Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 35 Kegelisahan Ibu


__ADS_3

"Kesalahan yang pernah ku buat di masa lampau sampai saat ini menjadi alasan perubahan hidup ku, tak ada niatan tuk melupakan atau pun menyesal sebab semua adalah bagian dari pilihan. Mungkin sampai nanti meski ada seseorang yang telah mengisi hidupku dalam sanubari tetap terpatri namanya dengan jelas. Dan bilamana di suatu hari nanti kita bertemu dengan jalan masing-masing, biarkan saja aku tetap menjadi bayangan yang menemani di saat kau merasa sepi. Meski ku tahu sebenarnya kau tahu, biar aku terlindung di balik topeng persahabatan yang belasan tahun kita jaga."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Langkah Ratna terhenti saat ia melihat keluarga Amus keluar rumah dengan membawa beberapa koper, dari pakaian yang mereka pakai ia tahu keluarga itu akan pergi. Segera ia berlari menghampiri Amus yang sedang mengunci pintu sedang yang lain sudah siap pergi.


"Pagi bibi" sapanya.


"Pagi Ratna, kau mau berangkat kerja?" jawab Yati.


"Iya, kalian.... mau pergi liburan?" tanyanya.


"Bicaralah dengan Amus, kami akan pergi duluan" ujar Yati yang tak menjawab pertanyaannya.


Ratna tak mengerti mengapa Yati bersikap seperti itu, di tambah dengan senyum yang penuh misteri. Ia menatap Amus menagih jawaban tapi Amus juga bersikap aneh, ia tiba-tiba menjadi salah tingkah dan tak mau menatapnya.


"Kalian mau pergi kemana?" tanya Ratna.


"Um... itu.. cuti ibu dan ayah sudah berakhir, karena waktu libur masih ada semingguan lagi jadi kami berencana menghabiskannya di rumah ibu di Bekasi"


"Oh... ini pertama kalinya kalian pergi bersama, bukankah ini juga pertama kalinya kau mengunjungi rumah bibi di sana?"


"Mm, iya"


"Kau pasti senang, kau akan pergi kemana saja saat di sana?"


"Entahlah... aku tidak tahu" jawab Amus bingung.


"Begitu ya... " balas Ratna.


"Berapa lama kau di sana?" tanyanya.


"Aku tidak tahu, tapi sebelum sekolah di mulai aku pasti sudah kembali"


"Begitu ya... " ucap Ratna pelan.


Amus tidaklah pergi untuk selamanya, tapi entah mengapa mengetahui ia akan pergi membuat kerinduan mendatangkan sedih. Berat rasanya melepas Amus pergi padahal Amus sendiri sangat antusias bepergian bersama keluarganya.


"Baiklah... hati-hati di jalan, jangan lupa bawa oleh-oleh untuk ku" ujar Ratna mencoba tegar dengan menyunggingkan senyum.


"Baik, aku.... pergi dulu" jawab Amus.


Ratna melambaikan tangan mengiringi kepergian Amus yang meninggalkannya, terus melambaikan tangan hingga sosok pria yang ia sukai itu hilang dari pandangannya.


"Ah... astaga... air apa ini?" gumamnya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Ini bukanlah perpisahan yang harus ditangisi, tapi ia tak bisa mengendalikan hatinya yang terasa sakit. Kesedihan akan di tinggal seseorang yang ia cintai membuat Ratna banyak melamun, di tempat kerja ia kehilangan semangat dan keceriaan yang membuat tanya Hamdani.


"Apa mungkin Ratna sakit?" tanyanya pada Ardi.


"Tidak, mungkin dia masih syok atas kejadian semalam"


"Memang semalam apa yang terjadi?" tanya Hamdani lebih penasaran.


"Ah... itu.. semalam kami di tangkap petugas karena di kira ikut tawuran, untung paman Sapardi cepat datang dan membebaskan kami"


"Ah begitu, bagi seorang gadis polos seperti Ratna memang wajar jika dia sampai syok. Baiklah kembali bekerja!"


"Baik paman" jawab Ardi.


Hari itu kedai masih sepi, tak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Ardi berinisiatif membeli eskrim dan menaruh potongan buah stoberi di atasnya sebagai toping, ia membuat gambar tersenyum dan memberikannya kepada Ratna.


"Makanlah sebelum eskrimnya mencair" ujar Ardi.


Ratna menatap eskrim itu dan tersenyum melihat gambar yang di buat Ardi.


"Terimakasih" ucapnya.


"Meski langit sangat cerah dan matahari begitu terik tapi jika kau tidak tersenyum maka semuanya akan terasa suram, jadi apa pun masalah yang kau hadapi tetaplah tersenyum" ujar Ardi sambil mencubit pipi Ratna.

__ADS_1


"Ah... apa yang kau lakukan? jangan cubit pipi ku!" rengek Ratna menepis tangan itu.


Tapi semakin ia melarang Ardi semakin menjadi, ia terus mencoba mencubit sambil tertawa sampai tak sengaja ia terpeleset dan mendorong Ratna ke dinding.


Suara tawa itu hilang seketika saat wajah mereka begitu dekat, menatap Ratna dalam jarak sedekat itu membuat rasa cinta Ardi kembali. Nafasnya mulai terasa berat saat mencium aroma tubuh Ratna yang wangi, tatapannya pun mulai beralih dari mata ke hidung dan bibir yang sempat ia usap.


"Permisi!" teriak seorang pengunjung tiba-tiba.


Ardi yang tersadar cepat bangun begitu pun dengan Ratna yang menjadi salah tingkah, dengan jantung yang masih berdebar ia maju ke meja kasir untuk melayani pelanggan tersebut.


* * *


"Kau mau langsung pulang?" tanya Ardi di malam yang dingin setelah mereka menutup kedai.


"Iya, kenapa?"


"Tidak, hanya saja aku belum ingin pulang"


"Kenapa?" tanya Ratna.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak betah berada di rumah. Malam ini aku tidak bisa menginap di rumah Amus karena dia pergi, Master juga belum pulang" jawab Ardi menatap bintang di langit malam.


"Ada apa?" tanya Ratna menghampiri.


"Kau mau mendengarkan keluhku?" tanya Ardi berpaling menatap Ratna.


"Baiklah... kita beli kopi" ujar Ratna mengajaknya pergi.


Mereka duduk di pinggir jalan dengan kopi panas di tangan, sambil menatap langit malam yang cerah Ardi mulai mengeluh tentang keluarganya.


"Aku sudah besar, sebentar lagi aku akan masuk SMA tapi orangtua ku masih saja memperlakukan ku seperti anak kecil. Semalam jika aku tidak memberitahu mereka bahwa aku menginap di rumah Amus sudah pasti mereka akan mencari-cari aku"


"Setiap orangtua pasti mengkhawatirkan anaknya, itu hal yang wajar"


"Tidak! sejak kecil mereka terlalu khawatir padaku, sampai kemana pun aku pergi harus ijin. Mereka tidak pernah mau berpisah lama dengan ku, bagi seorang anak laki-laki itu merupakan sebuah aib"


"Dari kecil semua orang tua memperlakukan ku seperti itu, saat aku terjatuh kalian yang akan di marahi. Seolah seumur hidup ku aku tidak boleh celaka, kau... dan semua orang di lingkungan kita sangat menjaga ku. Tapi aku tidak pernah merasa terkekang, apalagi malu akan hal itu" ujar Ratna.


"Jika kau mengerti perasaan khawatir mereka maka kau tidak akan keberatan akan hal itu, berilah orang tuamu pengertian agar kekhawatiran mereka tak mengganggu mu" lanjutnya.


Diantara mereka berempat Jimy adalah anak yang paling bisa memotivasi dengan ucapannya yang bijak, padahal Amus adalah anak yang paling dewasa tapi tidak bisa memberi nasihat.


Hari ini, Ardi menyadari bahwa diantara mereka rupanya Ratna yang paling dewasa dan bisa memberi nasihat dengan baik. Dia memang polos dan selalu teledor seperti orang bodoh, tapi di balik itu ada Ratna negatif yang telah merasakan kepahitan dunia.


Tiba-tiba ia merasa malu pada dirinya sendiri, meski lahir dari keluarga yang sederhana tapi dia tidak pernah kekurangan seperti Ratna. Bahkan orangtuanya sering kali memberikan apa yang ia inginkan, tanpa peduli seberapa mahal benda itu.


Ardi pulang cukup larut tapi ia tahu ibunya belum tidur dan menunggunya pulang tepat di depan pintu, sambil berkali-kali menatap jam dengan perasaan khawatir.


Ceklek


"Ah... kau sudah pulang, kenapa begitu larut?" ujar ibunya saat ia membuka pintu.


"Tadi aku mampir dulu membeli roti bakar untuk ibu" jawabnya sambil menyerahkan makanan itu.


"Kenapa repot-repot! gunakan uang mu untuk keperluan mu sendiri"


"Ibu...ini adalah uang ku, jadi aku bebas menggunakannya untuk apa saja dan aku ingin ibu juga merasakan uang hasil jerih payahku."


Ardi dapat melihat perasaan terharu dari mata ibunya yang berbinar, ada senyum kebanggaan di raut wajah yang semakin di penuhi keriput itu.


"Ibu... mulai besok jangan lagi menunggu ku di luar seperti ini, aku tidak mau ibu sakit karena kedinginan jadi pergilah tidur duluan" pintanya.


"Tidak apa-apa, ibu akan memakai jaket"


"Jika ibu tidak mau menurut aku tidak akan pernah pulang" ujar Ardi tegas, membuat ibunya terdiam tanpa bisa bicara.


"Ibu... meski aku semakin tumbuh besar dan dewasa, meski suatu saat aku akan pergi untuk mencari jalan hidup ku sendiri tapi aku tetap anak ibu dan akan kembali pada ibu. Suatu hari nanti aku akan membawa calon menantu ibu dan memberikan cucu-cucu yang manis untuk ibu agar ibu tidak kesepian, jadi... aku mohon jangan halangi langkah ku dengan kekhawatiran ibu yang berlebih" ucapnya sambil menggenggam tangan ibunya.


Ucapan seorang anak yang telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri tentu cukup menyakitkan bagi seorang ibu, tapi ia juga harus mengerti bahwa ini bagian dari hidup sang anak yang tak boleh ia halangi. Dengan senyum yang di iringi kerlingan air mata ia mengangguk setuju untuk menuruti kemauan Ardi, dalam pelukan hangat Ardi yang kini tubuhnya pun sudah lebih besar darinya tangisan yang sebenarnya pun tumpah.


* * *

__ADS_1


Ia sudah mencoba memejamkan mata sejak tadi, tapi jangankan tidur mengantuk pun tidak. Mungkin karena ini adalah tempat baru sehingga ia butuh adaptasi beberapa waktu, sebenarnya tubuhnya terasa letih akibat perjalanan yang ia tempuh tapi karena tak kunjung tidur ia pun memutuskan pergi keluar untuk melihat apa yang bisa ia kerjakan.


"Kau belum tidur?" tanya Yati yang rupanya sedang duduk di kursi sambil melihat kalender.


"Belum, aku tidak bisa tidur. Apa yang ibu lakukan?" jawabnya sambil ikut duduk.


"Ada diskon di toserba, ibu ingin pergi jadi ibu cari tahu tanggalnya dulu, apakah ibu sempat datang atau tidak"


"Oh..."


"Kau ingin ibu buatkan susu hangat? itu bisa membuatmu mengantuk"


"Boleh" jawab Amus dengan menutupi rasa senangnya.


Yati segera pergi ke dapur dan kembali lagi dengan segelas susu hangat yang di pinta puteranya, perlahan Amus menyeruput minuman yang dibuat oleh ibunya dengan perasaan senang.


"Apa kau berpamitan baik dengan Ratna?" tanya Yati tiba-tiba.


"Iya" jawab Amus cukup heran dengan pertanyaan ibunya.


"Bagus, apa Ratna punya pacar?"


"Setahuku tidak, kenapa ibu bertanya hal seperti itu?"


"Kalau begitu kau punya kesempatan untuk membuatnya menyukaimu"


"Sampai kapan ibu akan membahas hal ini?" erang Amus.


"Kenapa? ibu menyukainya, bagi ibu tidak ada gadis yang pantas bersanding dengan mu kecuali dia"


"Ibu... "


"Ibu tidak ingin kehilangan dia!" ujar Yati memotong.


"Ibu sangat menyayangi dia, saat ibu merasa gagal sebagai seorang wanita ibu melihat malaikat kecil berjalan masuk ke dalam rumah. Tangannya yang mungil, kakinya yang kecil, wajahnya yang imut dan senyumnya yang manis membuat ibu melupakan kesedihan ibu. Saat itu, ibu melihat mu menghampiri malaikat kecil itu dan bermain dengannya. Dia adalah Ratna yang tiba-tiba hilang saat berumur sembilan tahun dan kembali setelah menjadi gadis yang manis" lanjutnya mengenang masa lalu.


"Amus... apa kau menganggap ibu sebagai ibumu? bukan ibu tiri mu atau orang asing?"


"Apa yang ibu bicarakan? saat membayangkan wajah seorang ibu maka hanya wajah ibu yang dapat aku lihat" ujar Amus.


"Nak, ibu minta maaf karena tidak bisa menjadi ibu yang baik. Mulai saat ini ibu berjanji apa pun yang kau inginkan ibu akan memenuhinya" ucap Yati bersungguh-sungguh.


"Tidak perlu... aku tidak akan meminta apa pun dari ibu, yang aku inginkan hanya ibu melakukan apa yang ibu sukai. Asal ibu senang maka aku juga akan bahagia"


"Kalau begitu nikahi Ratna karena itu satu-satunya hal yang membuat ibu bahagia."


Amus mendengus kasar, tak tahu harus bicara apa lagi agar Yati berhenti memikirkan hal-hal seperti itu. Melihat wajah Amus yang frustasi rupanya cukup lucu di mata Yati hingga membuatnya tertawa.


"Baiklah baiklah, ibu hanya bercanda! ibu juga memikirkan perasaan Ratna, ibu tidak ingin dia menikahi putra ibu hanya karena merasa tidak enak menolak. Tapi.... apa kau mencintai Ratna?"


"Apa maksud ibu?" ujar Amus cepat.


"Hei! kenapa kau tiba-tiba salah tingkah? dan kenapa wajah mu memerah?" goda Yati.


"Si-siapa yang salah tingkah? wajah ku memerah karena uap dari susu yang panas"


Hahahaha


"Sepertinya kau tidak pandai berbohong seperti ayahmu, Amus... jika kau menyukainya maka berjuanglah untuknya. Buat dia menyadari perasaan mu terhadapnya, seorang gadis akan membalas cinta seseorang yang tulus kepadanya"


"Ibu sudah hentikan!" ujar Amus dengan nada tinggi.


"Baiklah..... " jawab Yati mencoba menahan tawa.


"Amus.... bolehkah... ibu memelukmu?" tanya Yati tiba-tiba.


Amus menatap mata ibunya yang sendu, di balik ucapannya yang tegas dan kadang menyakiti hati ia tahu ada sosok wanita lemah. Amus beranjak duduk di samping ibunya dan segera memeluknya sambil bicara.


"Kenapa bertanya? aku adalah anak ibu."


Yati sudah tak kuasa menahan air mata, akhirnya kegelisahan dalam hatinya hilang setelah penantian cukup lama dengan bangga ia bisa merasakan menjadi seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2