak pernah ada, hanya mencibir atau melirik dengan tajam bukanlah sesuatu yang mengancam baginya.
"Sayang! maaf aku terlambat" ujar seseorang yang tiba-tiba meraih tangannya.
Ratna cukup kaget dan hendak mundur tapi sebuah bisikan membuatnya terdiam.
"Tolong diam saja, aku tidak akan melakukan hal-hal yang senonoh."
Ratna menatap wajah orang itu, dari ekspresinya jelas dia sedang bersandiwara sebab ada senyum palsu di wajahnya. Ia mulai bicara lagi meminta maaf dan menjelaskan sesuatu yang Ratna tidak mengerti, tapi Ratna hanya diam tanpa merespon sesuai perintahnya.
'Rasanya... aku pernah melihat orang ini' batin Ratna mencoba mengingat.
"Ian!" panggil seorang gadis menghampiri mereka.
'Ah, benar! Ian! orang ini adalah kakak kelas yang waktu itu menang lomba futsal' batin Ratna teringat.
"Jadi... dia pacar barumu" ucap gadis itu.
Ratna cukup kaget mendengarnya, tentu karena ini adalah kali pertama ia bertatap muka dengan Ian tapi tiba-tiba di panggil sebagai pacarnya.
"Ah... benar" jawab Ia memaksakan tersenyum.
"Begitu ya.. Hai namaku Sela"
"Oh.. ya, Ratna" jawabnya sambil menyambut tangan itu.
"Maaf Sel tapi kami ada keperluan, sampai nanti!" ujar Ian tiba-tiba menarik tangan Ratna.
Masih dalam keadaan bingung Ratna hanya menurut kemana Ian membawanya pergi, sampai mereka sudah berada di tempat yang lebih sepi baru Ian melepaskan genggam tangannya.
"Apa-apaan yang tadi itu?" tanya Ratna.
"Maaf... maafkan aku, akan ku jelaskan semuanya" jawab Ian cepat.
Sebagai permintaan maaf Ian mentraktir makanan di kafe, disana juga ia menjelaskan mengapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu.
"Sela itu... dia mantanku" ujar Ian mulai bercerita.
"Kami putus beberapa minggu yang lalu, setelahnya aku mendapati dia sudah mendapatkan pacar baru. Aku tidak terima saat di bilang tidak bisa move on darinya, karena itu aku pura-pura memiliki pacar"
"Lalu apa urusannya dengan ku?" tanya Ratna yang tidak menemukan jawaban atas tindakan Ian tadi.
__ADS_1
"Kami tidak sengaja bertemu tadi, aku beralasan sedang menjemput pacarku tapi dia bersikeras ingin bertemu pacarku sehingga aku tidak punya pilihan selain melakukan hal tadi. Maafkan aku, aku sungguh di masa genting tadi.. "
"Memalukan! alasan konyol apa itu?" ujar Ratna menatap aneh.
"Sudahlah, aku mau pulang. Aku akan anggap hal itu tidak pernah terjadi, terimakasih atas traktirannya"
"Oh biar aku antar kau pulang" ujar Ian menawarkan diri.
"Tidak perlu, rumah sudah dekat"
"Baiklah kalau begitu... " jawab Ian pelan.
Ratna tak habis pikir bagaimana Ian bisa bertindak seperti itu, mengapa ia tak jujur saja bahwa dirinya belum punya pacar. Tidak ada gunanya berbohong apalagi melibatkan orang baru ia kenal, itu merupakan hal yang cukup merepotkan untuknya.
Esok harinya di sekolah secara kebetulan mereka bertemu lagi di kantin, ini bukan kali pertama Ratna melihat Ian bahkan ia sudah tahu sedikit tentang Ian dari Rere. Tapi Ian yang tidak terlalu peka pada keadaan sekitar tentu dikagetkan akan kenyataan bahwa mereka satu sekolah.
"Sungguh aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di sini" ujar Ian jujur.
Ratna hanya tersenyum tipis, tak terlalu menanggapi hal itu sebab ia memang sudah mengetahuinya.
"Untuk yang semalam aku sangat berterimakasih, sebenarnya aku merasa bersalah karena tidak mengantarmu pulang. Padahal sudah larut tapi aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian"
"Tidak perlu berlebihan, aku sudah biasa pulang sendiri"
"Tapi tetap saja... ah bagaimana jika aku traktir makan" tawar Ian.
Sebenarnya Ratna kurang suka kepada Ian terlebih karena masalah semalam, ia paling tidak suka pria yang berbohong. Tapi soal makanan itu masalah berbeda, dengan senang hati Ratna menerimanya.
"Kau sungguh-sungguh tidak ada hubungan dengannya?" tanya Rere yang penasaran atas kedekatan itu.
"Sudah berapa kali aku katakan bahwa kami kami hanya sekedar kenal saja" jawab Ratna yang mulai bosan menjawab.
"Tidak mungkin kan sekedar kenal tapi selalu bicara berdua, dia juga sering menemuimu"
"Yang kami obrolkan hanya hal-hal biasa, kenapa kau tidak percaya?"
"Soalnya ucapanmu tidak sesuai dengan kenyataan"
"Lalu kau ingin aku menjawab apa?"
"Aku ingin kau menjawab jujur" ujar Rere bersikukuh.
"Aku sudah berkata jujur" gumam Ratna kesal.
Ia tidak tahu lagi harus berkata apa, Rere tetap tidak percaya meski ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Jika di pikir lagi memang wajar Rere begitu penasaran, sebab Ian selalu mencoba mendekatinya dengan berbagai alasan. Tindakan itu juga membuat Ratna sedikit curiga, di balik kebaikan Ian Ratna merasa ada sesuatu yang di sembunyikannya.
"Ratna!" panggil Ian saat ia hendak pulang.
Ratna berhenti berjalan demi menunggu Ian yang berlari menghampirinya.
"Kau mau berangkat kerja?" tanyanya.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Kalau begitu ayo pergi denganku, aku mau ke rumah teman ku kebetulan kita satu arah"
"Owh baiklah"
"Aku ambil mobil ku dulu, kau tunggu di sini sebentar tidak apa-apa kan?" tanya Ian.
Ratna mengangguk sebagai jawaban, selang beberapa menit Ian pun datang dengan mobilnya. Ratna segera naik dan mobil pun melaju, selama perjalanan Ratna tersadar bahwa Ian termasuk kedalam golongan anak orang kaya. Tak heran juga ia memiliki paras yang rupawan, di dukung dengan status sosialnya memang pantas ia memiliki penggemar meski bukan seorang bintang.
"Terimakasih atas tumpangannya" ujar Ratna saat mereka sampai.
"Tidak masalah"
"Baiklah sampai nanti"
"Eh Na! tunggu!" panggil Ian.
"Um... sebenarnya... ada yang ingin aku katakan padamu" ujar Ian ragu.
Ratna kembali duduk dengan wajah menghadap Ian, menunggu ia melanjutkan kalimatnya.
"Ratna, maukah kau pura-pura menjadi pacarku?" tanya Ian dengan cepat.
Ia tahu permintaan itu pasti akan Ratna tolak, tapi dalam keadaan genting seperti ini tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia terlanjur berbohong kepada Sela dan tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya.
"Aku minta maaf, aku tahu kau pasti tidak suka. Aku berjanji kita hanya pura-pura di depan Sela saja, aku juga tidak akan berbuat macam-macam. Aku mohon... tolong aku, Sela mengajak ku doubledate dan aku tidak bisa menolaknya" lanjutnya menjelaskan duduk perkara.
"Aku tidak suka melakukan sandiwara seperti itu" ujar dingin.
"Hanya besok malam saja! setelah acara kencan itu aku akan mengatakan bahwa kita putus jadi kau tidak perlu berpura-pura lagi" bujuk Ian.
Ratna nampak berfikir keras, sejujurnya ia juga tak tega melihat Ian terpuruk seperti itu. Ia sudah begitu baik kepadanya, tentu hati Ratna sedikit luluh.
"Kali ini saja... tolonglah, aku akan lakukan apa pun perintah mu asal kau mau pergi kencan besok malam" lanjut Ian bersikukuh.
"Lima ratus ribu"
"Apa?" tanya Ian.
"Jika kau mau membayar sebanyak lima ratus ribu maka aku mau melakukan sandiwara itu" ucap Ratna.
Ian terlihat berfikir, Ratna tahu permintaan seperti itu tidak akan pernah di penuhi oleh siapa pun. Sangat konyol memang mengeluarkan sejumlah uang hanya demi sandiwara kecil seperti itu.
"Sudah... "
"Baik!" ujar Ian.
"Akan ku bayar setelah kencan itu selesai" ucapnya.
"Ka-kau serius?" tanya Ratna terpana sebab uang yang ia pinta jumlahnya cukup besar.
"Tentu saja, kalau begitu kita sepakat"
"Ba-baiklah."
__ADS_1